Dalam tujuh hari kemudian, -- sampailah mereka di markas pusat Kay Pang.
Bukan main gembiranya Lie Ai Ling.
Ia segera memperkenalkan Bokyong Sian Hoa pada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.
"Kakek Lim, Kakek Gouw, terimalah hormatku!" ucap Bokyong Sian Hoa sambil memberi hormat.
"Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gembira.
"Kalian duduklah!" "Terimakasih!" Bokyong Sian Hoa duduk.
Ke tika Yatsumi baru mau duduk, Lie Ai Ling memperkenalkan Tio Bun Yang.
"Dia Kakak Bun Yang, yang pernah kuceritakan kepadamu," ujar Lie Ai Ling sambil tertawa.
"Kakak Bun Yang, dia adalah gadis Jepang bernama Yatsumi, engkau pasti sudah dengar tentang dia." Sementara Yatsumi membungkukkan badannya kehadapan Tio Bun Yang, pemuda itu segera menjura.
"Selamat bertemu, Nona Yatsumi!" ucapnya.
"Selamat bertemu, Kakak Bun Yang!" sahut Yatsumi sambil tersenyum.
"Jangan memanggilku nona, cukup panggil namaku saja!" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Sian Hoa," tanya Lie Ai Ling.
"Bagaimana kabarnya yang di Pulau Hong Hoang To?" "Mereka baik-baik saja," jawab Bokyong Sian Hoa, kemudian memandang Tio Bun Yang seraya bertanya.
"Di mana Goat Nio, jantung hatimu itu?" "Kami...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang.
"Kami belum bertemu." "Oh?" Bokyong Sian Hoa mengerutkan kening.
"Hingga sekarang engkau masih belum bertemu Goat Nio?" "Ya." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Aku di sini justru sedang menunggunya." "Oooh!" Bokyong Sian Hoa manggut-manggut.
"Oh ya!" Yatsumi menengok ke sana ke mari seraya bertanya.
"Di mana Lu Hui San dan Kam Hay Thian" Kok mereka tidak kelihatan?" "Mereka...." Lie Ai Ling menghela nafas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Kenapa mereka?" tanya Bokyong Sian Hoa tegang.
"Telah terjadi sesuatu atas diri mereka?" "Ketika kami menuju ke mari, di tengah jalan Kam Hay Thian pergi secara diam-diam...." Lie Ai Ling menghela nafas panjang lagi.
"Oh?" Bokyong Sian Hoa mengerutkan kening.
"Kok dia begitu" Kalian tahu dia pergi ke mana/ "Tidak tahu." Lie Ai Ling menggelengkan kepala.
"Namun Kakek Lim telah menerima suatu lierila yang sangat mengejutkan di ibu kota." "Berita apa?" tanya Bokyong Sian Hoa.
"Itu...." Lie Ai Ling memandang Tio Bun Yang, agar pemuda itu yang memberitahukan.
"Kakak Bun Yang," desak Bokyong Sian Hoa.
"Beritahukanlah!
Aku ingin mengetahuinya." "Lu Thay Kam telah mati," sahut Tio Bun Yang sambil menghela nafas panjang.
"Dia mati terkena pukulan Kam Hay Thian.
Karena itu Lu Hui San pergi entah ke mana.
Hingga saat ini sama sekali tiada kabar beritanya tentang Lu Hui San dan Kam Hay Thian." "Oh?" Bokyong Sian Hoa memandang Tio Bun Yang seraya berkata.
"Kalau begitu, pasukan pamanku pasti tidak akan menyerbu ke mari." "Sian Hoa...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Setelah Lu Thay Kam mati di istana justru malah bertambah kacau." "Kenapa begitu?" Bokyong Sian Hoa heran.
"Salah seorang menteri langsung merebut kekuasaan Lu Thay Kam.
Oleh karena itu, banyak jenderal yang menjadi korban." Tio Bun Yang memberitahukan.
"Menteri itu pun bersekongkol dengan pamanmu." "Itu bahaya sekali," ujar Bokyong Sian Hoa.
"Sebab pamanku sangat berambisi ingin menjajah negeri Han ini, kelak pasti akan terjadi peperangan." "Itu urusan kerajaan, kita tidak usah pusing.' ujar Lie Ai Ling sambil tersenyum.
"Kita adalah bangsa Han, seharusnya kita j memikirkan itu," sahut Sie Keng Hauw dan menambahkan.
"Apakah kita harus membiarkan negeri Hari kita dijajah oleh bangsa Manchuria?" "Eeeh?" Lie Ai Ling menatapnya.
"Sejak kapan engkau mencampuri urusan kerajaan?" "Aku...." Sie Keng Hauw menundukkan kepala.
"Oh ya!" ujar Tio Bun Yang melanjutkan.
