Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 121

Memuat...

Bagaimana" Masih mau melanjutkan pertandingan?" "Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng.

"Aku...

aku mengaku kalah.

Kepandaianmu memang tinggi sekali." "Guru!

Guru...!" seru Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak.

"Cepat papah guru ke ruang istirahat!" sahut Tayli Lo Ceng.

"Wie Kie dan Bie Liong juga harus di papah ke ruang istirahat!" "Ya, Guru." Toan Beng K'at dan Lam Kiong Soat Lan segera memapah Tayli Lo Ceng, sedangkan Gouw Sian Eng dan Toan Pit Lian memapah Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong.

"Hi hs hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring.

"Toan Hong Ya, engkau harus cepat turun dari kursi kebesaran itu!" "Haaah?" Toan Hong Ya tampak tersentak.

"Ba...

baik." "Jangan merasa terpaksa, itu sesuai dengan perjanjian!" ujar Tu Siao Cui sambil tersenyum.

Toan Hong Ya turun dari kursi kebesarannya, dan Tu Siao Cui langsung meloncat ke kursi itu.

"Hi hi hi!" Ia duduk di situ sambil tertawa gembira.

"Toan Hong Ya, mulai sekarang aku yang berkuasa di sini.

Engkau dan para pengawal serta para dayang harus mematuhi perintahku." "Ya." Toan Hong Ya mengangguk, tapi berkeluh dalam hati.

"Kalau ada orang yang mampu mengalahkan aku, maka aku akan pergi.

Bila tidak, tentunya aku tetap berkuasa di sini," tegas Tu Siao Cui dan menambahkan.

"Jangan coba-coba meracuni aku dengan minuman maupun makanan, sebab aku akan tahu itu dan...

aku pasti membunuh para penghuni istana ini!" "Kami tidak akan berbuat begitu," sahut Toan Hong Ya dan bertanya, "Nona Tu, bolehkah aku pergi menengok mereka?" "Silakan!" ucap Tu Siao Cui.

"Tcrimakasih!" Toan Hong Ya melangkah pergi, namun mendadak Tu Siao Cui berseru.

"Toan Hong Ya!

Suruh para dayang me-n\npkan makanan dan minuman untukku!" "Baik." Toan Hong Ya mengangguk, lalu menuju ruang istirahat.

Tayli Lo Ceng duduk bersila di lantai, Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan duduk di samping kiri kanannya.

Sedangkan Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong duduk di kursi, Gouw Sian Eng dan Toan Pit Lian menemani mereka dengan wajah murung.

"Ayah!" panggil mereka serentak.

"Kakek!" panggil Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

"Ngmm!" Toan Hong Ya manggut-manggut, kemudian duduk di hadapan Tayli Lo Ceng.

"Lo Ceng!" panggilnya dengan suara rendah.

"Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng sambil menghela nafas panjang.

"Maaf, aku tidak bisa apa-apa!" "Lo Ceng!" Toan Hong Ya tersenyum getir.

"Aku mohon petunjuk!" "Omitohud!" Tayli Lo Ceng mengerutkan kening.

"Kepandaian Tu Siao Cui itu sungguh tinggi, memang hebat sekali ilmu Hian Goan Ci itu.

Aku terluka dalam, mungkin harus beristirahat beberapa bulan baru bisa pulih." "Kalau begitu, kita harus bagaimana?" tanya Toan Hong Ya.

"Kepandaian Tu Siao Cui memang tinggi sekali.

Kalau dia berhati jahat tentunya akan menimbulkan bencana," ujar Tayli Lo Ceng dan melanjutkan.

"Menurut aku, hanya ada satu orang yang dapat menundukkannya, bahkan Tu Siao Cui pun akan mendengar perkataannya." "Siapa orang itu?" tanya Toan Hong Ya cepat dan penuh harap.

"Omitohud!" Tayli Lo Ceng memberitahukan.

"Orang itu adalah Tio Bun Yang." "Tio Bun Yang?" Toan Hong Ya tertegun.

"Tio Bun Yang, putra Tio Cie Hiong?" tanya Toan Wie Kie heran.

"Ya." Tayli Lo Ceng mengangguk.

"Tentunya kalian pun mendengar tadi, dia bilang Tio Bun Yang sangat adil dan bijaksana.

Itu membuktikan bahwa dia sangat kagum dan salut kepada pemuda itu.

Maka, aku yakin dia pasti mendengar perkataannya." "Kalau begitu, kita harus segera ke markas |iusat Kay Pang mengundang Bun Yang ke mari," ujar Gouw Sian Eng dan menambahkan.

