Halo!

Suling Emas Naga Siluman Chapter 174

Memuat...

Terdangar suara Kao Kok Cu berkata, suara yang menggetar dan mengandung kekuatan sedemikian dahsyatnya sehingga seluruh benda di sekitar tempat itupun ikut tergetar. Cu Han Bu terkejut, memandang ke bekas lawannya dan menarik napas panjang, lalu jatuh terduduk, bersila dan memejamkan matanya. Kao Kok Cu membiarkan saja dia demikian itu seketika lamanya karena dia maklum bahwa kalau tidak cepat-cepat majikan lembah itu mengumpulkan hawa murni, dia tentu takkan dapat tertolong lagi. Cu Pek In lari menghampiri ayahnya, akan tetapi sebelum dia menyentuh ayahnya dia dicegah oleh Cu Seng Bu yang memegang lengan gadis itu.

Cu Pek In memandang ayahnya dengan air mata menetes di kedua pipinya dan suasana amat menyedihkan dan mengharukan hati keluarga Kao Kok Cu. Mereka ini tahu bahwa dengan berhasilnya mereka melaksanakan perintah kaisar, mereka pun berarti menghancurkan kebahagiaan keluarga Cu ini! Mereka merasa menyesal sekali, akan tetapi apa yang sudah terjadi tidak dapat diperbaiki kembali. Mereka bertiga memandang ke arah Cu Han Bu, seperti yang dilakukan oleh Cu Seng Bu dan Pek In, dan mereka menanti. Tak lama kemudian, pernapasan yang tadinya, memburu itu menjadi semakin tenang dan akhirnya terdengar Cu Han Bu menarik napas paajang, lalu membuka matanya dan pertama kali dia menggerakkan mata, dia memandang ke arah Kao Kok Cu.

"Terima kasih, Naga Sakti Gurun Pasir, bukan karena engkau telah menyelamatkan aku, melainkan karena engkau telah ingatkan aku yang hampir menjadi pengecut. Engkau benar, dan aku tidak akan takut menghadapi kegagalan. Kami telah kalah. Nah, dengarlah. Pedang itu berada pada muridku yang bernama Sim Hong Bu. Dialah yang berhak mewarisi pedang itu bersama ilmunya dan sekarang, dialah yang berhak atas pedang itu, bukan kami."

Kao Cin Liong merasa kecewa karena tadinya dia mengharapkan bahwa kemenangan itu akan membuat keluarga ini menyerahkan pedang pusaka itu kembali.

"Dan, di mana adanya Sim Hong Bu itu, Lo-enghiong?"

Cu Han Bu tersenyum pahit.

"Goan-swe engkau boleh menangkapku, menbunuhku, akan tetapi jangan harap akan dapat memaksa kami menjadi pengkhianat-pengkhianat yang mengkhianati dia yang menjadi muridku dan pewaris pedang pusaka kami!"

Cu Seng Bu dan Cu Pek In juga menentang pandang matanya dengan sikap menantang. Kao Kok Cu maklum bahwa tiada gunanya memaksa karena orang-orang gagah seperti ini tentu akan lebih suka menyerahkan nyawa daripada harus mengkhianati orang sendiri.

"Satu pertanyaan lagi, Saudara Cu Han Bu. Perlukah aku menggeledah di lembah ini untuk mencari Sim Hong Bu?"

Cu Han Bu memandang dengan sinar mata tajam.

"Percuma, dia tidak berada di sini."

"Biar aku akan mencarinya di sini, Ayah,"

Kata Cin Liong akan tetapi ayahnya mencegah.

"Tidak perlu, Cin Liong. Saudara Cu Han Bu sudah mengatakan bahwa dia tidak ada di lembah ini. Dia sudah mengatakan sejujurnya dan aku yakin dia mempunyai cukup kehormatan untuk tidak membohongi kita. Mari kita pergi, kita akan mencari sendiri Sim Hong Bu!"

Setelah berkata demikian, Kao Kok Cu menjura ke arah mereka dan berkata,

"Perkenankan kami pergi dari sini, Saudara Cu dan maafkan semua perbuatan kami."

Kao Kok Cu bersama anak isterinya hendak membalikkan tubuh, akan tetapi Cu Han Bu bangkit dan berkata dengan suara parau,

"Kao Kok Cu!"

