"Nah, daging kelabang pun rasanya sama dengan daging udang! Yang lima ekor ini akan kupanggang dalam tanah liat, akan tetapi yang bunting itu harus direbus, karena kalau dipanggang, racunnya banyak yang hilang. Direbus juga enak, coba saja nanti."
Berkuranglah rasa jijik di hati Kwi Hong, Apalagi setelah dia mencari air sungai yang terdapat dalam bagian bukit yang subur, kemudian mereka memasak kelabang dan memanggang yang lima ekor, gurunya tiada hentinya menceritakan kelezatan daging kelabang yang dagingnya sejenis dengan daging udang, kepiting, belalang, jangkerik, dan lain binatang yang kulitnya keras. Kesibukan memasak udang itu berlangsung sampai pagi, karena tidak mudah bagi Kwi Hong mencari air dan daun-daun bumbu di dalam hutan di waktu malam seperti itu, sungguhpun sinar bulan banyak membantunya. Akan tetapi, akhirnya masakan-masakan itu selesai di waktu pagi.
"Nah, kau makan dulu seekor daging panggang sebagai cuci mulut!"
Kata Bu-tek Siauw-jin. Kwi Hong tertawa. Benar-benar lucu. Masa cuci mulut dengan daging panggang, dan lagi mana ada cuci mulut sebelum makan? Akan tetapi dia tidak membantah dan bersama suhunya, dia mengupas tanah liat yang sudah kering. Benar saja kulit kelabang itu ikut terkupas dan tampaklah kini dagingnya yang putih kemerahan dan mengepulkan uap tipis yang sedap. Melihat suhunya makan daging itu dengan lahapnya, Kwi Hong lalu menggigit daging yang dipegangnya dan benar-benar gurunya tidak membohong. Rasanya enak sekali, gurih dan enak manis, seperti daging udang!
"Jangan dihabiskan, separuh saja. Yang separuh untuk nanti setelah kau makan daging rebus."
Kwi Hong tersenyum, tanpa membantah lagi dia mengambil panci kecil di mana daging kelabang bunting itu telah dimasak. Bu-tek Siauw-jin mengambil sebuah guci arak dan menuangkan arak ke dalam masakan itu. Uap mengepul dan bau wangi arak merah itu bercampur dengan bau gurih sedap namun ada pula bau yang amis dan keras.
"Makan dagingnya sedikit-sedikit saja agar tidak terlalu mengejutkan tubuhmu. Jangan khawatir apa pun yang terasa olehmu, makan terus sampai habis. Ingat, yang kau makan ini bukan hanya daging yang lezat, akan tetapi terutama sekali obat untuk menyempurnakan latihan ilmu yang kuajarkan kepadamu."
Kwi Hong mengangguk, menggunakan sepotong kayu menusuk daging itu dan mulai menggigit dan memakan daging itu. Terpaksa ia memejamkan mata karena berbeda dengan ketika makan daging kelabang panggang tadi, kini daging kelabang yang direbus kelihatan putih dan besar, juga agak kehitaman di sebelah dalamnya, hitam kehijauan dia tahu adalah racun kelabang yang amat jahat! Rasanya memang ada enaknya, akan tetapi lebih banyak tidak enaknya daripada enaknya. Memang ada bau sedap, akan tetapi hampir tertutup sama sekali oleh bau amis dan keras bahkan bau arak itu pun tidak dapat melenyapkan bau amis.
Rasanya memang gurih, akan tetapi terasa pula getir dan pahit, juga ada rasa keras yang membuat lidah terasa seperti ditusuk-tusuk. Namun Kwi Hong dengan nekat mengunyah dan menelan. Hanya seben-tar mengunyah, tidak menunggu sampai lembut asal tidak terlalu besar, lalu ditelannya! Dia terus memejamkan mata dan biarpun terasa betapa dada dan perutnya panas sekali ketika makanan itu ditelannya, dia makan terus. Biarlah kalau dia akan mati karena ini, pikirnya. Sudah kepalang! Makin lama hawa panas makin hebat sehingga terasa gerah sekali. Keringatnya membasahi pakaian, seolah-olah dia merasa tubuhnya dipanggang. Akan tetapi, Kwi Hong adalah seorang gadis yang berhati keras dan nekat. Dia terus makan sampai akhirnya daging kelabang bunting habis ditelannya.
