Halo!

Pendekar Sakti Suling Pualam Chapter 113

Memuat...

aku rindu sekali pada ibuku." "Oh?" Sie Keng Hauw tersenyum.

"Jadi engkau ingin pulang menengok ibumu!" "Entahlah." Kam Hay Thian menghela nafas panjang.

"Aku bingung sekali." "Kenapa bingung?" tanya Lie Ai Ling sambil menatapnya.

"Apa yang engkau bingungkan" Bolehkah kami tahu?" "Itu...." Kam Hay Thian mengerutkan kening, kelihatannya dia tidak mau memberitahukan.

"Beritahukanlah!" desak Lie Ai Ling.

"Ai Ling, jangan mendesaknya!" cegah Sie Keng Hauw.

"Itu tidak baik." "Aaaa...!" Mendadak Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Mungkin dikarenakan aku." "Kenapa dikarenakan engkau?" Lie Ai Ling tercengang.

"Karena...." Mata Lu Hui San mulai basah.

"Yaaah, sudahlah!" "Adik!" Sie Keng Hauw memandangnya, kemudian memandang Kam Hay Thian seraya berkata, "Apa kekurangan adikku, sehingga engkau bersikap begitu dingin terhadapnya?" "Kak!" Lu Hui San memandang Sie Keng Hauw sambil menggelengkan kepala, itu agar Sie Keng Hauw diam.

"Memang," sela Lie Ai Ling sambil memandang Kam Hay Thian dengan wajah tidak senang.

"Engkau sungguh keterlaluan, Hui San begitu baik dan amat mencintaimu, tapi engkau malah...." "Kalian harus tahu perasaanku," sahut Kam Hay Thian, kemudian menghela nafas panjang.

"Aku...." "Kenapa engkau?" tanya Lie Ai Ling ketus.

"Terlampau banyak yang kupikirkan, sehingga membuat diriku...." Kam Hay Thian menggeleng- gelengkan kepala.

"Aku mohon maaf!" "Sudahlah!" Sie Keng Hauw tersenyum.

"Biar bagaimana pun, kita semua tetap kawan baik!" "Terimakasih!" ucap Kam Hay Thian.

Mereka berempat melanjutkan perjalanan lagi menuju markas pusat Kay Pang.

Malam harinya mereka bermalam di rumah penginapan.

Sie Keng Hauw sekamar dengan Kam Hay Thian, Lie Ai Ling sekamar dengan Lu Hui San.

Keesokan harinya ketika hari baru mulai terang, Lie Ai Ling dan Lu Hui San dikejutkan oleh suara ketukan pintu.

Kedua gadis itu segera meloncat bangun seraya bertanya.

"Siapa?" "Aku!" suara sahutan Sie Keng Hauw.

Lie Ai Ling cepat-cepat membuka pintu kamar.

Dilihatnya wajah Sie Keng Hauw agak lain.

"Keng Hauw, apa yang terjadi?" "Hay Thian pergi tanpa pamit," sahut Sie Keng Hauw sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Apa?" Lie Ai Ling tertegun.

"Maksudmu Hay Thian pergi secara diam-diam?" "Ya." Sie Keng Hauw mengangguk sambil melirik Lu Hui San.

Wajah gadis itu nampak murung sekali.

"Dia...

dia telah pergi seorang diri?" tanya Lu Hui San seakan bergumam.

"Kenapa dia memisahkan diri dengan kita?" "Dia memang keterlaluan," ujar Lie Ai Ling dengan wajah tidak senang.

"Bahkan juga tak tahu diri." "Sudahlah!" Lu Hui San menggeleng-gelengkan kepala.

"Biarlah dia pergi, mungkin itu akan membebaskan beban pikirannya." "Aku sungguh tidak mengerti," ujar Sie Keng Hauw dengan kening berkerut-kerut.

"Kenapa dia begitu macam" Aaaah...!" "Keng Hauw, mungkinkah dia pergi ke Gunung Hek Ciok San (Gunung Batu Hitam) untuk bertarung dengan Seng Hwee Sin Kun?" tanya Lie Ai Ling dengan wajah berubah.

"Itu...." Pikir Sie Keng Hauw sejenak, kemudian menggelengkan kepala seraya berkata.

"Mungkin tidak, kemungkinan besar dia pulang ke rumahnya menengok ibunya.

Bukankah kemarin dia bilang rindu sekali kepada ibunya?" "Benar." Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke rumahnya?" "Engkau tahu rumahnya?" tanya Sie Keng Hauw.

"Tidak tahu," sahut Lie Ai Ling sambil memandang Lu Hui San seraya bertanya.

"Engkau tahu?" "Aku pun tidak tahu," jawab Lu Hui San.

