Sai-cu Kai-ong menggeleng-gelengkan kepalanya pantas saja cucunya menjadi demikian lihainya, kiranya menjadi murid wanita yang telah menggegerkan dunia kang-ouw ketika mencuri pedang pusaka dari gudang pusaka istana tanpa ada seorang pun yang mengetahuinya.
"Sungguh luar biasa sekali nasibmu, Cucuku. Sejak kecil sekali, telah menjadi murid seorang seperti Hek-sin Touw-ong, kemudian menjadi murid Cui-beng Sian-li, dan kini malah menjadi jodoh seorang seperti Cu Kang Bu!"
Yu Hwi lalu menceritakan kepada kong-kongnya segala hal yang telah dialaminya semenjak dia meninggalkan kakeknya itu dan juga tentang pertemuannya dengan Kam Hong. Setelah mendengarkan semua penuturan Yu Hwi, kakek itu mengangguk-angguk dan beberapa kali dia menarik napas panjang walaupun wajahnya masih memperlihatkan tanda bahwa dia merasa girang juga, kalau dia teringat betapa hubungan antara keluarga Kam dan keluarga Yu terjalin semenjak ratusan tahun yang lalu, dan kini, pada keturunan terakhir, dia gagal untuk mengikatkan perjodohan antara dua keluarga itu, hatinya terasa amat berduka.
"Kong-kong, setelah kami berdua datang menghadap Kong-kong, dan Kong-kong dapat menyetujui ikatan jodoh antara kami, kami mohon agar Kong-kong sudi bersama kami ke Lembah Suling Emas di mana kami akan meresmikan pernikahan kami dan agar Kong-kong dapat memberi doa restu kepada kami!"
Kini kakek itu mengerutkan alisnya dan menjawab,
"Sayang sekali, hal itu tidak mungkun aku lakukan, Yu Hwi. Tentu saja aku tidak keberatan kalau engkau berjodoh dengan Cu Kang Bu, akan tetapi aku sendiri tidak mungkin menghadiri pernikahan...."
"Kenapa, Kong-kong?"
"Aku telah bersumpah untuk mengikatkan keluarga Kam dan keluarga kita Yu dalam ikatan perjodohan, namun aku telah gagal. Aku telah mengecewakan leluhur kita, bagaimana mungkin aku dapat menghadiri pernikahanmu dengan keluarga lain? Aku sudah tua dan aku akan tinggal di sini, mengasingkan diri sampai mati. Aku tidak akan keluar meninggalkan tempat ini, apa pun yang akan terjadi di luar. Nah, kalian kembalilah ke barat dan jadilah suami isteri yang baik, tentu saja doa restuku menyertai kalian berdua."
Jawaban ini menyedihkan hati Yu Hwi akan tetapi karena semenjak kecil dia tidak bersama kakeknya, maka dia pun dapat menguasai hatinya. Maka untuk terakhir kalinya dia lalu berlutut di depan kakek itu untuk berpamit, diikuti pula oleh Cu Kang Bu karena kakek itu adalah calon kong-kongnya juga. Melihat betapa dua orang itu berlutut di depannya, Sai-cu Kai-ong merasa tarharu juga.
"Semoga Thian selalu malindungimu, Cucu-cucuku, Dan kalau kebetulan kalian bertemu dengan Kam Hong, katakanlah kepadanya bahwa sebelum aku mati aku ingin berjumpa dengannya, minta agar dia suka datang ke sini mengunjungiku."
Demikianlah, setelah mendapat doa restu kakek itu, Yu Hwi dan Cu Kang Bu lalu meninggalkan Puncak Bukit Nelayan itu dan menuruni Pegunungan Tai-hang-san untuk kembali ke Lembah Suling Emas atau yang kini telah berubah namanya menjadi Lembah Naga Siluman.
