Milana bergidik kalau teringat akan hal itu tak dapat dia membayangkan apa yang akan terjadi kalau dia menjadi tawanan pemuda yang gila itu! Thian-liong-pang telah mengalami kekalahan dan penghinaan dari Pulau Neraka. Ibunya sendiri harus turun tangan menghajar orang-orang Pulau Neraka. Setelah selesai mengubur jenazah-jenazah itu, Milana mengajak sisa anak buahnya yang tinggal delapan orang itu untuk melanjutkan perjalanan malam itu juga. Rombongan ibunya berada di tempat yang tidak jauh lagi dari situ. Tinggal dua hari perjalanan paling lama. Dia tidak akan merasa aman sebelum bertemu dengan rombongan ibunya. Dua orang pembantu utamanya, Si Lengan Buntung dan Su Kak Liong, serta bebe-rapa orang lagi, telah tewas. Dengan munculnya orang-orang Pulau Neraka yang dipimpin pemuda lihai itu sebagai musuh, dia merasa kurang kuat.
Akan tetapi, ketika rombongan terdiri sembilan orang ini memasuki sebuah hutan pada keesokan harinya, tiba-tiba tampak banyak orang berloncatan dan mereka telah dikurung oleh belasan orang! Milana terkejut, akan tetapi ketika melihat bahwa yang mengurung itu adalah orang-orang yang berpakaian seperti orang kang-ouw, dan bercampur dengan beberapa orang hwesio dan tosu, maklumlah dia bahwa yang mengurungnya bukan orang-orang Pulau Neraka seperti yang dikhawatirkannya, melainkan orang-orang kang-ouw! Milana cepat meloncat maju dan menghunus pedangnya. Tali suteranya telah putus dan ditinggalkan ketika dia hampir tertawan oleh Wan Keng In, maka kini satu-satunya senjata di tangannya hanyalah pedangnya. Melihat bahwa yang memimpin para pengurung itu adalah seorang hwesio tinggi besar bersenjata toya yang berjenggot pendek, dia cepat menghampiri dan berkata, suaranya nyaring.
"Kami rombongan orang Thian-liong-pang sudah meninggalkan tempat yang dijadikan tempat pertemuan, hendak kembali ke tempat kami. Mengapa kalian masih menghadang di sini? Apa kehendak kalian dan siapakah kalian? Dari partai dan golongan apa?"
"Kami adalah sisa rombongan yang telah dipaksa mundur oleh Thian-liong-pang, dan karena kami merasa bahwa perjuangan kami sama, maka kami bergabung dan mengambil keputusan untuk membasmi Thian-liong-pang yang banyak menimbulkan bencana terhadap perjuangan orang-orang gagah."
Hwesio itu berkata sambil melintangkan toyanya.
"Hemmm.... perjuangan orang-orang gagah apa? Perbuatan kacau para pem-berontak maksudmu?"
Milana berkata dengan marah setelah kini dia mendapat kenyataan bahwa sebagian besar di antara orang-orang itu adalah benar anggauta rombongan partai-partai yang telah dikalahkan di tanah kuburan. Bahkan tiga orang hwesio itu adalah hwesio-hwesio Siauw-lim-pai!
"Harap kalian suka tahu diri! Setelah kalian kalah dalam pertandingan mengadu ilmu di tanah kuburan, mengapa kalian tidak pulang dan melaporkan kepada Ketua masing-masing akan tetapi malah diam-diam bergabung dan bersekongkol dengan para pemberontak untuk menghadang kami?"
"Orang-orang Thian-liong-pang penjilat pemerintah asing! Membunuh kalian bagi kami adalah kewajiban orang-orang gagah membunuh anjing-anjing penjilat yang kotor!"
Seorang di antara mereka yang berpakaian seperti orang-orang kang-ouw, yang belum pernah dilihat Milana, membentak dan sudah menerjang dengan bacokan goloknya.
Tentu mereka inilah pemberontak-pemberontak yang aseli, sedangkan para hwesio, tosu dan orang-orang partai hanyalah terbawa-bawa saja, Terhasut oleh kaum pemberontak yang tentu saja hendak melibatkan partai-partai besar untuk membantu gerakan mereka. Milana menangkis serangan golok itu dan segera ia dikeroyok oleh enam orang yang menghujankan serangan. Agaknya para pengeroyok itu sudah maklum bahwa dia adalah orang terlihai di antara rombongannya, maka kini yang bertugas mengeroyoknya adalah enam orang yang cukup lihai, bahkan mereka itu semua bersenjata golok besar dan gerakan mereka teratur sekali. Kiranya enam orang itu membentuk sebuah barisan golok yang cukup kuat! Delapan orang anak buahnya sudah lemah dan lelah, apalagi tiga di antara mereka masih belum sembuh dari luka-luka yang diderita dalam pertandingan yang lalu namun kini terpaksa mereka itu mengangkat senjata melakukan perlawanan.
