"Semula guru tidak percaya, tapi kemudian percaya juga." "Oh?" Gouw Han Tiong mengerutkan kening.
"Siapa gadis itu?" "Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui." Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.
"Dia sangat cantik sekali, kelihatannya baru berusia dua puluhan.
Tapi dia telah berusia delapan puluh tahun lebih." "Dia...
dia adalah Kakak Siao Cui?" Tio Bun Yang terbelalak.
"Betulkah usianya sudah delapan puluh lebih?" "Kakak Bun Yang kenal dia?" tanya Lam Kiong Soat Lan.
"Kenal!" Tio Bun Yang mengangguk.
"Kami pernah bertemu, dialah yang membunuh Hek Sim Popo.
Tapi kenapa dia ke Tayli cari gara-gara?" "Itu dikarenakan guru kami," jawab Toan Beng Kiat.
"Tayli Lo Ceng..." gumam Tio Bun Yang.
"Oooh!
Ternyata dia ingin membuat perhitungan dengan guru kalian, karena guru kalian adalah kakak seperguruan Thian Gwa Sin Hiap." "Siapa Thian Sin Hiap?" Toan Beng Kiat heran.
"Adik seperguruan Tayli Lo Ceng," sahut Tio Bun Yang dan menambahkan.
"Atau paman guru kalian, juga adalah guru Bu Ceng Sianli-Tu Siao Cui." "Kalau begitu...." Lam Kiong Soat Lan terbelalak.
"Bu Ceng Sianli itu adalah kakak seperguruan kami." "Memang.
Tapi...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Thian Gwa Sin Hiap telah melakukan suatu kesalahan." "Kesalahan apa?" tanya Toan Beng Kiat.
"Thian Gwa Sin Hiap salah tangan membunuh sepasang perampok budiman.
Ternyata sepasang perampok itu adalah kedua orang tua Tu Siao Cui...." Tio Bun Yang menceritakan tentang itu.
"Oooh!" Toan Beng Kiat manggut-manggut.
"Ternyata begitu!
Pantas dia ke Tayli mencari guru!
"Tapi...." Lam Kiong Soat Lan mengerutkan kening.
"Kenapa dia melumpuhkan ayah?" "Dalam suatu pertandingan, memang saling menjatuhkan," sahut Tio Bun Yang.
"Kita tidak bisa mempersalahkannya.
Yang bersalah adalah orang tua kalian.
Seharusnya orang tua kalian bersabar." "Dia begitu sombong, maka ayah tidak bisa bersabar," ujar Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.
"Dia berlaku sombong karena ingin meman-i ing emosi ayahmu, karena itu terjadilah pertandingan." Tio Bun Yang menjelaskan.
"Kalau begitu..." sela Toan Beng Kiat.
"Guruku bertanding dengan dia, apakah juga karena ."mosi?" "Bukan." Tio Bun Yang menggelengkan kepala.
"Tayli Lo Ceng bertanding dengan dia, ka-w-na membela Tayli dan orang tua kalian." "Aaah...!" Toan Beng Kiat menghela nafas panjang.
"Guru kami kalah, maka Bu Ceng Sianli yang berkuasa di istana." "Oleh karena itu..." sambung Lam Kiong Soal Lan.
"Guru menyuruh kami ke mari menemuimu." "Oh?" Tio Bun Yang tertegun dan bertanya.
"Tayli Lo Ceng pesan apa untukku?" "Kami harus menjemputmu ke Tayli," sahut Toan Beng Kiat.
"Guru kami berpesan demikian." "Lho" Kenapa?" Tio Bun Yang bingung.
"Kata guru...." Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.
"Hanya engkau yang mampu menundukkan Bu Ceng Sianli, dia akan menuruti perkataanmu." "Itu bagaimana mungkin?" Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala.
"Guru kami yakin itu," ujar Toan Beng Kiat.
"Sebab di saat Bu Ceng Sianli berbicara, dia pun mengatakan bahwa engkau sangat adil dan bijaksana.
Kelihatannya dia sangat kagum dan salut kepadamu." "Itu...." Tio Bun Yang mengerutkan kening, "tidak mungkin aku bisa ikut kalian ke Tayli." "Kenapa?" Lam Kiong Soat Lan heran.
