"Boleh," sahut ketua Kui Bin Pang.
"Aku akan menyembuhkan lukanya, sekaligus menggunakan ilmu hitamku untuk mengendalikan pikirannya." "Oooh!" Toa Sat Kui manggut-manggut.
"Ketua ingin mengendalikan pikirannya untuk membunuh orang?" "Ya." Ketua Kui Bin Pang mengangguk.
"Aku akan menyuruhnya membunuh orang-orang tertentu, bahkan juga akan menyuruhnya membuat gila para ketua tujuh partai besar.
Setelah itu, barulah kita menguasai rimba persilatan.
Otomatis pihak Pulau Hong Hoang To akan muncul .
"Rencana yang bagus," ujar Toa Sat Kui sambil tertawa.
"Ketua memang berotak cemerlang." "Ketua," tanya salah seorang pelindung.
"Kenapa kita tidak menyerbu ke Pulau Hong Hoang Ro?" "Itu sangat membahayakan kita," sahut ketua Kui Bin Pang.
"Sebab kita sama sekali tidak tahu keadaan pulau itu.
Maka lebih baik biar mereka tang menyerbu ke mari." "Seandainya pihak Pulau Hong Hoang To tidak menyerbu ke mari?" tanya Toa Sat Kui.
"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak.
Kalau kita membunuh Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong, apakah pihak Pulau Hong Hoang To akan tinggal diam saja?" "Betul, betul." Toa Sat Kui tertawa gelak.
"Kalian semua harus tahu, pihak Pulau Hong Hoang To adalah musuh kita," ujar ketua Kui Bi Pang.
"Karena Tio Po Thian yang memukul ketua lama hingga jatuh ke dalam jurang, maka ki harus membalas dendam itu." "Tapi...." Salah seorang pelindung menggeleng-gelengkan kepala.
"Kita masih belum menemuka tetua, jadi kita tidak boleh bergerak." "Dalam tiga bulan ini, kalau kita tidak menemukan tetua, aku akan perintahkan para anggota bergerak dalam rimba persilatan, bahkan Seng Hwee Sin Kun yang dibawah pengaruhku akan mulai beraksi.
Ha ha ha...!" Ketua Kui Bi Pang tertawa terbahak-bahak.
"Ketua," ujar salah seorang pelindung.
"Bukankah lebih baik kita menunggu tetua?" "Aku sudah bilang, apabila dalam tiga bulan ini tetua itu masih belum muncul, maka Kui Bin Pang akan mulai bergerak di rimba persilatan!" sahut ketua Kui Bin Pang.
"Para anggota harus mulai membunuh kaum pesilat golongan putih, sedangkan Seng Hwee Sin Kun harus membuat gila para ketua tujuh partai besar, bahkan juga harus membunuh Lim Peng Hang dan Gouw Ha" Tiong.
Ha ha ha...!" "Ide yang bagus," ujar Toa Sat Kui.
"Aku yakin pihak Pulau Hong Hoang To pasti muncul.
Ht he he!" "Tio Tay Seng, Tio Cie Hiong dan Tio Bui Yang harus mati di tanganku," ujar ketua Kui Bin Pang sambil mengepaliean tinju.
"Terutama Tio Bun Yang, aku akan membunuhnya dengan cara vang paling sadis." -oo0dw0oo- Sementara itu, Tio Bun Yang dan lainnya sudah tiba di Pulau Hong Hoang To.
Betapa gembiranya Tio Tay Seng, Tio Cie Hiong, Lim Hong Im dan lainnya, terutama Kou Hun Bijin.
"Oooh!
Goat Nio, syukurlah engkau sudah pulang bersama Bun Yang!" Kou Hun Bijin memeluk Siang Koan Goat Nio eraterat.
"Ibu...." Gadis itu menangis terisak-isak.
"Nak!" Kou Hun Bijin membelainya seraya bertanya, "Kenapa engkau menangis" Dan kenapa kulanmu kurus" Apakah Bun Yang menghinamu" "Kakak Bun Yang sangat menyayangiku.
Bagaimana mungkin dia menghinaku" Dia...." "Kenapa dia?" Kou Hun Bijin menatapnya.
'Apakah dia sudah berbuat begitu atas dirimu?" "Ibu kok omong sembarangan sih?" Wajah Siang Koan Goat Nio langsung memerah.
