"Sungguh tinggi kepandaian gadis itu!" Setelah bergumam, barulah ia melesat pergi ke arah timur, sesuai dengan petunjuk Tu Siao' Cui.
-oo0dw0oo- Bagian ke lima puluh tiga Berlutut dengan setulus hati Perlahan-lahan Kam Hay Thian mengetuk pinti Pek Yun Am.
Berselang sesaat terbukalah pintul itu.
Dua biarawati berdiri di situ sambil menatapnya dengan penuh keheranan.
"Maaf, aku telah mengganggu ketenangan Pek Yun Am!" ucap Kam Hay Thian sambil memberi hormat.
"Siancay!
Siancay!
Ada urusan apa engkau ke mari?" "Aku...
aku ingin bertemu Lu Hui San." "Lu Hui San?" "Ya." Kam Hay Thian mengangguk.
"Dia berada di sini kan?" "Betul." Salah satu biarawati itu mengangguk.
"Lu Hui San memang berada di sini.
Bolehkah kami tahu siapa engkau?" "Namaku Kam Hay Thian." "Oooh!" Kedua biarawati itu manggut-manggut.
"Baiklah.
Engkau tunggu di sini, kami kedalam memberitahukan kepada ketua!
Ingat, jangan sembarangan masuk!" "Ya." Kam Hay Thian mengangguk.
Kedua biarawati itu berjalan ke ruang samadi.
Sampai di pintu ruang itu, salah seorang dari mereka melapor.
"Ketua, Kam Hay Thian ke mari." "Siancay!
Siancay!" sahut Khong Sim Nikouw sambil manggut-manggut, kemudian memandang Luu Hui San yang duduk di sisinya.
"Hui San, engkau sudah dengar kan?" "Ya, Sian Kouw (Biarawati Welas Asih)." Lu Hui San mengangguk.
Air mukanya tampak terus berubah tak menentu.
"Bagaimana" Engkau bersedia menemui pemuda itu?" "Tidak," jawab Lu Hui San.
"Aku tidak mau menemuinya, aku benci dia." "Siancay!
Siancay!" Khong Sim Nikouw tersenyum.
"Kenapa ucapanmu berlawanan dengan suara hatimu?" "Aku...." Lu Hui San menundukkan kepala kemudian berjalan ke depan, dengan air mata berderai-derai.
Sementara Kam Hay Thian menunggu disitu "Dia ke mari pertanda dia telah sadar akan kesalahannya, maka engkau harus memaafkannya, sekaligus menerimanya pula," ujar Khong Sing Nikouw dan menambahkan dengan sungguh-sund guh.
"Ketika engkau baru ke mari, bukankah ak pernah mengucapkan sesuatu?" "Maaf, Sian Kouw!
Aku...
aku lupa." "Kebahagiaan telah berada di ambang pinti tunggulah dengan sabar.
Inilah yang kuucapkai hari itu, dan kini sudah tiba.
Engkau mengerti " "Sian Kouw...." Lu Hui San terbelalak.
"Tapi..." "Engkau masih ragu terhadapnya?" "Ya" "Kalau begitu...." Khong Sim Nikouw "Engkau boleh mencoba bagaimana hatinya" "Caranya?" Lu Hui San tertarik.
"Kedua muridku itu akan memberitahukan kepadanya, bahwa engkau tidak sudi menemuinya.
Apabila dia berlutut di depan kuil dengan setulus hati, berarti dia bersungguh-sungguh terhadapmu.
Mengerti?" "Mengerti." "Siancay!
Siancay!" ucap Khong Sim Nikou lalu berseru.
"Kalian berdua beritahukan kepada nya, bahwa Lu Hui San tidak sudi menemuinya" "Ya, Guru," sahut kedua biarawati itu kemudian berjalan kedepan.
Sementara itu Kam Hay Thian menunggu disitu dengan hati berdebar-debar.
Ketika melihat kedua biarawati menghampirinya, ia segera bertanya, "Bagaimana, Sian Kouw?" "Siancay!
Siancay!" Salah satu biarawati itu menggelenggelengkan kepala.
"Lu Hui San tidak sudi menemuimu.
Maaf.
kami tidak bisa berbuat apa-apa?" "Sian Kouw...." Wajah Kam Hay Thian pucat pasi "Siancay!
