Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 118

Memuat...

"Siapa orang tua kalian?" tanya Tu Siao Cui sambil menatap mereka dengan tajam.

"Ayahku bernama Lam Kiong Bie Liong, ibuku bernama Toan Pit Lian," jawab Lam Kiong Soat Lan.

"Ayahku bernama Toan Wie Kie, ibuku bernama Gouw Sian Eng." Toan Beng Kiat memberitahukan.

"Aku tidak kenal." Tu Siao Cui menggelengkan kepala.

"Oh ya, kalian punya hubungan dengan Toan Hong Ya?" "Toan Hong Ya adalah kakek kami," sahut Toan Beng Kiat.

"Oooh!" Tu Siao Cui manggut-manggut.

"Kalau begitu, cepatlah kalian antar aku menemui Toan Hong Ya!" "Maaf, Kakak!" ucap Lam Kiong Soat Lan.

"Kami masih belum tahu siapa Kakak!".

"Namaku Tu Siao Cui, julukanku adalah Bu Ceng Sianli.

Nah, cepatlah kalian antar aku menemui Toan Hong Ya!" "Maaf, kami tidak berani!" Lam Kiong Soat Lan menggelengkan kepala.

"Sebab akan dimarahi orang tua kami." "Kalau begitu...." Tu Siao Cui tertawa.

"Aku akan masuk sendiri menemui Toan Hong Ya." "Kakak!" Toan Beng Kiat segera menghadang di hadapannya.

"Ini istana Tayli, engkau tidak boleh berlaku semaumu!" "Oh?" Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Hi hi hi!

Bocah, apakah engkau mampu menghadangku?" "Kenapa tidak?" sahut Toan Beng Kiat sambil menatapnya.

"Kalau Kakak berkeras ingin masuk, aku terpaksa harus bertindak." "Bertindak bagaimana?" tanya Tu Siao Cui sambil tersenyum.

"Menghadangmu." Toan Beng Kiat kelihatan sudah bersiap menghadangnya apabila Tu Siao Cui berkeras menerobos ke dalam.

"Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring.

"Aku tahu, kepandaian kalian berdua cukup tinggi.

Tapi kalian berdua masih tidak mampu menghadangku." "Kalau Kakak berkeras ingin menerobos ke dalam, kami terpaksa berlaku kurang ajar terhadap Kakak," ujar Lam Kiong Soat Lan.

"Oh, ya" Hi hi hi...!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

Bersamaan itu, muncullah beberapa orang.

Mereka adalah Toan Wie Kie, Gouw Siang Eng, Lam Kiong Bie Liong dan Toan Pit Lian.

"Siapa Nona?" tanya Toan Beng Kiat dengan kening berkerut-kerut "Ada urusan apa Nona ke mari?" "Kalian tentu para orang tua mereka berdua," sahut Tu Siao Cui sambil menunjuk Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan.

"Ya, kan?" "Betul." Toan Wie Kie mengangguk.

"Ada masalah?" "Aku menyuruh mereka mengantarku menemui Toan Hong Ya, tapi nereka tidak mau," ujar Tu Siao Cui memberitahukan.

"Sebaliknya malah ingin menghadangku." "Mereka berdua memang harus menghadangmu," sahut Toan Pit Lian dan menambahkan.

"Sebab orang luar tidak boleh memasuki istana ini semaunya." "Kalau aku ingin memasuki istana Tayli ini semauku, kalian mau apa?" tanya Tu Siao Cui menantang.

"Eh?" Toan Pit Lian mengerutkan kening.

"Engkau berani menghina kami?" "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa geli.

"Sungguh lucu sekali Siapa yarg menghina kalian?" "Engkau ingin memasuki istana ini semaumu!

Berarti menghina kami." sahut Toan Pit Lian.

"Hi hi hi...!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Engkau harus tahu, aku mau memasuki istana ini, sebetulnya merupakan suatu kehormatan bagi Toan Hong Ya." "Omong kosong!" bentak Toan Pit Lian.

"Cepat beritahukan, siapa engkau!" "Namaku Tu Siao Cui, julukanku adalah Bu Ceng Sianli.

Engkau sudah tahu aku siapa, cepatlah antar aku ke dalam menemui Toan Hong Ya!" "Ada urusan apa engkau ingin menemui ayah?" tanya Toan Wie Kie sambil menatapnya tajam.

"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadanya," jawab Tu Siao Cui dan menambahkan sambil tersenyum.