"Bagaimana kalau aku yang ke sana?" "Lebih baik kedua muridku yang berangkat ke sana," sahut Tayli Lo Ceng "Mengenai ini, l-iugan sampai Tu Siao Cui tahu!" "Ya," sahut mereka semua.

"Guru, kapan kami berangkat ke Tionggoan?" ianya Toan Beng Kiat.

"Kalian berdua boleh berangkat sekarang," l-iwab Tayli Lo Ceng.

"Jangan membuang waktu, sebab kalau Wie Kie dan Bie Liong tidak segera disembuhkan, mereka pasti lumpuh selama-lamanya." "Kalau begitu, kami mohon pamit!" ucap Toan Beng Kiat, lalu memandang Lam Liong Soat Lan.

"Mari kita berangkat sekarang!" "Ya!" Lam Kiong Soat Lan mengangguk.

"Kalian berdua harus berhati-hati, jangan membuat masalah di tengah jalan!" pesan Toan Hong Ya.

"Dan harus segera pulang!" "Ya, Kakek," sahut Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng.

"Berangkatlah kalian berdua dan harus berhasil mengajak Bun Yang ke mari!" "Ya, Guru." Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan memberi hormat, setelah itu barulah mereka berdua meninggalkan istana Tayli.

-oo0de0oo- Bagian ke empat puluh enam Hal-hal yang tak terduga Hari ini Tio Cie Hiong memanggil Yatsumi dan Bokyong Sian Hoa ke ruang depan.

Yang lain pun sudah duduk di situ, tentunya mencengangkan kedua gadis itu.

"Kalian berdua duduklah!" ujar Tio Cie Hiong lembut tapi serius.

Yatsumi dan Bokyong Sian Hoa segera duduk.

Kedua gadis itu menundukkan kepala, karena semua mata memandang mereka.

"Hari ini aku panggil kalian ke mari, karena kalian telah menguasai ilmu-ilmu yang kuajarkan," ujar Tio Cie Hiong sambil memandang mereka.

"Oleh karena itu, kini sudah saatnya kalian meninggalkan pulau ini." "Maksud Paman kami boleh ke Tionggoan?" lanya Bokyong Sian Hoa dengan wajah berseri.

"Ya." Tio Cie Hiong mengangguk.

"Kalian berdua boleh berangkat ke Tionggoan, dari Tionggoan Yatsumi boleh pulang ke Jepang." "Tapi alangkah baiknya kalian ke markas pusat Kay Pang dulu," sambung Lim Ceng Im.

"Temui Bun Yang dan lainnya di sana!" "Ya." Kedua gadis itu mengangguk.

"Kepandaian kalian sudah tinggi, namun kali.m harus ingat, jangan sembarangan membunuh ?uang, sebab membunuh itu perbuatan yang sangat berdosa!" ujar Tio Cie Hiong sambil memandang mereka.

"Ya, Paman." Kedua gadis itu mengangguk lagi dan bertanya, "Kapan kami boleh berangkat ke Tionggoan?" "Hari ini," sahut Tio Cie Hiong singkat, namun kemudian menambahkan.

"Baik-baiklah kalian membawa diri di rimba persilatan, jangan sok jago dan sombong!" "Ya, Paman," sahut kedua gadis itu, lalu menjatuhkan diri berlutut di hadapan Tio Cie Hiong.

"Terimakasih atas budi baik Paman yang telah membimbing kami!" "Bangunlah!" Tio Cie Hiong tersenyum dan berpesan, "Yang penting kalian berdua harus mempergunakan kepandaian untuk membela kebenaran.

Jadilah pendekar wanita yang berhati bajik, adil dan bijaksana!" "Ya, Paman." Mereka berdua mengangguk, kemudian bangkit berdiri sekaligus kembali ke tempat duduk.

"Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa gelak.

"Tak lama lagi di rimba persilatan akan muncul dua pendekar wanita pembela kebenaran!" "Dasar sudah pikun!" sahut Kou Hun Bijin.

"Yatsumi harus pulang ke Jepang, engkau lupa ya?" "Tentu tidak, tapi engkau yang tak punya otak!" ujar Sam Gan Sin Kay sambil tertawa-"Maksudku rimba persilatan Tionggoan dan rimba persilatan Jepang." "Huh!" dengus Kou Hun Bijin.

"Sudah salah omong masih tidak mau mengaku!

