Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 39

Memuat...

Tidak, nyonya. Saya sudah sembuh. Sheila datang mendekat, dan duduk di atas batu yang lebih rendah tak jauh dari batu yang diduduki Bu Beng Kwi. Sejenak wanita itu nampak canggung dan ragu, akan tetapi ia selalu menelan ludah dan memaksa diri menyatakan isi hatinya.

Taihiap, maafkan kelancanganku, akan tetapi...... aku merasa seolah-olah taihiap selalu menjauhkan diri dariku. Karena itu, timbul keraguan di hatiku, timbul perasaan takut kalau-kalau aku telah melakukan hal-hal yang tidak menyenangkan hatimu. Taihiap, katakanlah terus terang, apakah kehadiranku di tempat ini sebetulnya tidak kaukehendaki? Apakah...... apakah sebetulnya taihiap membenci aku? Katakanlah terus terang, kebetulan kita mendapat kesempatan untuk bicara berdua di sini. Semua ini memang sudah lama berkecamuk di dalam hati Sheila dan baru sekarang ua kemukakan karena ia merasa tidak tahan tersiksa oleh dugaan-digaan ini.

Dijauhkan Tuhan aku dari perasaan tidak senang, apalagi benci terhadap dirimu, Gan-toanio.

Kalau begitu, kenapa engkau selalu menjauhkan diri dariku, seperti......

seperti orang yang tidak suka bertemu denganku, taihiap? Padahal aku......

aku...... selalu berusaha untuk menyenangkan hatimu...... Bu Beng Kwi turun dari atas batu itu dan diapun duduk berhadapan dengan Sheila, di atas batu yang rendah dan lebat. sepasang matanya yang mencorong sinarnya itu menatap wajah Sheila penuh selidik, akn tetapi Sheila juga memandang kepadanya, tanpa ragu- ragu dan tidak menundukkan pandang matanya. sejenak mereka saling pandang dan terdengar Bu Beng Kwi berkata, suaranya gemetar.

Gan-toanio, harap engkau suka berterus terang kepadaku. kenapa engkau......

demikian baik kepadaku? Engkau bukan saja menyerahkn anakmu dengan tulus ikhlas, akan tetapi engkaupun bekerja mati-matian di sini untuk menyenangkan hatiku. bahkan ketika aku erluka, engkau...... ah, tidakkuat aku menerima semua kebaikan itu. Kenapakah, toanio? Kenapa engkau lakukan semua kebaikan itu? Kenapa engkau begini baik terhadap diriku? Sheila menghadapi pertanyaan ini dengan tabah dan iapun memandang dengan senyum dan wajah berseri,

Taihiap, mula-mula aku sendiripun tidak mengerti. Mula-mula karena aku berterima kasih kepadamu bahwa engkau telah menyelamatkan kami dari orang-orang Tai Peng itu. Kemudian, setelah berada di sini, aku merasa berterima kasih dan kagum kepadamu, dan akupun mersa amat iba kepadamu, taihiap. Rasa iba ini yang membuat aku mau melakukan apa saja untukmu karena aku...... aku sayang kepadamu, aku suka kepadamu, aku kasihan kepadamu dan aku cinta kepadamu, taihiap. Sebagai seorang wanita barat, walaupun merasa kikuk, Sheila tentu saja jauh lebih terbuka daripada wanita umumnya, dan dalam hal cinta mencinta, ia merasa berhak pula mengemukakan isi hatinya dengan terus terang. Ucapan terakhir itu seperti pukulan yang menghantam kepala Bu Beng Kwi. Dia tersentak dan kepalanya terdorong ke belakang, kedua matanya dipejamkan dan ada rintihan halus keluar dari dadanya, tertahan di kerongkongannya. sejenak dia memejamkan mata dan tidak menjawab. Sheila memandangnya dan wanita ini merasa terharu.

Taihiap, aku adalah seorang wanita asing, berkulit putih dan myngkin engkau berjiwa pejuang benci kepada kulit putih. Akan tetapi, kasihanilah aku karena di tempat ini aku menemukan kebahagiaan yang selama ini tak pernah kurasakan semenjak suamiku tewas. Aku merasa bahwa di sinilah tempatku, di sisimu, dan aku ingin melayani semua kebutuhanmu selama hidupku, taihiap. Hanya engkau seorang yang dapat kegantungi nasib kami, aku merasa aman tenteram, bahagia dan tidak kekurangan sesuatu. Terdengar Bu Beng Kwi menarik napas panjang dan bibirnya berbisik,

Ya Tuhan, godaan dan siksaan apalagi yang harus hamba derita sebagai hukuman dosa hamba......? Karena bisikannya lirih sekali dan tidak terdengar oleh Sheila, wanita ini bertanya,

Taihiap, apa yang kau katakan? Inilah saatnya, pikir Bu Beng Kwi. selama beberapa hari ini, bahkan lebih lama lagi, dia tersiksa oleh keputusan yang harus diambilnya. memang membutuhkan keberanian yang amat besar, dan bahkan mungkin akan mengorbankan seluruh sisa hidupnya, mengorbankan harapannya, kebahagiaannya dan segala-galanya. Ini putusan untuk membukanya sekarang juga.

