Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 35

Memuat...

Engkau terlalu merendahkan diri, toanio. Engkau seorang wanita yang biarpun berkulit putih, namun amat cantik, bijaksana dan tidak kalah dibandingkan dengan wanita pribumi yang manapun. Wajah itu menjadi semakin merah, dan hatinya terasa tidak enak karena pujian dari pemuda yang jujur itu semakin berlebihan.

Sudahlah, sicu, harap jangan bicara tentang itu. Buktinya, sampai sekarang aku hidup berdua saja dengan anakku dan aku tidak pernah mengeluh.

Akan tetapi, tanio, kalau sekiranya toanio ingin merubah kehidupan yang penuh dengan kesepian ini, kalau saja toanio sudi menerimanya, ada seorang pria yang dengan sepenuh hati, dengan sungguh-sungguh ingin membahagiakanmu, ingin mempersuntingmu sebagai isteri tercinta, bukan sekedar main-main seperti yang kukatakan tadi. Sepasang mata yang biru itu terbelalak memandang Ceng Kok Han penuh selidik.

Sicu.....! Apa...... apa maksudmu......? Siapa siapa yang kau maksudkan itu? Akulah pria itu, toanio. Kalau sekiranya engkau sudi menerima, aku. aku

meminangmu untuk menjadi isteriku. Sapu itu terlepas dari tangan Sheila. Matanya masih terbelalak memandang dan bibirnya yang setengah terbuka itu gemetar namun tidak dapat mengeluarkan suara. Kemudian ia memejamkan matanya, tidak tahu harus tertawa atau menangis karena hatinya ingin melakukan keduanya. Ia ingin tertawa karena geli hatinya bahwa seorang pemuda seperti Ceng Kok Han menyatakan cinta kepadanya melalui pinangan, dan ia ingin menangis karena merasa terharu mengetahui bahwa pemuda perkasa seperti Kok Han ini dapat dipercaya

kata-katanya dan tentu sungguh-sungguh merasa suka dan kasihan kepadanya,

Bukan sekedar tertarik dan bermaksud mempermainkan terdorong oleh nafsu berahi semata. Akan tetapi ia cukup bijaksana untuk tidak melakukan keduanya, tidak menangis dan tidak tertawa, hanya memejamkan matanya sejenak dan menguatkan hatinya. Kemudian ia membuka matanya memandang. pemuda itu masih berdiri di depannya, tegak dan gagah, dengan sikap menanti penuh kesabaran, menanti jawabannya. Ah, terasa benar olehnya kasih sayang yang hangat terpancar keluar melalui sinat mata pemuda itu dan iapun tahu benar bahwa hidup sebagai isteri pemuda ini tentu membawa ketenangan dan ketenteraman, terlindung dengan baik. Akan tetapi satu hal ia tahu pasti, yaitu bahwa ia tidak memiliki cinta kasih terhadap pemuda perkasa ini, walaupun ia merasa kagum dan suka.

Ceng-sicu, harap engkau maafkan aku. Aku adalah seorang wanita yang tidak muda lagi, usiaku sudah hampir tiga puluh lima tahun. sedangkan engkau baru berusia paling banyak dua puluh lima tahun. Bukan hanya selisih usia ini saja yang membuat aku tidak berani menerima pinanganmu, sicu, melainkan karena aku......

aku.

Engkau telah menaruh hati kepada orang lain, mencinta orang lain? Sungguh seorang laki-laki yang terbuka dan terus terang, pikir Sheila. Maka iapun mengangguk setelah mengamati hatinya sendiri. Benar, ia telah jatuh cinta kepada orang lain. Baru sekarang kenyataan ini nampak benar olehnya. Ia telah jatuh cinta kepada Bu Beng Kwi, kepada penolongnya, penyelamatnya, kepada pendekar besar yang buruk rupa dan cacat tubuhnya itu! Maka, dengan penuh keyakinan iapun mengangguk untuk menjawab pertanyaan pemuda itu. Ceng Kok Han menerima pengakuan wanita itu dengan gagah. Dia memang merasa hatinya tertusuk kekecewaan, namun dia menerimanya tanpa mengeluh.

Toanio, katakanlah, dia...... dia berada di sini? Karena ia berhadapan dengan seorang pria yang jujur dan gagah perkasa, Sheila meras tidak perlu menyembunyikan rahasianya dan iapun mengangguk.

Apakah dia...... sute Li Hong Cang? Sheila tersenyum lemah dan menggeleng kepala. Sejenak Ceng Kok Han tertegun dan terbelalak memandang wajah wanita itu, kemudian dia menundukkan mukanya dan pandang matanya berpancar kekaguman dan keharuan. Dia lalu menjura dengan dalam dan penuh dengan hormat.

Ah, toanio, aku semakin kagum kepadamu. sungguh engkau seorang wanita yang berbudi luhur, seorang wanita yang akan dapat menjadi cahaya terang dalam kehidupan seseorang dengan cinta kasihmu yang suci murni. Maafkan kelancanganku tadi, toanio. Dia menjura lagi. Sheila membalas penghormatan itu dengan hati terharu.

Engkaulah yang harus memaafkan aku, sicu, karena aku telah mengecewakan hatimu. Semoga engkau kelak dapat bertemu dengan jodohmu yang sepadan dengan kegagahan dan kebaikanmu. Pemuda itu membalikkan tubuh dan meninggalkan Sheila yang masih berdiri termenung. kemudian iapun melanjutkan pekerjaannya, diam-diam merasa kagum kepada murid tertua Bu Beng Kwi itu. Pengalaman yang menegangkan hati Sheila terulang kembali pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali. Ia baru saja mandi dan berganti pakaian, terus pergi membawa pakaian kotor menuju ke pancuran air di mana ia biasanya mencuci pakaian. baru saja ia mulai mencuci, terdengar suara lirih memanggil namanya.