Siancay!" Kedua biarawati itu menghela nafas panjang, kemudian melangkah kedalam sekaligus menutup pintu "Adik Hui San!
Adik Hui San!
Aku ...aku rindu padamu..." gumam Kam Hay Thian kemudian menjatuhkan diri berlutut di depan Pek Yun Am itu.
-oo0dw0oo- Khong Sim Nikouw, Lu Hui San dan kedua murid biarawati tua itu duduk di ruang samadi.
Wajah Lu Hui San terus berubah tak menentu.
"Siancay!
Siancay!" ucap Khong Sim Nikouw sambil memandang Lu Hui San.
"Sudah tiga hari tiga malam Kam Hay Thian berlutut di situ tanpa makan dan minum, itu pertanda dia berlutut dengan setulus hati.
Maka, engkau harus menyelami perasaannya sekarang." "Sian Kouw...." Lu Hui San menundukkan kepala.
"Hui San!" Khong Sim Nikouw tersenyum lembut.
"Kini sudah saatnya engkau meninggaliean Pek Yun Am ini." "Sian Kouw...." "Oh ya!" Mendadak wajah Khong Sim Nikouw berubah serius.
"Aku yakin Tu Siao Cui yang menyuruhnya ke mari.
Tu Siao Cui muda kembali itu merupakan suatu berkah bagi dirinya.
Kini di.
telah berbuat kebaikan.
Siancay!
Siancay!
Kalau engkau bertemu dia, sampaikan pesanku kepada nya!
Dia harus banyak berbuat kebaikan untuk menebus dosanya terhadap Thian Gwa Sin Hiap Engkau harus menyampaikan pesanku ini kepada nya, karena demi kebaikannya pula." "Ya, Sian Kouw.
Aku pasti menyampaikan kepadanya." "Siancay!
Siancay!" ucap Khong Sim Nikow sambil memandangnya.
Ia mengeluarkan sebuni tusuk konde lalu diserahkan kepada Lu Hui San.
seraya berkata, "Simpan tusuk konde ini baik-baik kalau engkau bertemu Tayli Lo Ceng, berikan kepadanya!" "Haaah?" Lu Hui San tertegun.
"Sian Ko kenal Tayli Lo Ceng?" "Siancay!
Siancay!" Khong Sim Nikouw menghela nafas panjang.
"Sudah hampir delapan puluh tahun kami tidak bertemu.
Siancay!
Siancay!
Semua itu telah berlalu, lagi pula aku...." "Guru...." Wajah kedua muridnya berubah pucat pias.
"Siancay!
Sincay!" Khong Sim Nikouw tersenyum.
"Segala apa yang ada di dunia, itu hanya kepalsuan belaka.
Kosong dan segala itu memang kosong." "Sian Kouw...." Lu Hui San tercengang mendengarnya.
"Hui San!" Khong Sim Nikouw tersenyum lembut.
"Engkau boleh pergi sekarang bersama pemuda itu.
Tempuhlah hidup yang bahagia!
Jangan menyia-nyiakan hidup yang teramat singkat m!
"Ya, Sian Kouw." Lu Hui San segera bersujud.
"Sian Kouw, aku mohon diri!" "Bangunlah, Hui San!" Khong Sim Nikouw berpesan, "Simpanlah baik-baik tusuk konde itu!" "Ya, Sian Kouw." Lu Hui San mengangguk sambil bangkit berdiri, kemudian berpamit dengan air mata bercucuran.
"Semoga engkau hidup bahagia, Hui San!" ucap Khong Sim Nikouw sambil memandangnya dengan lembut sekali.
"Sian Kouw...." "Pergilah!" Khong Si Nikouw memejamkan matanya.
Lu Hui San bersujud lagi.
Setelah memberi hormat kepada kedua biarawati itu, barulah melangkah ke luar.
Kedua biarawati itu men antarnya sampai di depan kuil, setelah itu mereka menutup pintu.
"Adik Hui San!
Adik Hui San...!" seru Ka Hay Thian dengan mata bersimbah air.
"Adik Hui San...." Lu Hui San tidak menyahut, namun air mata nya sudah berderai-derai.
Perlahan-lahan Kam.
Hay Thian mendekatinya, lalu menjatuhkan dan berlutut di hadapan gadis itu.
