Engkau telah menolak cinta kasih dua orang muda seperti Ceng Kok Han dan Li Hong Cang! Sheila memandang dengan mata terbelalak kaget. Taihiap...... tahu akan hal itu?
Mereka mengaku kepadaku tentang cinta mereka kepadamu dan minta perkenanku untuk meminangmu. Aku memberi perkenan, akan tetapi mereka hari ini pergi dengan hati patah. Toanio, kenapa engkau tidak memilih seorang di antara mereka dan meninggalkan tempat yang sunyi ini, membangun kehidupan baru yang penuh bahagia dengan seorang di antara kedua muridku itu? Bukankah mereka itu adalah orang- orang muda yang gagah perkasa, berjiwa pendekar dan akan sanggup melindungimu selamanya? Baru sekali ini Sheila mendengar orang ini bicara demikian banyak, dan bicara dengan suara demikian bersemangat. Akan tetapi kata-kata yang panjang dan bersemangat ini sama sekali tidak menyenangkan hatinya, bahkan baginya merupakan benda runcing yang menusuk perasaannya. Tak terasa lagi Sheila yang biasanya tabah itu kini menutupi mukanya untuk menyembunyikan air mata yang bercucuran keluar dari sepasang matanya yang biru. Namun, Bu Beng Kwi telah melihatnya dan dengan suara mengandung keheranan namun lembut dia bertanya.
Toanio, kenapa engkau menangis? Sheila menghapus air matanya. Lalu ia memandang kepada laki-laki itu. Hanya sebentar mereka bertatap pandang karena Bu Beng Kwi, seperti biasanya segera menundukkan mukanya.
Taihiap, demikian bencikah taihiap kepadaku? Bu Beng Kwi terkejut, sejenak mengangkat muka, matanya mencorong memandang wajah Sheila akan tetapi lalu menunduk kembali.
Apa maksudmu?
Taihiap selalu menjauhiku, dan sekarang dengan halus mengusirku. mengapa taihiap membenciku? Apakah karena aku seorang perempuan kulit putih? Ataukah aku memberatkan penanggungan taihiap di sini? Kalau benar demikian, katakanlah saja, taihiap dan aku..... aku akan pergi bersama anakku, aku..... tidak ingin menyusahkan taihiap yang sudah demikian baik kepada kami.
Aku tidak membencimu, toanio. Jangan salah mengerti. Dua orang muridku itu tertarik dan jatuh cinta kepadamu. Mereka terus terang di depanku dan minta perkenan dariku untuk meminangmu. Tentu saja aku memperbolehkan karena aku lihat bahwa engkau cukup berharga untuk menjadi isteri orang yang bagaimanapun juga.
Akan tetapi engkau menolak mereka, memilih hidup bersunyi diri di sini? Mengapa? Sheila merasa betapa jantungnya berdebar kencang. Ingin mulutnya meneriakkan bahwa ia tidak mungkin dapat meninggalkan pria ini, bahwa ia tak mungkin berpisah dari tempat ini, dari Bu Beng Kwi. Akan tetapi tentu saja ia tidak seberani itu, karena Bu Beng Kwi sedikitpun tidak memperlihatkan tanda-tanda keramahan kepadanya, bersikap dingin, bahkan selalu menjauhkan diri. Malah orang yang diam-diam dipujanya, dijunjung tinggi dan dicintanya ini seperti menyuruh dua orang muridnya untuk meminangnya!
Aku sudah merasa senang dan berbahagia sekali di sini, taihiap. Aku tidak ingin pergi ke manapun juga. Bukankah anakku juga berada di sini? Kami merasa suka dan merasa aman tenteram hidup di sini, dan kesunyian di sini bahkan merupakan keheningan yang menyejukkan hati.
Benarkah yang kau katakan itu, toanio Sheila memandang kepadanya dengan sinar mata berkilat dan wajah berseri.