"Tapi...." Kou Hun Bijin mengerutkan kening, kenapa badanmu kurus" Pasti ada suatu masalah kan?" "Ibu!" Siang Koan Goat Nio tertawa kecil "Masalah itu telah lewat." "Eh?" Kou Hun Bijin terbelalak.
"BagaimanJ engkau, tadi menangis sekarang malah tertawa?" "Bijin," ujar Sam Gan Sin Kay sambil tertawa.
"Jangan terus berdiri, duduklah!" "Tumben!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.
"Hari ini engkau begitu baik terhadapku, jangan-jangan...." "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa lagi "Kita sama-sama tinggal di satu pulau, tentunya harus baik satu sama lain, bukan?" "Betul.
Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa nyaring sambil menarik Siang Koan Goat Nio untuk diajak duduk.
"Nak...," panggil Kim Siauw Suseng denga suara rendah.
"Ayah!" sahut Siang Koan Goat Nio sambi tersenyum.
"Nak!" bisik Kim Siauw Suseng.
"Syukur engkau sudah pulang bersama Bun Yang, ayah merasa gembira sekali." "Hei!" seru Sam Gan Sin Kay.
Jangan bisik-bisik, bicaralahh terang-terangan!" "Apa urusanmu?" sahut Kim Siauw Suseng "Aku berbisikbisik dengan putriku kok." "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa geli kemudian memandang Tio Bun Yang seraya berkata, "Bun Yang, ceritakanlah pengalaman kalian!" "Sungguh bukan main!" sela Lie Ai Ling mendadak.
"Memang bukan main!" "Apa yang bukan main?" tanya Sam Gan Sin Kay terbelalak.
"Apakah engkau sudah bermain-main dengan Keng Hauw, maka terus mengatakan Bukan main'?" "Kakek tua pengemis...." Wajah Lie Ai Ling kemerahmerahan.
"Maksudku pengalaman kami bukan main." "Oh?" Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Kalau begitu, ceritakanlah yang bukan main itu!" "Goat Nio ditangkap pihak Seng Hwee Kauw...," tutur Lie Ai Ling tentang semua kejadian itu.
"....
akhirnya markas Seng Hwee Kauw diledakkan sampai musnah." "Bagus, bagus!
Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gembira.
"Kini rimba persilatan Tiong-goan pasti sudah aman." "Tapi...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Ada apa, Bun Yang?" tanya Tio Cie Hiong sambil menatapnya dengan penuh perhatian.
"Ketika Seng Hwee Sin Kun terluka parah, mendadak muncul lima orang berpakaian serba putih dan memakai kedok setan." "Haaah?" Air muka Tio Tay Seng langsung berubah hebat.
"Kui Bin Pang!" "Kakek tahu tentang Kui Bin Pang?" tanya Tio Bun Yang.
"Aaaah...!" Tio Tay Seng menghela nafas panjang.
"Seng Hwee Kauw telah musnah, tapi kini malah muncul Kui Bin Pang, pertanda rimba persilatan Tionggoan akan dilanda banjir darah lagi!" "Ayah!" Tio Bun Yang memberitahukan.
"Aku sudah tahu jelas mengenai Kui Bin Pang itu." "Oh?" Tio Cie Hiong tertegun.
"Beritahukan-lah!" "Kini Kui Bin Pang memang sudah berada di Tionggoan.
Sasaran mereka adalah kita," ujar Tio Bun Yang.
"Karena ketua lama Kui Bin Pane punya dendam dengan majikan lama pulau ini.
Karena itu, ketua baru Kui Bin Pang ingin menuntut balas." "Bun Yang!" Tio Tay Seng tersentak.
"Engkau tahu dari siapa tentang itu?" "Aku bertemu seorang tua, dia yang memberitahukan kepadaku," jawab Tio Bun Yang tanpa menceritakan ciri-ciri orang tua tersebut, sebab Sie Keng Hauw berada di situ.
"Siapa orang tua itu?" tanya Tio Cie Hiong.
"Aku tidak tahu, Ayah," sahut Tio Bun Yang sambil memberi isyarat.
"Oooh!" Tio Cie Hiong manggut-manggut karena sudah tahu akan arti isyarat Tio Bun Yangl "Aaaah...!" Tio Tay Seng menghela nafas panjang.
"Cie Hiong, bukankah aku sudah menuturkan tentang itu?" "Ya." Tio Cie Hiong mengangguk.
"Tidak apa-apa," ujar Sam Gan Sin Kay.
"Kalau mereka berani menyerbu ke mari, kita habisiean saja mereka satu persatu." "Pengemis bau!" sahut Kim Siauw Suseng.
