"Aaaah!
Itu merupakan ancaman bagi rimba persilatan." "Kalau begitu memang tidak salah," ujar Tio Bun Yang memberitahukan.
"Aku pun pernah mendengar tentang Kui Bin Pang dari para pedagang.
Mereka bilang melihat setan iblis naik kuda, berpakaian serba putih dan wajah menyerupai setan iblis, bahkan juga mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan." "Betul." Lie Ai Ling manggut-manggut.
"Mereka memang mengeluarkan siulan aneh yang menyeramkan, memakai kedok setan dan berpakaian serba putih." "Aaaah...." Gouw Han Tiong menghela nafas panjang.
"Rimba persilatan sudah tidak aman karena Seng Hwee Kauw dan Hiat Ih Hwe, kini malah muncul Kui Bin Pang lagi!" "Kalau aku sudah bertemu Goat Nio, aku ingin mengajaknya pulang ke Pulau Hong Hoang To," ujar Tio Bun Yang sungguh-sungguh.
"Aku sudah jenuh akan rimba persilatan yang tak pernah aman, tenang dan damai.
Ada saja pertikaian." "Lalu bagaimana dengan Seng Hwee Sin Kun?" tanya Lim Peng Hang mendadak sambil menatapnya.
"Dia memang telah membunuh kauw heng, tapi perlukah aku menuntut balas kepadanya?" Tio Bun Yang mengerutkan kening.
"Kalau kita balas-membalas kapan akan berakhir?" "Bun Yang...." Lim Peng Hang menghela nafas panjang.
"Engkau bersifat seperti Cie Hiong ayahmu, namun kalian justru berkepandaian sangat tinggi." "Kakek...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Bun Yang!" Gouw Han Tiong menatapnya tajam seraya berkata, "Kauw heng menyuruhmu ke goa es belajar ilmu Kan Kun Taylo Im Kang, itu agar engkau dapat melawan Seng Hwee Sin Kun, sekaligus membalaskan dendamnya." "Tentang itu, bagaimana nanti saja," sahut Tio Bun Yang.
Pemuda itu memang tiada nafsu untuk membalas dendam.
"Itu terserah kepadamu," ujar Gouw Han Tiong.
"Kami tidak akan mendesakmu menuntut balas kepada Seng Hwee Sin Kun.
Tapi...." "Bun Yang," sambung Lim Peng Hang.
"Kelihatannya tidak lama lagi, suatu bencana akan melanda rimba persilatan, apakah engkau mau tinggal diam?" "Kakek!" Tio Bun Yang tersenyum.
"Itu urusan nanti, lebih baik dibicarakan nanti saja.
Kini aku cuma memikirkan Goat Nio." "Kakak Bun Yang," usul Lie Ai Ling.
"Bagaimana kalau kita bertiga pergi mencari Goat Nio?" "Kakekku sudah bilang tadi, kita harus menunggu di sini agar tidak selisih jalan dengan Goat Nio," sahut Tio Bun Yang.
"Jadi kita tidak boleh pergi mencari Goat Nio." "Memang lebih baik kita menunggu di sini saja," sela Sie Keng Hauw dan menambahkan.
"Kita lihat bagaimana perkembangan selanjutnya, setelah itu barulah kita membahasnya." "Benar." Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Sekarang kalian pergi beristirahat saja." "Ya," sahut Tio Bun Yang, Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling serentak, lalu semuanya pergi ke ruangan belakang.
---o0dw0ooo- Bagian ke empat puluh empat Kedukaan yang memuncak Ke mana Kam Hay Thian" Apakah ia pergi ke Gunung Hek Ciok San" Ternyata tidak, melainkan pulang ke rumahnya karena sangat rindu kepada ibunya.
Kenapa ia memisahkan diri dengan Sie Keng Hauw, Lie Ai Ling dan Lu HuiSan" Memang tidak salah, ia sudah tahu bahwa Lu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam.
Tanpa sengaja ia mendengar percakapan mereka, maka ia tahu Lu Thay Kam adalah ayah angkat Lu Hui San.
Oleh karena itu, ia menolak cinta dari gadis tersebut.
Padahal sesungguhnya, ia mulai mencintai gadis itu.
Tapi ada selapis tembok menghalanginya, yakni Lu Thay Kam itu.
Akhirnya ia mengambil keputusan untuk berpisah dengan Lu Hui San.
Kurang lebih sepuluh hari kemudian, Kam Hay Thian sudah sampai di rumahnya.
Ia berlari- lari memasuki halaman rumah sambil berseru-seru dengan penuh kegembiraan.
"Ibu!
Ibu!
Aku sudah pulang!
