Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 33

Memuat...

Taihiap...... tunggu dulu......! Sheila berlari mengejar, dan Bu Beng Kwi menghentikan langkahnya, menghadapi Sheila dengan muka ditundukkan. Kini mereka saling berhadapan dan Sheila memandang tajam, berusaha untuk menguak tirai yang menyembunyikan rahasia di balik wajah yang cacat itu.

Taihiap...... namaku adalah Sheila dan aku adalah pelayanmu, ibu dari muridmu, tidak perlu engkau menyebutku nyonya. Dan mengapa taihiap kelihatan membenciku? Harap taihiap berterus terang agar aku dapat mengerti akan kesalahanku dan dapat memperbaikinya, dan taihiap...... mengapa demikian berduka. ?

Nyonya, engkau adalah seorang wanita yang bijaksana, terhormat dan mulia, jauh bedanya dengan aku yang hina ini, dan tentang sikapku...... ah, aku tidak apa- apa, harap nyonya jangan perdulikan aku lagi...... Dan diapun cepat melangkah pergi menuju ladang, meninggalkan Sheila yang berdiri melongo dengan hati penasaran. Penolongnya itu demikian merendahkan diri, dan kata-katanya demikian penuh keprihatinan. Apa saja yang membuat orang itu bersikap seperti itu? Apakah karena wajah dan tubuhnya menjadi penuh dengan cacat seperti itu lalu merasa rendah diri? Beberapa hari kemudian, ketika pagi-pagi sekali Sheila sedang menyapu lantai di pekarangan depan dan Bu Beng Kwi masih bersamadhi di dalam kamarnya setelah pagi-pagi tadi dia mengamati Han Le yang berlatih silat, muncul dua orang laki-laki muda yang usianya sekitar dua puluh lima tahun, berpakaian sederhana namun berwajah tampan dan bersikap gagah. Dua orang laki-laki muda itu demikian terkejut ketika melihat seorang wanita kulit putih berambut kuning keemasan dan bermata biru,

Mengenakan pakaian sederhana sedang menyapu di situ sehingga mereka berdua terbelalak dan terpukau, hampir tidak percaya kepada pandang mata mereka sendiri. Melihat dua orang pemuda itu seperti terkejut, bingung dan heran, Sheila lalu menghampiri mereka dengan sapu di tangan, dan menegur dengan sikap halus dan bahasa yang sopan. Dua orang muda itu saling pandang, dengan sinar mata bertanya-tanya siapa gerangan wanita kulit putih ini. Sheila juga memperhatikan mereka. Seorang di antara mereka bertubuh tinggi besar dengan muka gagah berbentuk persegi empat dan mukanya yang masih muda itu mulai ditumbuhi brewok yang lebat, sepasang matanya lebar dan tajam. Orang kedua bertubuh tinggi kurus, mukanya putih seperti muka perempuan namun tampan dan sepasang alisnya tebal sekali, tebal dan hitam lebat.

Kami adalah murid dari tuan rumah ini, kata pemuda tinggi besar. Siapakah engkau? sambung pemuda tinggi kurus.

Aih, kiranya ji-wi adalah murid-murid taihiap! Sheila berseru kaget dan girang. Aku bernama Sheila dan aku......aku pelayan dari taihiap.

Apa? Suhu mempunyai pelayan seorang wanita kulit putih? Rasanya tidak mungkin! kata pemuda tinggi besar. Pada saat itu terdengar suara nyaring dari sebelah dalam, suara yang keluar dari dalam kamar Bu Beng Kwi.

Kok Han dan Hong Can, kalian baru datang? Mendengar suara ini, dua orang pemuda gagah perkasa itu lalu menjatuhkan diri berlutut menghadap ke dalam rumah dan berkata penuh hormat,

Suhu....... Muncullah Bu Beng Kwi , diikuti oleh Han Le yang diajak latihan samadhi di dalam kamar gurunya itu. Sepasang mata orang aneh itu memancarkan sinar berseri ketika dia memandang kepada dua orang muda yang berlutut.

