Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 139

Memuat...

"Yang jelas mereka belum mau menikah, jadi tidak bisa dipaksa." "Kakek Lim," tanya Lu Hui San mendadak "Bolehkah kami ke Pulau Hong Hoang To?" "Tentu boleh." Lim Peng Hang mengangguk "Tapi alangkah baiknya kalian tinggal di sini dulu beberapa hari." "Kakek Lim...." Lu Hui San tercengang.

"Ke napa kami harus tinggal di sini dulu beberapa hari ?" "Itu...." Lim Peng Hang tidak melanjutkan cuma menghela nafas panjang.

"Kalau dalam beberapa hari ini terjadi sesuatu dalam rimba persilatan, bukankah kalian bisa memberitahukan kepada pihak Hong Hoang To?" lanjut Gouw Han Tiong.

"Sebab barubaru ini, situasi rimba persilatan agak lain.

Sepertinya diselimuti suatu bencana." "Oh?" Kam Hay Thian mengerutkan kening.

"Kok Kakek Gouw tahu akan itu?" "Yaah!" Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.

"Kami dapat merasakannya, itu membuat kami cemas sekali." "Mungkinkah Kui Bin Pang akan menimbuliean bencana?" tanya Lu Hui San.

"Kira-kira begitulah," sahut Gouw Han Tiong dan menambahkan.

"Oleh karena itu, kami mengutus Cian Chiu Lo Kay (Pengemis Tua Lengan Seribu), wakil Pangcu bergerak di luar untuk menyelidiki situasi dalam rimba persilatan." "Kalau begitu..." ujar Lu Hui San.

"Kami akan tinggal di sini beberapa hari, setelah itu barulah berangkat ke Pulau Hong Hoang To." "Ngmmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut, kemudian bertanya mendadak sambil tersenyum.

"Oh ya, kapan kalian menikah?" "Masih lama," jawab Kam Hay Thian.

"Lebih cepat lebih baik lho, " ujar Lim Peng Hang sambil tertawa gelak.

"Ha ha ha...!" -oo0dw0oo- Bagian ke lima puluh empat Tujuh Partai Besar dilanda bencana Di ruang tengah markas Kui Bin Pang, duduk beberapa orang dengan wajah serius.

Mereka adalah ketua Kui Bin Pang, Dua Pelindung dan Lima Setan Algojo.

Berselang sesaat, ketua Kui Bin Pang tertawa gelak seraya berkata.

"Ha ha ha!

Kini Seng Hwee Sin Kun telah pulih, bahkan aku telah mempengaruhinya dengan ilmu hitam, maka dia selalu mematuhi perintah ku." "Kalau begitu, kapan Ketua akan perintahkan dia beraksi dalam rimba persilatan?" tanya Ton Sat Kui.

"Tentunya dalam beberapa hari ini.

Ha hii ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak lagi.

"Aku pun telah mengajarnya Toh Hun Ciang (Pukulan Perusak Sukma), siapa yang terkena pukulan itu pasti jadi gila." "Jadi Seng Hwee Sin Kun tidak membunuh para ketua tujuh partai besar?" Tanya Toa Sal Kui.

"Cukup membuat mereka gila," sahut ketua Kui Bin Pang.

"Namun dia akan membunuh para murid partai besar." "Lalu bagaimana dengan Kay Pang?" tanya salah satu Pelindung.

"Setelah memberesiean para ketua partai besar itu, barulah turun tangan terhadap Lim Peng liang dan Gouw Han Tiong," sahut ketua Kui Bin Pang.

"Ketua akan perintahkan Seng Hwee Sin Kun memukul mereka dengan Toh Hun Ciang?" tanya Sam Sat Kui.

"Tidak." Ketua Kui Bin Pang menggelengkan kepala.

"Itu akan kuatur nanti.

Ha ha ha!" "Ketua!" Salah satu Pelindung memberitahukan.

"Kay Pang sangat kuat, itu harus dipikirkan masak-masak." "Sudah kupikirkan masak-masak," sahut ketua kui Bin Pang lalu menatap Ngo Sat Kui seraya hertanya.

"Apakah kalian sudah memperoleh informasi mengenai para penghuni Pulau Hong Hoang To?" "Sudah," jawab Toa Sat Kui.

"Para penghuni Pulau Hong Hoang To terdiri dari Tio Tay Seng, Sam Gan Sin Kay, Kim Siauw Suseng, Kou Hun Itijin, Tio Cie Hiong, Lim Ceng Im, Lie Man Chiu, Tio Hong Hoa, Tio Bun Yang, Siang Koan iioat Nio, Lie Ai Ling dan Sie Keng Hauw." "Ngmmm!" Ketua Kui Bin Pang manggut-kanggur.

"Tapi Tio Cie Hiong punya hubungan dengan Tayli." Toa Sat Kui memberitahukan.