Sheila...... Panggilan yang baru pertama kali keluar dari mulutnya itu kaku dan asing, namun terdengar merdu bagi Sheila yang memandang dengan wajah berseri. betapa ia sudah lama mengharapkan pendekar itu akan menyebut namanya begitu saja, bukan nyonya atau Gan-toanio seperti biasanya, dengan sikap hormat dan dingin sekali.

Ya, taihiap......? jawabnya dengan suara gemetar pula penuh harap cemas. Selama hidupku, aku bergelimang dengan dosa, bahkan aku tidak pernah mengerti, tidak pernah dapat merasakan apa artinya cinta. Yang ada padaku selama itu hanyalah nafsu semata, kejahatan, kebencian dan kekejaman. Akan tetapi sekarang, setelah aku menjadi tua, setelah aku menjadi buruk, menjadi cacat, aku. aku

telah jatuh cinta...... kepadamu ahhh...... Akan tetapi Sheila tersenyum dan iapun mendekat, memegang tangan pendekar itu.

Taihiap! Betapa bahagianya hatiku mendengar itu, taihiap! Apa salahnya kalau orang yang semulia engkau ini jatuh cinta?

Akan tetapi aku sudah tua, usiaku sudah setengah abad". Cinta tidak mengenal usia, taihiap, cinta itu kekal dan suci

Tapi, aku yang begini buruk, seperti setan...... siapapun merasa jijik melihatku, apalagi seorang wanita sehalus dan selembut engkau.

Tidak, taihiap! Engkau seorang laki-laki sempurna, engkau mulia dan cacatmu hanyalah cacat lahiriah belaka, hanya sedalam kulit. Siapa jijik kepadamu? Aku tidak! Aku cinta padamu, aku kasihan kepadamu...... siapa bilang jijik. ?

Dan dalam kebahagiaannya mendengar bahwa pria yang dipujanya ini ternyata juga mencintanya, hal yang sama sekali tak pernah dibayangkannya,

Bahkan agak mengejutkan karena tadinya ia mengira bahwa pria itu benci kepadanya, Sheila lalu merangkul dan mencium bibir Bu Beng Kwi dengan penuh perasaan cintanya! Sedu sedan keluar dari dalam dada Bu Beng Kwi, tertahan di tenggorokannya dan menjadi rintihan ketika dia merasakan bibir yang lembut dan hangat wanita itu menyentuh bibirnya. Ingin dia meronta dan menolak, namun seluruh badannya seperti lumpuh dan dia tidak dapat menahan kedua lengannya yang penuh gairah merangkul dan mendekap, kemudian menekan muka wanita itu ke dadanya, seolah-olah dia ingin menyimpan tubuh wnita itu seluruhnya ke dalam hatinya. Akan tetapi, dia sadar dan dengan cepat, namun lembut, dia melepaskan rangkulannya, bahkan melepaskan diri dari rangkulan Sheila, bangkit berdiri dan melangkah mundur lima langkah.

Sheila, jangan...... jangan lagi sentuh diriku...... ah, aku mohon padamu, jangan engkau siksa hatiku lagi...... lebih baik engkau bunuh aku sekarang juga, Sheila...... Dan tiba-tiba Bu Beng Kwi menjatuhkan diri berlutut dan mengeluarkan sebatang pedang dari balik jubahnya, menyerahkan pedang itu kepada Sheila, mengulurkan gagangnya ke arah wanita itu. Sheila juga bangkit berdiri dan memandang terbelalak, mukanya pucat dan iapun cepat menjatuhkan diri berlutut di depan pria itu.

Taihiap, apa artinya ini......? tanyanya, penuh tuntutan karena ia sama sekali tidak mengerti akan sikap pria itu.

Sheila, aku seorang laki-laki yang buruk rupa, cacat, dan usiaku sudah lenjut, sudah setengah abad lebih dan engkau masih muda, baru tiga puluh tahun lebih, dan engkau cantik jelita. Aku tidak berhak menyeretmu ke dalam ketuaan dan keburukan. Dan engkau berbudi agung dan mulia, sebaliknya aku..... ah, engkau tidak tahu orang macam apa aku ini.

