"Memangnya aku tidak boleh mengecupnya?" "Tentu boleh, tapi...." Lim Peng Hang tertawa lagi.
"Alangkah baiknya di saat berduaan saja." "Kakek Lim...." Lie Ai Ling membanting- banting kaki.
Sementara Gouw Han Tiong terus memandang Lu Hui San, berselang beberapa saat kemudian ia pun bertanya.
"Hui San, apa rencanamu selanjutnya?" "Aku ingin pergi ke ibu kota menengok ayah angkatku," jawab Lu Hui San.
"Aku rindu kepadanya." "Kapan engkau akan berangkat?" tanya Lim Peng Hang.
"Sekarang," sahut Lui Hui San singkat.
"Apa?" Lie Ai Ling terbelalak.
"Engkau mau berangkat sekarang" Tidak bisa tunggu besok atau lusa?" "Ai Ling!" Lu Hui San menghela nafas panjang.
"Lebih baik aku berangkat sekarang." "Baiklah." Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Tapi engkau harus berhati-hati menjaga diri!" pesannya.
"Ya, Kakek Lim." Lu Hui San mengangguk.
Setelah berpamit, barulah ia meninggalkan markas pusat Kay Pang.
Lim Peng Hang, Gouw Han Tiong dan Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala, sedangkan Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling mengantar gadis itu sampai di luar markas.
"Adik!" Sie Keng Hauw menggenggam tangannya.
"Kapan engkau akan kembali ke sini lagi?" "Entahlah." Lu Hui San menggelengkan kepala.
"Oh ya, kapan kalian punya waktu, kalian boleh ke ibu kota menemuiku." "Baik." Sie Keng Hauw mengangguk.
"Adik, selamat jalan!" "Kak!" Mata Lu Hui San mulai basah.
"Sampai jumpa!" "Hui San...." Mata Lie Ai Ling sudah bersimbah air.
"Selamat jalan!" "Ai Ling!" Lu Hui San tersenyum getir.
"Selamat tinggal, sampai jumpa kelak!" Lu Hui San melangkah pergi.
Setelah gadis itu tidak kelihatan, barulah Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling kembali ke dalam markas sambil menghela nafas panjang.
"Kasihan dia!" Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia betul-betul patah hati." "Mudah-mudahan Hay Thian akan mencintainya kelak!" sahut Sie Keng Hauw dan menambahkan.
"Aku justru masih merasa heran." "Heran kenapa?" "Menurut aku...." Sie Keng Hauw mengerutkan kening.
"Sesungguhnya Kam Hay Thian juga mencintai Hui San, hanya saja ada sesuatu terganjal di dalam hatinya yang membuatnya bersikap dingin dan acuh-tak acuh terhadap Hui San." "Oh?" Lie Ai Ling tertegun.
"Kira-kira apa yang terganjel di dalam hati Kam Hay Thian?" "Entahlah." Sie Keng Hauw menggelengkan kepala.
"Aku tidak mengetahuinya." "Mungkinkah...." Lie Ai Ling mengerutkan kening.
"Kam Hay Thian tahu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam?" "Iya." Sie Keng Hauw mengangguk.
"Mungkin karena itu, maka dia bersikap begitu terhadap Hui San." "Tapi tiada seorang pun memberitahukan pada Kam Hay Thian, bahwa Lu Thay Kam adalah ayah angkat Hui San.
Jadi bagaimana mungkin Kam Hay Thian mengetahuinya?" "Ai Ling!" Sie Keng Hauw tersenyum.
"Engkau harus tahu, Kam Hay Thian sangat cerdas, tentunya dia sudah menduga sampai ke situ." "Kalau begitu...." Kening Lie Ai Ling berkerut-kerut.
"Bukan karena Goat Nio?" "Pasti bukan," sahut Sie Keng Hauw.
"Sebab dia tahu Goat Nio tidak mencintainya, lagi pula dia telah berhutang budi kepada Paman Cie Hiong, tentunya dia tidak berani memikirkan yang bukan- bukan." "Benar." Lie Ai Ling mengangguk.
