Hukkk!! Tubuh si gendut itu terlempar jauh ke belakang setelah perutnya dimasuki tangan itu. Tubuh yang gendut itu terbanting keras di atas tanah dan si gendut itu tidak dapat bangun, hanya mengaduh-aduh memegangi perutnya yang terasa mulas dan kepalanya yang benjol-benjol karena ketika terbanting tadi, kepalanya bertemu dengan batu yang keras. Si tinggi besar menyerang pada detik berikutnya, tidak mampu menolong temannya dan kedua lengannya yang panjang itu sudah menyambar, yang kiri mencengkeram ke arah kepala Bu Beng Kwi sedangkan yang kanan menghantam ke arah lambung. Serangannya dahsyat dan kuat bukan main sampai terdengar suara angin bercuitan ketika kedua lengan panjang itu bergerak.
Akan tetapi Bu Beng Kwi yang sudah marah bukan main itu tidak memberi kesempatan kepada lawan kedua ini. Sebetulnya, kalau saja Bu Beng Kwi tidak terluka karena serangan gelap ketika dia dalam keadaan tidak sadar tadi, mungkin dia tidak akan menurunkan tangan besi karena tingkat kepandaian dua orang itu masih jauh di bawah kalau dibandingkan dengan tingkatnya. Begitu melihat lengan yang tadi memukulnya menyambar, dia memapaki dengan tangan kanannya, menangkap tangan yang mencengkeram ke arah kepalanya. Dua tangan yang jari-jarinya terbuka itu saling bertemu dan saling cengkeram, sedangkan lengan kiri Bu Beng Kwi menagkis tangan yang menghantam lambung, dan meneruskan tangkisan itu dengan mendorong dada lawan dengan telapak tangan yang menangkis itu.
Aughhhh......! Si tinggi besar menjerit kesakitan karena lima buah jari yangan kirinya yang saling cengkeram dengan tangan kanan lawan itu terasa nyeri dan terdengar tulang-tulang lima jarinya patah-patah, kemudian setelah pukulannya pada lambung tertangkis, tiba-tiba telapak tangan Bu Beng Kwi sudah mengenai dadanya. Desss....... Tubuhnya terlempar dan menimpa tubuh si gendut! Dua orang tokoh Pat-kwa-pai itu adalah orang-orang yang sudah cukup tinggi tingkatnya di perkumpulan mereka, karena mereka adalah tokoh tingkat tiga. Maka dapat dibayangkan betapa terkejut hati mereka ketika menghadapi Bu Beng Kwi, dalam segebrakan saja mereka telah menderita luka parah.
Mereka menjadi ketakutan dan sambil setengah merangkak dan saling bantu, keduanya bangkit melarikan diri tinggang langgang tanpa pamit lagi. Bu Beng Kwi tidak melakukan pengejaran, melainkan berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang lebar, gagah dan menakutkan lawan. diam-diam Sheila yang nonton semua peristiwa itu, merasa kagum. Pahlawannya, penolongnya itu memang hebat bukan main! Akan tetapi, wanita ini menjerit ketika melihat betapa tiba-tiba tubuh yang jangkung itu terkulai dan roboh di atas tanah di dalam kebun itu! Sheila melupakan semua rasa sungkan dan takut, lalu ia berlari menghampiri. Melihat Bu Beng Kwi rebah miring, ia lalu berlutut dan memeriksa. ketia dalam cuaca remang-remang itu ia melihat wajah yang pucat itu, dan darah berlepotan mengalir keluar dari mulutnya, ia menjadi panik.
Taihiap......! Ia menubruk dan mengguncang-guncang pundak Bu Beng Kwi. Ahh, taihiap...... sadarlah......! Taihiap......! Melihat betapa ketika diguncang itu Bu Beng Kwi sama sekali tidak bangun, bahkan kepalanya nampak lemas terkulai seolah-olah dia sudah tidak bernyawa lagi, Sheila menjadi khawatir sekali.
Diguncang-guncang tubuh itu, didekapnya kepala itu, dipanggil- panggilnya, namun tetap saja Bu Beng Kwi tidak bergerak.
Ibu, ada apakah, ibu?
Ahh, Henry, cepat bantu aku. gurumu telah berkelahi dan dia terluka parah. Mari kita angkat tubuhnya ke dalam pondok, kata Sheila ketika melihat munculnya Han Le yang terkejut dan terbangun dari tidurnya mendengar jerit ibunya tadi. Han Le terkejut, hampir tak dapat percaya bahwa gurunya dapat terluka patah dalam perkelahian. namun dia tidak bertanya lebih lanjut, membantu ibunya dan dengan sudah payah mengangkut tubuh Bu Beng Kwi yang berat itu, setengah menyeret dan setengah mendukungnya, masuk ke dalam rumah dan erus k dalam kamar Bu Beng Kwi. Setelah tubuh itu direbahkan di atas pembaringan dan Sheila menyalakan lma batang lilin, ia semakin gelisah melihat betapa wajah yang buruk itu nampak sama sekali tidak memperlihatkan tanda-tanda hidup. Hanya ketika ia meraba dadanya, jantungnya masih berdetak dan napasnya, walaupun lambat, masih berjalan.
