Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 161

Memuat...

“Hemm, kuharap saja dia bertindak kasar terhadap Kui Eng, agar aku dapat menghancurkan kepalanya!” kata pula Ci Kong.

Pemuda ini biasanya pendiam dan sabar, akan tetapi peran yang dipegangnya selama ini membuat dia seringkali kehilangan kesabaran!

Pada keesokan harinya, menjelang tengah hari, dengan menumpang sebuah kereta sewaan, Lian Hong dan Kui Eng dikawal oleh Ci Kong, datang berkunjung ke rumah gedung Lee Song Kim. Tidak sukar menemukan rumah gedung mungil ini.

Ternyata Lee Song Kim, dalam waktu singkat saja telah dapat merebut kedudukan yang baik, mendapat kepercayaan besar dari panglima pasukan keamanan, bahkan dia pernah diperkenalkan kepada kaisar sendiri oleh panglima itu dan menenima pujian kaisar.

Untuk kesempatan ini, Kui Eng mengenakan pakaian yang amat indah. Sutera biru muda itu, dengan hiasan sulaman emas dan merah, sungguh membuat ia nampak cantik bukan main. Rambutnya digelung tinggi, dan sisanya diikat dengan pita, dikepang dua, dan ia memakai minyak wangi. Juga Lian Hong mengenakan pakaian baru, bahkan Ci Kong juga mengenakan baju yang baru sehingga walaupun bajunya itu masih menunjukkan bahwa dia hanya seorang pelayan, namun dia cukup bersih, bahkan tampan! Akan tetapi dia tidak lupa untuk menambah warna kecokiatan pada mukanya, lehernya dan kedua tangannya yang tidak tertutup pakaian.

Karena kusir kereta sewaan tahu bahwa dia membawa penumpang yang menjadi tamu-tamu dan Lee ciangkun, maka dengan gembira dia memasuki kereta itu melalui pintu gerbang. Para perajurit yang berjaga di luar pintu, sudah diberitahu oleh Song Kim sehingga mereka menyambut kereta itu dan mempersilahkannya masuk tanpa melakukan pemeriksaan lagi.

Lee Song Kim sendiri yang keluar menyambut dari dalam gedungnya, dan melihat pemuda itu, hampir saja Ci Kong tertawa. Pemuda yang kemarin menjadi komandan dengan pakaian perwira yang gagah, berubah menjadi seorang pemuda pesolek! Wajahnya yang tampan nampak bersih sekali seperti dibedaki, alisnya jelas ditambahi penghitam alis, dan bibirnya juga memiliki warna merah yang tidak wajar!

Benar-benar seorang muda yang pesolek! Topinya adalah topi yang biasa dipakai oleh kongcu-kongcu bangsawan, dan yang lucu adalah jubahnya. Jubah itu berwarna merah, berkembang dan bertuliskan huruf REZEKI, seperti yang biasa dipakai oleh bangsawan-bangsawan kaya raya dan berkedudukan tinggi, atau seperti pakaian seorang pengantin pria!

“Wah, sungguh saya merasa berbahagia sekali menerima kunjungan ji-wi. Sungguh ji-wi merupakan dua orang muda yang tepat memegang janji. Silahkan masuk, nona, silahkan, kongcu. Mari kita langsung saja ke ruangan makan, karena saya telah mempersiapkan hidangan untuk memberi selamat kepada ji-wi. Mari…. silahkan!

Dengan amat ramahnya, Lee Song Kim mengajak dua orang tamunya masuk ke dalam. Tanpa mengeluarkan suara apapun, Ci Kong mengikuti dua orang temannya, dengan sikap membungkuk-bungkuk seperti layaknya sikap seorang pelayan yang sungkan-sungkan dan malu-malu. Melihat betapa pelayan itu ikut masuk, Song Kim mengerutkan alisnya, akan tetapi dengan sikap ramah dia berkata kepada Lian Hong.

“Liem-kongcu, sebaiknya pelayanmu itu biar menanti di luar, nanti kusuruh pelayan-pelayanku untuk menjamunya.”

“Maaf, Lee-ciangkun. Kalau boleh, biarlah dia ikut untuk melayani kami. Dia pelayan kami sejak kecil, sehingga kami menganggapnya seperti keluarga sendiri saja, dan kami akan merasa kaku tanpa dia yang melayani. Dia harus selalu dekat kami agar mudah kalau sewaktu-waktu kami membutuhkan sesuatu.” Lian Hong berkata dengan balus.

