Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 143

Memuat...

Mereka berlima mendadak menyerang ke arah Lu Hui San, Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw.

Sedangkan kedua Pelindung pun mulai menyerang Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

Terjadilah pertarungan yang amat seru dan sengit.

Kam Hay Thian bertarung mati-matian melawan Seng Hwee Sin Kun, bahkan bertekad membunuhnya, karena Seng Hwee Sin Kun pembunuh ayahnya.

Seng Hwee Sin Kun mengeluarkan Seng Hwee Ciang Hoat (Ilmu Pukulan Api Suci) yang mengandung api, sedangkan Kam Hay Thian mengeluarkan Pak Kek Sin Ciang (Ilmu Pukulan Kutub Utara) yang mengandung hawa dingin.

Setelah dibimbing oleh Tio Cie Hiong, Iweekang Kam Hay Thian bertambah tinggi, begitu pula ilmu pukulannya, sebab Tio Cie Hiong telah menyempurnakan ilmu pukulan tersebut.

Akan tetapi, lweekang Kam Hay Thian tetap di bawah tingkat Seng Hwee Sin Kun, maka puluhan jurus kemudian, pemuda itu mulai terdesak.

Sementara Lim Peng Hang dan Gouw Han Liong juga sudah terdesak oleh kedua Pelindung.

Puluhan jurus kemudian, kedua Pelindung itu berhasil menotok jalan darah Lim Peng Hang dari Gouw Han Tiong, sehingga membuat mereka roboh tak bergerak lagi.

Setelah berhasil menotol jalan darah Lim Peng Hang dan Gouw Han Tio kedua Pelindung pun berdiri di tempat sambil menyaksikan pertarungan itu.

Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Lu Hui San juga sudah mulai terdesak.

Mereka bertiga cuma dapat bertahan.

Beberapa jurus kemudian, bahkan Lie Ai Ling sudah terluka.

Betapa terkejutnya Sie Keng Hauw, kemudian mati-matian melindungi kekasihnya.

Akan tetapi tak seberapa lama kemudian, tangannya pun terluka oleh pukulan Toa Sat Kui.

Kini keadaan mereka sungguh dalan bahaya!

Di saat itulah mendadak terdengar suara tawa yang amat nyaring, menyusul melayang turui sosok bayangan.

"Hi hi hi!

Asyik sekali!

Ada orang bertarung" "Kakak!" seru Lu Hui San girang, "Tolong, kami!

Kakak!" "Jangan khawatir, Adik!" Terdengar suara sahutan yang sangat merdu.

"Kakak pasti bantl kalian!" Siapa orang itu" Ternyata Bu Ceng Sianli Ti Siao Cui.

Ia langsung menyerang ke arah Ngo San Kui dengan Hian Goan Ci.

Betapa terkejutnya Ngo Sat Kui.

Mereak berlima cepatcepat meloncat ke belakang.

"Siapa engkau?" bentak Toa Sai Kui.

"Jangan turut campur urusan ini!" "Hi hi hi!

Aku Bu Ceng Sianli, namaku Tu siao Cui!

Aku justru harus mencampuri urusan ni!

Hi hi hi...!" sahut Tu Siao Cui sambil tertawa nyaring.

Sedangkan kedua Pelindung saling memandang, kemudian mendadak membopong Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong lalu melesat pergi seraya berseru, "Ngo Sat Kui!

Mari kita pergi!" Begitu mendengar suara seruan kedua Pelindung, Ngo Sat Kui pun langsung melesai pergi lan berseru pula.

"Seng Hwee Sin Kun, cepat pulang ke markas!" Kelika Seng Hwee Sin Kun mau melesat pergi, Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui menyerangnya lengan Hian Goan Ci.

Cesss!

Lengan jubah Seng Hwee Sin Kun berlubang.

Sementara Kam Hay Thian sudah dapat bernafas, setelah itu ia mulai menyerang Seng Hwee sin Kun menggunakan Pak Kek Sin Ciang.

Seng Hwee Sin Kun menggeram, kemudian secepat kilat menghindar sekaligus balas menyerang dengan ilmu Seng Hwee Sin Ciang.

Blaaam!

Terdengar suara benturan.

Seng Hwee Sin Kun tak bergeming sedikit pun, sedangkan Kam Hay Thian terdorong kebelakang beberapa langkah.

"Chu Ok Hiap!" seru Bu Ceng Sianli.

"Engkau mundurlah!

Biar aku yang melawannya!" "Tidak!" sahut Kam Hay Thian.

