Hi hi hi!
Engkau lidak percaya kan" Tapi aku masih ingat apa yang engkau pesankan kepada Thian Gwa Sin Hiap delapan puluh tahun yang lampau." "Omitohud!
Aku sudah lupa.
Beritahukan-lah!" "Engkau berpesan kepada Thian Gwa Sin Hiap harus berhati-hati padaku.
Padri sialan, engkau sudah ingat itu?" "Jadi...." Tayli Lo Ceng tertegun.
"Betul engkau adalah gadis kecil itu?" "Betul." Tu Siao Cui mengangguk.
"Pada waktu itu julukanmu adalah Tayli Sin Ceng, bernama Kong Sun Hok.
Ya, kan?" "Tidak salah." Tayli Lo Ceng menatapnya tajam, kemudian menghela nafas panjang.
"Engkau memang serupa dengan gadis itu, tapi...." "Padri sialan!" Tu Siao Cui tertawa.
"Tentu M'iupa karena aku memang dia." "Omitohud...." Tayli Lo Ceng menggeleng-plengkan kepala.
"Engkau kok masih tampak begitu muda, padahal usiamu sudah delapan puluh lebih." "Aku mengalami suatu kemujizatan, maka membuat diriku jadi muda kembali seperti gadis berusia dua puluhan." Tu Siao Cui memberitahukan.
"Namun enam puluh tahun lebih aku tersiksa dan menderita di dalam goa.
Belum lama ini aku baru bebas sekaligus memunculkan diri di rimba persilatan." "Omitohud!
Syukurlah kalau begitu!" ucap Tayli Lo Ceng.
Kini padri tua itu sudah yakin, bahwa gadis yang berdiri di hadapannya itu adalah Tu Siao Cui, murid adik seperguruannya yang memiliki kitab pusaka Hian Goan Cin Keng.
"Oh ya, bagaimana keadaan Thian Gwa Sin Hiap adik seperguruanku itu?" "Dia sudah mati," sahut Tu Siao Cui dingin dan menutur.
"Setelah aku berusia dua puluh lebih, aku pergi menyelidiki kematian kedua orang tuaku.
Ternyata guruku yang membunuh mereka." "Oh?" Tayli Lo Ceng mengerutkan kening.
"Jelaskanlah!" "Sebetulnya kedua orang tuaku adalah perampok budiman.
Mereka merampok demi menolong orang-orang miskin," sahut Tu Siao Cui dengan wajah dingin.
"Akan tetapi, Thian Gwa Sin Hiap justru membunuh kedua orang tuaku karena membela seorang hartawan yang selalu bertindak sewenang-wenang." "Omitohud!" "Mungkin Thian Gwa Sin Hiap merasa menyesal, maka datang ke rumahku sekaligus membawaku pergi.
Di saat itulah bertemu engkau padri sialan." "Omitohud!" Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.
"Adik seperguruanku tidak sengaja membunuh kedua orang tuamu." "Sengaja atau tidak, dia tetap pembunuh kedua orang tuaku!" sahut Tu Siao Cui gusar.
"Seharusnya dia selidiki dulu, barulah turun tangan!
Namun dia tidak bertanya ini itu, langsung membunuh kedua orang tuaku!
Karena itu, aku membalas dendam!" "Engkau membunuh adik seperguruanku itu?" Tayli Lo Ceng terbelalak.
"Ya." Tu Siao Cui mengangguk.
"Tapi dia pun berhasil memukulku sehingga membuat aku jadi lumpuh puluhan tahun lamanya." "Omitohud...." Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya, "Lalu ada urusan apa engkau ke mari mencariku?" "Ingin menghukummu!" "Oh?" Tayli Lo Ceng mengerutkan kening.
"Apa salahku maka engkau ingin menghukumku?" "Delapan puluh tahun lampau, engkau menyuruh Thian Gwa Sin Hiap berhati-hati padaku, secara tidak langsung engkau menyuruhnya melenyapkan diriku." sahut Tu Siao Cui menam-liahkan.
"Seharusnya di saat itu engkau bertanya kepadanya tentang diriku, kemudian engkau pun harus menghukumnya.
Tapi engkau tidak melakukan itu, sebaliknya malah menyuruhnya berhati-liati terhadapku.
Oleh karena itu, hari ini aku harus menghukummu." "Omitohud!" Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.
"Tu Siao Cui, engkau telah membunuh Thian Gwa Sin Hap, dan kini engkau pun telah melukai mereka berdua.
Apakah engkau belum merasa puas?" "Hi hi hi!" sahut Tu Siao Cui dengan tawa cekikikan.
"Thian Gwa Sin Hiap pernah bilang, engkau adalah padri sakti.