Han Le dan kau, nyonya, ketahuilah bahwa yang baru datang ini adalah murid- muridku bernama Ceng Kok Han dan Li Hong Cang yang sudah hampir dua tahun turun gunung. Kok Han dan Hong Cang, anak ini adalah Gan Han Le, sute kalian, dan wanita ini ibunya, Gan Toanio (nyonya Gan).Bangkitlah dan beri hormat kepadanya, kata Bu Beng Kwi memperkenalkan. Diam-diam dua orang pemuda itu merasa heran. Guru mereka mengambil murid anak seorang wanita kulit putih dan biarpun sute mereka yang masih kecil itu berwajah biasa, namun sepasang matanya yang bening tajam itu kebiruan seperti mata orang kulit putih! Mereka lalu menjura dengan hormat kepada wanita kulit putih yang pandai berbahasa daerah itu dan menyebutnya Gan Toanio. Sheila membalas penghormatan mereka selayaknya.

Sebagai seorang anak yang terdidik baik, oleh gurunya dan oleh ibunya, Han Le lalu menjura pula kepada mereka.

Ji-wi suheng (kakak seperguruan), aku Gan Han Le memberi hormat pada ji-wi dan mohon bimbingan ilmu silat. Ceng Kok Han dan Li Hong Cang memandang gembira.

Kiranya sute mereka itu, biar anak wanita kulit putih, biar masih kecil, namun nampak cerdik dan pandai membawa diri. Mereka merangkul dan mengelus rambut kepala Han Le dan merasa akrab dan sayang. Mereka semua kecuali Sheila yang merasa sungkan dan juga ia harus menyediakan minuman untuk dua orang muda yang baru tiba, segera masuk ke dalam rumah dan tak lama kemudian, Bu Beng Kwi sudah bercakap-cakap dengan serius bersama dua orang murid yang baru datang itu disaksikan oleh Han Le yang mendengarkan saja.

Mereka bicara tentang hal- hal yang belum dimengertinya benar, tentang perjuangan, pemberontakan, dan perang. Kiranya dua orang muda perkasa itu, atas persetujuan guru mereka, seperti para pendekar lain, telah pergi meninggalkan tempat perguruan dan ikut membantu perjuangan Ong Siu Coan yang memimpin balatentara Tai Peng pada bulan-bulan terakhir sampai pasukan itu dapat menduduki Nan-king dan daerah selatan sungai. Akan tetapi, akhirnya mereka berdua menjadi muak melihat betapa pasukan-pasukan Tai Peng mulai melakukan penyelewengan dan kejahatan dan agaknya tingkah laku mereka itu dibiarkan saja oleh Ong Siu Coan. Seperti juga banyak para pendekar lainnya, dua orang murid Bu Beng Kwi ini meninggalkan Tai Peng dan pulang ke tempat tinggal guru mereka.

Demikianlah, suhu. Teecu berdua meninggalkan pasukan tai peng, melihat penyelewengan dan kejahatan yang dilakukan oleh pasukan itu. seperti para pendekar lain yang tadinya membantu pasukan Tai Peng sehingga gerakan itu berhasil, teecu berdua juga sudah berusaha untuk melakukan protes dan laporan kepada Ong-bengcu sebagai pimpinan. namun, semua laporan tidak diperhatikan, bahkan pernah Ong-bengcu mengatakan bahwa sudah sewajarnya kalau para perajurit mendapatkan sedikit kesenangan setelah semua jerih payah dan taruhan nyawa dalam perang. Ceng Kok Han menutup ceritanya. Bu Beng Kwi mengangguk-angguk.

Sudah kuduga semua itu, Dan aku sudah mendengar desas-desus tentang sepak terjang mereka sehingga diam-diam aku mengkhawatirkan kalian. Apalagi ketika terjadi malapetaka yang menimpa para pengungsi yang diganggu oleh pasukan Tai Peng, termasuk sutemu ini dan ibunya, makin yakinlah aku bahwa Ong Siu Coan dan pasukannya bukanlah pejuang-pejuang yang dapat diharapkan akan mengangkat nasib rakyat jelata.

