Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 116

Memuat...

Ayah merasa bangga sekali!" "Ayah...." Lu Hui San mendekap di dada Lu Thay Kam.

"Terimakasih!" "Nak!" Lu Thay Kam membelai-belainya.

"Ayah berjanji, kalau dia ke mari membalas dendam, ayah pasti tidak akan membunuhnya.

Legakanlah hatimu, Nak!" Lu Hui San manggut-manggut.

Saking terharu gadis itu menangis terisak-isak.

"Nak, bagaimana sifat pemuda itu?" tanya Lu Thay Kam.

"Agak keras hati, namun dia pemuda baik, jujur dan tampan." Lu Hui San memberitahukan.

"Ooooh!" Lu Thay Kam manggut-manggut sambil tersenyum.

"Syukurlah kalau begitu!" "Ayah." ujar Lu Hui San.

"Aku kembali justru karena khawatir dia akan ke mari membalas dendam kepada Ayah.

Aku ingin mendamaikan kalian." "Nak...." Lu Thay Kam tertawa gembira.

"Kalau dia mau berdamai dengan ayah, itu memang baik sekali." "Aku berharap begitu, Ayah." Lu Hui San tersenyum.

"Oh ya, bagaimana keadaan Ayah selama ini?" "Baik-baik saja," sahut Lu Thay Kam.

"Tapi...." "Ada apa, Ayah?" "Kini dalam istana telah muncul seorang menteri yang cukup berkuasa, hanya ayah yang mampu menyaingi kekuasaannya itu." Lu Thay Kam memberitahukan dengan kening berkerut-kerut.

"Belum lama ini, menteri itu mengutus beberapa orang kepercayaannya ke Manchuria, kelihatannya menteri itu berniat bersekongkol dengan bangsa liar itu." "Oh?" Lu Hui San memandang Lu Thay Kam.

"Kalau tidak salah, Ayah pun pernah mengutus orang pergi menemui raja Manchuria, kan?" "Benar." Lu Thay Kam mengangguk.

"Tapi raja Manchuria tidak mau bekerja sama dengan ayah." "Raja Manchuria itu kenal Paman Cie Hiong, maka dia tidak mau menyerbu ke Tionggoan, otomatis tidak mau bekerja sama dengan Ayah." Lu Hui San memberitahukan.

"Tapi raja Manchuria itu telah mati dibunuh oleh adik kandungnya, dan kini yang menjadi raja di Manchuria adalah adik kandungnya itu." "Oh?" Lu Thay Kam mengerutkan kening.

"Kok engkau tahu begitu jelas tentang itu?" "Aku tinggal di Pulau Hong Hoang To selama ini.

Kemudian Bokyong Sian Hoa juga muncul di pulau itu," jawab Lu Hui San.

"Bun Yang yang membawanya ke sana, jadi kami pun berkenalan." "Siapa Bokyong Sian Hoa itu?" "Dia putri almarhum raja Manchuria itu..." tutur Lu Hui San dan menambahkan.

"Kini dia masih berada di Pulau Hong Hoang To!" "Ooh!" Lu Thay Kam manggut-manggut, kemudian menghela nafas panjang.

"Seandainya para penghuni Pulau Hong Hoang To bersedia membantu kerajaan, ayah yakin Dinasti Beng tidak akan runtuh." "Maksud Ayah?" Lu Hui San tertegun.

"Aaaah...!" Lu Thay Kam menghela nafas panjang.

"Menteri itu berniat meminjam pasukan Manchuria, alasannya pada kaisar yakni demi memberantas para pemberontak yang dipimpin Lie Tsu Seng.

Tapi tujuan menteri itu tidak lain ingin meruntuhkan dinasti Beng." "Menteri itu ingin menjadi kaisar?" "Betul." Lu Thay Kam mengangguk.

"Kalau dia berhasil menjadi kaisar, itu tidak masalah.

Namun yang ayah khawatirkan justru pasukan Manchuria itu akan memberontak terhadapnya Nah, bukankah kita akan dikuasai oleh Bangsa Manchuria?" "Maksud Ayah Bangsa Manchuria akan menjajah negeri kita?" tanya Lu Hui San dengan wajah berubah.

"Kira-kira begitulah." Lu Thay Kam menghela nafas.

"Tapi kini menteri itu masih tidak berani bertindak, karena masih merasa segan kepada ayah.

Kalau ayah mati, menteri itu pasti bertindak sewenang-wenang." "Ayah...." Lu Hui San menatapnya.

"Lebih baik Ayah hidup tenang di suatu tempat saja.

Aku bersedia mendampingi Ayah." "Omong kosong!" sahut Lu Thay Kam sambil tertawa.

"Bagaimana mungkin engkau mendampingi Ayah" Bukankah engkau harus mendampingi buah hatimu itu?" "Ayah...." Wajah Lu Hui San langsung memerah.

"Lagi pula..." tambah Lu Thay Kam.

"Kalau ayah mengundurkan diri sekarang, menteri itu yang akan memperoleh keuntungan, dinasti Beng pasti runtuh di tangannya!" "Ayah...." Lu Hui San memandangnya dengan penuh keheranan.