Song Kim memandang ke arah Kui Eng, dan gadis inipun mengangguk. “Benar, ciangkun. Kalau tidak ada Akong yang melayani, kami akan merasa

kaku.”

Mendengar ucapan Kui Eng itu, terpaksa Song Kim membiarkan Ci Kong ikut masuk ke dalam gedungnya. Mereka langsung diajak memasuki ruangan makan dimana telah tersedia meja bundar yang besar, dan ruangan itu sudah terhias dengan indah, penuh dengan bunga-bunga dan kertas berwarna, seolah-olah tuan rumah memang mengadakan pesta saja.

Yang menarik perhatian tiga orang pendekar muda itu adalah bahwa rumah itu benar-benar kosong, tidak ada anggauta keluarga Lee Song Kim, kecuali para pelayan yang terdiri dari pria-pria muda dan gadis-gadis muda, tampan dan cantik mereka itu.

Song Kim mempersilahkan Lian Hong dan Kui Eng untuk duduk berhadapan dengannya di meja bundar, sedangkan Ci Kong yang tahu diri hanya berdiri di pinggiran, tidak berani mendekati meja, dan menonton saja betapa dua orang temannya itu mulai dijamu dengan hidangan-hidangan yang serba mahal dan lezat, dan diapun hanya melayani dengan menuangkan arak untuk kongcu dan siocianya, lalu mundur lagi. Tentu saja beberapa kali dia harus menelan ludah sendiri melihat betapa dua orang itu makan dengan enaknya, bahkan Kui Eng yang nakal itu beberapa kali memuji-muji kelezatan makanan, terutama sekali bakmi dan bakso yang dihidangkan. Padahal mi bakso merupakan makanan kegemaran Ci Kong!

Song Kim gembira bukan main mendengar pujian Kui Eng, dan dia menjamu kedua orang tamunya itu dengan sikap ramah. Setelah selesai makan, Lee Song Kim lalu mengajak dua orang tamunya itu menuju ke taman bunga di belakang Ruangannya.

“Di dalam panas sekali, mari kita menceri angin di taman bungaku yang sedang penuh bunga, hawanya sejuk dan segar,” katanya.

Memang taman bunga itu indah, penuh dengan bunga-bunga beraneka warna dan taman itu terawat. Lian Hong memberi isyarat kepada Kui Eng dengan sentuhan tangan, lalu dara ini sengaja berkata sambil menuding ke arah belakang taman.

“Aihh, di sana ada sekumpulan bunga seruni yang paling kusuka. Lee- ciangkun, bolehkah saya melihat-lihat ke sana?”

Mendengar ini, Song Kim girang sekali. Pada saat itu, Kui Eng sudah duduk di atas sebuah bangku menikmati keindahan serumpun bunga mawar di depannya.

“O… tentu saja boleh, silahkan, Liem-kongcu! Silahkan!”

“Marilah, Akong, kautemani aku melihat-lihat bunga seruni di sana!” kata Lian Hong sambil lalu, kemudian bersama Ci Kong meninggalkan Kui Eng berdua saja dengan tuan rumah.

Memang ia sengaja melakukan ini untuk memberi kesempatan kepada Kui Eng bercakap-cakap berdua saja dengan tuan rumah, sehingga Kui Eng akan dapat berusaha mengorek keterangan dan perwira muda itu.

Setelah berada di bagian belakang kebun, di kumpulan bunga seruni yang sedang mekar semerbak itu, Ci Kong mengomel.

“Lian Hong, apakah tidak berbahaya meninggalkan Kui Eng berdua saja dengan laki-laki hidung belang itu?”

“Ssttt, jangan begitu, Ci Kong. Dia akan mampu berbuat apa terhadap Kui Eng? Jangan lupa, Kui Eng memiliki ilmu kepandaian yang setingkat dengan kita, dan kurasa ia akan mampu mengendalikan Lee Song Kim kalau laki-laki itu akan melakukan hal yang tidak pantas. Pula, kita berada di sini, tidak begitu jauh, bukan? Biarlah Kui Eng memperoleh kesempatan untuk menguras keterangan darinya.”