"Kalian tidak usah khawatir, aku tidak berniat jahat terhadap Toan Hong Ya.

Percayalah!" "Baiklah." Toan Wie Kie manggut-manggut.

"Kebetulan ayahku berada di ruang tengah, silakan Nona ikut kami ke sana!" "Terimakasih!" ucap Tu Siao Cui.

Mereka masuk ke dalam menuju ruang tengah.

Toan Hong Ya memang sedang duduk di ruang itu membaca buku.

Ketika melihat Tu Siao Cui, terbelalaklah Toan Hong Ya.

Itu tidak usah heran.

Sebab Tu Siao Cui sangat cantik sekali, bahkan juga memiliki daya tarik yang luar biasa, maka membuat Toan Hong Ya terpukau menyaksikan kecantikannya.

"Ayah!" Toan Wie Kie memberitahukan.

"Nona Tu ingin bertemu Ayah." "Oh?" Toan Hong Ya tercengang.

"Ada urusan apa Nona Tu ingin bertemu aku" Siapa yang mengutusmu ke mari?" "Toan Hong Ya," sahut Tu Siao Cui tanpa memberi hormat.

"Aku harus dipersilakan duduk dulu." "Nona jangan kurang ajar terhadap ayahku!" bentak Toan Pit Lian.

"Cepatlah beri hormat!" "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa cekikikan.

"Kenapa aku harus memberi hormat kepadanya?" "Nona!" Toan Pit Lian mengerutkan kening.

"Ayahku adalah raja Tayli, maka engkau harus memberi hormat kepadanya!" "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa lagi.

"Aku adalah Bu Ceng Sianli, seharusnya ayahmu yang memberi hormat kepadaku." "Kurang ajar!" bentak Toan Pit Lian gusar.

"Ha ha ha!" Toan Hong Ya tertawa sambil memberi isyarat kepada Toan Pit Lian agar putrinya itu jangan gusar dan melanjutkan.

"Nona Tu, engkau masih muda, aku sudah berusia lanjut.

Oleh karena itu, engkau tidak boleh kurang ajar terhadapku." "Berapa usiamu, Toan Hong Ya?" tanya Tu Siao Cui mendadak.

"Tujuh puluh satu," sahut Toan Hong Ya sambil tersenyum.

"Engkau harus memanggilku kakek lho!" "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa nyaring.

"Toan Hong Ya, tahukah engkau berapa usiaku?" "Dua puluhan." "Salah." Tu Siao Cui tersenyum sambil memberitahukan.

"Usiaku sudah hampir sembilan puluh." "Nona Tu!" Toan Hong Ya menggeleng-gelengkan kepala.

"Engkau jangan berhumor, itu tidak baik!" "Toan Hong Ya, aku berkata sesungguhnya," sahut Tu Siao Cui sungguh-sungguh.

"Sama sekali tidak berhumor." "Dasar sinting!" sela Toan Pit Lian dan menambahkan.

"Engkau harus segera enyah dari sini!" "Apa?" Tu Siao Cui melotot.

"Perempuan cerewet, engkau berani mengusirku?" "Kenapa tidak?" sahut Toan Pit Lian gusar.

"Apabila perlu, aku akan menghajarmu!" Tiba-tiba Tu Siao Cui bergerak cepat, tampak badannya berkelebat laksana kilat ke arah Toan Pit Lian.

Plaaak!

Terdengar suara tamparan.

Ternyata pipi Toan Pit Lian yang terkena tampar, membuatnya menjerit kesakitan.

"Aduuuh!" "Engkau...." Lam Kiong Bie Liong menudingnya.

"Akan kuhajar engkau!" "Kakak!" bentak Lam Kiong Soat Lan.

"Engkau berani menampar ibuku" Akan kubalas...." "Soat Lan!" seru Toan Hong Ya.

"Diam di tempat, jangan kurang ajar!" "Kakek," sahut Lam Kiong Soat Lan.

"Dia menampar ibu, aku harus membalasnya." "Sudahlah!" Toan Hong Ya mengerutkan kening, kemudian menatap Tu Siao Cui tajam.

"Nona Tu, engkau ingin cari garagara di sini?" "Aku ke mari secara baik-baik, tapi...." Tu Siao Cui menunjuk Toan Pit Lian seraya berkata, "Dia yang cari garagara denganku, maka aku memberi pelajaran kepadanya." "Nona Tu," tanya Toan Hong Ya.

