Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 34

Memuat...

Terutama sekali harus dicegah penberontakan Tai Peng itu sampai dapat menaklukkan semua daerah, karena bangsa kita akan mengalami nasib lebih mengerikan lagi di bawah memuasaan orang-orang yang kini memimpin Tai Peng, yang terdiri dari penjahat-penjahat yang bersembunyi di balik agama baru dan perjuangan. Bu Beng Kwi mengangguk-angguk.

Para pendekar sudah meninggalkan Tai Peng, berarti bahwa mereka sudah melihat kenyataan akan kejahatan orang-orang Tai Peng dan tidak mau membantu gerakannya. Kiranya hanya para pendekar yang dapat bersatu dan bangkit menentang Tai Peng.

Teecu kira hal itupun tidak mudah dilakukan, suhu. kata Ceng Kok Han. Tai Peng telah merupakan balatentara yang amat besar dan kuat. Kalau para pendekar bersatu, berapa besar kekuatan mereka? Pula, karena mereka datang dari berbagai aliran yang mempunyai pendapat berbeda, kiranya tidak mudah mempersatukan mereka.

Hemm, beralasan juga kata-katamu. Lalu, bagaimana baiknya? Orang-orang muda seperti kalian, tidak mungkin akan berpangku tangan saja melihat kelaliman Tai Peng.

Teecu berdua sute telah bersepakat untuk minta pendapat dan perkenan suhu. Teecu berdua ingin mengajak kawan- kawan seperjuangan, antara para pendekar untuk bersama-sama membangkitkan semangat rakyat di pedesaan, perlahan-lahan menyusun kekuatan dengan mendirikan lascar yang kuat yang bertujuan menyelamatkan tanah air dan bangsa. Kalau perlu, laskar kami akan membantu pemerintah Mancu untuk memadamkan semua pemberontakan yang sifatnya hanya pengejaran ambisi tanpa mementingkan penderitaan rakyat, karena pemberontak- pemberontak macam Tai Peng dan lain- lain itu bahkan menjadi penghambat perjuangan menumbangkan kekuasaan penjajah.

Membantu pemerintah Mancu, bekerja sama dengan pemerintah penjajah? Bu Beng Kwi berseru kaget dan memandang dua orang muridnya itu.

Maksud suheng hanya untuk sementara, suhu, kata Li Hong Cang.

Untuk dapat menghancurkan kekuatan yang berbahaya seperti Tai Peng, dibutuhkan pasukan besar dan sukarlah membentuk laskar sekuat itu untuk menentang Tai Peng. Maka, untuk sementara, sebaiknya kalau menggunakan kekuatan pasukan pemerintah untuk menghancurkan Tai Peng dan para pemberontak suku bangsa lain. Setelah itu, barulah kekuatan disusun sepenuhnya untuk menumbangkan kekuasaan penjajah dari tanah air. Bu Beng Kwi mengangguk-angguk,

Mungkin kalian benar. Terserah kepada kalian. Yang penting bagi kita adalah bahwa sepak terjang kalian haruslah murni, tanpa pamrih demi keuntungan pribadi, sepenuhnya ditujukan demi menyelamatkan rakyat dan bangsa kita. Akan tetapi, kalau cita- cita kalian demikian besar, kalian perlu membelaj ari ilmu memimpin pasukan, ilmu perang, bukan sekedar ilmu silat. Dan agaknya aku masih menyimpan sebuah kitab kuno tentang ilmu perang, ilmu pusaka peninggalan Jenderal Gak Hui. Boleh kalian miliki dan pelajari bersama ilmu perang melalui kitab kuno itu. Bu Beng Kwi lalu masuk ke dalam kamarnya, mengambil sebuah kitab tebal yang sudah amat tua, menyerahkannya kepada dua orang muridnya yang menjadi gembira bukan main. Sejenak keduanya tenggelam ke dalam kitab itu, membuka-buka lembarannya dan membaca beberapa bagian penuh kekaguman, Kemudian Ceng Kok Han menyimpannya.

Maaf, suhu. Teecu percaya semua tindakan suhu tentu sudah dipertimbangkan semasaknya dan setiap perbuatan suhu berdasarkan kebijaksanaan. Akan tetapi terus terang saja, teecu dan sute tadi merasa terkejut dan terheran-heran melihat suhu telah mengambil murid seorang anak dari wanita kulit putih. Teecu berdua ingin sekali mendengar sebab dan alasannya, kalau suhu tidak keberatan. Bu Beng Kwi mencoba untuk tersenyum, namun wajahnya yang kaku itu agaknya sudah terlalu lama tidak tersenyum maka gerakan mulutnya tidak cukup untuk menunjukkan sebuah senyuman.