"Sebab...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang, "aku sedang menunggu Goat Nio, jadi tidak bisa ke mana-mana." "Tapi...." Toan Beng Kiat memberitahukan dengan wajah muram.
"Kini guru kami terluka, orang tua kami pun lumpuh.
Sedangkan Bu Ceng Sianli berbuat semaunya di istana.
Menurut guru, hada seorang pun yang dapat menundukkannya kecuali engkau." "Bukan aku tidak bersedia ke Tayli, melainkan karena aku harus menunggu Goat Nio di sini." "Bun Yang," ujar Lim Peng Hang.
"Menurut kakek, engkau harus berangkat ke Tayli." "Kakek...." Tio Bun Yang mengerutkan kening.
"Kalau engkau tidak ke sana, Kakek khawatir Bu Ceng Sianli akan bertindak sewenang-wenang di sana." Lim Peng Hang menatapnya.
"Mengenai soal Nio, biar kami yang menunggunya." "Kakek, itu...." Kelihatannya Tio Bun Yang masih berkeberatan meninggalkan markas pusat Kay Pang, sebab ia harus menunggu Goat Nio.
"Bun Yang!" Lim Peng Hang tersenyum.
"Selelah engkau bertemu Tayli Lo Ceng mungkin engkau bisa minta petunjuk kepadanya mengenai Goat Nio, bukan?" "Betul," sahut Lam Kiong Soat Lan.
"Aku yakin guru tahu mengenai Goat Nio, dan pasti mwmberi petunjuk kepadamu." Tio Bun Yang berpikir, lama sekali barulah ia mengangguk.
"Baiklah.
Aku akan ikut kalian ke Tayli." "Terimakasih!" ucap Toan Beng Kiat dan Lam Peng Soat Lan serentak.
Sementara Bokyong Sian Hoa diam saja.
Namun begitu Toab Beng Kiat muncul di situ, sepasang matanya terus melirik ke arah pemuda itu.
Kelihatannya gadis itu sangat tertarik padanya Maka ketika Tio Hun Yang mengatakan ikut meieka ke Tayli, ia pun segera menyelak.
"Kakak Bun Yang, aku juga ikut ah!" "Apa?" Tio Bun Yang terbelalak.
"Engkau ingin ikut ke Tayli?" "Ya." Bokyong Sian Hoa mengangguk sambi tersenyum.
"Boleh kan?" "Itu...." Tio Bun Yang tampak ragu.
"Maaf!" ucap Toan Beng Kiat dengan wajah ceria.
"Bolehkah aku tahu siapa Nona?" "Namaku Bokyong Sian Hoa," sahut gadis itu dengan wajah agak kemerah-merahan.
"Bolehkah aku ikut ke Tayli?" "Tentu boleh, tapi...." Toan Beng Kiat menatapnya, "orang tuamu memperbolehkan apa tidak"!
"Aku sudah tidak punya orang tua." Bokyong Sian Hoa menundukkan kepala.
"Aku pernah tinggal di Pulau Hong Hoang To!" "Oh?" Toan Beng Kiat tampak tercengang "Nona punya hubungan apa dengan Paman Cie Hiong?" "Almarhum ibuku adalah teman baiknya.
Maka aku...." "Beng Kiat!" Tio Bun Yang tersenyum.
"Dia mantan Putri Manchuria, ayahnya bernama Patoho." "Apa?" Toan Beng Kiat terperanjat.
"Raja Manchuria itu?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Kami tahu...." Toan Beng Kiat manggut-manggut.
"Patoho adalah raja Manchuria yang baik, tapi sudah meninggal karena dibunuh adiknya." "Kok engkau tahu?" Bokyong Sian Hoa bingung.
"Sebelum meninggal, ayahmu pernah berkun-jung ke Tayli menemui kakekku." Toan Beng Kiat memberitahukan.
"Kakekku adalah Toan Hong Ya!" "Oooh!" Wajah Bokyong Sian Hoa berseri.
"Kalau begitu, Toan Wie Kie adalah ayahmu!" "Betul." Toan Beng Kiat tercengang.
"Kok engkau tahu?" "Ayahku pernah memberitahukan kepadaku mengenai kalian, tidak disangka kita malah bertemu di sini," ujar Bokyong Sian Hoa sambil tersenyum.
