Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 140

Memuat...

"Ketua.." Kedua Pelinduing itu langsung berdiri mematung.

"Kalian Berdua harus berlutut " ujar ketua Kui Bin Pang dengan suara parau.

"Ya " Kedua pelindung itu segera menjatuhkan diri berlutut.

"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa geli otomatis menyadarkan kedua Pelindung itu.

"Haaah...?" Betapa terkejutnya kedua Pelindung itu, karena diri mereka berlutut di situ.

"Apa yang telah terjadi?" "Kalian telah terpengaruh oleh ilmu ketua." Toa Sat Kui memberitahukan.

"Kalian sama sekali bisa melawan kekuatan ilmu itu" "Oh?" Ketua Pelindung itu bangkit berdiri sekaligus kembali ke tempat duduk masing-masing "ilmu hitam itu sungguh lihay sekali" "Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak.

Iweekang kalian sangat tinggi, tapi toh tetap tidak mampu melawan kekuatan ilmu hitamku." "Kalau begitu, pihak Pulau Hong Hoang To ama sekali tidak mampu melawan kekuatan ilmu hitam Ketua?" tanya salah satu Pelindung.

"Ya, kecuali...." Ketua Kui Bin Pang memberitahukan.

"Kecuali mereka memiliki ilmu Penakluk Iblis, barulah tidak akan terpengaruh oleh ilmu hitamku " "Ilmu Penakluk Iblis?" "Tidak salah.

Itu merupakan semacam ilmu kebatinan tingkat tinggi, tidak gampang mempelajari ilmu itu.

Maka aku yakin Pulau Hong Hoang To tidak memiliki ilmu tersebut " "Oooooh" Kedua Pelindung dan Lima Setan Algojo manggut-manggut.

"Lagi pula aku memiliki sebuah genta maut, bila aku membunyikan genta itu, pihak lawan pasti akan mati muntah darah." Ketua Kui Bin Pang memberitahukan sambil tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha...!" "Dari mana Kelua memperoleh genta maut itu?" tanya Toa Sat Kui.

"Ketika terpukul jatuh ke dalam jurang, Pek Kut Lojin masih kuat merangkak ke dalam sebuah goa di dasar jurang itu." Ketua Kui Bin Panj memberitahukan.

"Ketua lama mendapat sebuah genta maut di dalam goa tersebut, berikut sebuah kitab kecil yang mengajarkan cara membunyikan genta itu.

Kini kalian sudah tahu, maka tidak perlu takut terhadap pihak Pulau Hong Hoang To." Kedua Pelindung dan Ngo Sat Kui manggut manggut.

Ketua Kui Bin Pang memandang mereka, kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Ha ha ha!

Kita harus menuntut balas terhadap pihak Pulau Hong Hoang To!

Sebab Tio Po Thian, majikan lama Pulau Hong Hoang yang memukul jatuh Pek Kut Lojin!" "Kita harus menuntut balas!

Kita harus menuntut balas!" seru kedua Pelindung dan Ngo Sat Kui serentak.

"Hidup Kui Bin Pang!

Hidup Ketua!" "Ha ha ha!

Ha ha ha...!" Kelua Kui Bin Pa terus tertawa gelak.

-ooo0dw0ooo- Sementara itu, Kam Hay Thian dan Lu Hui San telah tiba di Pulau Hoa Hoang To, kebetulan Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio, Sie leng Hauw dan Lie Ai Ling berada di luar.

Kemunculan Kam Hay Thian dan Lu Hui San sungguh mengejutkan mereka, sekaligus menggembirakan pula.

"Kalian...." Lie Ai Ling terbelalak.

"Kalian...." "Ai Ling!" panggil Lu Hui San sambil tersenyum malu-malu.

"Kapan engkau bertemu orang yang tak punya perasaan itu?" tanya Lie Ai Ling dengan mata tak berkedip, gadis itu terus menatap mereka.

"Ai Ling!" Lu Hui San tertawa kecil dengan wajah ceria.

"Kini dia sudah punya perasaan." "Oh?" Lie Ai Ling masih kurang percaya, la menuding Kam Hay Thian seraya membentak.

"Kini engkau sudah sadar dan sudah memiliki perasaan serta nurani?" "Ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku berkunjung ke mari bersama dia?" "Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Syukurlah kalau begitu!" "Hay Thian!" Sie Keng Hauw segera memberi hormat.

"Aku mengucapkan selamat kepada kalian berdua!" "Terimakasih!

Terimakasih!" ucap Kam Hay thian sambil balas memberi hormat dengan wajah berseri-seri.

"Hay Thian!" Tio Bun Yang memegang bahu nya.

"Kami ikut gembira, karena kalian berdua sudah saling mencinta." "Terimakasih, Bun Yang!" Kam Hay Thian menarik nafas panjang.

"Semua itu adalah kesalahanku, tapi aku sudah mohon maaf kepat Hui San, dan dia sudi memaafkan aku." "Syukurlah!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Hay Thian," ujar Lie Ai Ling.

"Tahukah kalian, kami di sini sangat mencemasiean kalian" "Terimakasih untuk itu!" ucap Kam Hay Thiaj "Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian." "Jangan berkata begitu!" Tio Bun Yang tersenyum lagi.

"Kita semua adalah kawan baik." "Bun Yang...." Kam Hay Thian menundukkan kepala.

"Aku merasa malu sekali atas kejadian itu." "Itu telah berlalu, lagi pula kini kalian berdua sudah saling mencinta, jadi tidak perlu diungkit itu lagi," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.

"Ya." Kam Hay Thian mengangguk.

"Oh ya!" tiba-tiba Lu Hui San menengok kesana kemari.

"Kok Yatsumi tidak kelihatan" Di berada di mana?" "Dia sudah pulang ke Jepang." Lie Ai Ling memberitahukan.

"Dia berhasil membunuh Takara Nichiba, ketua ninja itu." "Oooh!" Lu Hui San manggut-manggut.

"Hui San!" Siang Koan Goat Nio memancingnya seraya bertanya, "Selama itu engkau berada di mana?" "Aku...." Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Entahlah!" "Lho?" Siang Koan Goat Nio terbelalak.

"Kok entahlah" Jadi engkau sama sekali tidak tahu dimana keberadaanmu selama itu?" "ya." Lu Hui San mengangguk.

"Sebab aku sudah gila." "Apa?" Kening Siang Koan Goat Nio ber-nit.

"Engkau sudah gila selama itu?" "Ya." Lu Hui San mengangguk lagi.

"Kok engkau tahu itu?" Lie Ai Ling tercengang.

"Orang gila mana bisa tahu dirinya gila sih?" "Aku tahu setelah sembuh," sahut Lu Hui san.

"Siapa yang menyembuhkanmu?" tanya Lie Ai ling.

"Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui." Lu Hui San memberitahukan.

"Kakak Siao Cui yang menyembuhkanmu?" tanya Tio Bun Yang dengan wajah berseri.

"Ya." Lu Hui San mengangguk dan melanjutkan.

"Setelah aku sembuh, aku mengambil keputusan untuk menjadi biarawati.

Maka, Bu Ceng sianli menyuruhku ke Pek Yun Am.

Post a Comment