"Yaah!" Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

"Kita bertiga tidak tahu rumahnya, lalu apa langkah kita?" "Melanjutkan perjalanan, ke markas pusat Kay Pang, lalu kita berunding dengan Kakek Lim dan Kakek Gouw," ujar Sie Keng Hauw.

"Benar." Lie Ai Ling mengangguk.

"Kalau begitu, mari kita berangkat!

Jangan membuang- buang waktu di sini!" Sie Keng Hauw dan Lu Hui San mengangguk.

Mereka bertiga lalu berangkat ke markas pusat Kay Pang.

Lu Hui San membungkam dengan wajah murung sepajang jalan, Sie Keng Hauw menggeleng-gelengkan kepala.

"Adik, sudahlah!" ujarnya lembut.

"Jangan terus memikirkan Hay Thian, dia begitu macam, tiada guna memikirkannya!" "Aku...." Lu Hui San menundukkan kepala.

"Tidak disangka, hatinya begitu dingin!" "Hmm!" dengus Lie Ai Ling.

"Dia memang tak tahu diri dan tak kenal budi.

Engkau yang membopongnya sampai ke Pulau Hong Hoang To, bahkan demi dirinya engkau pun tahan lapar dan ngantuk terus membopongnya.

Tapi sebaliknya dia...." "Aaaah...!" Lu Hui San menghela nafas panjang.

"Jangan mempersalahkannya!

Dia adalah kawan baik kita, maka aku...

aku harus membopongnya sampai di Pulau Hong Hoang To itu." "Hui San...." Li Ai Ling menatapnya iba, kemudian menggeleng-gelengkan kepala.

"Sudahlah!

Mulai sekarang engkau tidak perlu memikirkannya lagi!" "Ng!" Lu Hui San mengangguk.

"Aku akan berusaha melupakannya." "Benar." Lie Ai Ling manggut-manggut.

"Engkau memang harus melupakannya, tiada artinya engkau memikirkannya." -ooo0dw0ooo- Beberapa hari kemudian, mereka bertiga sudah tiba di markas pusat Kay Pang.

Betapa gembiranya Lie Ai Ling ketika melihat Tio Bun Yang berada di situ.

Kemudian gadis itu berseru-seru.

"Kakak Bun Yang!

Kakak Bun Yang!" Lie Ai Ling langsung mendekap di dadanya.

"Kakak Bun Yang...." "Adik Ai Ling!" Tio Bun Yang membelainya dengan penuh kasih sayang.

"Oh ya, pemuda itu...." "Dia adalah Sie Keng Hauw.

Kakak Bun Yang pasti ingat dia," sahut Lie Ai Ling sambil tertawa gembira.

"Oooh!" Tio Bun Yang manggut-manggut.

"Dia putra Sie Kuang Han!

Bagus!

Bagus!" "Saudara Tio!" Sie Keng Hauw memberi hormat.

"Terimakasih atas budi pertolonganmu yang telah menyelamatkan nyawa ayahku, bahkan mempertemukan Hui San dengan ayahku pula!" "Saudara Sie!" Tio Bun Yang tersenyum.

"Engkau tidak usah berterimakasih kepadaku.

Kita semua adalah kawan baik, jadi...

harus tolong- menolong dalam hal apa pun." "Saudara Tio, engkau sungguh berjiwa besar!" ujar Sie Keng Hauw, kemudian memberi hormat kepada Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong.

"Kakek Lim, Kakek Gouw!" "Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak.

"Silakan duduk!

Silakan duduk!" "Terimakasih!" ucap Sie Keng Hauw sambil duduk, Lie Ai Ling duduk di sebelahnya.

"Eeeh?" Gadis itu menengok ke sana ke mari, seperti sedang mencari sesuatu.

"Kok Goat Nio tidak kelihatan" Apakah dia berada di dalam?" "Dia belum kembali," sahut Tio Bun Yang sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Aku sudah ke Gunung Thian San, namun tidak bertemu dia." "Apa?" Lie Ai Ling terbelalak.

"Jadi hingga saat ini dia belum kembali" Apakah telah terjadi sesuatu atas dirinya?" "Itulah yang ku khawatirkan," Tio Bun Yang menggelenggelengkan kepala lagi.

"Kakak Bun Yang," tanya Lie Ai Ling.

"Kenapa engkau tidak pergi mencarinya?" "Aku memang ingin pergi mencarinya, tapi...." Tio Bun Yang memandang Lim Peng Hang.

"Kakek melarangku pergi mencarinya." "Lho" Kenapa?" Lie Ai Ling heran.

"Percuma Bun Yang pergi mencari Goat Nio, sebab kita sama sekali tidak tahu dia berada di mana.

