Hemm, bekas tangan seorang yanglihai, sute, kata orang yang mukanya merah dan bertubuh pendek besar, berusia kurang lebih empat puluh tahun dan mengenakan pakaian seorang ahli silat.
Benar, suheng. Akan tetapi lihat, dia itu agaknya belum tewas, kata orang kedua yang sebaya, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya pucat. keduanya cepat mengampiri perajurit Tai Peng yang nampaknya belum tewas seperti yang lain, masih menggerak-gerakkan kaki tangannya. Keduanya berlutut dan si muka merah lalu menotok beberapa jalan darah.
Katakan, siapa yang melakukan pembunuhan ini? tanya si muka pucat. Karena totokan itu agaknya perajurit yang sudah sekarat tadi mampu mengerahkan tenaga dan mengeluarkan beberapa potong kata yang terputus-putus,
Muka...... setan...... pengungsi...... Dia menuding ke arah hutan dan terkulai, tewas. Bagaikan kilat menyambar, kedua orang itu lalu berlompatan memasuki hutan yang sudah mulai gelap. Dua orang ini bukan orang sembarangan, menjadi pembantu-pembantu Ong Siu Coan dan merupakan tokoh-tokoh di antara para perwira pasukan Tai Peng. Mereka adalah kakak beradik seperguruan yang dikenal dengan julukan Tung-hai Siang-liong (sepasang Naga Lautan Timur). Berbeda dengan para pendekar seperti Tan Ci Kong dan yang lain-lain, biarpun tadinya membantu gerakan Tai Peng menyerbu dan bahkan menjatuhkan banyak kota, akan tetapi kemudian para pendekar itu mengundurkan diri dan meninggalkan Tai Peng melihat sepak terjang Ong Siu Coan dan pasukannya yang menyeleweng ke jalan sesat,
Masih banyak pedekar dan orang pandai yang tetap menjadi pembantu-pembantu setia dari Ong Siu Coan. Mereka adalah orang-orang yang berambisi memperoleh kedudukan tinggi, dan di antara mereka, termasuk Tung-hai Siang-liong. Mereka adalah dua orang yang memiliki ilmu silat campuran antara aliran Siauw-lim-pai dan Kong- thong-pai. Keduanya terkenal dengan Ilmu Pedang Khong-thong Kiam-sut yang cepat, dan memiliki dasar tenaga sinkang aliran Siauw-lim-pai. Karena kepandaian mereka yang tinggi, maka Ong Siu Coan mengangkat mereka menjadi pemimpin mata-mata yang bergerak di daerah perbatasan dan jasa mereka sudah banyak. Tidak mengherankan kalau kini mereka cepat dapat mengetahui hancur dan tewasnya pasukan kecil Tai Peng yang berjumlah empat belas orang itu.
Mudah bagi mereka menemukan sekelompok pengungsi yang berada di tengah hutan. Para pengungsi malam-malam itu mengubur jenazah-jenazah dan suasana di sekitar api unggun itu muram dan menyedihkan karena mereka berkabung. Banyak wanita yang menangis. Akan tetapi Tung-hai Siang-liong tidak perduli. Mereka muncul di dekat api unggun seperti setan dan si muka merah telah menyambar tengkuk seorang pengungsi pria, mengangkatnya tinggi-tinggi. Semua orang menjadi panik, terdengar jerit anak-anak dan para wanita yang masih belum kehilangan rasa takut dan ketegangan hati mereka sore tadi.
Hayo katakan, siapa yang telah membunuh para perajurit itu? Di mana adanya si muka buruk? bentak si muka merah. Pengungsi yang dicengkeram leher bajunya dan diangkat tinggi-tinggi itu menggigil ketakutan.
Am...... ampun......saya...... saya tidak mengenalnya. Dia muncul...... dan dia membunuhi para perajurit...... kemudian bersama wanita kulit putih dan anaknya pergi ke barat sana.