Pertanyaan kalian memang pantas dan sudah sepatutnya aku memberi penjelasan. Ibu dan anak itu adalah pengungsi- pengungsi yang ketika pegi mengungsi bersama penduduk dusun, dicegat oleh pasukan kecil Tai Peng yang mengganggu mereka.

Pasukan itu melakukan perampokan, pembunuhan dan perkosaan, maka aku turun tangan menyelamatkan para pengungsi dan membasmi para penjahat yang berkedok pejuang itu. Anak itu terluka dan pingsan. Ketika aku hendak mengobatinya, aku melihat bakat yang baik sekali pada tubuhnya, dan aku kasihan kepadanya. Ibunya tidak mau berpisah dari anaknya dan nekat untuk ikut ke sini, bekerja menjadi pelayan walaupun aku tidak menganggapnya sebagai pelayan. Sudah hampir setahun mereka di sini dan Han Le ternyata memang cerdik dan berbakat, sedangkan ibunya juga seorang wanita yang amat rajin. Lihat saja, bukankah pondok kita ini menjadi bersih dan taman itu penuh dengan tanaman bunga yang indah? Dua orang murid itu sudah cukup mengenal watak suhu mereka. Biasanya, suhu mereka sama sekali tidak perduli akan keadaan rumah, apalagi bunga dalam taman. Tentu ada sesuatu yang mendorong suhunya menerima wanita kulit putih itu tinggal di situ. Mereka memandang dengan sinar mata bertanya-tanya dan agaknya Bu Beng Kwi dapat menduga bahwa kedua orang muridnya ini masih meragukan kehadiran Sheila dan keterangannya tadi belum memuaskan hati mereka. Baiklah kalian ketahui hal lain yang mendorong aku untuk menerima ibu dan anak itu di sini. Ketahuilah bahwa mendiang ayah dari anak itu bernama Gan Seng Bu, seorang pendekar dan pahlawan yang pernah berjuang bersama para pendekar untuk menentang penjajah dan juga orang kulit putih yang menjual madat.

Gan Seng Bu......? Li Hong Cang berseru.

Ah, ketika teecu membantu Tai Peng bersama para pendekar, teecu pernah mendengar nama ini disebut-sebut dengan kekaguman. Kiranya sute cilik itu puteranya? Dan wanita kulit putih.

Ia adalah isteri mendiang Gan Seng Bu. Pendekar itu pernah menyelamatkan wanita itu ketika ia masih gadis melarikan diri bersama orang tuanya dan diserbu oleh para pemberontak. Hampir ia menjadi korban orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Ayah ibunya tewas dan Gan Seng Bu menolongnya. Mereka saling jatuh cinta dan semenjak itu, ia hidup di dusun di antara para pejuang dan menikah dengan pendekar itu. Kini kedua orang murid itu mengerti dan merekapun maklum mengapa guru mereka menerima ibu dan anak itu. Bahkan diam-diam merekapun merasa setuju sekali.

Bagaimanapun juga, biarpun rambutnya seperti benang emas dan matanya seperti warna lautan yang dalam, tidak seperti orang-orang kulit putih yang merusak hidup rakyat dengan penyebaran racun madat. Bahkan wanita itu telah hidup belasan tahun lamanya di antara para pejuang, hidup seperti orang dusun dan kini bahkan bekerja keras seperti seorang pelayan saja membersihkan pondok dan memperindah suasananya. Diam-diam mereka merasa kagum sekali. Setelah beberapa hari tinggal di situ, dua orang muda itu segera menjadi akrab sekali dengan Han Le dan mereka memberi bimbingan kepada anak itu dalam latihan ilmu silat. Han Le merasa girang sekali dan bangga mempunyai dua orang suheng itu. Bukan hanya dengan Han Le, bahkan kedua orang muda itu bersikap manis terhadap Sheila.