Milana sendiri sudah lelah dan kurang tidur, akan tetapi, permainan pedangnya membuat enam orang lawan yang membentuk barisan golok dan mengurungnya itu kewalahan. Maka majulah tiga orang hwesio Siauw-lim-pai yang lihai itu, ikut mengeroyok dengan senjata mereka. Setelah dikeroyok sembilan barulah Milana merasa sibuk juga. Dia masih ingat bahwa tiga orang hwesio hanya terbawa-bawa saja, maka dia tidak ingin membunuh. Justeru inilah yang membuat dia repot, karena sembilan orang pengeroyoknya itu sama sekali tidak memberi kesempatan kepadanya dan semua serangan mereka adalah serangan maut yang jelas membuktikan akan kebencian mereka kepadanya dan mereka bermaksud membunuhya! Pertandingan yang berjalan berat sebelah itu tidak berlangsung lama karena di antara delapan orang anak buah Thian-liong-pang, sudah roboh lima orang.
Hanya tiga orang yang masih melawan mati-matian, sedangkan Milana sendiri yang dikeroyok sembilan orang, berhasil merobohkan tiga orang. Akan tetapi, tiga orang roboh, lima orang datang membantu sehingga dara itu terpaksa harus memutar pedangnya untuk melingkari diri dari hujan senjata sebelas orang yang menyambar-nya dari segala jurusan. Pada saat itu terdengar bunyi lengking yang nyaring dan menyeramkan sekali. Beberapa pengeroyok terhuyung begitu mendengar lengking itu dan dari atas pohon-pohon meluncur sinar-sinar kecil-kecil merah yang menyambar ke bawah, disusul meloncatnya bayangan orang berkerudung. Hanya delapan orang di antara sebelas orang pengeroyok Milana yang berhasil mengelak, sedangkan tiga orang lainnya roboh terkena jarum merah berbau harum yang dilepas oleh orang yang berkedok atau berkerudung itu.
Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati semua orang kang-ouw ketika melihat bahwa yang muncul adalah wanita berkerudung yang menyeramkan, Ketua dari Thian-liong-pang! Tak lama kemudian, muncul pula enam orang wanita cantik yang menjadi pengawal atau pelayan Ketua itu, dipimpin oleh Tang Wi Siang! Orang-orang kang-ouw itu terkejut, akan tetapi mereka tidak takut biarpun maklum bahwa kini keselamatan mereka terancam bahaya maut dengan munculnya Ketua Thian-liong-pang bersama enam orang pelayan. Mereka menjadi nekat dan segera Ketua Thian-liong-pang dan puterinya dikeroyok. Terjadilah pertandingan yang kembali berat sebelah, akan tetapi merupakan kebalikan daripada tadi. Kini biarpun jumlahnya masih tetap lebih banyak,
Rombongan orang kang-ouw itu yang terdesak hebat dan sebentar saja Ketua Thian-liong-pang yang hanya mengamuk dengan tangan kosong itu telah merobohkan enam orang pengeroyok dengan pukulan jarak jauh yang amat dahsyat! Berturut-turut para pengeroyok itu berkurang jumlahnya, bahkan dalam waktu singkat saja Milana dan ibunya telah berhasil merobohkan semua orang yang mengeroyok mereka! Kini yang masih terus melakukan perlawanan hanya tiga orang hwesio Siauw-lim-pai dan tiga orang kang-ouw, termasuk dua orang tosu Hoa-san-pai, yang ditandingi oleh Tang Wi Siang dan teman-temannya. Mereka ini pun sudah terdesak hebat dan agaknya tak lama kemudian akan roboh pula. Tiba-tiba terdengar bunyi suara melengking yang jauh lebih hebat daripada tadi, disusul suara orang yang berpengaruh dan membuat semua orang tergetar jantungnya.
"Hentikan pertempuran....!"