Pendekar itu bersama isteri dan puteranya berhenti dan membalikkan tubuh, memandang dengan alis berkerut.

"Dengarlah! Hari ini kami keluarga Cu kalah olehmu, akan tetapi ingat, murid kami Sim Hong Bu yang kelak akan membuktikan bahwa kami tidak kalah olehmu, dan pedang Koai-liong Po-kiam, pedang pusaka kami itu yang akan mengalahkanmu! Nah, mulai sekarang, aku dan Adikku akan mengasingkan diri sesuai dengan janji, menjadi hwesio dan bertapa di tempat sunyi. Biarlah murid kami itu yang kelak membalaskan kami. Pek In, antarkan tamu sampai menyeberang!"

Dengan muka pucat dan mata basah air mata, Cu Pek In memandang dengan mata penuh kebencian kepada keluarga Kao, lalu berkata,

"Mari!"

Dia pun lalu berjalan dengan tubuh ditegakkan, menuju ke arah jurang penyeberangan. Kao Kok Cu dan anak isterinya mengikutinya karena mereka maklum bahwa kalau fihak tuan rumah menghendaki, sukar bagi mereka untuk dapat keluar dari lembah itu tanpa bahaya. Andaikata dirusak saja jembatan tambang itu, berarti mereka tidak tahu bagaimana harus keluar dari lembah yang terasing dari dunia luar dan hanya dihubungkan dengan dunia luar melalui jembatan tambang itu saja. Tanpa mengeluarkan kata-kata, Pek In memberi isyarat kepada para penjaga. Jembatan tambang diangkat naik, gadis itupun meloncat ke atas jembatan tambang itu diikuti oleh tiga orang tamunya. Setelah mereka semua tiba di seberang, gadis itu lalu berkata dengan sikap kaku,

"Selamat jalan!"

Kao Cin Liong merasa kasihan.

"Selamat tinggal, Nona dan maafkan kami."

Akan tetapi gadis itu telah meloncat kembali ke atas jembatan tambang dan berlari cepat menuju kembali ke lembah. Kao Kok Cu menarik napas panjang.

"Sungguh sayang, Cin Liong, kita telah menanam bibit kebencian dalam hati keluarga yang demikian gagahnya."

"Kita berada dalam tugas, Ayah, bukan urusan pribadi,"

Kata Cin Liong tenang.

"Benar! Kalau mereka itu benar-benar orang gagah tentu menyadari hal itu. Urusan ini urusan tugas pemerintah, bukan urusan pribadi, akan tetapi kalau mereka menganggap sebagai permusuhan, perorangan dan mendendam kepada kita, adalah karena ketololan mereka sendiri!"

Kata Wan Ceng yang wataknya masih belum berobah, yaitu keras dan berani. Kao Kok Cu menarik napas panjang. Dia tidak dapat menyangkal kebenaran ucapan isterinya dan puteranya, betapapun juga, dia tahu bahwa bagi sebuah keluarga yang hebat seperti keluarga Cu itu, nama merupakan hal yang amat penting dan sekarang mereka itu kehi-langan nama, oleh karena itu sudah pasti mereka merasa sakit hati. Pendekar ini masih mendengar ancaman Cu Han Bu dan dia sudah menganggap nama Sim Hong Bu sebagai nama yang mungkin kelak akan menimbulkan kesukaran baginya dan keturunannya. Agaknya Wan Ceng dapat membaca kekhawatirannya di wajah suaminya, maka nyonya ini berkata dengan gagah,

"Bekerja tidak boleh kepalang tanggung! Kita telah mengalahkan keluarga itu, dan sekarang, bagaimanapun juga kita harus bisa mendapatkan orang yang bernama Sim Hong Bun itu dan merampas pedang pusaka istana sebelum urusan menjadi berlarut-larut."

Kao Cin Liong mengangguk.

"Ucapan Ibu benar sekali, dan saya kira murid mereka itu tentu tidak berada jauh dari lembah ini!"