"Setelah Lu Thay Kam mati maka Gak Cong Heng menjadi ketua Hiat Ih Hwe.
Tapi kemudian ia mengajak para anggotanya bergabung dengan Seng Hwce Kauw." "Jadi...." Bokyong Sian Hoa menggeleng-gelengkan kepala.
"Lu Hui San sama sekali tiada jejaknya?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.
"Begitu pula Kam Hay Thian.
Mereka entah menghilang ke mana.
Namun kakekku telah mengutus beberapa orang untuk pergi menyelidiki mereka, hingga kini mereka masih belum pulang." "Oooh!" Bokyong Sian Hoa manggut-manggut.
Sementara Yatsumi diam saja, tapi sering melirik Tio Bun Yang.
Mendadak Tio Bun Yang memandangnya seraya bertanya.
"Nona Yatsumi engkau mau tinggal di sini alau pulang ke Jepang?" "Aku mau pulang ke Jepang," sahut Yatsumi.
"Aku harus membunuh Takara Nichiba, ketua ninja itu." "Yatsumi," ujar Lie Ai Ling.
"Jangan cepat-cepat pulang ke Jepang, tinggallah di sini dulu!" "Itu...." Yatsumi tampak ragu.
"Yatsumi!" Bokyong Sian Hoa memegang tangannya.
"Tinggallah di sini dulu, jangan begitu cepat pulang ke Jepang!
Sebab kalau engkau sudah pulang, entah kapan kita akan bertemu kembali." "Baiklah." Yatsumi mengangguk.
"Aku akan tinggal di sini beberapa hari." "Nah, asyik!" seru Lie Ai Ling sambil tertawa.!
"Kita berkumpul di sini, akan bertambah ramai apabila Goat Nio sudah muncul." "Aaaah...!" Mendadak Tio Bun Yang menghela nafas panjang.
"Sudah sekian lama aku menunggunya di sini, tapi...." "Bun Yang!" Lim Peng Hang menatapnya.
"Biar bagaimana pun engkau harus sabar menungJ gunya." "Kakek!" Wajah Tio Bun Yang tampak murung sekali.
"Sudah sekian lama tiada kabar beritanya, aku khawatir telah terjadi sesuatu atas diri nya." "Itu tidak mungkin, Kakak Bun Yang," sahud Lie Ai Ling menghiburnya.
"Tidak akan terjadi suatu apa pun atas diri Goat Nio, percayalah!" "Aaaah...!" Tio Bun Yang menghela nafas panjang lagi.
"Aku...
aku...." "Engkau harus tenang, Bun Yang!" ujar Gouw Han Tiong.
"Tunggu lagi beberapa hari, kalau tiada kabar beritanya, barulah kita rundingkan kembali." "Ya!" Tio Bun Yang mengangguk.
"Nah!" ujar Lim Peng Hang sambil tertawa.
"Kalian semua boleh ke belakang, lebih asyik kalian mengobrol di sana." Mereka mengangguk, lalu beranjak menuju halaman belakang.
Begitu sampai di halaman belakang, Lie Ai Ling langsung berseru penuh kegembiraan.
"Horeee!
Rasanya bebas setelah berada di sini!" "Memangnya kenapa?" tanya Sie Keng Hauw heran.
"Kalau di hadapan Kakek Lim dan Kakek Gouw, rasanya kurang leluasa dan tidak begitu bebas berbicara," sahut Lie Ai Ling.
"Kini kita hebas membicarakan apa pun." "Benar." Bokyong Sian Hoa tersenyum, kemudian memandang Tio Bun Yang seraya bertanya.
"Kakak Bun Yang, selama ini engkau rindu kepadaku?" "Eh?" Lie Ai Ling terbelalak ketika mendengar pertanyaan itu.
"Sian Hoa, kenapa engkau tanya begitu kepada Kakak Bun Yang?" "Memangnya tidak boleh?" sahut Bokyong Sian Hoa.
"Boleh sih boleh, tapi...." Lie Ai Ling menggleng-gelengkan kepala.
"Itu merupakan pertanyaan yang cukup mesra, tidak pantas lho!
Karena Kakak Bun Yang sudah punya kekasih." "Aku tahu itu." Bokyong Sian Hoa tertawa kecil.
"Aku telah menganggapnya sebagai kakak, tentunya aku boleh bertanya begitu kepadanya, bukan?" "Oooh!" Lie Ai Ling tersenyum.
"Kalau begitu memang boleh.
Nah, Kakak Bun Yang, jawablah pertanyaannya tadi!" "Adik Sian Hoa!" Tio Bun Yang tersenyum lembut.
"Aku memang rindu kepadamu, sebab engkau adalah adikku." "Kakak Bun Yang...." Bokyong Sian Hoa langsung mendekap di dadanya.