"Sebetulnya ada urusan apa engkau datang ke mari menemuiku?" "Aku ke mari ingin bertanya sesuatu kepadamu." sahut Tu Siao Cui sekaligus bertanya, "Di mana Tayli Sin Ceng-Kong Sun Hok?" "Apa?" Toan Hong Ya tampak tertegun, sebab orang lain tidak tahu bahwa itu adalah julukan Tayli Lo Ceng ketika masih muda, Kong Sun Hok adalah namanya.

Bukankah mengherankan sekali Tu Siao Cui mengetahui tentang itu" "Engkau kenal Tayli Lo Ceng?" "Aku tidak kenal Tayli Lo Ceng, hanya kenal Tayli Sin Ceng," sahut Tu Siao Cui.

"Aku akan membuat perhitungan dengan padri sialan itu!" "Nona...." Toan Hong Ya terbelalak.

"Kapan engkau bertemu Tayli Sin Ceng (Padri Sakti Tayli) itu?" "Kira-kira delapan puluh tahun lalu." "Haaah...?" Mulut Toan Hong Ya ternganga lebar, begitu pula yang lain.

"Ayah," ujar Toan Wie Kie.

"Dia gadis gila, tidak usah diladeni!

Biar kuusir dia!" "Wie Kie!" Toan Hong Ya menatapnya.

"Diamlah!" "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa.

"Bagus!

Bagus!

Sebentar lagi kita boleh bertanding!" "Sekarang pun boleh!" tantang Toan Wie Kie yang mulai kesal terhadap Tu Siao Cui itu.

"Oh, ya?" Tu Siao Cui tertawa.

"Kalau begitu, keluarkanlah senjatamu!" Ketika Toan Wie Kie ingin mengeluarkan kipasnya, Gouw Sian Eng berkata setengah berbisik.

"Jangan emosi, akan merusak suasana!" "Tapi...." Toan Wie Kie mengerutkan kening.

"Gadis itu terlampau kurang ajar!" "Biarkan saja!" sahut Gouw Sian Eng sambil tersenyum lembut.

"Yang penting engkau jangan emosi." Toan Wie Kie manggut-manggut, sedangkan Tu Siao Cui terus memandangnya, kemudian tertawa seraya berkata.

"Bagus!

Bagus!

Suami memang harus menurut pada isteri!

Hi hi hi!" "Engkau...." Wajah Toan Wie Kie tampak kemerahan.

"Engkau sungguh kurang ajar!" "Hi hi hi!" Tu Siao Cui tertawa geli.

"Engkau merasa malu karena aku mengatakan, bahwa suami harus menurut pada isteri?" 'Aku...." Toan Wie Kie tergagap.

"Nona Tu," u;ar Toan Hong Ya ssmbil menatapnya dengan penuh perhatian.

"Betulkah delapan puluh tahun lalu engkau bertemu Tayli Sin Ceng?" "Toan Hong Ya." sanut Tu Siao Cui.

"Apa gunanya aku bohong" Kalau Toan Hong Ya tidak percaya, tunggu padri sialan itu ke mari!" "jangan mencaci guru kami!' seru Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan dengan nada gusar.

"Oh?" Tu Siao Cui menatap mereka.

"Padri sialan itu guru kalian?" "Betul." sahut Toan Beng Kiat dan Lam Kiong Soat Lan serentak.

'Maka Kakak jangan menghina dan mencaci guru kami!" "Aku justru ingin menghajar guru kalian itu," ujar Tu Siao Cui sambil tertawa.

-ooo0dw0ooo- Jilid : 10 "Kakak...." Ketika Toan Beng Kiat ingin mengatakan sesuatu, namun keburu di dahului oleh Toan Hong Ya.

"Nona Tu, Tayli Lo Ceng tidak berada di sini, lebih baik engkau pergi saja, jangan membuat onar di tempat ini!" "Jadi...." Tu Siao Cui mengerutkan kening.

"Toan Hong Ya mengusirku" Begitu kan?" "Bukan mengusir, melainkan...." "He he he!" Tu Siao Cui tertawa terkekeh-kekeh.

"He he he!

Toan Hong Ya, engkau telah membuat hatiku tersinggung.

Oleh karena itu, akupun tak ingin membuat kalian susah." "Nona Tu...." Toan Hong Ya terkejut.

"Eng-kau mau apa?" "Aku ingin bertanding dengan jagoan di sini." sahut Tu Siao Cui memberitahukan.

Post a Comment