"bagaimana mungkin Kui Bin Pang akan menyerbu ke mari" Mereka tidak tolol lho!" "Tidak salah," ujar Tio Cie Hiong.
"Kui Bin Pang tidak akan menyerbu ke mari, tapi kemungkinan besar akan menyerbu ke markas pusat Kay Pang." "Haah?" Lim Ceng Im terkejut bukan main.
"Kalau begitu, bukankah ayahku dalam bahaya?" "Itu...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening.
"Ibu," ujar Tio Bun Yang.
"Sementara ini, Kui Bin Pang tidak akan menyerbu ke markas pusat kay Pang." "Memangnya kenapa?" tanya Lim Ceng Im heran.
"Karena pihak Kui Bin Pang belum menemukan tetua mereka, maka sementara ini Kui Bin Pang belum bisa bergerak," jawab Tio Bun Yang memberitahukan.
"Namun entah bagaimana kelak?" "Aku yakin...." Tio Cie Hiong mengerutkan kening seraya berkata, "Tidak lama lagi Kui Bin Pang pasti bergerak dalam rimba persilatan.
Sasaran Kui Bin Pang pasti Kay Pang dan tujuh partai besar." "Benar." Sam Gan Sin Kay manggut-manggu dan melanjutkan, "Kui Bin Pang tidak beran menyerbu ke mari, tapi akan memancing kita ke Tionggoan." "Tidak salah," sahut Kim Siauw Suseng.
"Itu lah tujuan Kui Bin Pang.
Namun kalau Kui Bir Pang bertindak begitu, tentunya kita tidak akar tinggal diam." "Kita semua sudah bersumpah tidak akar mencampuri urusan rimba persilatan.
Bagaimana!
mungkin kita ke Tionggoan?" Tio Tay Seng menggeleng-gelengkan kepala.
"Tio Tocu!" Sam Gan Sin Kay tertawa.
"Itu bukan urusan rimba persilatan, melainkan urusan kita.
Karena Kui Bin Pang menuntut balas terhadap kita." "Memang." Tio Tay Seng manggut-manggut "Ini urusan Pulau Hong Hoang To, tiada sangku pautnya dengan Kay Pang maupun tujuh parta besar...." "Justru termasuk urusan Kay Pang." potong Sam Gan Sin Kay serius.
"Sebab Tio Cie Hiong menantu Lim Peng Hang, ketua Kay Pang.
Sedangkan aku mantan tetua Kay Pang pula.
Bahkan sudah sekian lama tinggal di Pulau Hong Hoang To ini.
Nah, bukankah diriku termasuk bagian dari Pulau Hong Hoang To?" "Sama," sahut Kim Siauw Suseng.
"Aku pun termasuk bagian dari pulau Hong Hoang To." "Sama," sela Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikian.
"Goat Nio adalah calon isteri Bun Yang.
berarti kami akan berbesan dengan pihak Pulau Hiong Hoang To ini, bukan" Hi hi hi...!" "Tidak salah, isteriku," ujar Kim Siauw Suseng sambil tersenyum.
"Begitu mesranya!" goda Sam Gan Sin Kay sambil tertawa gelak.
"Ha ha ha!" "Bagaimana menurut kalian?" tanya Tio Tay Seng mendadak dengan wajah serius sekali.
"Kita lihat saja bagaimana perkembangan selanjutnya.
Beres kan?" sahut Sam Gan Sin Kay.
"Beres?" Kim Siauw Suseng menggeleng-gelengkan kepala.
"Kita semua berada di pulau ini, bagaimana bisa tahu perkembangan di Tiong-l-oan?" "Kalau ada sesuatu, Peng Hang pasti mengutus orang ke mari memberitahukan kepada kita," ?ahut Sam Gan Sin Kay.
"Masalah itu lebih baik kita bicarakan nanti jaja," ujar Tio Tay Seng.
"Sekarang Bun Yang tlan lainnya perlu beristirahat dulu." "Betul." Sam Gan Sin Kay manggut-manggut.
"Nah, kalian kaum muda pergilah beristirahat!" "Ya." Tio Bun Yang dan lainnya mengangguk lalu melangkah ke dalam.
"Goat Nio!" panggil Kou Hun Bijin.
"Engkau ke kamar, ibu ingin bicara denganmu." "Ya." Siang Koan Goat Nio mengangguk lal melangkah ke kamarnya.
Sementara Tio Bun Yang sudah berada dalam kamarnya.