"Adik Sian Hoa...." Tio Bun Yang membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Engkau adalah gadis baik yang lincah, kelak pasti bertemu pemuda yang baik." "Kakak Bun Yang...." Bokyong Sian Hoa cemberut.
"Adik Sian Hoa!" Tio Bun Yang tersenyum.
"Aku berkata sesungguhnya, sama sekali tidak menggodamu." "Betul," sahut Lie Ai Ling.
"Kelak engkau pasti bertemu pemuda yang baik, ganteng dan mencintaimu." "Bagus!
Bagus!" Bokyong Sian Hoa melotot.
"Ai Ling!
Setelah berada di sisi Keng Hauw, engkau pun berani mulai menggodaku!" "Tidak salah," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa dan menambahkan.
"Kalau berada di sisi sang kekasih, rasanya memang bertambah berani." "Idiih!" Bokyong Sian Hoa tertawa geli.
"Dasar genit!
Kalau begitu, cepatlah engkau menikah dengan dia!" "Sebetulnya aku memang ingin cepat-cepat menikah dengan Keng Hauw, tapi...." Lie Ai Ling tersenyum sambil melanjutkan, "Aku khawatir kalian akan merasa iri padaku, maka aku belum mau menikah." "Siapa yang iri padamu" Dasar!" Bokyong Sian Hoa tertawa, kemudian ucapnya serius.
"Mudah-mudahan Kakak Bun Yang bertemu kembali dengan kekasihnya!" Hari ini Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Im sudah tiba di markas pusat Kay Pang.
Ke-'laiangan mereka cukup mengejutkan sekaligus mi-nggembirakan semua orang, terutama Gouw Nan Tiong.
"Kakek!" panggil Toan Beng Kiat.
"Beng Kiat cucuku!" seru Gouw Han Tiong sambil merangkulnya erat-erat.
"Bagaimana keadaan ibu dan ayahmu" Mereka baik-baik saja?" "Ibu baik-baik saja.
Tapi ayah...." Toan Beng Kiat menggeleng-gelengkan kepala, dan wajah tampak murung sekali.
"Kenapa ayahmu?" tanya Gouw Han Tiong cemas.
"Lumpuh." Toan Beng Kiat memberitahukan.
"Ayah Soat Lan pun begitu." "Betul." Lam Kiong Soat Lan mengangguk.
"Ayahku pun lumpuh." "Oh?" Gouw Han Tiong dan Lim Peng Hang terkejut.
"Beng Kiat, apa yang telah terjadi di sana, ceritakanlah!" "Kalian duduk dulu!" ujar Tio Bun Yang sambil tersenyum.
"Jangan terus berdiri!" "Terimakasih!" ucap Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak lalu duduk.
"Beng Kiat!" Gouw Han Tiong menatapnya seraya berkata.
"Ceritakanlah apa yang telah terjadi atas diri ayahmu dan ayah Soat Lan!" "Ayah dan ayah Soat Lan bertanding dengan seorang gadis.
Tidak sampai dua puluh jurus, gadis itu berhasil menotok jalan darah ayah dan ayah) Soat Lan hingga lumpuh." Toan Beng Kiat menceritakan tentang itu.
"Kemudian muncul guru kami...." "Maksudmu Tayli Lo Ceng?" tanya Gouw Han Tiong.
"Ya." Toan Beng Kiat mengangguk.
"Lalu bagaimana?" Tanya Lim Peng Hang tertarik.
"Gadis itu menantang guru bertanding dengan suatu syarat," jawab Toan Beng Kiat memberitahukan.
"Syaratnya yakni kalau gadis itu menang, maka dia yang berkuasa di istana Tayli.
Apabila guru yang menang, dia pasti segera pergi." "Oh?" Gouw Han Tiong mengerutkan kening.
"Kalau begitu, guru kalian yang kalah, bukan?" "Kok Kakek tahu?" Toan Beng Kiat heran.
"Kalau guru kalian menang, tentunya kalian tidak ke mari," sahut Gouw Han Tiong.
"Kalian ke mari pertanda guru kalian kalah." "Betul." Toan Beng Kiat mengangguk.
"Guru kami kalah dalam pertandingan itu." "Haaah?" Lim Peng Hang terkejut bukan main, sehingga mulutnya ternganga lebar.
"Tayli Lo Ceng kalah bertanding dengan gadis itu?" "Ya." Toan Beng Kiat menghela nafas panjang.
"Kepandaian gadis itu sungguh tinggi!
Tapi juga sangat membingungkan...." "Kenapa membingungkan?" Tanya Gouw Han 'liong heran.
"Sebab gadis itu mengaku telah berusia delapan puluh tahun lebih," jawab Lam Kiong Soat Lan memberitahukan.