Kepalanya pening. Akan tetapi sebuah tangan menekan tengkuknya. Jari tangan Bu-tek Siauw-jin menotok punggung, rasa ingin muntah yang timbul hilang, kemudian telapak tangan gurunya menempel di punggungnya dan dari telapak tangan itu menjalar hawa dingin sejuk yang melawan hawa panas di tubuhnya. Akan tetapi sebentar saja tangan gurunya ditarik kembali ketika Kwi Hong yang teringat akan Swat-im Sin-kang, mengerahkan inti tenaga dingin untuk melawan serangan hawa panas itu. Sin-kangnya sudah amat kuat, apalagi Im-kang yang didapatkannya ketika berlatih di Pulau Es, bahkan lebih kuat daripada Im-kang yang disalurkan gurunya tadi. Hal ini adalah karena latihan Im-kang di Pulau Es merupakan puncak latihan menghimpun hawa dingin yang sukar dapat dimiliki oleh mereka yang berlatih di tempat panas.
"Bagus! Engkau dapat menahan hawa panas. Nah, makanlah sisa daging panggang itu."
"Suhu, aku sudah tidak ada nafsu lagi untuk makan daging...."
"Ih, jangan membantah! Ini perlu sekali untuk membuat perutmu kenyang dan terisi cukup...."
"Aku sudah kenyang sekali."
"Bodoh, kalau tidak kau isi sampai penuh sekali, mana dapat bertahan selama tiga hari tiga malam?"
"Apa maksudmu, Suhu?"
"Sudahlah, jangan banyak membantah. Makan sisa daging panggang ini dan habiskan!"
Karena maklum bahwa menghabiskan daging panggang ini termasuk kepentingan latihan itu, bukan semata-mata untuk membikin kenyang atau makan enak, Kwi Hong terpaksa makan habis sisa daging panggang. Perutnya menjadi kenyang sekali.
"Sekarang, minum kuah dalam panci itu sampai habis."
"Wah, mana perutku kuat, Suhu? Sudah terlalu kenyang dan kuah itu banyak sekali!"
Kwi Hong membantah. Sebetulnya bukan soal terlalu kenyang, akan tetapi dia merasa jijik kalau harus minum kuah itu. Baru dagingnya saja tadi sudah begitu memuakkan, apalagi kuahnya!
"Kwi Hong, tahukah engkau bahwa kuahnya ini yang jauh lebih penting? Andaikata engkau tidak makan dagingnya, masih tidak mengapa, akan tetapi kalau tidak minum kuahnya, kurasa akan sia-sia semua latihanmu. Sari obat berada di dalam kuah inilah!"
Kwi Hong bergidik.
Yang dimaksudkan suhunya dengan "sari obat"
Tentulah sari dan semua racun yang mengeram di dalam perut kelabang itu! Apa boleh buat! Sudah terlalu jauh dia melangkah, andaikata mendaki gunung sudah hampir sampai puncaknya. Dia mengangkat panci, membawa bibir panci menempel bibirnya, memejamkan mata, menahan napas agar hidungnya tidak mencium bau yang memuakkan itu, membuka mulut dan menuangkan isi panci itu sekaligus ke dalam perutnya melalui mulut! Begitu isinya habis, Kwi Hong mengeluh, panci kosong terlepas dari pegangannya dan terguling pingsan! Bu-tek Siauw-jin sudah siap, menerima tubuhnya dan membiarkan dara itu rebah terlentang di atas tanah sambil menyeringai dan tersenyum-senyum puas.
"Engkau hebat, muridku. Engkau hebat! Ha-ha-ha, hendak kulihat apa yang dapat dilakukan Suheng kepadamu. Heh-heh-heh, betapa suheng akan mencak-mencak kalau melihat muridnya kalah oleh muridku!"
Kalau tadi Kwi Hong tahu bahwa dia akan pingsan selama tiga hari tiga malam, kiranya dia akan pikir-pikir dulu untuk minum kuah itu! Dan hal ini sudah diketahui oleh Bu-tek Siauw-jin maka tadi kakek sinting ini setengah memaksa muridnya menghabiskan daging kelabang panggang agar selama tiga hari tiga malam pingsan itu, muridnya tidak akan terlalu kelaparan! Pada pagi hari yang ke empat, Kwi Hong siuman, menggerakkan tangan, mengeluh perlahan dan membuka mata. Ia merasa tubuhnya panas dan lapar sekali. Ketika melihat gurunya duduk bersila tak jauh dari situ sambil memandangnya dan tersenyum-senyum, Kwi Hong cepat bangkit duduk. Segera ia memejamkan kedua matanya karena begitu ia bangkit duduk, matanya berkunang dan kepalanya berdenyut-denyut keras.
"Jangan tergesa-gesa, Kwi Hong. Tenang-tenang sajalah! Engkau baru saja bangkit dari kematian dan mulai hidup baru. Ha-ha-ha!"
Kwi Hong membuka matanya kembali.
"Apa yang terjadi, Suhu? Apakah aku tertidur?"