Janda muda ini adalah sorang kulit putih, tentu saja iapun mudah menjadi akrab dengan mereka karena baginya tidak ada pantangan dalam keakraban pergaulan antara pria dan wanita. Apalagi melihat betapa dua orang muda itu adalah pendekar-pendekar yang gagah perkasa, seperti mendiang suaminya, dan mereka bersikap demikian baik terhadap puteranya. Akan tetapi ada satu hal yang membuat Sheila merasa kurang enak hati. belum sampai sebulan dua orang muda itu berada di situ, akhir-akhir ini sinar mata mereka terhadap dirinya terasa lain olehnya. Biasanya hanya ada keramahan dan penghormatan, namun akhir-akhir ini ia dapat menangkap dengan naluri kewanitaannya betapa dalam sinar mata mereka terkandung kekaguman yang berlebihan dan mendekati kehangatan dan kemesraan. Pandang mata mereka penuh arti, juga senyum mereka tidak wajar lagi!

Sheila cukup berpengalaman sebagai seorang janda muda yang sering digoda orang untuk dapat menangkap perasaan kagum dan suka dalam hati kedua orang muda itu yang terpancar melalui sinar mata mereka. Tentu saja hal ini membuatnya merasa kurang enak, walaupun tentu saja ia tidak mau menyatakan sesuatu dan bersikap wajar saja di depan mereka. Lebih tidak menyenangkan hatinya lagi ketika ia mendapat menyataan bahwa sejak dua orang muridnya itu pulang, Bu Beng Kwi jarang sekali keluar dari dalam kamarnya sehingga ia jarang bertemu dengan penolongnya itu. Akan tetapi sebaliknya, ia sering bertemu dengan dua orang muda yang nampaknya kini makin suka mendekatinya. Pada suatu sore, ketika Sheila sedang membersihkan daun- daun kering dari taman di depan rumah, tiba-tiba muncul Ceng Kok Han yang tanpa banyak cakap lalu membantu pekerjaannya memunguti dan menyapu daun-daun kering itu.

Aih, sudahlan, Ceng-sicu. Tidak perlu kaubantu, ini pekerjaanku sehari-hari, nanti tangan dan pakaianmu menjadi kotor saja. kata Sheila menolak dengan lembut dan tersenyum manis.

Tidak mengapa, toanio, aku suka membantumu karena aku merasa kasihan kepadamu, jawab Ceng Kok Han. Sheila menunda pekerjaannya dan memandang kepada pemuda itu sambil tertawa kecil. Engkau sungguh aneh, sicu. Kenapa kasihan kepadaku? Aku senang melakukan pekerjaan di sini.

Toanio, orang cantik dan sepandai engkau ini sungguh tidak selayaknya hidup sederhana ini, bekerja keras seperti pelayan.

Harap jangan berkata demikian, sicu! Sheila berkata cepat memotong dan suaranya mengandung penasaran.

Ketahuilah bahwa selama bertahun-tahun ini, baru sekarang aku merasakan hidup penuh kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan. Aku suka sekali melakukan semua pekerjaan ini, jadi, kalau engkau merasa kasihan, hal itu tidak tepat bahkan lucu sekali.

Toanio, engkau dahulu isteri seorang pendekar perkasa yang terkenal. Sekarang, selayaknya kalau engkau menjadi seorang isteri dan ibu rumah tangga yang terhormat dan hidup serba kecukupan. Akan tetapi sebaliknya engkau malah hidup di tempat yang amat sunyi, jauh tetangga jauh masyarakat. Toanio, kenapa sejak suamimu meninggal dunia, sudah belasan tahun lamanya, engkau tidak. tidak

menikah lagi? Mendengar pertanyaan ini, wajah yang masih cantik dan nampak jauh lebih muda dari usianya yang sudah tiga puluh tahun lebih itu berubah kemerahan. Sheila yang sudah mengenal pemuda ini karena sering bercakap-cakap, tahu bahwa Ceng Kok Han adalah seorang pemuda yang gagah perkasa yang berwatak terbuka dan jujur, suka mengeluarkan isi hatinya melalui mulut tanpa sungkan lagi. Oleh karena itu, iapun tidak merasa tersinggung, lalu tersenyum lebar memandang pemuda itu.

Wah, Ceng-sicu, engkau ini aneh-aneh saja. Siapakah orangnya yang suka dengan sungguh-sungguh mengawini aku? Seorang janda dengan seorang anak, perempuan kulit putih pula yang pada umumnya dianggap musuh. Kalau ada, mereka itu hanya berniat untuk mempermainkan aku saja. Karena itu aku tidak pernah menerima lamaran mereka, sicu. Aku harus menjaga kebahagiaan hidup anakku satu-satunya orang yang kumiliki di dunia ini.

Post a Comment