"Kalau begitu...." Di saat bersamaan, muncullah Tio Bun Yang sambil memandang mereka, kemudian tersenyum seraya berkata.
"Maaf!
Aku telah mengganggu kalian!" "Kakak Bun Yang," sahut Lie Ai Ling.
"Jangan berkata begitu ah!
Masa sih engkau akan mengganggu kami." "Kelihatannya kalian sedang asyik bercakap- cakap, maka...." "Kami sedang membicarakan Lu Hui San dan Kam Hay Thian," potong Lie Ai Ling memberitahukan.
"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.
"Kupikir.
Hay Thian mungkin sudah tahu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam, maka dia menolak cintanya.
Padahal Hay Thian pun mencintai Hui San, tapi...." "Kakak Bun Yang," ujar Lie Ai Ling.
"Kami pun berpikir begitu.
Kini Hui San telah kembali ke ibu kota, kita harus bagaimana?" "Kita tidak bisa turut campur," sahut Tio Bun Yang dan menambahkan.
"Biar dia yang menyelesaikan urusan itu.
Kalau kita turut campur, mungkin akan mengeruhkan urusan itu." "Benar." Sie Keng Hauw manggut-manggut.
"Tapi belum tentu Hay Thian akan ke ibu kota.
Aku justru khawatir dia akan pergi menantang Seng Hwee Sin Kun." "Itu pun mungkin.
Sebab...." Tio Bun Yang mengerutkan kening.
"Dia sangat dendam kepada Seng Hwee Sin Kun." "Kalau begitu...." Wajah Lie Ai Ling agak pucat.
"Bagaimana kalau kita pergi membantu dia?" "Aku bukan tidak mau pergi bantu dia, melainkan...." Tio Bun Yang menghela nafas panjang.
"Adik Ai Ling, aku harus menunggu Goat Nio." "Tapi Hay Thian...." "Ai Ling!" Sie Keng Hauw memandangnya seraya berkata, "Engkau tidak usah cemas, sebab belum tentu Kam Hay Thian akan pergi mencari Seng Hwee Sin Kun, dia tidak akan bertindak sebodoh itu." Lie Ai Ling manggut-manggut.
Tio Bun Yang memandang mereka lalu berkata, "Mari kita masuk dulu!" Mereka bertiga masuk.
Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong masih duduk di situ.
"Bun Yang," tanya Lim Peng Hang.
"Hui San sudah pergi?" "Sudah, Kek," jawab Tio Bun Yang sambil menggelenggelengkan kepala.
"Dia kelihatan berduka sekali." "Yaah!" Lim Peng Hang menghela nafas panjang.
"Entah apa yang akan terjadi?" "Sesungguhnya," ujar Gouw Han Tiong.
"Kam Hay Thian pun mencintainya.
Mungkin dia tahu Hui San adalah putri angkat Lu Thay Kam, maka Kam Hay Thian menolak cintanya." "Kami juga berpikir begitu, tapi...." Tio Bun Yang mengerutkan kening.
"Yang kami cemaskan adalah Kam Hay Thian, mungkin dia pergi menantang Seng Hwee Sin Kun." "Itu belum tentu," sahut Lim Peng Hang.
"Sebab kalian sudah memberitahukan, bahwa Kam Hay Thian pernah bilang rindu sekali kepada ibunya.
Karena itu, dia pasti pulang ke rumahnya untuk menengok ibunya." "Setelah itu...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.
"Dia pasti akan pergi ke Gunung Hek Ciok San.
Aku tidak bisa pergi membantunya, sebab harus menunggu Goat Nio." "Kakek Lim," tanya Lie Ai Ling mendadak.
"Bolehkah kami berdua pergi membantu Kam Hay Thian?" "Tidak boleh." Lim Peng Hang menggelengkan kepala.
"Itu sama juga pergi mencari mati." "Tapi Kam Hay Thian...." Lie Ai Ling mengerutkan kening.
"Dia adalah kawan baik kami." "Benar." Lim Peng Hang manggut-manggut.
"Dia memang kawan baik kalian, namun belum tentu dia akan pergi ke Gunung Hek Ciok San.