"Engkau tidur, juga pingsan, bahkan boleh dibilang mati selama tiga hari tiga malam! Dan engkau telah berhasil!"
Kwi Hong teringat kembali.
"Aihh! Ketika minum kuah itu.... aku lalu pingsan selama tiga hari tiga malam?"
Kwi Hong duduk bersila dan mulailah dia digembleng oleh Bu-tek Siauw-jin dengan ilmu yang mujijat, yang diciptakan oleh kakek aneh ini selama menyembunyikan diri. Kakek itu benar-benar amat tekun melatih muridnya, bahkan dia kini yang mencarikan makan untuk muridnya agar Si Murid tidak usah menghentikan latihan, dan hanya berhenti kalau perlu makan saja.
Sampai dua pekan Kwi Hong disuruh melatih diri. Karena memang pada dasarnya gadis ini telah memikiki kekuatan sin-kang yang hebat berkat latihan yang ia terima dari Pendekar Super Sakti, maka dalam waktu singkat saja dia sudah dapat menguasai ilmu-ilmu yang diajarkan oleh kakek sinting itu, padahal bagi orang lain, belum tentu akan dapat dikuasai dalam latihan bertahun-tahun! Kemudian, berdasarkan tenaga mujijat ini Bu-tek Siauw-jin menambahkan jurus-jurus yang aneh dan dahsyat dalam ilmu pedang Kwi Hong. Juga dara ini dilatih menggunakan pukulan-pukulan dengan telapak tangan, pukulan yang amat hebat karena hawa pukulannya mengandung ancaman maut, mengandung hawa beracun yang selamanya belum pernah dia pelajari.
Tanpa disadarinya, Kwi Hong yang semenjak kecil menerima gemblengan-gemblengan pamannya dengan ilmu-ilmu tinggi yang bersih, kini telah mempelajari ilmu-ilmu golongan hitam! Memang benar bahwa segala ilmu dapat dipergunakan untuk kebaikan maupun kejahatan, tergantung manusianya. Akan tetapi, ilmu golongan sesat atau golongan hitam mengandung sifat-sifat yang ganas, kejam dan dahsyat, sehingga sekali turun tangan dapat merampas nyawa lawan dengan mudahnya! Demikianlah sambil melatih diri setiap ada kesempatan, Kwi Hong diajak oleh gurunya melanjutkan perjalanan menuju ke kota raja. Dasar kakek sinting, begitu tiba di kota raja, dia langsung saja menuju ke gedung koksu, berdiri di depan pintu gerbang karena para penjaga melarang kakek sinting ini masuk. Sambil berdiri tegak dan bertolak pinggang, kakek itu berteriak,
"Heh, Im-kan Seng-jin Bhong Ji Kun, keluarlah kamu dan hayo lawan aku Bu-tek Siauw-jin! Kalau aku kalah olehmu, biarlah aku meninggalkan muridku ini karena aku tidak pantas lagi menjadi gurunya!"
Para penjaga yang tadinya menghadang dan melarang kakek ini melalui pintu gerbang menjadi terkejut karena suara itu membuat mereka terpelanting ke kanan-kiri dan mereka tidak mampu bangkit lagi, tubuh mereka menggigil dan mereka hanya dapat memandang dengan mata terbelalak saja ketika kakek itu bersama dara jelita di sampingnya memasuki pintu gerbang istana koksu seenaknya! Kwi Hong juga terkejut, tidak menyangka bahwa gurunya akan bersikap selancang ini.
Mestinya, menurut pendapatnya, mereka menyelidik dan menyusup ke dalam istana koksu di malam hari. Akan tetapi gurunya dengan terang-terangan menantang sambil berteriak-teriak seperti itu! Mana ada seorang koksu yang berpangkat tinggi ditantang begitu saja seperti seorang anak kecil menantang berkelahi anak kecil? Teriakan yang disertai khi-kang kuat itu tidak saja membuat para penjaga di luar terpelanting, akan tetapi juga mengejutkan seluruh isi istana koksu karena bangunan besar itu seolah-olah tergetar dan akan ambruk! Berbondong-bondong keluarlah pasukan pengawal dengan senjata di tangan. Akan tetapi mereka menjadi ragu-ragu ketika melihat bahwa yang berjalan masuk dengan langkah lenggang kangkung itu hanyalah seorang kakek tua sekali yang tubuhnya pendek, hanya setinggi pundak dara jelita yang berjalan di sampingnya!
"Manusia lancang! Apakah engkau sudah bosan hidup berani mengacau gedung koksu?"
Seorang perwira pengawal membentak.
"Heh-heh! Memang aku sudah bosan hidup!"
Jawab Bu-tek Siauw-jin seenaknya saja.
"Apakah engkau ini Giam-lo-ong tukang cabut nyawa?"