Ci Kong diam saja, hanya alisnya berkerut. Dia tahu benar siapa adanya perwira muda itu. Seorang laki-laki yang amat keji, bahkan sumoinya sendiri, Kiki, hampir saja menjadi korban kekejiannya dan diperkosanya. Mengingat akan hal itu, dia benci sekali terhadap Song Kim, dan kalau menurutkan dorongan hatinya, ingin dia pada saat itu juga menyerang Song Kim dan membunuhnya! Sementara itu, Kui Eng yang mengerti bahwa dua orang kawannya itu sengaja membiarkan ia berdua dengan tuan rumah agar ia dapat mencoba untuk mengorek rahasia, segera berkata.

“Aihh, begini indah taman bungamu, ciangkun. Duduk di sini, aku merasa seolah-olah dunia ini begini indah dan aman tenteram. Akan tetapi kalau aku teringat akan peristiwa malam tadi, aku merasa ngeri. Lee-ciangkun, sebenarnya apakah yang telah terjadi maka engkau dan pasukanmu harus melakukan pembersihan seperti itu?”

Sejak tadi Song Kim memandang gadis itu dengan penuh kagum. Seorang gadis yang amat cantik jelita. Dan kaya raya pula! Kalau dia dapat mempersunting gadis ini, alangkah akan senang hatinya. Bukan saja mendapatkan seorang isteri yang cantik manis, akan tetapi kaya raya pula!

“Ah, keadaan sekarang amat kacau, nona. Di luar tempat ini banyak berkeliaran orang jahat dan mata-mata pemberontak.”

“Pemberontak? Aih, aku sudah banyak mendengar tentang itu, ciangkun. Dari ayahku, aku banyak mendengar tentang Perang Madat di selatan, dan tentang orang-orang kulit putih, tentang pemberontakan-pemberontakan yang timbul. Bahkan sebelum aku berangkat, aku mendengar ayah mendongeng tentang sebuah pusaka yang diperebutkan, harta pusaka yang amat besar nilainya, dan kabarnya harta pusaka itu terjatuh ke tangan orang-orang sakti yang kabarnya akan dipergunakan untuk pemberontakan. Benarkah itu?”

Diam-diam Song Kim terkejut mendengar ini, akan tetapi ketika dia melihat wajah yang polos itu, dia tidak jadi curiga dan diapun maklum bahwa berita tentang Giok-liong-kiam yang terjatuh ke tangan Empat Racun Dunia sudah tersebar luas. Dia sendiripun sedang berusaha mati-matian, dengan menyebar mata-mata dan kaki tangannya, untuk mengamati para tokoh itu. Pemerintah sudah bertekad untuk merampas harta pusaka yang tersimpan rahasianya dalam pedang pusaka Giok-liong-kiam. Dan gadis ini tentu hanya mendengar hal itu seperti dongeng saja.

“Memang benar! Ada harta karun yang amat besar nilainya, kini terancam akan terjatuh ke tangan orang-orang jahat yang hendak mengadakan pemberontakan.”

“Ihhh! betapa mengerikan kalau sampai mereka berhasil, menguasai harta itu dan mengadakan pemberontakari, tentu keadaan negara akan menjadi kacau. Dan mungkin ketuargaku harus mengungsi ke kota raja. Aku akan minta kepada ayah untuk mengungsi ke kota raja. Akan tetapi kami tidak mempunyai rumah disini.”

“Jangan khawatir, nona. Aku yang akan menampung keluargamu kalau keluargamu benar-benar ingin mengungsi ke kota raja…” katanya dengan senyum dan pandang mata memikat.

“Tapi, ciangkun. Kalau pemerintah sudah tahu akan hal itu, kenapa pemerintah tidak turun tangan? Kenapa tidak mengirim pasukan dan merampas saja harta pusaka itu agar jangan terjatuh ke tangan para pemberontak?”

Dengan cerdik, Kui Eng memancing dengan sikap bodoh dan tidak mengenal persoalan.

“Ah, engkau tidak mengerti, nona. Persoalannya tidaklah sesederhana itu. Kalau pusaka itu berada di tangan penjahat-penjahat biasa, tentu akan mudah. Akan tetapi keadaannya tidaklah demikian.”

“Lee-ciangkun, engkau membikin aku menjadi bingung. Maukah engkau bercerita untuk melengkapi dongeng dari ayah? Siapa sih yang menguasai harta pusaka itu, dan kenapa kau bilang bahwa tidak mudah untuk merampas agar harta itu tidak dipergunakan memberontak?”

Song Kim tersenyum.

Post a Comment