Perlukah aku bersumpah, taihap? Semenjak suamiku meninggal dunia, baru sekarang aku merasakan kehidupan yang penuh dengan kedamaian dan ketenteraman, dan aku berbahagia sekali tinggal di sini, taihiap. Kalau boleh, aku ingin tinggal di sini, selamanya, sampai aku mati. Kembali Bu Beng Kwi mengangkat muka memandang dengan sinar mata mencorong ketika mendengar ucapan ini, akan tetapi dia lalu membalikkan tubuhnya dan berkata, Aku girang sekali mendengar ini, toanio'. Dan seperti orang tergesa-gesa diapun pergi meninggalkan Sheila. Ya Tuhan, ampunkan semua dosaku...... ya Tuhan, ampunilah saya...... Sheila tak berani bergerak dan kini kedua pipinya basah oleh air matanya yang mengalir turun. Sejak tadi ia mengintai dan timbul dugaannya bahwa tentu Bu Beng Kwi seringkali meratap dan menangis seorang diri seperti itu di waktu malam,
Walaupun baru dua kali ini ia mengintai dan melihatnya. Sekali ini, ratap tangis Bu Beng Kwi yang minta-minta ampun kepada Tuhan akan dosa-dosanya itu diseling doa-doa dalam bahasa yang tidak dimengertinya, doa yang biasanya diucapkan oleh para hwesio. Kiranya Bu Beng Kwi ini pandai pula berdoa seperti pendeta, pikirnya penuh keharuan. Dosa apa gerangan yang pernah dilakukan orang ini sehingga kini dia menyesali diri sedemikian rupa? Sukar untuk dipercaya bahwa seorang gagah perkasa dan budiman seperti Bu Beng Kwi ini pernah melakukan dosa yang membuat dia begitu menderita dalam penyesalan. Ingin sekali Sheila meloncat dan berlari keluar untuk merangkul dan menghibur, menyusuti air mata orang itu, akan tetapi tentu saja ia tidak berani.
Akulah yang telah membunuh...... akulah yang telah merusak kehidupannya, terkutuklah perbuatanku itu...... ya Tuhan, ampunilah hambamu ini. aku
sudah cukup menyiksa diri, menderita, namun hukuman ini masih belum cukup untuk menebus dosa-dosaku...... Bu Beng Kwi meratap dan menangis, bahkan menjambak rambutnya sendiri dan ketika dia menjatuhkan diri berlutut, dia membentur- benturkan kepalanya pada tanah sampai terdengar bunyi berdebukan yang mengerikan hati Sheila.
Akhirnya dengan suatu keluhan panjang, tubuh Bu Beng Kwi itu terguling roboh dan rebah terlentang tak bergerak lagi.Sheila memandang dengan bingung dan gelisah. Tertidurlah orang itu? Ataukah jatuh pingsan? Jangan-jangan dia jatuh sakit, pikirnya. Selagi ia merasa bimbang dan ragu, menghampiri ataukah tidak, dan merasa serba salah, tiba-tiba nampak bayangan dua orang berkelebat datang dan tahu-tahu di situ telah berdiri dua orang laki-laki. Mula-mula Sheila mengira bahwa yang datang itu adalah Ceng Kok Han dan Li Hong Cang, akan tetapi karena malam itu bulan hanya muncul sepotong dan cuaca remang-remang, ia tidak dapat melihat jelas.
Baru setelah dua orang itu nampak menggerakkan tangan memukul tubuh Bu Beng Kwi, ia tahu bahwa mereka bukanlah dua orang muda itu dan iapun menjerit melihat Bu Beng Kwi dipukul.
Desss.....!." Jerit yang keluar dari mulut Sheila itulah yang menarik kembali Bu Beng Kwi ke dalam alam sadar, akan tetapi dia telah terkena pukulan yang keras sekali pada dadanya, yang membuat tubuhnya terbanting keras dan bergulingan. Sheila menggigil dan tak kuat berdiri, berlutut dan memandang dengan mata terbelalak penuh rasa gelisah. Akan tetapi, setelah menerima pukulan hebat pada dadanya dan disusul tendangan keras yang membuat tubuhnya terlempar, Bu Beng Kwi yang terkejut mendengar jeritan Sheila tadi, dapat meloncat bangun kembali. Tubuhnya yang tinggi itu nampak bergoyang-goyang sedikit ketika dua orang lawannya sudah berloncatan datang mendekat.