"Adik Hui San, maafkanlah aku!" "Kakak Hay Thian...." Lu Hui San juga menjatuhkan diri berlutut di hadapan pemuda itu "Aku...
aku memaafkanmu." "Terimakasih, Adik Hui San!" ucap Kam Hay Thian sambil menjulurkan tangannya untuk memegang bahu gadis itu.
"Adik Hui San, aku...
aku cinta padamu." "Kakak Hay Thian..-." Lu Hui San menangis terisak-isak saking girang.
"Aku...
aku sudah mencintaimu sejak pertama kali melihatmu.
Tapi engkau..." "Adik Hui San!" Kam Hay Thian menatapnya lembut.
"Itu telah berlalu, jangan kau ungkit lagi Yang jelas...
kini kita sudah saling mencintai takkan berpisah selama-lamanya." "Kakak Hay Thian...." Lu Hui San mendekap di dadanya.
"Aku...
aku bahagia sekali." "Adik Hui San, maafkanlah aku yang telah membunuh ayah angkatmu!
Sekali lagi aku minta maaf!" ucap Kam Hay Thian sambil membelainya dengan penuh cinta kasih.
"Ibumu juga dibunuh oleh para anggota Hiat Ih Hwe.
Yaaah!
Sudahlah!
Semua itu telah ber-lalu, anggaplah sebagai mimpi buruk saja!" "Ya." Kam Hay Thian mengangguk, sekaligus mengangkatnya bangun.
"Adik Hui San, apa rencanamu sekarang?" "Aku sudah rindu kepada pamanku.
Bagaimana kalau kita ke sana?" sahut Lu Hui San malu-malu.
"Benar." Kam Hay Thian manggut-manggut.
Aku memang harus mengunjungi pamanmu." "Kalau begitu, mari kita berangkat sekarang!" ajak Lu Hui San.
"Baik." Kam Hay Thian mengangguk.
Mereka berdua berangkat ke tempat tinggal ie Kuang Han.
Dalam perjalanan itu mereka Li senda gurau penuh kegembiraan.
-oo0dw0oo- Dalam perjalanan menuju tempat tinggal Sie Kuang Han, Kam Hay Thian dan Lu Hui San juga mendengar tentang musnahnya markas Seng Hwe Kauw.
Itu sungguh menggembirakan mereka berdua.
Namun ada satu hal yang membuat Kam Hay Thian tidak habis pikir, yakni tidak adanya kabar mengenai Seng Hwee Sin Kun.
"Heran!" gumam Kam Hay Thian dengan kening berkerutkerut.
"Kenapa tiada kabar beritl mengenai Seng Hwee Sin Kun" Apakah Bun Yan berhasil membunuhnya?" "Kalau Bun Yang berhasil membunuhnya, tentunya akan tersiar berita tersebut.
Namun tidak.
Mungkin..." ujar Lu Hui San setelah berpikir sejenak.
"Seng Hwee Sin Kun berhasil melolosieah diri." "Itu memang mungkin." Kam Hay Thian manggut-manggut "Lebih baik kita tanyakan kepada Kakek Lim nanti" "Benar." Lu Hui San mengangguk.
Beberapa hari kemudian, mereka sudah sampai di tempat tinggal Sie Kuang Han.
Betapa gembiranya orang tua itu ketika melihat Lu Hui San datang bersama seorang pemuda.
"Paman!" panggil gadis itu.
"Hui San!" Sie Kuang Han tertawa gembira "Ha ha ha!
Duduklah!" "Paman, dia Kam Hay Thian...." Lu Hui San memperkenalieannya, dan pemuda itu segera mem beri hormat.
"Paman, terimalah hormatku!" ucap Kam Hay I hian.
"Tidak usah sungkan-sungkan!
Ha ha ha!" Sie Kuang Han tertawa gelak.
"Ayolah!
Duduk!" Lu Hui San dan Kam Hay Thian lalu duduk.
Sie Kuang Han memandang Lu Hui San seraya bertanya.
"Kenapa Keng Hauw tidak kemari?" "Dia...." Lu Hui San tersenyum.
"Dia berada di Pulau Hong Hoang To, dan sudah punya kekasih." "Oh?" Wajah Sie Kuang Han berseri.
"Siapa kekasihnya!" "Lie Ai Ling, putri kesayangan Lie Man Chiu dan Tio Hong Hoa." Lu Hui San memberitahukan.
"Oooh!" Sie Kuang Han manggut-manggut gembira.