Ketua Thian-liong-pang terkejut, menghentikan serangan dan menoleh. Demikian pula tiga orang hwesio Siaw-lim-pai, dua orang tosu Hoa-san-pai, dan seorang kang-ouw meloncat mundur dan menoleh. Berdebar hati semua orang ketika melihat seorang laki-laki, entah kapan dan dari mana datangnya, tahu-tahu telah berada di tengah-tengah mereka, seorang laki-laki yang kaki kirinya buntung, berdiri tegak dengan tongkat kayu sederhana membantu kaki tunggalnya. Seorang laki-laki yang berwajah tampan sekali namun tampak diselimuti awan duka yang membuat go-resan mendalam di kulit wajahnya. Dia belum sangat tua, akan tetapi seluruh rambutnya yang dibiarkan berurai di sekeliling kepalanya sampai ke pundak dan punggung, semua telah berwarna putih seperti benang-benang sutera perak.
"Pendekar Super Sakti....!"
Seorang tosu Hoa-san-pai berbisik, biarpun bisikannya perlahan karena keluar dari hatinya dan tanpa disengaja, namun karena keadaan di saat itu amat sunyi, tidak ada yang bicara atau bergerak, maka suaranya terdengar jelas. Laki-laki itu memang Suma Han, atau Pendekar Super Sakti, juga dikenal sebagai Pendekar Siluman, Majikan Pulau Es. Setelah terdengar suara lirih tosu Hoa-san-pai menyebutkan nama julukan pria yang berwajah penuh duka itu, keadaan menjadi makin sunyi.
"Han Han....!"
Suara ini lebih lirih dan oleh telinga lain hanya terdengar seperti berkelisiknya angin di antara daun-daun pohon. Akan tetapi pendekar sakti itu kelihatan terkejut dan tersentak kaget, memandang ke kanan-kiri seperti orang mencari-cari kemudian bengong terlongong. Tidak salahkah telinganya menangkap suara lirih itu? Hanya ada beberapa orang saja yang memanggilnya dengan nama itu, nama kecilnya. Han Han! Dan suara lirih halus merdu itu amat dekat dengan hatinya, seperti suara yang tidak asing baginya, akan tetapi dia tidak yakin suara siapa yang menyebut nama kecilnya semerdu dan sehalus itu! Dia menjadi bingung, kemudian teringat akan orang-orang di sekitarnya. Dia menoleh ke arah wanita berkerudung dan berkata dengan suara keren penuh wibawa.
"Sudah bertahun-tahun aku mendengar di dunia kang-ouw tentang keanehan Thian-liong-pang yang selalu membikin geger dunia kang-ouw, menculiki tokoh-tokoh kang-ouw, bahkan berita terakhir mengatakan bahwa Thian-liong-pang membunuhi banyak tokoh kang-ouw yang menentang pemerintah penjajah. Sekarang, kebetulan sekali Pangcu berada di sini dan kebetulan pula aku dapat menyelamatkan nyawa para sahabat ini dari ancaman maut, aku ingin bertanya, apakah maksud Thian-liong-pangcu sebenarnya dengan semua perbuatan itu?"
Sunyi senyap menyambut ucapan pendekar yang ditakuti, dihormati, dan disegani itu. Bahkan Tang Wi Siang sendiri mukanya berubah pucat dan tidak berani mengangkat muka memandang, hanya menundukkan muka saja seolah-olah silau kalau memandang wajah yang mempunyai sepasang mata yang kabarnya dapat membunuh lawan hanya dengan sinar mata itu! Akan tetapi, tiba-tiba terdengar suara yang bengis dan ketus, suara yang mem-buat para pendengarnya meremang bulu tengkuknya, karena nadanya dingin melebihi salju, penuh tantangan dan seolah-olah mengandung kebencian yang amat mendalam,
"Memang benar! Semua keributan di dunia kang-ouw itu akulah yang melakukannya! Akulah yang bertanggung jawab! Aku yang memerintahkan anak buahku! Habis, engkau mau apa? Dengarlah baik-baik! Semua perbuatanku itu memang kusengaja untuk menantangmu, agar engkau datang menyerbu ke tempatku. Kalau kau berani!"
Semua orang terkejut mendengar ini. Akan tetapi terdengar suara isak tertahan sehingga semua orang menoleh ke arah Milana. Dara itulah yang tadi terisak seperti orang tersedak. Akan tetapi, dara itu kini menundukkan mukanya dan semua orang kembali memandang ke arah Pendekar Super Sakti dengan hati tegang, ingin mereka melihat apa yang akan terjadi selanjutnya antara dua orang hebat itu. Suma Han sendiri sama sekali tidak pernah menyangka bahwa ucapan Ketua Thian-liong-pang itu demikian ketus dan bengis terhadap dirinya, maka dia terkejut dan heran sekali.
"Apa? Menantang dan mengundangku? Mengapa....?"
"Sudah lama aku ingin mencincang hancur engkau! Engkau.... manusia yang tidak berjantung! Manusia tiada perasaan!"