Aku tahu, taihiap. Engkau adalah seorang pria yang mulia, yang gagah perkasa, dan dibalik kecacatanmu itu engkau menyembunykan cinta kasih yang suci, engkau sorang berilmu tinggi, penentang kejahatan. Aku memujimu, taihiap, aku mengagumimu dan aku mencintaimu.

Tidak......! Tunggu dulu, Sheila. buka matamu baik-baik dan lihatlah siapa aku. !

Suara itu menggetar dan tidak jelas, dan tangan kiri Bu Beng Kwi meraba mukanya, kemudian jari-jari tangannya mengupas atau menarik kulit muka itu dan. muka

itu berobah. Kiranya muka yang seperi setan itu, yang buruk sekali pletat- pletot, yang matanya besar sebelah, hidungnya nyerong dan mulutnya miring, telinganya kecil, semua itu hanyalah semacam topeng yang amat tipis, seperti kulit dan kini setelah topeng itu dilepas, nampaklah wajah yang tidak dapat dibilang buruk, tidak cacat, dengan kulit muka agak gelap. Begitu melihat muka ini, sepasang mata yang sudah lebar dari Sheila itu terbellak menjadi semakin lebar, mukanya menjadi pucat seperti tidak ada darahnya lagi, bapasnya terhenti dan bibirnya berkemak-kemik,

...... kau...... kau...... Koan...... Koan...... Koan Jit......! tiba-tiba ia menjerit nyaring sekali dan tubuhnya terkulai.

Ibuuuu...... ibuuuu......! dari jauh terdengar suara Han Le memanggil. Karena tidak meliht ibunya dan gurunya, anak ini mencari-cari dan akhirnya dia tiba di kaki bukit dan memanggil-manggil. Bu Beng Kwi mengenakan lagi topengnya, lalu mengurut tengkuk dan punggung Sheila yang tadi disambarnya dengan tangan sehingga wanita itu tidak sampai jatuh terbanting ketika terkulai pingsan.

Begitu siuman, Sheila terisak dan teringat, lalu menutupi mulut yang hendak menjerit lagi, kini terbelalak melangkah mundur sambil menatap wajah yang sudah mengenakan topeng setan itu lagi.

Mimpi...... mimpikah aku......? Taihiap...... kau. kau

Engkau tidak mimpi, aku bukanlah pendekar budiman seperti yang kau sangka, Sheila. Aku adalah manusia terkutuk pembunuh suamimu, perusak kebahagiaan hidupmu, akulah manusia iblis yang amat kejam dan jahat itu. Nah, tusuklah dada ini dengan pedang, terimalah pedang ini dan balaslah kematian suamimu agar lega hatimu, lega pula hatiku. Aku siap menerima hukuman di tanganmu.

Kini tanpa ragu-ragu lagi Sheila menerima pedang itu, digenggamnya erat-erat. Wajahnya masih pucat dan di dalam keremangan malam yang mulai tiba karena matahari sudah sejak tadi tenggelam, ia siap menusukkan pedang itu. Ia mengangkat muka memandang wajah itu, wajah yang amat buruk, wajah yang mendatangkan rasa iba dan kasih sayangnya, dan tiba-tiba tangan yang memegang pedang itu gemetar. Akan tetapi ia menguatkan hatinya, mengingat bahwa di balik wajah itu yang hanya sehelai topeng terdapat wajah musuh besarnya, wajah yang amat dibencinya, wajah Koan Jit pembunuh suaminya. Tangannya menjadi kuat

Ibuuuu......! Tiba-tiba terdengar teriakan Han Le tak jauh di belakangnya, dan seketika tangan itu menjadi lemas kembali. Hampir saja ia membunuh orang yang menjadi penolongnya, penolong puteranya, guru puteranya, dan laki-laki yang dicintanya! Kembali Sheila mengeluarkan suara menjerit, suara yang melengking karena keluar dari dalam hatinya, suara lengkingan yang mengandung rasa nyeri bukan main, pedih perih dan duka, dan dibuangnya pedang itu seperti membuang seekor ular yang menjijikkan. Kemudian, sambil terisak ia membalik.

Ibu......! Ada apakah......? Han Le sudah tiba di situ dan memegang tangan ibunya.

Henry...... Oohhh...... Henry anakku......! Sheila merangkul anaknya dan menangis tersedu-sedu.

Ibu, ibu...... ada apakah......? Han Le mengguncang tangan ibunya dan menjadi bingung, juga penuh kekahawatiran. Dia melihat gurunya hanya berdiri sambil menundukkan mukanya, seperti patung.

Suhu ada apakah? Akan tetapi suhunya tidak menjawab.

Post a Comment