Brukkk! Si muka merah membanting tubuh pengungsi itu. Tubuh itu terbanting dan terguling ke dalam api unggun. Tentu saja dia berteriak-teriak kesakitan dan kepanasan. Dua orang itu sudah berkelebat lenyap dan kini para pengungsi baru berani menolong pengungsi yang kebakar pakaiannya itu sehingga dia dapat diselamatkan dari mati terbakar.
Sementara itu, si muka buruk yang bertubuh jangkung itu memanggul tubuh Han Le yang masih pingsan, melangkah menuju ke arah barat. Sheila mengikutinya dengan wajah tegang dan gelisah melihat betapa orang aneh yang berilmu tinggi itu tidak berkata apa-apa atau berbuat apa-apa terhadap puteranya yang masih terkulai di atas pundak orang itu. Sheila adalah seorang wanita kulit putih yang berhati tabah sekali. Sejak gadis, ia telah mengalami banyak hal yang hebat, menghadapi ancaman-ancaman bahaya dan hidup di samping suaminya yang menjadi pejuang. Akan tetapi, melihat puteranya dalam bahaya, ia merasa takut bukan main dan seluruh tubuhnya terasa lemas, kedua kakinya hampir tak dapat dipakai berjalan karena ia membayangkan bagaimana kalau sampai puteranya itu, satu-satunya orang yang kini dimilikinya di dunia ini, tewas!
Taihiap...... taihiap tunggulah dulu...... Akhirnya, tidak tahan melihat orang aneh itu diam saja, Sheila berkata dengan suara memohon. Laki-laki jangkung itu menghentikan langkahnya yang terpincang-pincang. Agaknya baru sekarang dia tahu atau ingat bahwa ibu anak yang dipanggulnya itu sejak tadi mengikutinya. Bulan sudah mencul dan sinar bulan menimpa muka yang buruk itu. Sepasang mata yang besar sebelah itu mencorong. Sheila menahan rasa seramnya melihat wajah itu dan iapun menjatuhkan diri berlutut di depan kaki orang yang mukanya seperti setan itu.
Taihiap...... tolonglah anakku...... sembuhkanlah dia, aku khawatir sekali...... sejak tadi dia diam saja...... Sheila menahan isaknya. Ingin ia menjerit menangis saking gelisah hatinya melihat puteranya.
Hemmm...... laki-laki muka buruk itu kini duduk di atas batu dan menurunkan tubuh Han Le dari atas pundaknya, mulai memeriksa. Tentu saja sejak tadi diapun tahu bahwa anak itu hanya pingsan dan tidak berbahaya keadaannya. Akan tetapi kini dia merasa kasihan melihat Sheila dan diapun mulai mengurut beberapa jalan darah di tubuh anak itu. Dan diapun terkejut dan girang karena begitu mengurut- urut, dia mendapat kenyataan bahwa anak ini memiliki tulang yang baik sekali, tubuhnya memenuhi syarat untuk menjadi seorang calon pendekar! Dia memberi obat bubuk pada luka di paha itu, dan membalutnya dengan robekan kain putih yang bersih. Setelah menotok beberapa jalan darah, Han Le mengeluh, membuka matanya.
Ibuuu...... keluhnya.
Henry, anakku....... Sheila cepat menghampiri dengan girang bukan main. Pada saat itu, terdengar bentakan nyaring dan ada angin pukulan menyambar ke arah mereka. Si muka buruk cepat mendorong tubuh Sheila dan Han Le yang sedang berangkulan itu sehingga ibu dan anak itu terlempar dan terguling-guling, sedangkan si muka buruk sediri sudah meloncat ke samping.
Darrr....... Terdengar suara keras dan batu yang diduduki si muka buruk itupun pecah berantakan terkena hantaman tangan seorang laki-laki muka merah dan seorang laki-laki muka pucat. Dapat dibayangkan betapa lihainya dua orang mata- mata pembantu Ong Siu Coan ini yang sekali pukul dapat menghancurkan batu besar! Kalau pukulan mereka tadi mengenai tubuh, dapat dibayangkan betapa hebat akibatnya, mungkin kini tubuh si muka buruk, Sheila dan puteranya sudah hancur dan tewas!