Karena itu, aku ingin menjajal kesaktian apa yang engkau miliki." "Omitohud!" Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
"Tu Siao Cui, itu tidak perlu.
Engkau harus ingat akan dirimu yang muda kembali, itu merupakan suatu berkah.
Bersyukurlah kepada Yang Maha Kuasa, jangan membuat dosa!" "Padri sialan, aku ingin bertanya," Tu Siao Cui menatapnya.
"Pernahkah engkau berbuat suatu dosa?" "Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng.
"Setiap manusia tidak akan terlepas dari suatu dosa.
Kalau tahu pernah berbuat dosa, haruslah bertobat sekaligus menebusnya dengan perbuatan baik." "Bagus!
Bagus!
Kalau begitu, engkau harus bertanding denganku!" ujar Tu Siao Cui sungguh-sungguh.
"Apabila engkau mampu mengalahkan aku, tentu aku akan menyembuhkan mereka, bahkan juga akan meninggalkan istana Tayli ini.
Tapi seandainya engkau kalah, maka akulah yang berkuasa di sini.
Hi hi hi...." "Tu Siao Cui!" Tayli Lo Ceng mengerutkan kening.
"Asal engkau tidak berlaku sewenang-wenang di sini, aku bersedia mengaku kalah terhadapmu.
Bagaimana?" "Dasar licik!" sahut Tu Siao Cui.
"Aku pun bersedia mengaku kalah terhadapmu, asal aku berkuasa di sini." "Omitohud...." Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.
"Tu Siao Cui...." "Guru," ujar Toan Beng Kiat yang sangat penasaran.
"Biar aku dan Soat Lan bertanding dengan nenek sombong itu!" "Beng Kiat, jangan turut campur!" sahut Tayli Lo Ceng berwibawa.
"Engkau diam saja." "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa dan berkata, "Kalian berdua bukan tandinganku, jangan sok jago!" "Nenek jahat!" bentak Lam Kiong Soat Lan.
"I ngkau telah melukai ayahku, aku harus membalas!" "Gadis kecil!" Tu Siao Cui tertawa.
"Hi hi hi!
Apakah aku ini mirip nenek jahat?" "Wajahmu masih muda, tapi usiamu sudah delapan puluh lebih!
Aku harus memanggilmu apa?" "Panggil saja kakak!" "Kakak jahat sekali!" Lam Kiong Soat Lan menudingnya.
"Aku harus membalas!" "Suruhlah gurumu bertanding dengan aku, bukankah dia akan mewakili kalian membalasku?" sahut Tu Siao Cui sambil tersenyum, kemudian memandang Tayli Lo Ceng.
"Padri sialan!
Aku dengar engkau memiliki Hud Bun Pan Yok Sin Kang dan Kim Kong Cap Sah Ciang, karena itu aku ingin menjajal ilmu-ilmumu itu!" "Omitohud!" Tayli Lo Ceng menghela nafas panjang.
"Apakah aku tiada pilihan lain lagi?" "Pilihanmu hanya bertanding denganku!" "Omitohud...." Tayli Lo Ceng menggeleng-gelengkan kepala.
"Kalau begitu apa boleh buat!" "Bagus!
Bagus!" Tu Siao Cui tampak gembira sekali.
"Kalau aku kalah, aku pasti menyembuhkan mereka dan meninggalkan istana ini.
Namun seandainya engkau yang kalah, maka akulah yang berkuasa di sini.
Toan Hong Ya juga harus menuruti perintahku, ini merupakan pertandingan bersyarat.
Bagaimana?" "Omitohud...." Tayli Lo Ceng memandang Toan Hong Ya.
"Aku setuju," sahut Toan Hong Ya cepat.
"Tidak akan menyesal?" tanya Tu Siao Cui.
"Ha ha ha!" Toan Hong Ya tertawa gelak.
"Apabila Tayli Lo Ceng kalah, engkau boleh berkuasa di sini dan duduk di singgasanaku ini!" "Oh, ya?" Tu Siao Cui tertawa gembira.
"Baik.
Tapi engkau jangan menyesal!" "Aku tidak akan menyesal," sahut Toan Hong Ya sungguhsungguh.
"Nah, kalian boleh mulai bertanding!" "Bagus!
Bagus!" Tu Siao Cui tertawa lgi.
"Padri sialan, tentunya kita bertanding tanpa senjata kan?" "Omitohud...." Tayli Lo Ceng manggut-manggut.
"Baiklah." Tayli Lo Ceng mulai mengerahkan Hud Bun Pan Yok Sin Kang, sedangkan, Tu Siao Cui pun, mulai menghimpun Hian Goan Sin Kang.
"Padri sialan!