Dasar pe-< ngemis bau!" "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay terus tertawa| gelak, kemudian memandang Kim Siauw Suseng seraya bertanya.

"Sastrawan sialan!

Kenapa engkau diam saja?" "Aku tidak mau ikut sinting seperti engkau," sahut Kim Siauw Suseng dan menambahkan.

"Engkau sudah tua sekali, tapi malah bertambah usil dan tak tahu diri." "Oh, ya?" Sam Gan Sin Kay tertawa lagi.

"Ha ha ha!

Kalau pulau ini tiada kita berdua, pasti sepi sekali!" "Betul, betul." ujar Tio Tay Seng sambil tersenyum.

"Dengan adanya kalian di sini, maka pulau ini berubah ramai dan semarak.

Ha ha ha...!" Karena mereka terus bercakap-cakap, maka Tio Cie Hiong diam saja, tidak berani mengganggu para tingkatan tua itu.

Setelah mereka berhenti hercakap-cakap, barulah Tio Cie Hiong membuka mulut.

"Yatsumi, engkau harus berhati-hati menghadapi ketua ninja itu!" pesan Tio Cie Hiong.

"Sebab dia pasti memiliki ilmu istimewa, bisa menghilang mendadak dan menyusup ke dalam tanah.

Oleh karena itu, engkau harus mempergunakan pendengaranmu." "Ya, Paman." Yatsumi mengangguk.

"Sian Hoa...." Tio Cie Hiong memandangnya.

"Menurut aku, lebih baik engkau jangan pulang ke Manchuria.

tinggal di markas pusat Kay Pang saja." "Ya, Paman," sahut Bokyong Sian Hoa sambil tersenyum.

"Asal aku jangan disuruh jadi pengemis wanita saja." "Ha ha ha!" Mendadak Tio Cie Hiong tertawa gelak.

"Mungkin engkau tidak tahu, ketika aku bertemu Adik Ceng Im, dia justru menyamar sebagai pengemis dekil yang sangat bau." "Eeeeh?" Wajah Lim Ceng Im langsung memerah.

"Mulai buka rahasia pribadi ya?" "Ha ha ha!" Sam Gan Sin Kay tertawa terpingkal-pingkal.

"Aku masih ingat itu.

Kemudian Ceng Im berdandan dengan wajah aslinya, yakni merupakan anak gadis yang cantik jelita menemui Cie Hiong.

Begitu melihat anak gadis itu, Cie Hiong langsung jatuh terduduk di dalam hati anak gadis itu.

Ceng Im memberitahukan bahwa gadis itu adalah kakaknya bernama Im Ceng.

Ha ha ha!

Sejak itu Cie Hiong pun menderita sakit rindu." "Kakek pengemis...." Wajah Tio Cie Hiong kemerahanmerahan.

"Tahukah kalian, cara bagaimana Ceng Im bertemu Cie Hiong?" tanya Sam Gan Sin Kay mendadak.

"Beritahukanlah!" sahut Bokyong Sian Hoa.

"Tentunya sangat menarik sekali itu." "Memang menarik sekali." Sam Gan Sin Kay tertawa terbahak-bahak.

"Pada waktu itu.

Cie Hiong telanjang bulat mandi di kali, Ceng Im mengintip." "Kakek...." Wajah Lim Ceng Im bertambah merah.

"Jangan omong yang bukan-bukan!" "Itu memang nyata kok," sahut Sam Gan Sin Kay.

"Engkau sendiri yang bilang, bukan?" "Hebat!" ujar Kou Hun Bijin sambil tertawa cekikikan.

"Hi hi hi!

Ceng Im, aku yakin pada waktu itu, hatimu pasti dutdutan." "Bijin..." Lim Ceng Im menundukkan kepala.

"Apa itu dut-dutan?" tanya Sam Gan Sin Kay sambil tertawa terbahak-bahak.

"Tanya saja kepada cucumu itu, dia pasti memberitahukan!" sahut Kou Hun Bijin sambil memandang Lim Ceng Im.

"Jelaskanlah tentang dut-dutan itu!" Lim Ceng Im tak menyahut.

"Hi hi hi!" Kou Hun Bijin tertawa cekikikan.

"Hi hi hi....!" -oo0dw0oo- Yatsumi dan Bokyong Sian Hoa sudah meninggalkan Pulau Hong Hoang To, kini mereka mulai memasuki daerah Tionggoan.

Dalam per-lalanan menuju markas pusat Kay Pang, mereka sana sekali tidak menemui gangguan apa pun.

Post a Comment