Mereka, juga Yu Hwi, tidak merasa bersedih, bahkan sebaliknya, mereka merasa gembira sekali karena mereka kini menuju pulang untuk segera melangsungkan pernikahan mereka! Mereka sudah mendapat persetujuan dan doa restu Sai-cu Kai-ong, bahwa bahwa ikatan jodah antara Yu Hwi dengan Kam Hong telah putus secara resmi. Tidak ada lagi yang menjadi penghalang atau ganjalan di antara mereka untuk dapat menikah dengan resmi. Senang dan susah mirip ombak dalam samudera kehidupan, susul-menyusul dan datang silih berganti. Tangis dan tawa merupakan bumbu-bumbu kehidupan seperti masam dan manis dalam masakan. Selagi terbuai dalam kesenangan, kita tidak tahu bahwa kesusahan sudah berada di ambang pintu untuk mendapat giliran menguasai kita, menggantikan kesenangan yang terbang lalu tanpa meninggalkan bekas lagi.
Yu Hwi dan Kang Bu melakukan perjalanan menuju ke Lembah Naga Siluman dengan hati girang, bermesraan disepanjang perjalanan, sama sekali tidak tahu bahwa pada saat mereka melakukan perjalanan itu, terjadi sesuatu yang hebat di lembah itu. Apakah yang terjadi? Mari kita menengok keadaan lembah itu dan meninggalkan sepasang calon suami isteri, sepasang kekasih yang penuh kemesraan dan kebahagiaan itu.
Pada pagi yang cerah itu, Cu Pek In, gadis berusia delapan belas tahun yang berpakaian pria, dengan rambut digelung ke atas dan ditutup sebuah topi pelajar itu, sedang berjalan pulang ke lembah dengan wajah riang. Dia baru saja kembali dari guha rahasia di mana Sim Hong Bu masih tekun "bertapa"
Sambil menyempurnakan Ilmu Pedang Koai-liong Kiam-sut. Tidak ada orang yang mengetahui tempat rahasia itu kecuali keluarga Cu, bahkan selama Hong Bu bertapa di situ memperdalam ilmu pedang pusaka itu, tidak ada orang lain yang boleh masuk kecuali Pek In. Gadis inilah yang dalam waktu beberapa hari sekali datang menjenguk sambil membawakan bahan makanan untuk Hong Bu. Pada pagi hari itu Pek In baru saja kembali dari kunjungannya kepada Hong Bu, pemuda yang dicintanya itu, dan karena sikap Hong Bu kepadanya cukup manis, maka hatinya gembira sekali pada pagi hari itu.
Dia berjalan sambil kadang-kadang berloncatan dan bernyanyi-nyanyi gembira, lupa bahwa suara nyanyiannya ini sepenuhnya suara wanita, jauh berbeda dengan pakaiannya. Kalau dia tidak mengeluarkan suara, tentu dia akan disangka seorang pemuda yang amat tampan sekali. Sebagai seorang gadis, kecantikan Pek In biasa saja, tidak terlalu menonjol. Akan tetapi kalau dia dianggap pria karena pakaiannya, maka dia adalah seorang pria yang amat ganteng, dengan muka yang putih dan mata yang jeli dan menarik. Sebagai puterti tunggal Cu Han Bu orang pertama dari keluarga Cu, tentu saja dara ini memiliki kepandaian yang cukup tinggi. Namun, kini dia tidak tahu bahwa ada tiga pasang mata yang mengikuti gerak-geriknya dari jarak dekat!
Hal ini saja sudah membuktikan bahwa tingkat kepandaian tiga orang yang membayanginya itu jauh lebih tinggi lagi dibandingkan dengan dia. Tiga orang ini baru melihatnya setelah dia, berada di dekat lembah, dan memang sudah sejak kemarin tiga orang ini mengintai di lembah itu. Tiga orang ini bukan lain adalah Si Naga Sakti Gurun Pasir bersama isteri dan puteranya. Mereka sudah tiba di pegunungan ini dan tahu bahwa Lembah Suling Emas yang dimaksudkan sebagai tempat tinggal keluarga Cu itu tentu di sekitar tempat ini. Akan tetapi mereka belum juga menemukan tempat itu, maka mereka lalu menyembunyikan diri dan mengintai karena mereka merasa yakin bahwa pada suatu waktu tentu ada penghuni lembah yang keluar untuk suatu keperluan. Sudah sehari semalam tiga orang sakti ini menanti dan akhirnya usaha mereka berhasil.