"Yang berkepandaian paling tinggi adalah Tayli Lo Ceng!" "Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa terbahak-bahak bernada angkuh.

"Aku sama sekali tidak takut kepada mereka!" "Apakah kepandaian Ketua lebih tinggi dari mereka?" tanya salah satu Pelindung mendadak "Tentu," sahut ketua Kui Bin Pang.

"Kalau tidak, bagaimana mungkin aku berani memunculiean Kui Bin Pang dalam rimba persilatan?" "Tapi...." Pelindung itu menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita masih belum menemukan Tetua" "Itu tidak jadi masalah," ujar ketua Kui Bin Pang.

"Sebab kini sudah saatnya Kui Bin Pang muncul di rimba persilatan secara resmi.

Seng Hwee Sin Kun merupakan perintis.

Ha ha ha...l" -oo0dw0oo- Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, Kam Hay Thian dan Lu Hui San duduk di ruang depan sambil bercakap-cakap.

"Sudah beberapa hari kami tinggal di sini.

namun masih belum ada kejadian apa pun dalam rimba persilatan," ujar Kam Hay Thian.

"Kakek Lim, apakah kami masih harus tinggal di sini?" "Kalian sudah tidak betah di sini?" Lim Peng Hang tersenyum.

"Kalau memang kalian sudah tidak betah tinggal di sini, besok kalian boleh berangkat ke Pulau Hong Hoang To." "Ya." Kam Hay Thian manggut-manggut.

Di saat mereka sedang bercakap-cakap, mendadak muncul seorang pengemis tua, yang tidak lain adalah Cian Chiu Lo Kay, wakil ketua Kay Pang.

"Pangcu...." Wajahnya tampak serius sekali.

"Duduklah!" sahut Lim Peng Hang.

Cian Chiu Lo Kay duduk, kemudian menghela nafas panjang seraya berkata.

"Pangcu, tujuh partai besar telah dilanda bencana." "Apa?" Bukan main terkejutnya Lim Peng Uang.

"Bencana apa yang menimpa tujuh partai besar itu?" "Puluhan murid tujuh partai besar mati terbumuh dan para ketua pun...." Cian Chiu Lo Kay menggeleng-gelengkan kepala.

"Para ketua sudah jadi gila semua." "Haah...?" Mulut Gouw Han Tiong ternganga lebar saking terkejut.

"Siapa yang melakukan itu?" "Seng Hwee Sin Kun," sahut Cian Chiu Lo kay.

"Seng Hwee Sin Kun?" seru Lim Peng Hang dan lainnya tak tertahan.

"Ya." Cian Chiu Lo Kay mengangguk.

"Seng Hwee Sin Kun kelihatan dikendalikan orang, lagi pula dia memiliki semacam ilmu pukulan aneh." "Oh?" Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Ilmu pukulan apa?" "Entahlah." Cian Chiu Lo Kay menggelengkan kepala.

"Para ketua terkena pukulannya, maka jadi gila." "Kalau begitu..." ujar Gouw Han Tiong.

"Seng Hwee Sin Kun pasti dikendalikan oleh ketua Ku Bin Pang.

Mungkin juga ketua Kui Bin Pang yangjj mengajarkan ilmu pukulan aneh itu." "Memang tidak salah," ujar Cian Chiu Lo Kay "Seng Hwee Sin Kun mengaku dirinya utusan Kun Bin Pang." "Ternyata begitu...." Lim Peng Hang manggut manggut.

"Pihak Kui Bin Pang menolongnya hanya ingin mengendalikannya.

Kalau begitu, kita harus bersiap siap.

Sebab sasaran berikutnya past kita." "Benar." Gouw Han Tiong manggut-manggut "Lo Kay," ujar Lim Peng Hang memberi perintah.

"Engkau harus segera ke markas cabang-suruh mereka berhati-hati menghadapi segala ke mungkinan!" "Ya, Pangcu." Cian Chiu Lo Kay menganggu sambil memberi hormat, lalu meninggaliean markas pusat itu.

"Aaaah...!" Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Kini Kui Bin Pang sudah bertindak, rimba persilatan telah dibanjiri darah." "Kakek Lim," ujar Kam Hay Thian.

"Karnj harus segera berangkat ke Pulau Hong Hoang To untuk memberitahukan tentang kejadian ini." "Ya." Lim Peng Hang mengangguk.

"Kalau begitu, kalian harus berangkat sekarang.

Tapi kalian harus berhati-hati!" "Ya.

Kakek Lim." Kam Hay Thian dan Lu Hui San langsung berpamit.

Setelah mereka berdua meninggaliean markas pusat Kay Pang, Lim Peng Hang dan Gouw Han liong saling memandang, kemudian menghela nafas panjang.

"Entah kapan Seng Hwee Sin Kun akan ke mari?" Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.

