"Kelabang celaka!"
Kwi Hong marah dan gemas sekali teringat akan ini, dua kali pedangnya berkelebat.
"Cres! Cress!"
Dia terkejut karena pedangnya bertemu dengan kulit yang amat alot dan keras. Andaikata bukan Li-mo-kiam yang berada di tangannya, tentu dia akan kecelik kalau tidak mengerahkan sin-kang, karena kulit kelabang itu ternyata amat tebal. Akan tetapi Li-mo-kiam adalah sebatang pedang pusaka yang ampuhnya menggila, maka dua kali sabetan itu berhasil baik, tubuh kelabang terpotong menjadi tiga, leher dekat kepala dan dekat ekornya putus! Akan tetapi bagian tengahnya yang masih panjang itu menggeliat-geliat hidup sehingga Kwi Hong merasa jijik untuk mengambilnya.
"Bodoh, lekas masukkan botol!"
Bu-tek Siauw-jin membentak. Kwi Hong menabahkan hatinya, disambarnya bagian badan yang masih panjang dan menggeliat itu. Hampir saja dilepaskannya kembali karena jari-jari tangannya merasa geli dan jijik, seperti memegang ular saja. Akan tetapi karena botol di tangan kirinya sudah siap, dia cepat memasukkan bagian tubuh yang menggeliat-geliat itu ke dalam botol, menutupkannya rapat-rapat kemudian hendak mengambil kembali pedangnya yang tadi dia tancapkan di atas tanah ketika tangan kanannya mengambil tubuh kelabang.
"Aihhh....!"
Kwi Hong menjerit dan tidak jadi mengambil pedang karena melihat betapa seluruh tangan kanannya menjadi merah kehitaman dan mulailah terasa kaku dan lumpuh!
"Itulah racunnya yang kuat sekali. Nih, pegang batu hijau ini!"
Gurunya menyerahkan batu hijau ke tangan kanan Kwi Hong yang keracunan. Gadis itu menerima batu hijau dan menggenggamnya. Sebentar saja warna tangannya putih kembali, racun yang amat jahat itu disedot habis oleh batu hijau.
"Kau simpan batu itu dan tak akan ada racun dapat mempengaruhi kulitmu. Akan tetapi kalau engkau sudah selesai berlatih dan sudah makan perut kelabang bunting, tubuhmu lebih kebal dari racun, lebih hebat daripada batu hijau itu!"
Kakek ini tertawa-tawa, lalu dia mengambil bangkai kelabang jantan yang berada di dalam lubang, kemudian mengajak Kwi Hong kembali ke tempat tadi. Dapat dibayangkan betapa jijik hati Kwi Hong ketika melihat empat ekor kelabang besar yang tadi dengan lahap makan isi perut ayam, kini masih melingkar di tempat tadi, diam tak bergerak sama sekali dan tubuh mereka menjadi gemuk dan menggembung seperti mau pecah. Seluruh isi perut ayam habis bersih, dan anehnya, sepuluh ekor kelabang yang telah mati tadi pun lenyap tak tampak bekasnya sama sekali.
"Ha-ha-ha, heh-heh-heh! Untung besar! Empat ekor ini benar-benar gembul dan kiciak (pelahap dan segala macam dimakan tanpa jijik)! Bangkai sepuluh ekor temannya sendiri masuk perut! Ha-ha-ha, kita pesta besar! Engkau makan kelabang bunting, aku mengganyang lima ekor kelabang gembul!"
Sambil berkata demikian, kakek sinting itu menggunakan kedua tangannya menangkap empat ekor kelabang itu yang sama sekali tidak melawan atau meronta karena memang sudah tak dapat bergerak saking kenyangnya! Dia mengumpulkan empat ekor kelabang kekenyangan itu dengan bangkai kelabang terbesar yang mati di dalam lubang betina. Empat kali telunjuknya bergerak memukul dan empat ekor kelabang itu mati dengan kepala pecah.
"Sebetulnya, daging kelabang paling enak kalau digoreng dan dimakan dengan cocol kecap, hemmm.... sedap bukan main. Sayang di sini tidak ada minyak, maka kita godok saja. Dimasak kuah juga enak sekali, kuahnya sedap dan banyak vitamin! Heh-heh-heh!"
Kwi Hong merasa hendak muntah. Akan tetapi ditekannya persaan itu dan berkata,
"Suhu, aku khawatir takkan dapat menelan kelabang ini...."
Dia meletakkan botol terisi kelabang bunting itu ke depan suhunya.
"Eh-eh, bodoh! Apa engkau hendak menyia-nyiakan kesempatan baik mendapatkan ilmu yang membuat tubuhmu kebal akan segala racun yang dapat menimbulkan sin-kang yang tiada tandingannya di dunia? Pula, apa kau kira daging kelabang tidak enak?"
"Aku jijik, Suhu. Dan tentu saja tidak enak!"
"Wah-wah, picik sekali engkau. Heh, murid tolol. Kapankah engkau pernah makan daging kelabang?"
"Selama hidupku belum pernah!"
Jawab Kwi Hong cepat-cepat untuk menyatakan bahwa selama ini, sebagai murid dan keponakan Pendekar Super Sakti, dia hidup "bersih"!
