Halo!

Sepasang Pedang Iblis Chapter 174

Memuat...

"Di selatan sana sudah tampak sebuah dusun, tentu ada yang menjual bahan dan bumbu. Kalau Paman percaya kepadaku, aku akan ke sana membeli bahan kemudian akan kumasakkan yang enak untuk Paman."

"Percaya? Tentu saja aku percaya kepadamu, Alan."

Wajah Milana berseri dan ia meloncat bangun.

"Benarkah Paman percaya kepadaku? Terima kasih, Paman. Aku akan pergi dulu mencari bahan masakan!"

Gadis itu membalikkan tubuh dan berlari keluar dari kuil tua.

"Heiii, Alan! Nanti dulu!"

Dara itu berhenti, menengok dan memandang dengan wajah kecewa.

"Paman takut kalau aku melarikan diri?"

Suma Han tersenyum, menggeleng kepala dan mengeluarkan sebatang pedang dari buntalannya.

"Aku percaya kepadamu, akan tetapi kau bawalah pedang ini untuk membela diri kalau-kalau terjadi hal yang tidak diinginkan."

Dapat dibayangkan betapa girangnya hati Milana. Ayah kandungnya, biarpun belum tahu bahwa dia adalah puterinya, sudah menaruh kepercayaan dan menaruh sayang kepadanya! Cepat ia berlari menghampiri pendekar itu menerima pedang dan menjura,

"Terima kasih, Paman. Engkau baik sekali, selain percaya bahwa aku tidak akan melarikan diri, juga engkau ingat akan keselamatanku."

Ia memandang pedang di tangannya, mencabut dari sarungnya dan berseru girang.

"Ah, pedang pusaka yang indah! Pedang pusaka apakah ini, Paman?"

"Namanya Pek-kong-kiam, dahulu menjadi pegangan keponakanku. Akan tetapi sekarang dia tidak memerlukannya lagi. Pergilah, Alan, dan hati-hatilah."

Alan mengangguk, memasangkan pedang di pinggangnya kemudian berlari-lari kecil meninggalkan kuil itu, dipandang oleh Suma Han dengan bengong. Setelah bayangan dara itu lenyap, dia menarik napas panjang.

"Ahhh, Suma Han, apakah engkau benar-benar memiliki dasar watak yang kotor? Mengapa engkau seperti tergila-gila kepada dara itu?"

Ingin pendekar sakti ini menempiling kepalanya sendiri. Ada sesuatu dalam diri dara itu yang amat menarik hatinya, seperti besi sembrani menarik besi! Ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuat dia merasa suka sekali, merasa ingin sekali berdekatan selalu, memandang wajah jelita itu, melihat senyum yang cerah dan mata yang lebar seperti matahari kembar itu. Seolah-oleh dia berhadapan dengan seorang yang sudah lama sekali dikenalnya, yang amat dekat dengan hatinya, seolah-olah ada perasaan yang memenuhi hatinya bahwa sudah semestinya dan sewajarnya kalau gadis itu selalu berada di dekatnya!

"Keparat!"

Suma Han menepuk tanah di depannya.

"Aihhh, Nirahai.... Lulu.... kalianlah yang membuat aku menjadi begini! Aku rindu kepada kalian, rindu akan kasih sayang wanita sehingga begitu bertemu dengan gadis ini aku seperti orang tergila-gila!"

Ia mengeluh lalu duduk termenung.

"Apakah yang harus kulakukan agar aku dapat berkumpul kembali dengan Nirahai? Dengan Lulu?"

Nirahai adalah isterinya, yang ia cinta dan yakin bahwa isterinya itu pun mencintanya. Akan tetapi mengapa sikap Nirahai seaneh itu? Mengapa? Dan Lulu? Dia mencinta adik angkatnya itu, mencintanya dengan sepenuh hatinya, bukan cinta saudara, melainkan cinta seorang pria terhadap wanita yang pertama kali merebut kasihnya. Terkenang dia akan ucapan-ucapan Lulu ketika mereka bertemu di Pulau Neraka.

Post a Comment