Mereka melihat Cu Pek In berjalan seorang diri dengan sikap gembira sekali. Keluarga Naga Sakti Gurun Pasir tentu saja dengan sekali pandang sudah tahu bahwa "pemuda"
Yang berjalan seorang diri itu adalah seorang gadis. Mereka lalu membayangi dengan hati-hati. Mereka melihat bahwa dara yang berpakaian pria itu menuju ke tepi sebuah jurang yang amat lebar dan amat dalam, jurang yang pernah mereka datangi. Ketika tiba di tepi jurang, seperti biasa Pek In menoleh ke kanan kiri dan belakang, setelah merasa yakin bahwa di tempat itu tidak terdapat orang lain, dia lalu mengeluarkan suling emasnya dari balik bajunya dan meniup sulingnya. Terdengar suara melengking nyaring yang mengejutkan hati tiga orang pengintai itu. Mereka maklum bahwa tiupan suling itu bukanlah tiupan biasa melainkan tiupan seorang yang memiliki khi-kang yang kuat.
Tiga orang yang melakukan pengintaian itu memandang dengan mata terbelalak penuh keheranan dan juga kekaguman ketika mereka melihat betapa dari dasar jurang itu kini nampak sehelai tambang yang cukup besar dan kuat, perlahan-lahan naik ke atas dan akhirnya melintang menyeberang jurang. Mengertilah mereka bahwa dara itu tadi menggunakan suara suling untuk memberi tanda kepada orang-orang di seberang jurang yang tidak nampak, dan orang-orang itu telah menarik tambang yang merupakan jembatan dan jembatan tambang itu tadinya menjulur kendur ke bawah, tersembunyi kabut. Memang benar dugaan mereka, karena kini dengan gerakan ringan sekali, dara berpakaian pria itu meloncat ke atas tambang itu dan berjalan di atas tali dengan gerakan yang lincah.
"Cepat, aku akan mendahuluinya dan kalian di belakangnya. Dia akan membawa kita ke seberang sana!"
Bisik Si Naga Sakti Gurun Pasir kepada isteri dan puteranya. Wan Ceng dan Cin liong mengerti apa yang dimaksudkan oleh pendekar sakti itu, maka mereka mengangguk dan begitu pendekar itu berkelebat cepat meloncat ke depan, Wan Ceng dan Cin Liong juga meloncat dengan kecepatan kilat menuju ke tepi jurang. Bagaikan seekor burung saja, tubuh pendekar berlengan satu itu telah berada di atas tambang, dan gerakannya sedemikian ringannya sehingga Pek In yang berjalan di depan itu sama sekali tidak tahu bahwa di belakangnya ada orang yang mengikutinya.
"Nona, perlahan dulu!"
Ucapan itu mengejutkan Pek In dan dia menoleh sambil menunda langkahnya. Akan tetapi pada saat itu, orang yang tiba di belakangnya telah meloncat ke atas, melewati kepalanya dan tahu-tahu seorang laki-laki yang bertubuh tegap dan berlengan satu telah berdiri di atas tambang di depannya!. Pek In memandang dengan mata terbelalak. Hampir dia tidak percaya bahwa ada orang yang berani melakukan perbuatan yang amat berbahaya seperti itu, ialah meloncati atas kepalanya dan turun lagi ke atas tambang di depannya. Hanya seekor burung saja yang agaknya akan mampu melakukan hal itu! Akan tetapi, dia tidak sempat terheran-heran terlalu lama, karena tambang itu bergoyang di belakangnya dan ketika dia menengok, ternyata di belakangnya terdapat dua orang lain yang sudah berjalan di atas jembatan tambang itu. Dia telah dikepung dari depan dan belakang!
"Siapa kalian? Mau apa kalian?"
Bentaknya, maklum bahwa dia tidak berdaya, dan bahwa para penjaga yang bertugas menarik dan mengendurkan tambang itu pun tidak berdaya karena kalau mereka itu mengendurkan tambang, bukan hanya tiga orang asing, itu yang akan terjerumus ke dalam jurang, akan tetapi dia juga karena dia berada di tengah-tengah antara mereka!
"Maaf, Nona. Kami hanya ingin agar Nona membawa kita ke seberang. Kami ingin bertemu dengan para penghuni Lembah Suling Emas!"
Kata Kao Kok Cu dan dia pun segera melangkah ke depan, mendahului gadis itu menyeberang. Pek In tidak membantah karena tahu bahwa percuma saja membantah. Dia pun lalu melangkah ke depan, akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan di belakangnya,