Lagi pula sementara ini belum ada kabar beritanya mengenai Seng Hwee Sin Kun, karena itu, aku yakin Kam Hay Thian tidak pergi ke Gunung Hek Ciok San, melainkan akan ke ibu kota." "Kalau begitu...," ujar Lie Ai Ling.
"Hui San dan dia pasti akan bertemu di ibu kota." "Ada baiknya mereka bertemu.
Mudah-mudahan urusan itu dapat diselesaikan dengan baik!" ujar Lim Peng Hang dan melanjutkan.
"Sementara ini kalian bertiga tetap di sini menunggu Goat Nio, jangan ke mana-mana!" Tio Bun Yang, Sie Keng Hauw dan Lie Ai Ling mengangguk.
Di saat itulah Lim Peng Hang teringat sesuatu.
Kemudian ketua Kay Pang itu berkata sambil mengerutkan kening.
"Kelihatannya rimba persilatan akan semakin kacau karena kemunculan Kui Bin Pang (Perkumpulan Muka Setan) yang misterius itu." "Oh ya, apakah Kakek Lim sudah berhasil menyelidiki tentang Kui Bin Pang tu?" tanya Lie Ailng.
"Belum." Lim Peng Hang menggelengkan kepala.
"Sebab sulit sekali melacak Kui Bin Pang itu." "Kui Bin Pang?" Sie Keng Hauw tampak terkejut.
"Bagaimana perkumpulan itu muncul di rimba Persilatan lagi?" "Keng Hauw!" Lie Ai Ling tercengang.
"Engkau tahu tentang Kui Bin Pang itu?" "Tahu sedikit," jawab Sie Keng Hauw memberitahukan.
"Guruku pernah menceritakan kepadaku, perkumpulan itu merupakan perkumpulan misteri sekitar seratus tahun yang silam.
Tapi perkumpulan itu tidak pernah memasuki daerah Tionggoan, hanya bergerak di daerah Gurun Sih lh dan sekitarnya.
Ketua dan para anggota perkumpulan itu berkepandain tinggi sekali, namun pada waktu itu, perkumpulan tersebut mendadak bubar." "Kalau begitu...." Lim Peng Hang menatapnya tajam.
"Gurumu pasti punya hubungan dengan Kui Bin Pang itu." "Entahlah." Sie Keng Hauw menggelengkan kepala.
'Aku tidak mengetahuinva." "Keng Hauw," tanya Gouw Han Tiong.
"Bolehkah Kami tahu siapa gurumu?" "Itu...." Sie Keng Hauw menghela nafas panjang.
"Maaf, Kakek Gouw!
Guruku melarangku menyebut nama maupun julukannya, aku tidak berani melanggarnya." "Ooon!" Gouw Han Tiong manggut-manggut.
"Tidak apaapa.
Tap, bolehkah engkau menceritakan lagi tentang Kui Bin Pang :tu?" Sie Keng Hauw mengangguk, kemudian mulai menceritakan berdasarkan apa yang didengar dari gurunya.
"Kata guruku, ketua perkumpulan itu memiliki ilmu hitam yang sangat hebat, semacam hipnotis.
Siapa yang memandang sepasang matanya, pasti akan terpengaruh oleh ilmu hitamnya itu." "Oh?" Lim Peng Kang mengerutkan kei .ng.
"Tapi kira-kira seratus tahun silam, mendadak ketua perkumpulan itu hilang tiada jejaknya sama sekali.
Sudah barang tentu perkumpulan itu jadi bubar.
Bagaimana mungkin kini muncul lagi?" ujar Sie Keng Hauw kurang percaya.
"Aku dan Goat Nio pernah melihat mereka...," sahut Lie Ai Ling dan menutur tentang itu.
"Oh?" Sie Keng Hauw tertegun.
"Kalau begitu, mereka memang para anggota Kui Bin Pang.
Tapi siapa ketua baru itu" Tidak mungkin ketua lama itu masih hidup." "Kui Bin Pang itu masih belum resmi muncul di rimba persilatan.
Mungkin ketua baru itu sedang menghimpun kekuatan, memanggil para anggota yang bubar itu," ujar Lim Peng Hang sambil menghela nafas panjang.