"...
ketua Kui Bin Pang berniat menarik Seng Hwee Sin Kun menjadi anggotanya." "Itu memang mungkin." Lim Peng Hang mengangguk.
"Maka ketua Kui Bin Pang mengutus kelima orang itu menolong Seng Hwee Sin Kun." "Mungkin dan tak mungkin," ujar Pat Pie Lo Koay mendadak.
"Guruku pernah bilang, ketua Kui Bin Pang memiliki semacam ilmu sesat yang dapat mengendalikan pikiran orang.
Oleh karena itu aku yakin ketua Kui Bin Pang itu punya maksud tertentu terhadap Seng Hwee Sin Kun." "Maksud Paman ketua Kui Bin Pang akan mengendalikan pikiran Seng Hwee Sin Kun?" tanya Ngo Tok Kauwcu dengan kening berkerut "Ya." Pat Pie Lo Koay manggut-manggut kemudian menghela nafas panjang.
"Kini Seng Hwee Kauw telah musnah, tapi malah muncul Kui Bin Pang yang amat menakutkan itu." "Menakutkan?" Ngo Tok Kauwcu tersentak "Kenapa menakutkan?" "Sangat sadis, tidak pernah memberi ampun kepada siapa pun." Pat Pie Lo Koay memberitahukan.
"Kelihatannya rimba persilatan akan dilanda banjir darah." "Paman!" Ngo Tok Kauwcu mengerutkan kening.
"Mungkinkah ketua itu adalah ketua yang lama?" "Tidak mungkin." Pat Pie Lo Koay menggelengkan kepala.
"Aku yakin ketua sekarang itu adalah ketua baru." "Heran?" gumam Ngo Tok Kauwcu.
"Sebetulnya siapa ketua baru itu?" "Sudahlah Ling Cu!" ujar Pat Pie Lo Koay sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Tidak usah memikirkan itu, kita harus cepat-cepat pulang ke markas." "Ya, Paman." Ngo Tok Kauwcu menganggut lalu berpamit.
"Maaf, kami mau mohon diri pulang ke markas." "Kok begitu cepat pulang, Kakak Ling Cu?" Tio Bun Yang ingin menahannya.
"Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum.
"Kelak kita pasti berjumpa lagi, sampai berjumpa semua!" Ngo Tok Kauwcu memberi hormat kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong lalu melangkah pergi.
Pat Pie Lo Koay pun memberi hormat kepada mereka, kemudian segera menyusul Ngo Tok Kauwcu.
Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong, Tio Bun Yang dan Siang Koan Goat Nio mengantar mereka sampai di luar markas.
Setelah mereka berdua melesat pergi, barulah Lim Peng Hang dan lainnya kembali ke markas.
-oo0dw0ooTiraikasih Jilid 11 "Yatsumi!" Lim Peng Hang memandangnya sambil duduk.
"Engkau telah berhasil membunuh ketua ninja itu, lalu apa rencanamu selanjutnya?" "Kakek Lim," jawab Yatsumi.
"Aku akan segera pulang ke Jepang." "Ngmmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Engkau berasal dari Jepang, tentunya harus pulang ke Jepang." "Aku...." Sepasang mata Yatsumi bersimbah air.
"Aku sangat berterimakasih kepada Kakek Lim, Kakek Gouw dan lainnya." "Yatsumi," sela Lie Ai Ling sambil tertawa.
"Jangan berkata begitu.
Hubungan kita sudah bagaikan kakak beradik." "Betul," sambung Siang Koan Goat Nio dengan wajah berseri.
"Kita boleh dikatakan bagaikan kakak beradik." "Aku...." Yatsumi terharu sekali, sehingga membuatnya menangis-terisak.
"Aku...." "Yatsumi!" Lie Ai Ling menatapnya dalam-dalam.
"Engkau harus yakin dan percaya diri.
Begitu engkau tiba di Jepang, harus memberanikan diri menemui orang tua pemuda itu." "Ai Ling...." Wajah Yatsumi kemerah-merahan.
"Eeeeh?" Lim Peng Hang tertawa gelak.
"Kini kalian membicarakan urusan pribadi, maka alangkah baiknya kalian ke halaman belakang saja." "Betul," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa!
"Ayoh, mari kita ke halaman belakang!" Gadis itu langsung menarik Sie Keng Hauw ke belakang.
Tio Bun Yang, Siang Koan Goat Nio dan Yatsumi mengikuti mereka dari belakang.' "Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa setelah berada di halaman belakang.