"Aku jadi bingung, sebetulnya Ayah jahat atau baik?" "Nak...." Lu Thay Kam menghela nafas panjang.

"Pada dasarnya ayah adalah orang baik, tapi dipaksa menjadi orang jahat." "Kenapa begitu?" "Nak..." sahut Lu Thay Kam sambil memandang jauh ke depan.

"Ayahku adalah seorang hakim yang sangat bijaksana, adil dan tidak pernah korupsi.

Suatu ketika, ayahku menghukum berat seorang anak menteri, karena anak menteri itu memperkosa seorang anak gadis, kemudian membunuhnya pula.

Kedua orang tua gadis itu mengadu di pengadilan, maka ayahku segera perintahkan beberapa petugas pergi menangkap anak menteri itu." "Lalu bagaimana?" "Para petugas itu tidak berani, sebab terdakwa itu seorang anak menteri.

Ayahku tidak perduli, tetap perintahkan para petugas pergi menangkap anak menteri itu.

Tentunya membuat gusar menteri itu.

Beliau membiarkan para petugas menangkap anaknya.

Akan tetapi, menteri itu justru pergi menghadap kaisar sekaligus memfitnah ayahku." "Oh?" Lu Hui San tertegun.

"Kemudian bagaimana?" "Kaisar turunkan perintah penangkapan ayahku sekeluarga." Lu Thay Kam memberitahukan.

"Pada waktu itu, aku baru berusia tujuh tahun.

Salah seorang pengawal ayahku berhasil membawaku kabur.

Namun kedua orang tuaku dan lainnya ditangkap semua, kemudian dihukum mati." "Haaah?" Lu Hui San terkejut bukan main.

"Setelah aku berusia sembilan tahun, pengawal ayahku itu membawaku ke istana." Tutur Lu Thay Kam.

"Aku dikebiri jadi sida-sida istana." "Kok Ayah mau dikebiri?" tanya Lu Hui San sambil mengerutkan kening.

"Itu memang atas kemauanku," jawab Lu Thay Kam sambil menghela nafas panjang.

"Tujuanku demi membalas dendam." "Oooh!" Lu Hui San manggut-manggut.

"Ayah semakin besar, sedangkan kaisar itu semakin tua," ujar Lu Thay Kam dan menam-bahkan.

"Pada waktu itu, Putra Mahkota sangat baik terhadap ayah.

Setelah kaisar tua wafat, Putra Mahkota itu naik tahta.

Sejak itu, kaisar baru sangat mempercayai ayah.

Mulailah ayah membalas dendam terhadap keluarga menteri itu." "Ternyata begitu!" Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Pantas Ayah sering memfitnah para menteri dan jenderal, agar kaisar menghukum mati mereka!" "Nak," ujar Lu Thay Kam dengan wajah murung.

"Ayah menyesal sekali memfitnah ayah kandungmu.

Padahal kami berdua kawan baik.

Hanya dikarenakan salah pendapat sehingga terjadi suatu perdebatan, akhirnya ayah memfitnahnya." "Itu sudah berlalu, tidak usah diungkit kembali," tandas Lu Hui San.

"Lagi pula paman dan aku telah memaafkan Ayah.

Bukankah Ayah bersedia mati di tanganku saat itu?" "Nak...." Lu Thay Kam tersenyum getir.

"Engkau telah membuka pintu hati nurani ayah.

Mulai sekarang ayah harus menjadi Thay Kam yang baik demi dinasti Beng." "Kalau begitu, Ayah akan membubarkan Hiat Ih Hwe?" "Ngmm!" Lu Thay Kam manggut-manggut.

"Mungkin ayah akan perintahkan mereka bergabung dengan Lie Tsu Seng." "Oh?" Wajah Lu Hui San berseri.

"Tapi bukankah Ayah sudah bekerja sama dengan Seng Hwee Kauw" Bagaimana kalau Seng Hwee Sin Kun tahu tentang itu?" "Tidak ada urusan dengan Seng Hwee Sin Kun.

Oh ya, ayah pun sudah dengar bahwa Seng Hwee Sin Kun dilukai oleh monyet milik Tio Bun Yang.

Engkau tahu tentang itu?" "Tahu." Lu Hui San mengangguk sekaligus menutur tentang kejadian itu.

"Oooh!" Lu Thay Kam manggut-manggut.

"Ternyata engkau yang membopong Kam Hay Thian ke Pulau Hong Hoang To!

Lalu bagaimana keadaan Tio Bun Yang dan monyetnya itu?" "Kepandaian Bun Yang bertambah tinggi, tapi kauw heng itu sudah mati." Lu Hui San memberitahukan.

"Ngmm!" Lu Thay Kam mengerutkan kening.

"Bagaimana kepandaian Kam Hay Thian?" "Sudah maju pesat di bawah bimbingan Paman Cie Hiong, tapi belum tentu mampu melawan Seng Hwee Sin Kun." "Kalau begitu, dia masih bukan lawanku," ujar Lu Thay Kam.