Aku akan menyerang duluan, berhati-hatilah!" seru Tu Siao Cui sambil menyerang menggunakan ilmu Hian Goan Ci.
"Omitohud..." ucap Tayli Lo Ceng sambil mengibaskan lengan jubahnya menangkis serangan itu.
"Blaam!
Scrt!
Terdengar suara benturan dan sobekan.
Tayli Lo Ceng dan Tu Siao Cui sama-sama mundur tiga langkah.
Wajah Tayli Lo Ceng tampak terkejut, ternyata ujung jubahnya telah sobek terserang Hian Goan Ci.
"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng.
"Sungguh tak terduga, engkau telah menguasai Hian Goan Ci!" "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa.
"Baru tahu ya" Nah, lihat seranganku ini!" Tu Siao Cui langsung menyerangnya dengan ilmu Hian Goan Ci.
Kali ini Tayli Lo Ceng terpaksa harus mengeluarkan ilmu simpanannya, yakni Kim Kong Cap Sah Ciang (Tiga Belas Jurus Pukulan Cahaya Emas).
Oleh karena itu, sepasang telapak tangan Tayli Lo Ceng tampak memancarkan cahaya ke-emas-emasan.
Tu Siao Cui terperanjat dan segera meloncat ke belakang.
Kemudian ia berdiri tegak di tempat sambil mengerahkan Hian Goan Sin Kang sampai pada puncaknya.
Sementara Tayli Lo Ceng sudah mengerahkan Hud Bun Pan Yok Sin Kang pada puncaknya pula.
Betapa terkejutnya Toan Hong Ya dan lainnya, mereka tahu itu merupakan pertandingan antara hidup dan mati.
Teganglah mereka, begitu pula Toan Wie Kie dan Lam Kiong Bie Liong yang telah di papah ke tempat duduk.
Kini jari telunjuk Tu Siao Cui pun memancarkan cahaya putih yang menyilaukan mata.
Mendadak ia berteriak sambil menyerang Tayli Lo Ceng.
Badannya berputar-putar meluncur ke atas sekaligus menggerakkan jari tulunjuknya ke arah Tayli Lo Ceng.
Tampak cahaya putih yang menyilaukan mata berkelebat ke arah Tayli Lo Ceng.
Itulah jurus Hung Sui Soh Te (Air Bah Menerjang Bumi).
"Omitohud!" ucap Tayli Lo Ceng sambil menggerakkan sepasang telapak tangannya.
Tampak cahaya keemasan meluncur secepat kilat menangkis cahaya putih itu.
Ternyata Tayli Lo Ceng mengeluarkan jurus Kim Kong Cioh Te (Cahaya Emas Menyinari Bumi).
Blaaam!
Terdengar suara benturan dahsyat.
Tayli Lo Ceng terhuyung-huyung ke belakang beberapa langkah, begitu pula Tu Siao Cui.
Namun wanita itu masih bisa tertawa nyaring.
"Hi hi hi!
Padri sialan, engkau memang hebat!" "Omitohud!" sahut Tayli Lo Ceng sambil menarik nafas dalam-dalam.
"Tu Siao Cui, Hian Goan Cimu itu sungguh dahsyat!" "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa lagi.
"Padri sialan, terimalah seranganku ini!" Tu Siao Cui bergerak.
Mendadak jari telunjuknya berubah ribuan, sekaligus memancarkan cahaya putih mengarah ke Tayli Lo Ceng.
"Omitohud..." ucap Tayli Lo Ceng sambil mengerutkan kening, kemudian sepasang telapak tangannya bergerak-gerak memancarkan cahaya keemas-emasan.
Tu Siao Cui menyerangnya dengan jurus Cian ('i Keng Thian (Ribuan Jari Mengejutkan Langit), sedangkan Tayli Lo Ceng menangkis mengeluarku jurus Kim Kong Teng Hai (Cahaya Emas Menenangkan Laut).
Mereka berdua sama-sama menggunakan ju-nis ampuh yang sangat dahsyat, maka tidak heran cahaya putih dan cahaya keemas-emasan itu berkelebat ke sana ke mari.
Betapa tegangnya Toan Hong Ya dan lainnya, mereka menyaksikan pertandingan itu dengan mata tak berkedip.
Blaaam!
Cessss...!
Terdengar suara benturan.
Tu Siao Cui terhuyung-huyung lima langkah, sedangkan Tayli Lo Ceng terpental ke belakang beberapa depa dengan wajah pucat pias.
"Uaaaakh...!" Mulut Tayli Lo Ceng menyemburkan darah segar.
"Uaaakh...!" Sementara Tu Siao Cui menarik nafas dalam-dalam mengatur pernafasannya, kemudian tertawa cekikikan.
"Hi hi hi!
Padri sialan!