Ibu...!" Seorang tua berhambur ke luar menyambutnya.
Ia adalah pembantu tua di rumah itu.
"Tuan muda...." "Paman tua!" panggil Kam Hay Thian sambil tersenyum.
"Di mana ibuku" Aku sudah rindu sekali kepadanya." "Tuan muda...." Pembantu tua itu menundukkan kepala, kemudian menangis terisak-isak.
"Paman tua...." Wajah Kam Hay Thian pucat pias.
"Tuan muda...." Air mata pembantu tua itu sudah bercucuran.
"Ibumu sudah meninggal beberapa bulan yarg lalu." "Apa?" Sekujur badan Kam Hay Thian menggigil, kemudian menjerit.
"Ibu!
Ibu...!" "Tuan muda!
Tuan muda...!" panggil pembantu t ua itu.
Kam Hay Thian berdiri diam, sepasang matanya mendelik lalu terkulai dan pingsan seketika.
"Tuan muda' Tuan muda..
!" Kalutlah pembantu tua itu, ia berusaha menyadarkannya.
Berselang beberapa saat kemudian, sepasang mata Kam Hay Thian terbuka per lahan-lahan, maka legalah hati pembantu tua itu.
"Tuan muda...." "Paman tua...." Kam Hay Thian berlutut di depan meja sembahyarg dan menangis meraung- raung.
"Ibu!
Ibu...!" Pembantu tua itu membiarkannya terus menangis.
Itu memang lebih baik dari pada Kam Hay Thian menahan duka dalam hati, akan membahayakan dirinya.
"Ibu!
Ibu...!" Kam Hay Thian terus menangis meraungraung Lama sekali barulah Kam Hay Thian berhenti menangis, lalu memandang pembantu tua itu seraya bertanya.
"Paman tua!
Apa yang terjadi" Apa yang terjadi?" teriak Kam Hay Thian sambil berlari ke dalam rumah.
Sesampainya di dalam rumah, ia melihat sebuah meja sembayang di ruang depan, dan sebuah tempat abu di atas meja itu.
"Bagaimana ibuku meninggal?" "Nyonya....
nyonya dibunuh," jawab pembantu tua itu dengan air mata berderai-derai.
"Apa?" Kam Hay Thian meloncat bangun.
"Ibuku mati dibunuh" Siapa yang membunuh?" "Para anggota Hiat Ih Hwe." "Para anggota Hiat Ih Hwe?" Sepasang mata Kam Hey Thian langsung berapi-api.
"Kenapa mereka membunuh ibuku?" "Malam itu..." tutur pembantu tua itu.
"Beberapa orang memasuki halaman rumah.
Nyonya mendengar suara itu maka segera membuka pintu.
Nyonya melihat beberapa orang itu terluka parah.
Mereka ternyata para pejuang yang dikejar Hiat Ih Hwe.
Nvonya menyembunyikan mereka didalam rumah." "Kemudian bagaimana?" "Tak lama muncullah belasan orang berpakaian merah.
Mereka adalah para anggota Hiat Ih Hwe.
Nyonya melarang menggeledah, namun salah seorang anggota Hiat Ih Hwe mengayunkan goloknya, dan kepala nyonya terpenggal jatuh menggelinding di lantai." "Haaah...?" Kam Hay Thian nyaris pingsan lagi.
Ia menggenggam ujung meja sembayang erat-erat.
Braaaak!
Tiba-tiba ujung meja sembayang itu hancur menjadi debu.
Ternyata tanpa sengaja Kam Hay Thian mengerahkan Iweekangnya "Tuan muda...." Pembantu tua itu terkejut bukan main.
"Setelah itu bagaimana?" tanya Kam Hay Thian dengan wajah kehijau-hijauan.
"Para anggota Hiat Ih Hwe mulai menggeledah, akhirnya mereka menemukan pejuang-pejuang itu, dan kemudian mereka bunuh secara sadis sekali." Pembantu tua itu memberitahukan.
"Untung mereka tidak menemukan aku, maka aku terhindar dari kematian." "Aku harus menuntut balas!
Aku harus membunuh Lu Thay Kam itu!" ujar Kam Hay Thian dengan mata membara.
"Walau dia ayah angkat Hui San, namun aku tetap harus membunuhnya!" "Tuan muda!" Pembantu tua itu terisak-isak.
"Sungguh mengenaskan kematian nyonya!" "Aku bersumpah, akan membunuh Lu Thay Kam dan membasmi Hiat Ih Hwe!" ucap Kam Hay Thian mengangkat sumpah itu dengan mata berapi-api.
Kemudian ia memasang hio dan bersujud di depan tempat abu itu.
