Cin Liong berseru, kecewa.
"Apakah masih saudara dengan sahabat-sahabat Cu Han Bu dan Cu Seng Bu?"
Tanya Kao Kok Cu. Cu Kang Bu yang sudah lama mengagumi nama besar Naga Sakti Gurun Pasir sudah cepat menjura dengan hormat dan menjawab,
"Mereka itu adalah kakak-kakak saya dan saya merasa terhormat sekali dapat bertemu dengan Kao-taihiap yang nama besarnya sudah lama saya dengar dari..... tunangan saya ini."
Mendengar bahwa laki-laki gagah perkasa bertubuh raksasa ini adalah adik dari keluarga Cu yang merahasiakan di mana adanya Sim Hong Bu yang mem-bawa pedang pusaka itu, Wan Ceng yang cerdik cepat bertanya,
"Saudara Cu Kang Bu, dapatkan engkau memberitahu kami di mana adanya Sim Hong Bu....?"
"Sim Hong Bu....?"
Kang Bu dan Yu Hwi berkata heran, tidak tahu bagaimana harus menjawab. Mereka tidak tahu mengapa keluarga ini bertanya tentang murid itu, dan mereka meragu apakah mereka boleh memberitahukan kepada orang lain karena pemuda itu sedang menyembunyikan dirinya untuk menggembleng diri dan melatih ilmu pedang sampai sempurna. Bukankah Sim Hong Bu mempunyai tugas yang amat berat, yaitu kelak dialah yang harus mengangkat kembali nama keluarga lembah dan menandingi kalau mungkin mengalahkan Suling Emas? Selagi mereka meragu, terdengar suara nyaring di belakang mereka.
"Paman, jangan beritahukan! Ayah dan Paman Seng Bu telah terluka oleh mereka dan sedang menanti kedatangan Paman!"
Kiranya yang bicara itu adalah Cu Pek In yang memandang ke arah keluarga Kao itu dan dengan sinar mata penuh kebencian.
"Mereka ingin merampas pedang pusaka kita, dan kalau mereka tahu di mana adanya dia, tentu akan diram-pasnya pedang itu!"
Cu Kang Bu memandang dengan mata terbelalak, sedangkan Yu Hwi memandang pendekar sakti den isterinya itu dengan wajah terheran-heran.
"Bagaimana Ji-wi dapat melakukan hal seperti itu? Aku.... aku tidak peccaya...."
Kao Kok Cu menarik napas panjang.
"Kami adalah utusan Kaisar yang ingin agar pedang pusaka yang dicuri dari gudang pusaka istana itu dikembalikan."
Mengertilah kini Yu Hwi dan dia menjadi serba salah. Akan tetapi Kang Bu sudah menarik tangannya.
"Mari, Hwi-moi, kita menengok kedua kakak kita yang terluka."
Dan mereka bertiga lalu lari ke arah jurang, menyeberangi jurang melalui jembatan tambang, meninggalkan tiga orang keluarga Kao yang hanya dapat meman-dang saja.
"Agaknya tak mungkin dapat diharapkan dapat menemukan Sim Hong Bu itu melalui mereka, dan harus dicari lebih jauh lagi! kata pendekar itu yang mengajak anak isterinya untuk meninggalkan lembah. Akan tetapi mereka mencari terlalu jauh. Tak lama sesudah Cu Kang Bu dan Yu Hwi kembali ke lembah, dengan hati-hati sekali Cu Kang Bu lalu meninggalkan lembah untuk pergi ke guha tempat persembunyian Sim Hong Bu dan dia mengajak pemuda itu untuk pergi ke lembah. Keluarga Cu berduka cita, bukan hanya karena Cu Han Bu dan Cu Seng Bu kalah bertanding dan terluka parah, akan tetapi juga karena keputusan dua orang tokoh itu untuk selanjutnya mencukur gundul kepala mereka dan hidup sebagai pertapa yang mengasingkan diri!
"Sebelum kami berdua mencukur rambut dan meninggalkan tempat ini untuk mengasingkan diri sebagai pendeta, aku ingin lebih dulu menunaikan kewajibanku meresmikan pernikahan kalian, Kang Bu dan Yu Hwi. Keadaan kita sedang prihatin, oleh karena itu maafkanlah saudara tuamu ini bahwa terpaksa pernikahan kalian tidak diramaikan, cukup disaksikan oleh para pembantu murid kita di lembah dan dilakukan upacara sembahyang kepada leluhur kita. Sesudah itu, kalian berdualah yang kami serahi untuk mengurus lembah ini, akan tetapi kalau kalian menghendaki untuk tinggal di tempat lain, terserah, asalkan semua anak buah dibubarkan lebih dulu dan jembatan yang menghubungkan lembah ini keluar dimusnahkan. Dan aku titip Pek In kepada kalian."