Benar, suhu. Para perajurit Tai Peng kemasukan banyak orang-orang jahat. Mereka memang mengaku sebagai tentara rakyat, dan mengaku bahwa mereka berjuang demi rakyat, untuk membebaskan rakyat dari belenggu penjajahan. Mereka mengatakan bahwa perjuangan mereka murni, namun nyatanya mereka melakukan perbuatan- perbuatan yang jahat, merampok, membunuh dan memperkosa, tidak memiliki perikemanusiaan seperti binatang-binatang buas yang hanya mengenal hukum rimba. Kini jelas dapat dilihat betapa rakyat yang hidup di daerah kekuasaan Tai Peng bahkan menderita lebih hebat daripada sebelum daerah itu dibebaskan. Mereka menjadi penguasa-penguasa yang lebih kejam daripada penjajah Mancu sendiri! kata pula Li Hong Cang. Percakapan mereka terhenti ketika Sheila masuk ke ruangan itu membawa hidangan minuman bagi mereka semua. Bu Beng Kwi sejenak memandang wanita itu dan setelah Sheila kembali ke dapur, dia berkata kepada Han Le,

Han Le, engkau bantulah ibumu. Kami akan membicarakan urusan penting yang tidak kau mengerti. Han Le mengangguk dan bangkit tanpa membantah. setelah tiba di dapur, dia dihujani pertanyaan oleh ibunya. Han Le memberi keterangan sebisanya dan mendengar bahwa dua orang suheng dari puteranya itu baru saja pulang berjuang membantu balatentara Tai peng yang kini menduduki sebagian dari daerah selatan, Sheila menarik napas panjang.

Negara ini dilanda perang saudara tiada hentinya. Aih, Henry, mendiang ayahmu dahulu juga seorang pejuang yang amat gagah perkasa. Han Le mengerutkan alisnya.

Ibu, apakah ayah juga membantu pasukan Tai Peng menentang pasukan Mancu?

Ya, memang tujuan mereka sama, yaitu menghapuskan penjajah, akan tetapi ayahmu tidak membantu Tai Peng.

Tentu ayah tidak seperti orang-orang Tai Peng yang jahat itu, ibu. Kedua suhengku itupun meninggalkan Tai Peng karena orang-orang Tai Peng berobah jahat sekali!

Kau benar, anakku. Engkau belajarlah baik-baik, agar kelak dapat menjadi seorang gagah perkasa, seorang pendekar yang menentang kejahatan.

Seperti ayah, ibu?

Ya, seperti ayahmu, seperti gurumu yang gagah perkasa dan budiman itu. Sementara itu, Bu Beng Kwi masih bercakap-cakap secara serius dengan kedua orang muridnya..

Perjuangan seperti yang dipimpin oleh Ong Siu Coan itu tidaklah sehat lagi, kata Bu Beng Kwi. Perjuangan Tai Peng yang tadinya diharapkan untuk dapat membebaskan rakyat daripada cengkeraman penjajah, ternyata bahkan membuat rakyat menjadi semakin celaka, seperti terlepas dari mulut harimau masuk dalam cengkeraman serigala.

Memang demikianlah, suhu. kata Ceng Kok Han. Dan kini terjadi pemberontakan di selatan, Suku Bangsa Nien-fei, bahkan teecu mendengar bahwa suku Miau di Kwei-couw juga mulai bangkit dan memberontak. Kalau begini, berarti bangsa kita bahkan akan terpecah belah tidak karuan.

Belum lagi diingat ancaman bangsa kulit putih dari pantai timur, kata pula Li Hong Cang. Suhu, kalau dibiarkan pemerintah dihantam dari kanan kiri dan keadaan menjadi semakin kacau, maka rakyatlah yang akan menderita hebat.

Post a Comment