"Itulah tololnya! Kalau selama hidupmu engkau belum pernah makan daging kelabang, bagaimana engkau bisa mengatakan bahwa daging kelabang tidak enak dan menjijikkan? He, Kwi Hong, jangan engkau meniru-niru manusia-manusia yang berwatak munafik itu!"
"Hemm, urusan makan daging kelabang, mengapa menyangkut urusan orang berwatak munafik?"
Kwi Hong terheran.
"Tentu saja sama! Orang-orang munafik itu pun begitu, hanya karena membaca kitab atau mendengar ucapan mulut orang lain, tanpa membuktikan dan menyatakan sendiri, sudah mengambil keputusan mati yang tak dapat ditawar-tawar lagi! Sampai-sampai ada yang mati-matian bersumpah bahwa dia mati-matian membenci dan memusuhi segala setan dan iblis!"
"Tentu saja, Suhu!"
Kakek sinting itu memandang muridnya dengan mata terbelalak, lalu meloncat berdiri dan membanting-banting kedua kakinya, seperti anak kecil yang rewel dan sudah siap menangis!
"Apa? Engkau....? Muridku....? Engkau pun ikut-ikutan latah dan munafik? Jadi engkau pun membenci dan memusuhi setan dan iblis? Coba katakan, kenapa kau membenci mereka?"
"Hemm.... karena mereka jahat, karena musuh manusia!"
"Ngawur! Apakah setan dan iblis itu ada? Pernahkah engkau bertemu dengan setan dan iblis?"
Melihat suhunya mencak-mencak dan memekik-mekik marah, Kwi Hong menjadi gentar juga. Dia menggeleng kepala dan menjawab.
"Tidak pernah ada, Suhu."
"Kau tidak pernah bertemu dengan setan atau iblis, engkau tidak tahu apakah mereka itu ada atau tidak, bagaimana engkau sudah mengambil keputusan memusuhi dan membenci mereka, bagaimana bisa mengatakan mereka jahat dan musuhmu? Eh, bocah tolol. Coba jawab lagi, pernahkah engkau diganggu setan atau iblis? Dicubit? Dipukul? Dimaki atau ditipu? Hayo jawab yang jujur! Pernahkah engkau diperlakukan jahat oleh setan atau iblis? Kalau pernah, kapan dan di mana, dan bagaimana? Ceritakan!"
Kwi Hong melongo. Gurunya ini benar-benar sinting, akan tetapi ditanya seperti itu, dia tidak dapat menjawab. Tentu saja dia belum pernah bertemu, dan kalau belum pernah bertemu, bagaimana mungkin dia bisa diganggu. Bahkan ada atau tidaknya setan iblis masih merupakan teka-teki yang tak dapat dijawab dengan kenyataan. Kembali dia menggeleng kepala,
"Belum pernah, Suhu!"
"Nah, itulah! Engkau pun termasuk seorang munafik, hanya untuk plintat-plintut mengikuti ketahyulan manusia yang pura-pura suci saja. Jangan engkau terseret oleh kebiasaan umum yang belum tentu benar. Karena umum biasanya makan daging ayam, maka enak saja engkau makan daging ayam. Karena umum tidak biasa makan daging kelabang, biarpun selamanya engkau belum pernah merasakannya, mudah saja kau bilang tidak enak dan menjijikkan. Munafik!"
Kwi Hong merasa bohwat (kehabisan akal), karena biarpun ucapan gurunya kasar dan seenak perutnya sendiri, kebenarannya dalam ucapan itu sukar dibantah.
"Maaflah, Suhu. Akan tetapi benar enakkah daging kelabang?"
Suaranya halus dan penuh penyesalan itu sekaligus mengusir kemarahan Bu-tek Siauw-jin yang sudah menyeringai kembali!
"Heh-heh-heh, engkau mau tahu rasanya? Pernahkah engkau makan daging udang?"
"Pernah, bahkan sering kali, Suhu. Ketika masih tinggal di Pulau Es, di sebelah timur pulau terdapat bagian laut yang dihuni banyak udang besar, sebesar lengan tangan dan sering kali anak buah kami menangkap udang-udang besar itu."
"Pernah kau makan daging udang yang dipanggang dalam tanah liat?"
"Belum pernah. Bagaimana, Suhu?"
"Wah, kalau begitu engkau belum tahu benar-benar rasanya daging udang! Apalagi udang besar seperti itu. Mula-mula udang itu dilumuri tanah liat basah cukup tebal sampai tidak kelihatan kulitnya, kemudian dipanggang dan dibiarkan sampai tanah liat itu menjadi kering sekali. Setelah tanah liat itu retak-retak dan mengeluarkan bau gurih, nah, itu tandanya udangnya sudah matang. Kalau sudah tampak uap keluar dari bungkusan tanah yang retak-retak, panggang udang itu boleh diangkat dari api. Tanah liat yang sudah kering itu dikupas dan kulit udangnya tentu akan terbawa dan terkupas pula karena melekat pada tanah liat dan kini hanya tinggal daging udangnya, putih bersih kemerahan panas-panas beruap dan sedap baunya. Rasanya? Wah, kalau digigit kenyal-kenyal akan tetapi lunak, sedap manis.... hemm!"
Kwi Hong menelan ludah. Timbul seleranya dan dia kemecer (mengeluarkan air liur) mendengar penuturan itu.