"Dia pembunuh ayahku, aku harus membunuhnya dengan tanganku sendiri!" "Baik!

Aku akan membantumu menyerang nya!" ujar Bu Ceng Sianli sambil tertawa.

"Hi hi hi...!" Sementara Seng Hwee Sin Kun terus meng geram sambil melotot-lotot.

Mendadak ia memekik keras, kemudian sepasang telapak tangannya berubah kehijau-hijauan.

"Chu Ok Hiap!

Hati-hati!" Bu Ceng Sianli mengingatkan.

"Dia telah mengerahkan Iweekang nya pada puncaknya!" Kam Hay Thian mengangguk, kemudian cepat-cepat mengerahkan Pak Kek Sin Kang, sedangkan Bu Ceng Sianli mengerahkan Hian Goan Sin Kang.

Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Lu Hui San tegang bukan main.

Mereka menyaksikan itu dengan wajah pucat pias, terutama Lu Hui San.

Mendadak Seng Hwee Sin Kun memekik keras lagi, sekaligus menyerang Kam Hay Thian dengan jurus Seng Hwee Sauh Thian (Api Suci Membakar Langit).

Bukan main dahsyatnya serangan itu, sebab pukulan itu mengandung api kehijau-hijauan.

Kam Hay Thian tidak berkelit, melainkan menangkis serangan itu dengan jurus Leng Swat leng Hai (Salju Menutupi Laut), yang penuh mengandung hawa dingin.

Di saat bersamaan Bu Ceng Sianli juga menyerang Seng Hwee Sin Kun.

Blaaam!

Terdengar suara benturan dahsyat memekakkan telinga.

Pada waktu bersamaan terdengar pula suara jeritan.

"Aaaakh...!" Ternyata Seng Hwee Sin Kun yang menjerit, karena punggungnya telah berlubang terserang Hian Goan Ci.

Sedangkan Kam Hay Thian terpental beberapa depa, pakaiannya juga telah hangus, kemudian terkulai.

"Kakak Hay Thian!" seru Lu Hui San sambil hrrlari menghampirinya.

"Engkau...

engkau terluka?" "Aku...." Kam Hay Thian menarik nafas dalam-dalam.

"Aku tidak apa-apa." Kam Hay Thian bangkit berdiri, lalu mendekati Seng Hwee Sin Kun.

Sementara Seng Hwee Sin Kun membalikkan badannya, lalu menatap Bu Ceng Sianli dengan mata membara.

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan.

"Engkau sudah tidak punya sukma, lebih baik mati !" Tiba-tiba Seng Hwee Sin Kun menggeram, sekaligus menyerang Bu Ceng Sianli menggunakan jurus Thian Te Seng Hwee (Api Suci Langit Bumi), yakni jurus yang paling lihay dan dahsyat "Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa nyaring kemudian mendadak jari tangannya bergerak secepat kilat dan memancarkan cahaya putih.

Ternyata ia menggunakan jurus Cian Ci Keng Thian (Ribuan Jari Mengejutkan Langit) untuk me nangkis serangan yang dilancarkan Seng Hwee Sin Kun.

Blaaam!

Cesss!

Cesss!

Itu adalah suara benturan kedua lweekang yang memekakkan telinga Seng Hwee Sin Kun terpental beberapa depa Dada dan perutnya telah berlubang dan darah segar pun mengucur dari lubang itu.

Sedangkan Bu Ceng Sianli terdorong ke belakang lima enam langkah, wajahnya tampak pucat pias.

Di saat Seng Hwee Sin Kun terpental, di saat itu pula Kam Hay Thian menyerangnya dengan jurus Han Thian Soh Swat (Menyapu Salju Hai Dingin).

Blaaam!

Punggung Seng Hwee Sin Kun terkena pukulan itu.

"Aaaakh...!" jeritnya.

Badannya terpental lagi ke arah Bu Ceng Sianli yang sedang mengatur pernafasannya.

"Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa cekikikat sambil menggerakkan jari tangannya.

"Eeekh!" Seng Hwee Sin Kun mengeluarkan suara tenggorokan, kemudian terkulai tak bergerak iagi, nyawanya sudah melayang.

"Kakak Hay Thian!" seru Lu Hui San sambil mendekatinya.

"Kakak Hay Thian...." "Adik Hui San...." Kam Hay Thian memanjangnya sambil tersenyum, namun wajahnya agak jiucat dan pakaian pun telah hangus.

"Aku tidak apa-apa.

Engkau tidak usah khawatir!" "VVuah!

Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa geli.

"Kini sudah mesra ya!" "Kakak...." Wajah Lu Hui San memerah.

"Jangan menggoda aku!" "Oh, ya?" Bu Ceng Sianli menatapnya sambil tertawa cekikikan.

"Hi hi hi!

Masih mau jadi biarawati?" "Kakak...." Lu Hui San menundukkan kepala.

"Celaka!" seru Sie Keng Hauw mendadak dengan wajah pucat pias.

"Betul-betul celaka!" "Anak muda," tanya Bu Ceng Sianli heran.

"Apa yang celaka?" "Kakek Lim dan Kakek Gouw..." sahut Sie Keng Hauw.

"Mereka telah dibawa kabur." "Haaah...?" Barulah Lie Ai Ling, Kam Hay Thian dan Lu Hui San tersentak, wajah mereka lalu berubah pucat pias.

"Celaka...

" "Mereka tidak akan celaka.

Kalau mereka celaka, berarti mereka sudah mati dari tadi," sahut Bu Ceng Sianli dan menambahkan.

"Sekarang kita kedalam, jangan terus berdiri di sini!" "Bagaimana dengan mayat Seng Hwee Sin Kun?" tanya Lu Hui San.

"Suruh saja anggota Kay Pang menguburnya!' jawab Bu Ceng Sianli sambil menengok ke sara ke mari.

"Lho" Kok anggota Kay Pang tidak tampak seorang pun" Apakah mereka sudah marnpus semua?" "Celaka!" seru Sie Keng Hauw.

Pemuda itu segera melesat pergi, tapi tak lama kemudian sudah kembali dan berkata.

"Ternyata para anggota Kay Pang yang bertugas di luar markas masih dalam keadaan tertidur, karena terkena semacam obat bius!" "Pantas mereka tidak kelihatan!" ujar Lie Ai Ling.

"Syukurlah mereka kalau tidak mati!" "Celaka!" seru Bu Ceng Sianli mendadak.

"Ada apa.

Kakak?" Lu Hui San terkejut.

"Ketularan kalian yang dari tadi terus menyebut 'Celaka', maka aku pun ikut-ikutan menyebut celaka.

Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawl geli.

"Kakak ada-ada saja!" Lu Hui San cemberut "Ayolah, mari kita ke dalam!" ajak Bu Ceng Sianli sambil melesat ke dalam markas, yang lain mengikutinya dari belakang.

Sampai di ruang depan, mereka lalu duduk.

"Kakak adalah Tu Siao Cui?" tanya Lie A Ling mendadak sambil menatapnya dengan mata tak berkedip.

"Tidak salah.

Kenapa?" sahut Bu Ceng Sianli "Bukan main!

Sungguh bukan main!" ujar Lie Ai Ling sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Eh" Kenapa engkau gadis manis?" tanya Bu Ceng Sianli.

"Apanya yang bukan main?" "Kakak sungguh cantik sekali, kelihatannya baru berusia dua puluhan!" jawab Lie Ai Ling, "Tapi sesungguhnya sudah berusia hampir sembilan puluh.

Nah, itu bukan main, kan?" "Hi hi hi!" Bu Ceng Sianli tertawa cekikikan, "gadis manis, beritahukanlah namamu!" "Namaku Lie Ai Ling." Gadis itu memperkenalkan diri sambil tersenyum, lalu memandang kekasihnya seraya berkata, "Dia bernama Sie Keng Hauw, dia...." "Aku sudah tahu, dia kekasihmu." Bu Ceng sianli tertawa cekikikan.

"Ya, Kakak." Lie Ai Ling mengangguk.

"Oh ya!" Bu Ceng Sianli menengok ke sana kemari seraya bertanya, "Kok tidak tampak Tio Bun Yang" Dia tidak berada di sini?" "Dia dan Goat Nio pergi ke kuil Siauw Lim," jawab Kam Hay Thian memberitahukan.

"Sebab "Ketua partai Siauw Lim jadi gila terkena pukulan Ceng Hwee Sin Kun, maka dia ke sana untuk mengobatinya." "Oh?" Bu Ceng Sianli tertegun.

"Bun Yang mahir ilmu pengobatan?" "Dia memang mahir ilmu pengobatan, kepandaiannya pun sangat tinggi sekali." Lie Ai Ling memberitahukan dengan wajah berseri-seri.

"Bahkan dia juga mahir meniup suling." "Aku sudah tahu itu." Bu Ceng Sianli manggut-manggut.

Post a Comment