Cepat, kau masakkan air, Henry! kata Sheila. Anaknya itu tanpa bertanya apapun cepat melaksanakan perintah ibunya. Sheila menyuruh Han Le karena ia sendiri tidak sampai hati meninggalkan Bu Beng Kwi. Ia mempergunakan kain putih yang dibasahi dengan arak yang menghapus darah yang berlepotan di mulut Bu Beng Kwi. Hati Sheila takut bukan main tajut bukan main, khawatir kalau-kalau penolongnya itu tewas. membayangkan betapa penolongnya itu tewas, tak terasa lagi air matanya bercucuran dan iapun menangus sambil merangkul leher yang kokoh kuat itu. Ia menyandarkan mukanya di dada yang bidang itu sambil menangis.
Ketika Han Le masuk membawa air panas, dia melihat ibunya menangis dalam keadaan seperti itu dan diam-diam anak ini merasa heran, juga terharu. Dia sendiri amat sayang kepada gurunya, akan tetapi tak pernah ia melihat ibunya demikian dekat dengan gurunya. Diapun membantu ibunya mencuci muka, kaki dan tangan gurunya dengan air panas, terutama sekali menggunakan kain yang direndam air panas untuk memebersihkan dada dan tubuh atas yang telah ditelanjangi karena ketika Sheila memeriksa, dia melihat tanda tapak tangan menghitam pada dada yang bidang itu.
Bu Beng Kwi memang terluka parah dan kalau saja dia tidak memiliki tubuh yang terlatih dan amat kuat, tentu pukulan dahsyat yang dilakukan lawan ketika dia dalam keadaan tidak sadar itu sudah menewaskannya. Dia belum tewas, akan tetapi luka parah itu membuat dia tidak sadar selama tiga hari tiga malam!
Dan selama itu, Sheila tak pernah meninggalkannya lama-lama. Bahkan wanita ini hampir tidak makan, juga tidak pernah tidur walaupun puteranya membujuknya.
Sheila merawat Bu Beng Kwi, menyuapkan air bubur encer ke dalam mulut yang masih mampu menelan dalam keadaan setengah sadar namun masih selalu memejamkan mata dan tak pernah mengeluarkan suara itu. Pada hari keempat, pagi-pagi sekali Bu Beng Kwi menggerakkan pelupuk matanya, tubuhnya tergetar sedikit, dan diapun membuka kedua matanya. Dilihatnya Sheila tertidur sambil bersandar pada kursi di dekat pembaringan, sambil berlutut di bawah pembaringannya, Sedangkan Han Le duduk di tepi pembaringan. Anak itu tadinya melenggut karena kantuk, akan tetapi agaknya dia merasa bahwa gurunya bergerak, maka diapun cepat mendekatkan mukanya.
Suhu......! katanya lirih.
Ssttt...... Bu Beng Kwi memberi tanda agar anak itu tidak berisik sambil melirik ke arah Sheila yang tidur pulas bersandarkan kursi. Jangan ribut, ibumu sedang tidur. Sambil berbisik Han Le berkata,
Benar, kasihan ibu. sudah tiga hari dua malam ia tidak tidur dan baru malam ini saking lelahnya ia tertidur dan teecu menggantikannya menjaga suhu. Bu Beng Kwi terkejut.
Tiga hari tiga malam? Kau maksudkan aku pingsan selama itu. ?
Benar, suhu. Dan ibu selama itu menjaga suhu, menyuapkan air bubur, membersihkan tubuh suhu...... katanya dengan bangga.
Ahhh......! Bu Beng Kwi membuang muka agar anak itu tidak melihat betapa kedua matanya menjadi basah. seringkali dia merasa heran mengapa semenjak bertemu dengan Sheila, seringkali dia tidak dapat menahan mengalirnya air matanya, bahkan menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Padahal, dahulu dia tidak pernah mengenal tangis! Walaupun pernah dia menyesal secara mendalam, namun baru setelah dia bertemu Sheila saja dia banyak menangis. Hatinya diliputi keharuan yang mendalam dan iapun memejamkan matanya kembali, seperti hendak mengusir bayangan betapa wanita itu selama tiga hari tiga malam menjaganya tanpa tidur, mungkin tanpa makan, merawatnya penuh perhatian.
