"Tidak mungkin, sebab aku cukup cerdik." "Maksud lo cianpwee?" "Ketua baru itu tidak kenal aku.
Meskipun dia mengenali ilmu silatku, tetapi, aku telah mengubah semua gerakan ilmu silatku." "Oooh!" Tio Bun Yang tersenyum.
"Jadi Sie Keng Hauw juga mempelajari ilmu silat lo cianpwee yang telah diubah itu?" "Ya." Orang tua pincang mengangguk.
"Kok lo cianpwee bisa berpikir sampai kesitu?" "Sebelum ayahku meninggal sudah menceritakan tentang Kui Bin Pang dan ketua lama itu Bahkan ayahku pun khawatir kelak akan muncul ketua Kui Bin Pang.
Oleh karena itu, setelah ayahku meninggal, aku mulai mengubah semua ilmu silat ayahku itu." "Lo cianpwee sungguh cerdas!" ujar Tio Bu Yang sambil tersenyum.
"Oh ya, bagaimana kepandaian lo cianpwee dibandingkan dengan ketua baru itu?" "Cuma bisa bertahan sekitar tiga puluh jurus," sahut orang tua pincang dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Kok lo cianpwee tahu?" "Aku pernah membuntuti para anggota Kui Bin Pang, sampai disuatu tempat aku menyaksikan ketua baru itu sedang mempertunjukkan kepandaiannya." "Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggul seraya bertanya, "kalau begitu, siapa yang mampu menandingi kepandaian ketua Kui Bin Pang itu?" "Mungkin engkau, anak muda." Orang tua pincang menatapnya.
"Aku?" Tio Bun Yang tertegun.
"Kepandaianku..." "Anak muda!" Orang tua pincang tersenyum.
"Jangan merendah lagi, aku sudah tahu jelas tenung kepandaianmu." "Lo cianpwee...." "Oleh karena itu..." tambah orang tua pincang.
'Aku memang sengaja menemuimu.
Mengenai Kui lim Pang, engkau harus berunding dengan ayahmu dan para tingkatan tua lainnya." "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Oh ya, engkau harus ingat!" pesan orang tua pincang.
"Jangan beritahukan kepada Sie Keng Hauw tentang diriku!" "Ya, lo cianpwee." Tio Bun Yang mengangguk lagi.
"Baiklah." Orang tua pincang menepuk bahu Tio Bun Yang seraya berkata, "Anak muda, semoga kita berjumpa lagi kelak!" "Lo cianpwee...." "Sampai jumpa, anak muda!" ucap orang tu pincang dan sekaligus melesat pergi.
Kening Tio Bun Yang berkerut-kerut.
Ia masih belum bertemu Siang Koan Goat Nio, ini sudah sangat memusingkannya, kini malah timbul urusan tersebut.
Tio Bun Yang menghela nafa panjang, lalu melesat pergi.
-oo0dw0oo- Bagian ke empat puluh delapan Pembicaraan serius di Markas Pusat Kay Pai Tio Bun Yang terus melanjutkan perjalanan menuju markas pusat Kay Pang.
Ketika ia berada jalan yang sepi, mendadak terdengar suara siulan aneh yang menyeramkan serta suara derap kaki kuda.
Segeralah ia meloncat ke balik pohon, mudian mengintip dengan penuh perhatian.
Tampak belasan penunggang kuda berpakaian serba putih melewati jalan itu, semuanya memakai kedok setan.
Tentunya Tio Bun Yang tahu, mereka adalah para anggota Kui Bin Pang.
Ia tidak menguntit mereka, karena sedang memburu waktu menuju markas pusat Kay Pang.
Setelah para anggota Kui Bin Pang itu lewat, berselang sesaat barulah Tio Bun Yang melesat pergi melanjutkan perjalanan.
Beberapa hari kemudian, sampailah ia di markas pusat Kay Pang.
Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menghela nafas lega.
"Kakek!" panggil Tio Bun Yang dan tercengang ketika melihat Ngo Tok Kauwcu Phang Ling Cu berada di situ.
"Kakak Ling Cu...." "Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum.
"Bun Yang," ujar Lim Peng Hang.
"Duduklah dulu baru mengobrol, memang banyak yang harus dibicarakan." "Ya." Tio Bun Yang duduk.
"Kakak Bun Yang," tanya Lie Ai Ling.
"Kok Sian Hoa tidak ikut kembali, apakah telah terjadi sesuatu atas dirinya?" "Memang telah terjadi suatu yang baik atas dirinya," sahut Tio Bun Yang sambil tersenyum.
Ternyata dia dan Toan Beng Kiat telah saling mencinta, maka dia pun betah tinggal di Tayli." "Oooh!" Lie Ai Ling manggut-manggut sambil tertawa.