"Kalau dia ke mari...." "Ingat Ayah!" Lu Hui San menatapnya.

"Ayah telah berjanji tidak akan membunuhnya, jangan ingkar janji lho!" "Ayah tidak akan lupa itu," sahut Lu Thay Kam sambil tertawa gelak.

"Maksud ayah kalau dia ke mari, ayah akan bicara baik-baik dengan dia." "Oooh!" Lu Hui San langsung berlega hati.

"Ayah...." "Ha ha ha!" Lu Thay Kam tertawa terbahak- bahak.

"Ha ha ha...!" -ooo0dw0ooo- Beberapa hari kemudian, di saat Lu Hui San sedang duduk termenung di halaman belakang istana tempat tinggal Lu Thay Kam, mendadak melayang turun seseorang yang tidak lain adalah Kam Hay Thian yang mengenakan pakaian berkabung.

"Hay Thian..." panggil Lu Hui San terbelalak dan bergirang dalam hati.

Akan tetapi, Kam Hay Thian menatapnya dengan dingin sekali, tentunya sangat mengejutkan hati gadis itu.

"Hay Thian, kenapa engkau...." "Dimana ayah angkatmu" Cepat suruh dia ke luar bertarung denganku!" sahut Kam Hay Thian dengan mata berapi-api.

"Cepaaat suruh dia keluar!" "Hay Thian...." "Diam!" bentak Kam Hay Thian dingin.

"Jangan panggil namaku!" "Kenapa engkau membenciku" Kenapa" Kenapa...?" sahut Lu Hui San dengan air mata berderai-derai.

"Jelaskan!

Engkau harus menjelaskannya!" "Karena engkau putri angkat Lu Thay Kam!" Kam Hay Thian memberitahukan.

"Semula aku cuma berusaha menjauhimu, tapi kini aku justru membencimu!" "Kenapa?" Wajah Lu Hui San pucat pias.

"Karena..." sahut Kam Hay Thian sambil ber- kertak gigi.

"Beberapa bulan lalu, para anggota Hiat Ih Hwe membunuh ibuku!" "Apa?" Lu Hui San terbelalak.

Barulah ia tahu kenapa Kam Hay Thian mengenakan pakaian kabung.

"Nah, engkau dengar baik-baik!

Aku benci padamu dan harus membunuh ayah angkatmu itu!" "Hay Thian...." Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Kami sama sekali tidak tahu tentang itu.

Beberapa bulan lalu, bukankah kita masih berada di Pulau Hong Hoang To?" "Benar!

Tapi aku tetap benci padamu, karena engkau adalah putri angkat Lu Thay Kam!" "Apakah engkau tidak tahu" Sesungguhnya aku putri Sie Kuang Weng.

Ayah kandungku justru mati lantaran fitnahan Lu Thay Kam, namun aku dan pamanku telah memaafkannya." "Hm!" dengus Kam Hay Thian dingin.

"Itu karena engkau ingin hidup senang di sini!" "Hay Thian!

Kalau aku ingin hidup senang di sini, tidak mungkin aku pergi berkelana!" "Sudahlah!

Jangan banyak bicara, cepatlah panggil ayah angkatmu itu ke mari!" "Ha ha ha!" Terdengar suara tawa gelak.

"Anak muda, kenapa engkau begitu bernafsu ingin membunuhku?" Melayang turun seseorang yang ternyata Lu Thay Kam.

la memandang Kam Hay Thian dengan penuh perhatian.

"Anjing tua!" bentak Kam Hay Thian.

"Hari ini adalah hari kematianmu!" "Anak muda!" Lu Thay Kam mengerutkan kening.

"Kenapa engkau begitu kurang ajar, padahal San San memuji dirimu di hadapanku!

Engkau Kam Hay Thian kan?" "Tidak salah!

Engkau memang Kam Hay Thian!" sahut pemuda itu.

"Aku ke mari ingin mencabut nyawamu!" "Hay Thian...." Lu Thay Kam menghela nafas panjang.

"Di antara kita tiada dendam apa pun, kenapa engkau begitu bernafsu ingin membunuhku?" "Para anak buahmu membunuh guru silat Lie dan putrinya, itu masih dapat kumaafkan!

Tapi beberapa bulan lalu, para anak buahmu justru membunuh ibuku secara sadis sekali!" sahut Kam Hay Thian sengit dengan mata berapi-api.

"Leher ibuku putus terpenggal oleh salah seorang anak buahmu, sehingga kepala ibuku menggelinding di lantai!

Nah, hari ini aku harus membalas dendam!" "Hay Thian!" bentak Lu Thay Kam.

"Itu perbuatan para anggota, bukan perbuatan ayah angkatku!

Engkau harus tahu itu!" "Tapi ayahmu ketua Hiat Ih Hwe, maka aku harus membunuhnya!" sahut Kam Hay Thian dan menambahkan.

"Kalau engkau tidak menyingkir, aku pun akan membunuhmu pula!" "Bagus!

Bagus!

Post a Comment