Lalu Bun Yang harus ke mana mencarinya" Bukankah lebih baik menunggu di sini, agar tidak terjadi selisih jalan lagi?" ujar Lim Peng Hang, kemudian bertanya, "Oh ya, bagaimana keadaan Kam Hay Thian, Yatsumi dan Bokyong Sian Hoa di sana?" "Mereka baik-baik saja.

Tapi Kam Hay Thian...." Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Kenapa dia?" tanya Tio Bun Yang tegang, "Sebetulnya dia ke mari bersama kami, tapi di tengah jalan dia pergi secara diam-diam," jawab Lie Ai Ling memberitahukan.

"Dia memang sengaja memisahkan diri dengan kami." "Kenapa begitu?" Tio Bun Yang mengerutkan kening.

"Apakah kalian bertengkar?" Lie Ai Ling menghela nafas panjang.

"Hui San sangat mencintainya, tapi dia malah bersikap dingin dan acuh tak acuh terhadap Hui San...." "Ai Ling!" panggil Lu Hui San, agar Lie Ai Ling tidak melanjutkan ucapannya.

"Sudahlah!

Jangan membicarakan tentang itu lagi!" "Hui San...." Lie Ai Ling menggeleng-gelengkan kepala.

"Terus terang, aku...

aku bersimpati dan merasa kasihan kepadamu." "Ai Ling!" Lui Hui San tersenyum getir.

"Mungkin sudah nasibku, mau bilang apa?" "Kalau aku bertemu Kam Hay Thian, aku pasti akan menasihatinya." ujar Tio Bun Yang berjanji.

"Bun Yang!" Lim Peng Hang mengerutkan kening.

"Percuma engkau menasihatinya." "Kenapa, Kakek?" tanya Tio Bun Yang heran.

"Sebab...." Lim Peng Hang menghela nafas panjang.

"Cinta tidak bisa dipaksa, maka percuma engkau menasihatinya." "Tapi...." Tio Bun Yang menggeleng-gelengkan kepala.

"Hui San...." "Terimakasih atas maksud baikmu, Kakak Bun Yang!" ucap Lu Hui San dan menambahkan.

"Memang tidak salah, cinta tidak bisa dipaksa.

Maka engkau tidak usah menasihatinya mengenai ini, percuma!" "Tio Bun Yang manggut-manggut, kemudian mengalihkan pembicaraan tentang Bu Ceng Sianli.

"Oh?" Lie Ai Ling terbelalak setelah mendengar penuturan itu.

"Bidadari Tanpa Perasaan merupakan gadis yang cantik jelita?" "Ya." Tio Bun Yang mengangguk.

"Tapi dia sadis sekali." "Hi hi hi!" Lie Ai Ling tertawa.

"Kalau dia tidak sadis, bagaimana mungkin memperoleh julukan itu" Namun orangorang yang dibunuhnya itu adalah para penjahat." "Walau para penjahat, tapi seharusnya dia memberi ampun kepada mereka.

Dia tidak perlu membunuh, cukup melukai mereka saja," ujar Tio Bun Yang.

"Saudara Tio!" Sie Keng Hauw tersenyum.

"Kalau kita memberi ampun kepada para penjahat, justru akan membuat mereka semakin jahat." "Itu belum tentu," sahut Tio Bun Yang.

"Mungkin mereka akan kembali ke jalan yang benar." "Ha ha ha!" Lim Peng Hang tertawa gelak.

"Engkau memang seperti ayahmu, berhati bajik, bijak dan selalu mengampuni orang." "Kakak Bun Yang memang begitu," sela Lie Ai Ling lalu memandang Sie Keng Hauw seraya berkata, "Engkau harus belajar seperti Kakak Bun Yang lho!" "Ya." Sie Keng Hauw mengangguk sambil tersenyum.

"Aku menuruti perkataanmu." "Keng Hauw!" Lie Ai Ling tersenyum manis.

"Sungguh baik engkau, mudah mudahan selamanya engkau tetap begini terhadapku!" "Jangan khawatir!" Sie Keng Hauw menggenggam tangannya erat-erat.

"Cintaku terhadapmu takkan luntur selama-lamanya." "Terimakasih, Keng Hauw!" ucap Lie Ai Ling, kemudian mendadak mengecup pipinya.

"Haaah...?" Wajah Sie Keng Hauw kemerah-merahan, namun bergirang dalam hati.

Kalau hanya berduaan, pemuda itu pasti balas mengecupnya.

"Ha ha ha!" Lim Peng Hang dan Gouw Han Tiong tertawa terbahak-bahak.

"Bukan main kecupan itu, sungguh mengesankan!" Wajah Lie Ai Ling langsung memerah.

Gadis itu tidak menyangka Lim Peng Hang akan menggodanya.

"Kakek Lim...." Lie Ai Ling cemberut.

Post a Comment