Kini si muka buruk sudah berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar, menghadapi dua orang itu. Setelah dia tidak melangkah dan tidak nampak pincangnya, dan cuaca yang remang-remang agak menyembunyikan keburukan wajahnya, si muka buruk nampak gagah perkasa ketika berdiri tegak dengan kaki terpentang menghadapi lawan itu. Mereka saling pandang, seperti ayam aduan tengah berlaga. Dua orang tokoh Tai Peng itu memandang penuh perhatian dan diam-diam mereka merasa heran sekali. Melihat betapa si muka buruk tadi mampu menghindar dari serangan mereka, jelaslah bahwa dia seorang yang berilmu. Akan tetapi mengapa mereka tidak mengenal orang ini? Mereka sudah biasa malang melintang di dunia persilatan, namun belum pernah mereka melihat, bahkan mendengar tentang tokoh yang wajahnya seperti setan ini.
Engkaukah yang telah membunuh empat belas orang tentara Tai Peng di luar hutan itu? si muka pucat bertaya, suaranya dingin dan pandang matanya penuh ancaman. karena mukanya yang pucat dan putih, dia dijuluki Tung-hai Pek-liong (Naga Putih Laut Timur), sedangkan kawannya yang menjadi suhengnya itu dijuluki Ang-liong (Naga Merah) karena mukanya yang kemerahan.
Benar, akulah yang melakukannya. Kiranya Tung-hai Siang-liong sekarang juga menjadi anggauta perampok-perampok Tai-Peng! jawab si muka buruk. Dua orang itu terkejut dan si muka merah melangkah maju untuk memandang lebih tajam, namun tetap saja dia tidak pernah bertemu dengan orang ini dan tak pernah mendengar tokoh kang-ouw dengan muka seperti ini.
Kiranya engkau telah mengenal kami. Siapakah engkau?
Sebut saja aku Bu Beng Kwi (Setan Tanpa Nama), aku tidak terkenal seperti kalian, akan tetapi juga tidak sesat seperti kalian yang membantu pasukan pemberontak.
Bu Beng Kwi, manusia sombong! Tai Peng adalah balatentara yang akan membebaskan rakyat dari cengkeraman penjajah Mancu! Tai Peng adalah pasukan para pejuang yang gagah perkasa, patriot-patriot yang mulia.
Hemm, sudah kubuktikan kegagahan mereka ketika mereka tadi merampok, membunuh dan mengganggu para pengungsi! Tai Peng telah diselewengkan, menjadi pasukan ganas yang jahat, dipimpin oleh Ong Siu Coan yang miring otaknya.
Keparat! Apakah engkau mata-mata pemerintah, penjilat Bangsa Mancu? bentak si muka putih. Ataukah barangkali engkau mata-mata orang kulit putih tanya si muka merah sambil melirik ke arah Sheila.
Aku tidak membantu siapa juga kecuali mereka yang lemah tertindas dan menantang mereka, yang jahat, siapapun juga adanya mereka.
Keparat, orang macam setan ini masih berlagak menjadi pendekar! Suheng, tak perlu banyak cakap lagi, dia telah membunuh belasan orang perajurit kita, dia harus dibasmi! kata Tung-hai Pek-liong. Mereka mencabut pedang dan menghampiri Bu Beng Kwi dari kanan dan kiri. Si muka setan itu berkata, suaranya lantang dan penuh wibawa,
Tung-hai Siang-liong, aku tidak mau bermusuhan dengan siapapun juga dan di antara kita tidak terdapat permusuhan. Kuperingatkan kepada kalian, mundurlah dan jangan menggangu kami sebelum terlambat.