Ha, lihat mukanya! Tentu dia ini orangnya! terdengar seorang di antara mereka, yang tubuhnya gendut, berkata dengan suara parau dan dalam.
Benar, Toako, tentu dia orangnya. Hei, benarkah engkau yang berjuluk Bu Beng Kwi? kata yang bertubuh tinggi besar dan kedua lengannya panjang sepeti lengan orang hutan. Bu Beng Kwi menarik napas panjang, merasa betapa dadanya nyeri.
Pukulan orang berlengan panjang tadi mengandung sinkang yang kuat dan dia tahu bahwa dia telah menderita luka cukup parah di dalam dadanya. Bahkan mulutnya sudah merasakan darag! akan tetapi, Bu Beng Kwi bersikap tenang ketika dia melangkah maju menghampiri dua orang itu.
Siapakah kalian ini, orang-orang pengecut yang tidak tahu malu menyerang orang yang tidak bersiaga? tanyanya, suaranya tenang namun berwibawa.
Bu Beng Kwi, ingatkah engkau ketika engkau membunuh pasukan Tai Peng dan juga Tung-hai Siang-liong? Kami adalah rekan-rekannya, kami tokoh-tokoh Tai Peng yang datang untuk menghukummu. Berlututlah agar kamu menyerah dan kami bawa menghadap pimpinan kami di Nan-king, kata yang berperut gendut. Kini Bu Beng Kwi sudah dapat memulihkan tenaganya dan pandang matanya sudah terang kembali. Dia melihat bahwa dua orang itu ternyata mengenakan jubah pendeta, dan rambut mereka digelung seperti biasa para tosu menggelung rambutnya. Akan tetapi, dia melihat gambar pat-kwa di dada mereka dan tahulah dia bahwa dia berhadapan dengan dua orang tokoh Pat-kwa-pai yang terkenal sebagai pemberontak yang gigih dan memiliki banyak orang pandai.
Hemm, kiranya dua orang tosu Pat-kwa-pai! katanya dengan senyum di kulum. Pantas Tai Peng melakukan penyelewengan, kiranya dibantu oleh orang-orang dari Pat-kwa-pai yang terkenal berkedok agama dan perjuangan untuk mengelabui rakyat jelata. Benar, aku telah membasmi pasukan kecil Tai Peng yang melakukan perampokan dan pembunuhan terhadap para pengungsi, dan kemudian Tung-hai Siang- liong yang menyerangku juga roboh binasa. Lalu kalian mau apa?
Hemm, manusia sombong. engkau sudah terluka parah dan menghadapi maut, masih saja membuka mulut besar dan tidak cepat berlutut menyerahkan diri? bentak si lengan panjang.
Hiante, tak perlu banyak cakap, bunuh saja dia! kata yang berperut gendut dan diapun cepat menerjang ke depan, mengirim tendangan ke arah perut Bu Beng Kwi. Si gendut ini agaknya memang ahli tendang yang amat lihai. Biarpun perutnya gendut sekali, namun kakinya dapat terangkat tinggi, cepat seperti kilat menyambar dan mengandung tenaga yang kuat sekali ketika dia menendang. Tendangan ini tadi pernah membuat tubuh Bu Beng Kwi terlempar jauh. Akan tetapi sekali ini Bu Beng Kwi telah siap siaga. Kemarahan membuat darahnya seperti mendidih dan melihat datangnya tendangan, dia bukan mengelak bahkan melangkah maju menyambut tendangan itu. Dengan kecepatan yang tak dapat diikuti dengan mata, tahu-tahu dia telah menangkap tumit kaki yang menendang itu, terus mendorong kaki itu ke atas dengan kekuatan penuh, sedangkan tangan kanannya memukul ke arah perut gendut itu dengan tangan terbuka.