Demikianlah, tiga orang itu lalu mulai mencari jejak Sim Hong Bu, akan tetapi karena mereka belum pernah melihat wajah pemuda yang bernama Sim Hong Bu itu, tentu saja tidak mudah bagi mereka, apalagi, seperti kita ketahui, pemuda itu menyembunyikan diri dalam sebuah guha rahasia untuk melatih ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut sampai sempurna. Dan karena mereka selama beberapa hari menyelidiki tempat-tempat sekitar lembah itu, maka mereka melihat munculnya Yu Hwi dan Cu Kang Bu yang baru kembali dari perjalanan mereka mengunjungi Sai-cu Kai-ong. Tiga orang itu bersembunyi dan membayangi Yu Hwi dan Cu Kang Bu.

"Dia.... bukankah dia itu Ang-siocia, murid dari Hek-sin Touw-ong....?"

Ceng Ceng atau Wan Ceng berbisik kepada suaminya. Kao Kok Cu mengangguk. Kini dia pun teringat, Itulah gadis yang dulu pernah membantu mendiang ayahnya, yaitu Jenderal Kao Liang ketika ayahnya itu ditawan Pangeran Nepal di sebuah benteng yang amat kuat (baca KISAH JODOH RAJAWALI). Gadis liar yang banyak akalnya dan yang pada dasarnya mempunyai watak yang gagah perkasa dan baik, seperti yang telah dibuktikannya ketika membantu ayahnya itu.

"Dan pria itu.... mungkinkah dia Sim Hong Bu?"

Bisik Cin Liong dengan jantung berdebar penuh harapan. Pria itu nampak gagah perkasa, tinggi besar seperti raksasa dan memang pantaslah kalau menjadi murid keluarga Cu yang berilmu tinggi, walaupun raksasa ini agaknya sudah terlalu tua untuk menjadi murid mereka.

"Hemm, mungkin saja. Lihat, mereka menuju ke jurang pemisah lembah"

Bisik Kao Kok Cu.

"Sebaiknya kita tanya secara terus terang saja. Heiii, tunggu dulu....!"

Wan Ceng berseru dan meloncat keluar, diikuti suaminya dan puteranya. Yu Hwi dan Cu Kang Bu yang sedang berjalan dengan asyik dan mesranya, sambil bergandengan tangan dan bercakap-cakap diseling senyum mesra, terkejut sekali dan cepat mereka saling melepaskan tangan dan membalikkan tubuh memandang kepada tiga orang yang muncul secara tiba-tiba itu. Seorang pendekar seperti Si Naga Gurun Pasir tentu saja sukar dapat dilupakan orang, terutama sekali karena lengannya tinggal sebelah itu. Demikian pula dengan Yu Hwi, begitu melihat pendekar ini, dia terkejut sekali dan teringat, apalagi setelah dia melihat Wan Ceng, maka dengan gagap saking kaget dan juga gembiranya dia berseru,

"Bukankah.... bukankah saya berhadapan dengan Naga Sakti Gurun Pasir, Kao Kok Cu Taihiap bersama isteri?"

Ucapan kekasihnya ini membuat Cu Kang Bu juga terkejut bukan main. Pernah dia mendengar nama besar seperti nama tokoh dalam dongeng ini, dan pernah pula kekasihnya bercerita tentang pertemuan kekasihnya dengan pendekar sakti dan isterinya ini ketika kekasihnya membantu mendiang Jenderal Kok Liang, ayah dari pendekar sakti ini.

"Ingatanmu kuat sekali, Nona. Benar, aku adalah Kao Kok Cu dan ini adalah isteri dan putera kami."

"Hemm, engkau tentu Ang-siocia, bukan?"

Wan Ceng berkata sambil memandang wajah gadis itu, akan tetapi lalu dia memandang wajah Cu Kang Bu sambil bertanya penuh curiga,

"Dan siapakah dia ini?"

Ang-siocia atau Yu Hwi tertawa mendengar disebut nama julukannya yang sudah lama sekali tak pernah didengarnya yang hampir dilupakannya itu.

"Ah, Bibi yang gagah perkasa, saya tidak berjuluk Ang-siocia lagi. Lihat, pakaian saya tidak merah, bukan? Dan dia ini adalah...."

Wajahnya berobah dan dia tidak melanjutkan kata "tunangan"

Itu.

".... bernama Cu Kang Bu."

"Ah....!"

Post a Comment