-ooo0dw0ooo- Sementara itu, Lu Hui San juga sudah tiba di ibu kota.
Dapat dibayangkan, betapa gembiranya Lu Thay Kam.
"Nak..." panggilnya dengan suara tergetar- getar.
"Ayah...." Lu Hui San mendekap di dada Lu Thay Kam.
"Ayah, aku sudah kembali." "Nak!" Lu Thay Kam membelainya dengan penuh kasih sayang.
"Syukurlah engkau sudah kembali, ayah gembira sekali!" "Ayah...." Lu Hui San terisak-isak.
"Nak!" Lu Thay Kam menatapnya heran.
"Kenapa engkau tampak berduka" Apa yang telah terjadi?" "Ayah...." Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala, lalu duduk dengan kepala tertunduk.
"Nak...." Lu Thay Kam duduk di hadapannya.
"Beritahukanlah!
Apa yang membuatmu berduka?" "Ayah, aku sudah bertemu Sie Keng Hauw," Lu Hui San memberitahukan.
"Tentunya Ayah masih ingat kepadanya, kan?" "Sie Keng Hauw...." Lu Thay Kam manggut- manggut.
"Putra Sie Kuang Han kan?" "Betul, Ayah." Lu Hui San mengangguk.
"Kepandaiannya sangat tinggi." "Oh?" Lu Thay Kam tersenyum.
"Bagus!
Mungkin dia akan ke mari menuntut balas, bukan?" "Ayah telah salah menerka." Lu Hui San menggelengkan kepala.
"Pamanku melarang kami membalas dendam." "Oh?" Lu Thay Kam menatapnya, kemudian menghela nafas panjang.
"Syukurlah kalau begitu!" "Tapi...." Lu Hui San menghela nafas panjang.
"Ada apa, San San?" tanya Lu Thay Kam dan menambahkan.
"Beritahukanlah!
Jangan ragu!" "Aku...." "Kenapa engkau?" Lu Thay Kam menatapnya dalam-dalam.
"Apakah engkau sudah punya kekasih?" "Ayah...." Wajah Lu Hui San memerah.
"Beritahukanlah!" desak Lu Thay Kam.
"Apakah engkau sudah punya kekasih?" "Aku..." jawab Lu Hui San dengan kepala tertunduk.
"Aku mencintainya, namun...
dia tidak mencintaiku." "Oh" Siapa dia" Sungguh berani dia menolak cintamu?" Lu Thay Kam mengerutkan kening.
"Apakah dia tidak tahu aku adalah ayah angkatmu?" "Mungkin dia tahu, maka...
dia berusaha menjauhi diriku," sahut Lu Hui San sambil menghela nafas dan memberitahukan.
"Dia bernama Kam Hay Thian." "Kam Hay Thian?" "Julukannya adalah Chu Ok Hiap (Pendekar Pembasmi Penjahat)." "Ayah pernah mendengar itu.
Tapi kenapa dia menjauhi dirimu, apakah dia punya dendam kepadaku?" "Aaaah...!" Lu Hui San menghela nafas panjang lagi.
"Para anggota Hiat Ih Hwee membunuh guru silat Lie dan Lie Beng Cu, maka dia sangat dendam kepada Hiat Ih Hwe, mungkin dia pun akan membunuh Ayah." "Dia punya hubungan apa dengan guru silat Lie dan Lie Beng Cu?" "Dia berhutang budi kepada mereka ayah dan anak.
Karena para anggota Hiat Ih Hwe membunuh mereka, jadi dia pun ingin membalas dendam." "Tapi...." Lu Thay Kam mengerutkan kening.
"Ayah sama sekali tidak kenal guru silat Lie itu, lagi pula ayah tidak pernah perintahkan para anggota Hiat Ih Hwe membunuh guru silat Lie maupun putrinya itu." "Yaaah!" Lu Hui San menghela nafas.
"Karena Ayah ketua Hiat Ih Hwe, maka dia pun akan menuntut balas kepada Ayah." "Oh?" Lu Thay Kam menggeleng-gelengkan kepala.
"Lalu apa kehendakmu, Nak?" "Aku mohon kepada Ayah, jangan turun tangan membunuhnya!
Aku....
Aku sangat mencintainya!
Aku...." "Nak!" Lu Thay Kam tertawa gelak.
"Baik.
Ayah berjanji tidak akan membunuhnya!" "Terimakasih, Ayah!" ucap Lui Hui San sambil bersujud di hadapan Lu Thay Kam, ayah angkatnya itu.
"Terimakasih!" "Bangunlah Nak!" Lu Thay Kam segera membangukannya.
"Engkau memang gadis yang lemah lembut dan baik hati.