"Kalau dia ke mari, kita berdua terpaksa bertarung matimatian dengan dia," sahut Gouw Han Tiong.

"Kita harus mati secara gagah." "Kita berdua bukan tandingannya, jangan-jangan kita pun akan jadi gila terkena pukulan ilu," ujar Lim Peng Hang sambil menghela nafas panjang.

"Mudah-mudahan pihak Pulau Hong Hoang To segera tiba di sini!" ujar Gouw Han Tiong.

"Kalau tidak, Kay Pang pasti akan mengalami nasib yang serupa dengan partai-partai besar itu." -oo0dw0oo- Di dalam markas Kui Bin Pang, terdengari suara tawa yang bergema-gema, itu adalah suara tawa ketua Kui Bin Pang.

"Ha ha ha!

Ha ha ha!

Para ketua tujuh partai besar sudah jadi gila, itu berarti partai-partai itu telah lumpuh!

Ha ha ha...!" "Kini apa rencana Ketua?" tanya Toa Sat Kui.

"Tentunya giliran Kay Pang," sahut ketua Kui Bin Pang.

"Namun harus dengan rencana istimewa." "Ketua!" Toa Sat Kui memberitahukan.

"Kam Hay Thian dan Lu Hui San berangkat ke Pulau Hong Hoang To, perlukah kami menangkap mereka?" "Tidak perlu." Ketua Kui Bin Pang menggelengkan kepala.

"Biar mereka ke Pulau itu untuk melapor, jadi pihak Pulau Hong Hoang To pasti ke markas pusat Kay Pang.

Nah, itu yang kuharapkan.

Ha ha ha...!" "Maksud ketua ingin membunuh mereka di markas pusat Kay Pang?" tanya salah satu Pelindung.

"Yang akan kubunuh adalah Tio Bun Yang Tio Cie Hiong, Tio Tay Seng dan Tio Hong Hoa Sebab mereka adalah turunan Tio Po Thian, maka harus dibunuh.

Sedangkan yang lain cukup dibuat gila saja.

Ha ha ha...!" sahut ketua Kui Bin Pang sambil tertawa terkekeh-kekeh.

"Aku harus mencincang Tio Bun Yang." "Ketua!" tanya salah satu Pelindung.

"Apakah Ketua punya dendam pribadi terhadap Tio Bun Yang?" "Tidak salah.

Kebetulan aku punya dendam piibadi dengan dia," sahut ketua Kui Bin Pang.

"Aku jatuh ke dalam jurang gara-gara dia." "Ketua," ujar salah satu Pelindung.

"Kami dengar, Tio Bun Yang berkepandaian tinggi sekali.

Apakah Ketua mampu mengalahkannya?" "Aku pasti mampu mengalahkannya," sahut ketua Kui Bin Pang yakin.

"Pokoknya aku akan membuatnya menderita dan tersiksa, sebab aku tahu dia sudah punya kekasih bernama Siang Koan Goat Nio yang cantik jelita.

He he he...!" "Ketua...." Salah satu Pelindung ingin mengatakan sesuatu, tapi dibatalieannya.

"Aku tahu...." Ketua Kui Bin Pang manggut-manggut.

"Kalian khawatir aku tidak mampu melawan Tio Bun Yang, bukan?" "Ya." Salah satu Pelindung itu mengangguk.

"Aku telah mencoba kepandaian kalian semua.

Kalau satu lawan satu, kalian memang bukan tandingannya," ujar ketua Kui Bin Pang sungguh-sungguh.

"Tapi kalau dua lawan satu atau Ngo Sat Kui menggunakan Ngo Kui Tin (Formasi Lima Setan), aku yakin kalian bisa menang." "Kami berdua melawan satu, Ngo Sat Kui mnggunakan Ngo Kui Tin bisa melawan berupa orang, namun..." ujar salah satu pelindung sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Pihak Pulau Hong Hoang To rata-rata memiliki kepandaian tinggi sekali." "Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak "Kalian harus tahu, aku memiliki ilmu hitam yang dapat mengendalikan pikiran mereka." "Tapi lweekang mereka begitu tinggi, bagi bagaimana mungkin mereka terpengaruh oleh ilmu hitam Ketua?" ujar salah satu Pelindung, seakan tidak percaya akan kehebatan ilmu hitam yang dimiliki ketuanya.

"Kalian ragu memang tidak salah, sebab kalian belum menyaksikan ilmuku itu," ujar ketua K" Bin Pang.

"Karena itu, aku terpaksa memperlihatkan ilmu tersebut." Mendadak ketua Kui Bin Pang memandang kedua Pelindung itu sambil membentak keras.

"Kalian berdua!" Suara bentakan ketua Kui Bin Pang mengandung suatu kekuatan yang tak dapat dilawan.

Post a Comment