"Syukurlah kalau begitu!" "Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya!
"Bagaimana urusan di Tayli itu" Apakah sudah beres?" "Sudah beres." Tio Bun Yang mengangguk "Bun Yang!" Gouw Han Tiong menatapnya seraya bertanya.
"Bagaimana cara engkau memberesi urusan itu?" "Tidak begitu sulit," jawab Tio Bun Yan sambil tersenyum.
"Karena Bu Ceng Sianli-Tui Siao Cui menuruti usulku, dia menyembuhkan Paman Wie Kie dan Paman Bie Liong, lalu pergi" "Syukurlah!" ucap Gouw Han Tiong dan berlega hati.
"Oh ya, bagaimana luka Tayli Lo Ceng?" "Sudah sembuh." "Bagaimana keadaan Sian Eng?" "Bibi Sian Eng baik-baik saja.
Tapi aku tidak bercakapcakap dengan mereka, karena Tayli Ceng menyuruhku cepatcepat pulang." "Oooh!" Lim Peng Hang manggut-manggu kemudian wajahnya berubah serius.
"Bun Yan sudah ada kabar beritanya tentang Goat Nio.' "Oh!
Dia berada di mana?" tanya Tio Bun Yang girang tapi juga tegang.
"Dia...
dia bera di mana" Apa yang telah terjadi atas dirinya?" "Adik Bun Yang, tenanglah!" sahut Ngo Tc Kauwcu.
"Siang Koan Goat Nio ditangkap.." "Apa?" cemaslah Tio Bun Yang.
"Siapa yang menangkapnya?" "Pihak Seng Hwee Sin Kun," jawab Ngo Tok Kauwcu dan menambahkan, "Tapi engkau tidak usah cemas, Goat Nio dalam keadaan baik-baik saja." "Kakak Ling Cu!" tanya Tio Bun Yang.
"Engkau tahu dari mana?" "Aku memperoleh kabar berita itu dari Pat Pie Lo Koay..." jawab Ngo Tok Kauwcu dan sekaligus menutur, "...maka engkau tidak usah cemas." "Oooh!" Tio Bun Yang menarik nafas lega, kemudian memandang Lim Peng Hang seraya bertanya, "Kakek, apa rencana kita?" "Menunggu," sahut Lim Peng Hang singkat.
"Menunggu apa?" Tio Bun Yang bingung.
"Apakah kita harus membiarkan Goat Nio terus menderita di sana?" "Adik Bun Yang!" Ngo Tok Kauwcu tersenyum.
"Engkau harus sabar, sebab tidak lama lagi.
Seng Hwee Sin Kun pasti mengutus orang ke mari." "Tapi Goat Nio...." Tio Bun Yang sangat mencemaskan gadis pujaan hatinya itu.
"Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya lembut, sekaligus menghiburnya.
"Engkau tenang saja, Goat Nio tidak akan terjadi apa-apa." "Adik Bun Yang, aku berani jamin, Goat Nio pasti selamat." ujar Ngo Tok Kauwcu sungguh-sugguh.
"Yaaah...!" Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku sama sekali tak menyangka kalau Seng Hwee Sin Kun begitu licik dan pengecut, kenapa dia menangkap Goat Nio?" "Untuk dijadikan sandera," sahut Ngo Tok Kauwcu.
"Aaah!" keluh Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang, kemudian mendadak sepasang matanya berapi-api.
"Kalau Seng Hwee Sin Kun berani mencelakai Goat Nio, aku pasti tidak akan mengampuninya!" "Adik Bun Yang, kita memang tidak boleh mengampuni Seng Hwee Sin Kun," ujar Ngok Tok Kauwcu.
"Kita harus membasminya sekaligus memusnahkan markas Seng Hwee Kauw." "Ya." Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Kakak Bun Yang...." Mendadak Yatsumi menatapnya seraya berkata, "Kini engkau sudah kembali, maka...
aku pun ingin pulang ke Jepang." "Engkau ingin pulang ke Jepang?" tanya Tii Bun Yang.
"Yatsumi, bukankah lebih baik engkau tinggal di sini beberapa hari lagi?" "Aku...
aku harus segera membalas dendarr.
tidak bisa terus tinggal di sini," sahut Yatsumi.
"Yatsumi!" sela Lie Ai Ling.
"Jangan cepai cepat pulang ke Jepang, lihat beberapa hari lagil "Tapi...." Yatsumi tampak berpikir, lama sekali barulah mengangguk.
"Baiklah." "Bun Yang, lebih baik sekarang engkau beristirahatlah," ujar Lim Peng Hang.
"Nanti malam kita baru bercakap-cakap lagi." "Ya, Kakek." Tio Bun Yang berjalan menuju kamarnya, pikirannya justru menerawang.