Cu Han Bu berhenti sebentar dan menarik napas panjang untuk menekan hatinya yang terharu melihat Pek In menangis terisak-isak.
"Dan engkau, Sim Hong Bu. Engkau adalah murid kami, juga pewaris pedang pusaka keluarga Cu. Bahkan engkau satu-satunya pewaris Ilmu Pedang Koa-liong Kiam-sut. Engkau menjadi buronan pemerintah, karena kaisar telah mengirim utusan untuk merampas pedang pusaka. Bersumpahlah bahwa engkau akan mempertahankan pedang pusaka kami itu, demi menjunjung nama keluarga kami!"
"Teecu bersumpah, Suhu."
Kata Hong Bu dengan suara tegas.
"Teecu akan mempertahankan pedang ini dengan taruhan nyawa teecu!"
"Bagus, hatiku lega mendengar itu. Dan engkau mempunyai tugas yang amat berat, Hong Bu. Selain mempertahankan pedang, juga untuk membela nama baik keluarga Cu dan Lembah Suling Emas yang terpaksa kita robah menjadi Lembah Naga Siluman ini, kelak engkau harus membuktikan bahwa Koai-liong kiam (Pedang Naga Siluman) tidak kalah terhadap Kim-siauw (Suling Emas). Carilah Kam Hong dan ajaklah dia bertanding untuk membuktikan siapa yang lebih unggul antara kalian, dengan demikian harapan kami selama ini tidak akan siasia."
Tentu saja Hong Bu sudah pernah mendengar akan hal ini, hal yang sungguh membuat hatinya tidak enak. Dia amat kagum dan suka kepada Kam Hong, dan kenyataan bahwa dia kelak harus berhada-pan dengan pendekar itu sebagai musuh, sungguh membuat hatinya tidak enak, apalagi kalau dia teringat kepada Ci Sian yang menjadi sumoi dari pendekar besar itu! Akan tetapi, dia maklum, bahwa dia tidak dapat menolak permintaan suhunya ini.
"Baik, Suhu. Pesan Suhu ini pasti akan teecu penuhi."
"Masih ada lagi, muridku. Engkau melihat sendiri betapa Suhu-suhumu telah terluka dan terpaksa menjadi hwesio karena dikalahkan oleh keluarga Naga Sakti Gurun Pasir. Aku yakin bahwa kalau engkau sudah menyempurnakan latihan-latihanmu, engkau akan mampu mengalahkan dia. Maka aku menghendaki agar kelak engkau mencari Naga Sakti Gurun Pasir dan atas nama kami membalas kekalahan kami untuk mempertahankan kehormatan nama keluarga Cu!"
Sebenarnya, di lubuk hatinya, Sim Hong Bu tidak setuju dengan sikap suhunya. Suhu dan susioknya ini kalah oleh Naga Sakti Gurun Pasir bukan karena urusan pribadi seperti yang mereka ceritakan kepadanya tadi. Keluarga Kao itu datang sebagai utusan Kaisar dan kalau dalam pertandingan perebutan pedang itu keluarga Cu kalah,
Hal itu sudah wajar karena dalam setiap pertandingan tentu ada yang kalah dan ada yang menang. Pula, apa jeleknya kalah oleh Naga Sakti Gurun Pasir yang namanya dipuja-puja seperti tokoh dewa dalam dongeng? Akan tetapi suhu dan keluarga suhunya memang dia tahu amat keras kepala, tidak dapat menerima kekalahan karena terlalu lama terbiasa dengan anggapan bahwa keluarga mereka adalah keluarga yang tak pernah terkalahkan, keluarga yang menyimpan rahasia ilmu-ilmu dahsyat, nenek moyang mereka yang menciptakan benda-benda, pusaka seperti Suling Emas dan Pedang Naga Siluman. Cu Han Bu melihat keraguan muridnya dan diam-diam dia merasa agak malu juga. Dia agaknya dapat membaca apa yang menjadi keraguan hati muridnya, maka dia berkata lagi,
"Hong Bu, ketahuilah bahwa kami tidak mempunyai dendam sakit hati pribadi terhadap Naga Sakti Gurun Pasir. Pertentangan antara mereka dan kami hanya kebetulan saja karena puteranya menjadi jenderal dan utusan Kaisar. Akan tetapi, kalau engkau sebagai murid dan pewaris keluarga kami tidak memperli-hatkan bahwa kita tidak kalah oleh mereka, tentu dunia kang-ouw akan menganggap bahwa nama keluarga Cu adalah nama kosong belaka."