Sheila......! Tentu saja ia merasa terkejut sekali karena selama berada di situ, belum pernah ada orang menyebut nama kecilnya begitu saja. Ia cepat menoleh dan terbelalak melihat bahwa yang memanggilnya adalah Li Hong Cang, murid kedua dari Bu Beng Kwi. Pemuda tinggi kurus dengan muka putih dan alis tebal itu telah berdiri di dekatnya dan memandang kepadanya dengan sinar mata memancarkan kekaguman.

Eh, Li-sicu! Engkau mengejutkan orang saja! kata Sheila sambil tersenyum cerah, memaksa diri untuk bersikap biasa dan menekan debar jantungnya.

Engkau nakal sekali. Darimana engkau mengetahui nama kecilku, sicu? Akan tetapi pancingannya untuk mencairkan suasana dengan senda gurau tidak ditanggapi oleh Hong Cang yang masih saja bersikap serius dan pandang matanya yang penuh kagum itu tidak berubah. Aku tahu dari anakmu. Sheila, engkau sungguh cantik jelita pagi ini, seperti dewi pagi yang gemilang. Alangkah indahnya rambutmu itu, seperti benang sutera emas....... Sheila merasa bulu tengkuknya meremang mendengar pujian ini. Ia tahu akan gawatnya suasana. Pemuda ini tidak main-main dan seperti juga apa yang dilakukan Ceng Kok Han kemarin, pemuda ini berterang memujinya dan memperlihatkan perasaan kagum dan cintanya! Karena tidak tahu harus berbuat apa, Sheila tetap saja bersikap sendau gurau.

Ih, sicu, jangan memuji berlebihan. Aku hanyalah seorang perempuan tua. Anakku yang menjadi sutemu itu sudah hampir dewasa! Ucapannya ini dimaksudkan untuk mengingatkan dan menyadarkan kembali Hong Cang dari maboknya. Akan tetapi agaknya pagi itu Li Hong Cang sudah mengambil keputusan, sudah nekat untuk mengaku cintanya kepada wanita yang membuatnya tergila-gila ini.

Sheila...... aku memujimu dari lubuk hatiku, setulus cintaku. Aku cinta padamu, Sheila, dan kalau engkau sudi meneimanya, aku ingin hidup bersamamu sebagai suamimu. Akan kuajak engkau tinggal di kota, hidup yang layak dan aku akan membahagiakanmu, Sheila. Sudikah engkau menerima cintaku?, Hampir saja Sheila tak dapat menahan ketawanya. ia merasa seperti berada di panggung saja, seperti sedang bermain sandiwara. Baru saja kemarin kok Han menyatakan keinginannya hendak meminang, kini hong cang menyatakan cintanya! Akan tetapi tentu saja ia tidak berani mentertawakan pemuda yang nampaknya serius sekali itu. Maka iapun mengambil keputusan untuk menolaknya dengan halus namun tegas untuk membuyarkan khayal yang membuat pemuda itu bersikap demikian romantis.

Li-sicu, maafkan aku dan harap jangan menyesal kalau aku terpaksa mengecewakan hatimu. Aku tidak mungkin membalas cintamu, tidak mungkin dapat menerima pinanganmu, pertama karena engkau jauh lebih muda dariku, kita tidak pantas menjadi suami isteri. Dan kedua karena aku sudah mencinta laki-laki lain. Nah, maafkanlah aku, sicu. Alis yang hitam tebal itu berkerut dan muka yang putih itu menjadi semakin pucat,

Sheila, engkau...... engkau memilih suheng? jadi engkau mencinta suheng Ceng Kok Han? Sheila menggeleng kepala,

Tidak, bukan dia yang kucinta. Sepasang mata pendekar itu terbelalak dan mukanya menjadi kemerahan. Tiba-tiba dia lalu menjura dengan sikap hormat,

Toanio, maafkan kelancanganku...... engkau sungguh seorang wanita yang luar biasa, toanio. Li Hong Cang lalu memberi hormat lagi dan pergi meninggalkan Sheila.

Dua hari kemudian semenjak dua orang pemuda itu menyatakan cintanya, mereka pergi meninggalkan pondok itu. Mereka berpamit kepada Sheila dengan sikap hormat, seperti sikap mereka ketika pertama kali datang. Tidak nampak lagi tanda-tanda bahwa mereka pernah mengaku cinta, Sinar mata mereka kini sungkan

dan hormat, dan sikap merekapun tetap ramah ketika mereka minta diri. Sheila pun besikap biasa dan menghaturkan selamat jalan kepada mereka. Baru setelah mereka pergi, ia merasa kehilangan karena bagaimanapun juga, kehadiran dua orang muda itu sedikit banyak mendatangkan perubahan di tempat yang amat sunyi itu. Setelah mereka pergi, baru ia berani bertanya kepada Han Le ke mana mereka pergi dan apa yang hendak mereka lakukan.

Kedua orang suhengku itu berangkat ke kota besar untuk mulai dengan perjuangan mereka menentang pemberontak Tai Peng, ibu. Kelak kalau aku sudah besar, akupun ingin mengikuti jejak mereka. kata Han Le dengan sikap gagah. Dan pada sore hari itu, ketika Sheila duduk di serambi belakang seorang diri, tiba-tiba muncul Bu Beng Kwi di depannya.

Toanio, kenapa engkau menyia-nyiakan kesempatan baik dan rela mengubur dirimu di tempat sunyi ini? Pertanyaan yang tiba-tiba itu mengejutkan hati Sheila.

Taihiap, maafkan aku, akan tetapi apa maksud pertanyaan taihiap ini? Aku tak mengerti.

Post a Comment