"Nah!" sela Lie Ai Ling.
"Itu namanya berjodoh." "Ai Ling!" Wajah Bokyong Sian Hoa langsung memerah.
"Engkau kok usil sih?" "Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa geli.
"Aku tahu, engkau sangat tertarik kepada Toan Beng Kiat, bukan?" "Engkau...." Bokyong Sian Hoa membanting-banting kaki.
"Engkau jahat!" Lam Kiong Soat Lan tersenyum, kemudian memandang Lie Ai Ling seraya bertanya.
"Ai Ling, bagaimana keadaan Kam Hay Thian dan Lu Hui San?" "Mereka...." Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa mereka?" Lam Kiong Soat Lan tersentak.
"Apakah telah terjadi sesuatu atas diri mereka?" "Lu Thay Kam mati di tangan Kam Hay Thiana setelah itu Kam Hay Thian dan Lu Hui San menghilang entah ke mana..." jawab Lie Ai Lini sekaligus menutur tentang kejadian itu.
"Aaah...!" Lam Kiong Soat Lan menghela nafas panjang.
"Sungguh kasihan Lu Hui San!
entah bagaimana keadaannya" Aku khawatir dia akan menjadi gila." "Benar." Tio Bun Yang manggut-manggut "Aku pun mengkhawatirkan itu." "Beng Kiat," tanya Lim Peng Hang mendadak.
"Kapan kalian akan berangkat?" "Sekarang," jawab Toan Beng Kiat.
"Apa?" Lim Peng Hang terbelalak.
"Kenapa begitu cepat" Apakah tidak boleh menunggu bel berapa hari?" "Memang tidak boleh, sebab guru berpesan kepada kami harus segera pulang ke Tayli." "Beng Kiat!" Gouw Han Tiong menatapnya.
"Kalau begitu, lebih baik kalian berangkat esok saja." "Ya, Kakek." Toan Beng Kiat tidak berani membantah.
"Kakek," ujar Tio Bun Yang berpesan kepada Lim Peng Hang.
"Kalau Goat Nio ke mari, suruh dia menungguku di sini, jangan menyusul ke Tayli!
Aku khawatir akan selisih jalan lagi." "Jangan khawatir!" Lim Peng Hang tersenyum.
"Kakek pasti menyuruhnya menunggu di sini.
Namun engkau jangan lamalama di Tayli!" "Ya, Kakek." Tio Bun Yang mengangguk.
Beberapa hari kemudian setelah Tio Bun Yang, Bokyong Sian Hoa, Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan berangkat ke Tayli, justru muncul Ngo Tok Kauwcu-Phang Ling Cu di markas pusat Kay Pang.
Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong menyambut kedatangannya dengan penuh keheranan, namun dengan ramah mempersilakannya duduk.
"Ling Cu, silakan duduk!" "Terimakasih!" ucap Ngo Tok Kauwcu sambil duduk, kemudian memandang Lie Ai Ling.
"Engkau berada di sini.
Oh ya, di mana Kam Hay Thian dan Lu Hui San?" "Mereka...." Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala, lalu menutur tentang itu dan bertanya.
"Engkau belum tahu Lu Thay Kam sudah mati?" "Sudah tahu, tapi tidak begitu jelas tentang kejadian itu," jawab Ngo Tok Kauwcu sambil menghela nafas panjang.
"Ternyata begitu!" "Ling Cu!" Lim Peng Hang memandangnya seraya bertanya.
"Engkau ke mari tentunya ada suatu penting, bukan?" "Betul." Ngo Tok Kauwcu mengangguk.
"Aku ingin menemui Adik Bun Yang.
Dia di mana?" "Dia sudah berangkat ke Tayli beberapa hari yang lalu." Lim Peng Hang memberitahukan tentang munculnya Bu Ceng Sianli di Tayli.
"Oooh!" Ngo Tok Kauwcu manggut-manggut.
"Aku juga pernah mendengar tentang sepak terjang Bu Ceng Sianli itu.
Banyak penjahat yang mati di tangannya.
Tapi dia pun membunuh kaum pesilat golongan putih, termasuk beberapa murid partai Butong." "Kami sudah tahu itu," ujar Lim Peng Hang.