"Aku gembira sekali." "Ai Ling!" Sie Keng Hauw menatapnya heran.
"Kenapa engkau gembira?" "Apakah engkau tidak merasa gembira?" Lie Ai Ling balik bertanya.
"Kini Kakak Bun Yang sudah berkumpul kembali dengan Goat Nio." "Betul." Sie Keng Hauw manggut-manggut.
"Kita harus mengucapkan selamat kepada mereka berdua." "Terimakasih, terimakasih..." sahut Tio Bun Yang sambil tertawa gembira.
"Terimakasih...." "Aaaah...." Mendadak Yatsumi menghela nafas panjang.
"Yatsumi," ujar Tio Bun Yang.
"Percayalah' orang tua pemuda itu pasti merestui kalian, aku yakin itu." "Mudah-mudahan!" sahut Yatsumi.
"Kalau aku menikah dengan pemuda itu, aku dan dia pasti ke mari mengunjungi kalian." "Nah!" seru Lie Ai Ling.
"Jangan ingkar janji Hio!" "Aku tidak akan ingkar janji.
Percayalah padaku!" Yatsumi tersenyum.
"Aku pasti ke mari mengunjungi kalian." Beberapa hari kemudian, Yatsumi bertolak ke Jepang.
Sedangkan Tio Bun Yang, Siang Koan lioat Nio, Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling berangkat ke Pulau Hong Hoang To.
-ooo0dw0ooo- Bagian ke lima puluh satu Markas Kui Bin Pang Tentang musnahnya markas Seng Hwee Kauw, telah tersiar luas dalam rimba persilatan.
Setelah mendengar berita tersebut, para ketua tujuh partai besar segera berangkat ke markas pusat Kay Pang.
"Lim Pangcu," ujar Hui Khong Taysu ketua Siauw Lim Pay.
"Kami ke mari memberi selamai kepadamu." "Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak "Taysu dan para ketua lain, silakan duduk!" Mereka duduk, beberapa anggota Kay Pang segera menyuguhkan teh.
Seusai meneguk teh, Hui Khong Taysu berkata, "Lim Pangcu, partaimu sangat berjasa bagi rimba persilatan, karena telah menumpas Seni Hwee Kauw." "Sesungguhnya...." Lim Peng Hang menggeleng-gelengkan kepala.
"Bukan Kay Pang yang berjasa dalam hal ini, melainkan Tio Bun Yang, Ngo Tok Kauwcu, Sie Keng Hauw, Lie Ai Linj dan Pat Pie Lo Koay." "Tapi kalau tidak ada Kay Pang, belum tentu mereka dapat menumpas Seng Hwee Kauw," ujar It Hian Tojin ketua Butong Pay "Yang jelas mereka yang berjasa," tandas Lini Peng Hang.
"Tapi...." "Kenapa?" tanya Wie Hian Cinjin, ketua Kun Lun Pay.
"Apakah masih ada masalah lain?" "Apakah kalian pernah mendengar tentang Kui Bin Pang?" Lim Peng Hang balik bertanya mendadak sambil memandang para ketua itu.
Mereka saling memandang, namun air muka Hui Khong Taysu berubah hebat begitu Lim Peng Hang mengajukan pertanyaan tersebut.
"Kui Bin Pang...?" gumamnya.
"Ya." Lim Peng Hang mengangguk.
"Taysu pernah mendengar tentang perkumpulan itu?" "Guruku pernah memberitahukan tentang Kui Rin Pang yang misteri itu, kenapa Lim Pangcu bertanya tentang itu?" "Sebab...." Lim Pangcu menggeleng-gelengkan kepala.
"Seng Hwee Sin Kun terluka parah oleh pukulan Tio Bun Yang, namun mendadak muncul lima orang berpakaian serba putih memakai kedok setan membawanya kabur." "Haah?" Bukan main terkejutnya Hui Khong Taysu.
"Omitohud!" "Taysu!" It Hian Tojin menatapnya.
"Beritahu-kanlah tentang Kui Bin Pang!" "Omitohud!" Hui Khong Taysu menghela nafas panjang.
"Sudah hampir seratus tahun Kui Bin Pang tiada kabar beritanya, namun kini malah muncul di Tionggoan.
Guruku pernah melihat Kui Hin Pang di daerah gurun Sih Ih.
Pada waktu itu Kui Bin Pang sedang membantai suatu suku di daerah gurun Sih Ih.