-ooo0dw0ooo- Malam harinya, Tio Bun Yang datang di ruang lengah menemui Lim Peng Hang dan Gouw Han liong.
Kebetulan cuma mereka berdua yang berada di ruang tengah itu, sedangkan yang lain sudah lulur.
"Kakek..." panggilnya.
"Duduklah, Bun Yang!" sahut Lim Peng Hang sambil tersenyum lembut.
"Engkau sudah tidak merasa lelah?" "Ng!" Tio Bun Yang mengangguk sambil duduk.
"Kakek...." "Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya, 'Engkau ingin menyampaikan sesuatu pada kami?" "Ya." Wajah Tio Bun Yang tampak serius.
"Mengenai apa?" tanya Lim Peng Hang dan yakin pasti sesuatu yang penting, sebab wajah Tio Bun Yang tampak begitu serius.
"Kui Bin Pang." "Apa?" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tersentak.
"Engkau bertemu para anggota perkumpulan itu?" "Kakek, aku bertemu seorang tua pincang."!
Tio Bun Yang memberitahukan.
"Orang tua itulah yang menceritakan kepadaku tentang Kui Bin Pang." "Siapa orang tua itu?" tanya Lim Peng Hangafl "Kakek dan Kakek Gouw harus berjanji, tidakl akan memberitahukan kepada orang lain!" tegas Tio Bun Yang.
"Sebab menyangkut keselamatan!!
orang tua itu dan muridnya." Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong saling memandang, kemudian keduanya mengangguk.
"Baik, kami berjanji," ujar Lim Peng Hang.
"Orang tua itu ternyata guru Sie Keng Hauw." Tio Bun Yang memberitahukan dengan suara rendah.
"Juga anak Tetua Kui Bin Pang." "Haaah?" Bukan main terkejutnya Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.
"Kalau begitu...." "Memang sungguh di luar dugaan, Kui Bin Pang punya dendam pada kakek tua, majikan lama Pulau Hong Hoang To." "Maksudmu Tio Po Thian?" Lim Peng Hang terbelalak.
"Ya." Tio Bun Yang mengangguk dan menutur semua yang didengarnya dari orang tua pincang.
"Jadi ketua baru itu berniat menguasai rimba persilatan, bahkan juga ingin membalas dendam terhadap pihak pulau Hong Hoang To?" tanya Gouw Han Tiong dengan kening berkerut-kerut.
"Ya." Tio Bun Yang manggut-manggut, kemudian menghela nafas panjang.
"Urusan dengan Seng Hwee Kauw belum beres, kini malah timbul urusan lain!" "Bun Yang," tanya Lim Peng Hang.
"Orang tua pincang itu memberitahukan kepandaian ketua baru Kui Bin Pang itu kepadamu?" "Ya.
Menurut orang tua pincang itu, kepandaian ketua baru Kui Bin Pang sangat tinggi sekali.
Dia memiliki Pek Kut Im Sat Kang (Tenaga Hawa Dingin Beracun), yang sangat lihay dan hebat!" "Aaaah...!" Lim Peng Hang menghela nafas panjang.
"Sungguh di luar dugaan!
Lalu kita harus bagaimana" Haruskah kita ke pulau Hong Hoang Po memberitahukan kepada Tio Tay Seng?" "Kita sedang menghadapi Seng Hwee Kauw, bagaimana mungkin berangkat ke pulau Hong Hoang To?" sahut Gouw Han Tiong sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Menurut orang tua pincang itu, sementara ini Kui Bin Pang belum bisa bergerak, karena belum menemukan tetuanya.
Jadi kita tidak usah memikirkan tentang itu, lebih baik kita curahkan perhatian pada Seng Hwee Kauw saja." "Ngmm!" Lim Peng Hang manggut-manggut dan menambahkan, "Setelah urusan ini selesai, barulah kita ke pulau Hong Hoang To." "Memang harus begitu." Gouw Han Tiong mengangguk.
"Sekarang sudah larut malam, lebih baik engkau pergi tidur." "Ya." Tio Bun Yang meninggalkan ruang tengah itu, namun tidak menuju kemarnya, melainkan ke halaman belakang.
Tio Bun Yang melihat sosok bayangan di bawah pohon.
Ia tertegun dan segera mendekat sosok bayangan itu yang ternyata Yatsumi.
"Eh?" Tio Bun Yang tercengang.
"Yatsumi kenapa engkau duduk di sini?" "Aku...." Gadis Jepang itu menundukkan ke pala.
"Aku teringat pada almarhum dan almarhumah...." "Sudahlah, jangan dipikirkan!" ujar Tio Bui Yang sambil duduk di sisinya.