Bayangan ini seperti pedang berkarat yang menghunjam dan menembus jantungnya, membuat napasnya menjadi sesak dan kesehatannya yang belum pulih kembali itu tidak kuat menerimanya, membuat dia terkulai dan pingsan lagi. Han Le mengira suhunya tertidur, maka dengan hati lega karena suhunya sudah sadar dan bicara, diapun duduk melenggut dan akhirnya diapun terkulai dan tertidur di tepi pembaringan. Ketika Sheila terbangun, dilihatnya puteranya tertidur pulas di tepi pembaringan, dan Bu Beng Kwi masih seperti malam tadi, rebah seperti orang pulas atau pingsan. Akan tetapi dengan hati agak lega dilihatnya betapa tarikan napas Bu Beng Kwi sudah panjang-panjang dan lancar, juga ketika ia menyentuhnya, kaki tangannya sudah hangat dan merah, tidak pucat dingin seperti kemarin.
Henry, bangunlah dan cepat masak air dan masak bubur, katanya menggugah puteranya. Han Le terbangun.
Ibu, semalam suhu telah sadar dan bicara sebentar denganku.
Ah, benarkah? Atau engkau hanya bermimpi? Buktinya engkau tertidur pulas. Han Le menjadi ragu sendiri. Benarkah dia melihat suhunya sadar? Ataukah hanya mimpi belaka? Diapun cepat turun dan pergi ke dapur, sementara Sheila pergi mencuci muka dan membersihkan badan. Ia melakukan hal itu cepat-cepat karena tidak tega meninggalkan Bu Beng Kwi terlalu lama. Ia sudah kembali berlutut di tepi pembaringan dan melihat betapa orang itu masih juga belum sadar, ia memegang tangan Bu Beng Kwi.
Taihiap, sembuhlah, taihiap. Kasihanilah aku, karena hanya engkau seoranglah gantungan harapanku, engkau seoranglah yang dapat membahagiakan hidupku, dapat membimbing dan mendidik puteraku. Taihiap, kasihanilah aku dan segera sembuhlah...... Dengan girang Sheila merasa betapa ada hawa panas menjalar dari telapak tangan yang lebar itu ke dalam tangannya, dan ia merasa pula betapa
jari-jari yangan itu gemetar sedikit. ketika ia melihat perlahan-lahan Bu Beng Kwi lepaskan pegangannya, kemudian membuka matanya, Sheila girang bukan main.
Taihiap......! Engkau telah sembuh, bukan? Bu Beng Kwi membuka matanya, memandang kepada wajah Sheila sampai beberapa lamanya, kemudian dia menarik napas panjang dan bangkit duduk. Ketika Sheila hendak merangkulnya dan membantunya duduk, dengan tangannya dia menolak dan dia duduk sendiri.
Gan, toanio, lukaku parah juga, perlu pengobatan. Akan tetapi aku sudah mampu megobati diri sendiri sekarang, dan banyak terima kasih atas kebaikanmu selama aku sakit, toanio. Sekarang, beristirahatlah dan biarkan muridku Han Le yang melayaniku. Keluarlah, toanio. Tentu saja ada perasaan kecewa di hati wanita itu yang ingin terus melayani sampai orang itu sembuh benar. Akan tetapi, mendengar suara yang berwibawa itu, yang bersungguh- sungguh, dan sinar mata yang mulai mencorong itu, iapun tidak berani membantah. Pula, ia harus bertukar pakaian dan membersihkan diri benar-benar karena selama beberapa hari ini ia tidak sempat. Juga makan. Ia harus makan kalau tidak ingin jatuh sakit.
Baiklah, taihiap, semoga engkau lekas sembuh.
Terima kasih toanio. Setelah sekali lagi menatap wajah buruk itu dengan sinar mata penuh kebahagiaan karena kini orang itu sudah sadar, dan wajahnya juga agak pucat karena kurang makan dan tidur itu berseri, Sheila meninggalkan kamar itu. Ia segera menuju dapur terlebih dahulu untuk membantu puteranya memasak bubur encer dan air teh, kemudian menyuruh puteranya melayani Bu Beng Kwi sebaik mungkin.
Layanilah dia baik-baik, anakku. Dia telah sadar dan tentu akan sembuh kembali. Ingat, kalau ada apa-apa cepat beritahu aku. Aku ingin sekali melihat dia sembuh kembali seperti sediakala.
Ibu, susah benarkah hatimu ketika suhu sakit? Han Le tiba-tiba bertanya, tangan kanan memegang panci bubur dan tangan kiri cerek teh.
Tentu saja, bukankah kasihan melihat dia menderita? Ibu sangat mencinta suhu, ya? Seperti juga aku. Tentu, Henry. Dia orang baik.