Guruku segera turun tangan menolong suku itu, namun ketua Kui Bin Pang berhasil mengalahkan guruku." "Oh?" Lim Peng Hang terbelalak.
"Begitu imggi kepandaian ketua Kui Bin Pang itu?" "Omitohud!" sahut Hui Khong Taysu.
"Memang tinggi sekali kepandaian ketua Kui Bin Pang ituu.
Gurukupun memberitahukan, bahwa Kui Bin Pang cuma bergerak di daerah Sih Ih, tidak memasuki daerah Tionggoan.
Tapi kini...." "Aaaah...!" Lim Peng Hang menghela nafas panjang.
"Kini Kui Bin Pang telah memasuki daerah Tionggoan, bahkan menolong Seng Hwee Sin Kun." "Omitohud!" Hui Khong Taysu menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau begitu, tidak lama lagi rimba persilatan akan dilanda banjir darah." "Siapa ketua Kui Bin Pang itu?" tanya Pek Bie Lojin, ketua Swat San Pay.
"Tidak tahu," sahut Lim Peng Hang dan menambahkan, "Mereka semua memakai kedok setan dan berpakaian serba putih." "Yaaah!" Hui Liong Sin Kiam, ketua Hwa San Pay menghela nafas panjang.
"Seng Hwee Kauw telah ditumpas, tapi muncul lagi Kui Bin Pang!" "Omitohud!" ucap Hui Khong Taysu.
"Kui Bin Pang lebih ganas dan sadis dibandingkan dengan Seng Hwee Kauw, kini kaum rimba persilatan dalam bencana." "Oh ya!" Beng Leng Tojin, ketua Khong Tong Pay memandang Lim Peng Hang seraya bertanytil "Di mana Tio Bun Yang?" "Cucuku dan lainnya sudah pulang ke Pulau Hong Hoang To," jawab Lim Peng Hang melanjutkan.
"Tentang Kui Bin Pang, dia pasti memberitahukan kepada Tio Cie Hiong." "Kalau Kui Bin Pang mengganas di rimba persilatan, apakah pihak Pulau Hong Hoang To akan turun tangan menumpas mereka?" tanya It Nian Tojin, ketua Butong Pay.
"Itu bagaimana nanti saja." jawab Lim Peng liang.
"Apabila Kui Bin Pang berani mengusik pihak Pulau Hong Hoang To, sudah barang tentu pihak Pulau Hong Hoang To akan turun langan menumpasnya," ujar Gouw Han Tiong MJiigguh-sungguh.
"Omitohud...!" ucap Hui Khong Taysu.
"Kapan rimba persilatan akan tenang aman dan damai" Omitohud...!" -oo0dw0ooo- Mo Kui San (Gunung Setan Iblis) terletak di sebelah utara Tionggoan.
Gunung tersebut tidak pernah dijamah manusia sebab sangat seram sekali.
Konon gunung itu merupakan tempat bermukimnya para setan iblis, oleh karena itu, tiada seorang pun berani memasukinya.
Akan tetapi, sungguh mengherankan.
Di puncak gunung itu justru tampak sebuah bangunan yang sangat besar, sepertinya belum lama dibangun.
Tidak salah.
Bangunan megah itu memang belum lama dibangun, itu adalah markas Kui Bi Pang.
Di ruang tengah markas itu tampak belasan orang berkumpul di situ.
Yang memakai kedok setan warna merah adalah ketua Kui Bin Pan duduk di kursi batu yang mengkilap, yang memakai kedok setan warna kuning adalah Dua Pelindung.
Lima Setan Algojo memakai kedok setan warna hijau, sedangkan para anggota berkepandaian tinggi memakai kedok setan warna putih.
"Ha ha ha!" Ketua Kui Bin Pang tertawa terbahak-bahak.
"Ngo Sat Kui (Lima Setan Algojo), kalian berlima berhasil menolong kabur Seng Hwee Sin Kun, pertanda kalian berlima telal berjasa!" "Terimakasih, Ketua," ucap Toa Sat Kui (Setan Algojo Tertua).
"Maaf, Ketua," ucap salah seorang pelindung dan bertanya.
"Kenapa Ketua perintahkan Ngo Sat Kui menolong Seng Hwee Sin Kun?" "Ha ha ha?" Ketua Kui Bin Pang tertawa gelak.
"Tentunya aku punya suatu rencana.
H; ha ha...!" "Bolehkah kami tahu mengenai rencana Ke tua?" tanya Toa Sat Kui.