Tentu terjadi korban perampokan, pembakaran, pembunuhan dan perkosaan. Pasukan pemerintah mengamuk di dusun-dusun dengan dalih melakukan pembersihan dan menuduh penghuni dusun sebagai anggauta pemberontak. Adapun pasukan pemberontak mengacau dusun-dusun itu karena memang hendak melampiaskan kebuasan mereka. Pada suatu senja, sekelompok pengungsi lari meninggalkan perkampungan mereka karena tempat itu dilanda perang antara sekelompok pasukan pemberontak Tai Peng melawan pasukan pemerintah yang meronda. Para penghuni dusun itu menjadi panik dan merekapun berhamburan melarikan diri megungsi, tidak sempat lagi membawa barang- barang berharga karena kalau keadaan sudah seperti itu, yang teringat hanyalah menyelamatkan nyawa. Di antara kurang lebih tiga puluh orang itu terdapat seorang wanita yang amat menarik perhatan. Pakaiannya biasa seperti pakaian para wanita petani lainnya, sederhana sekali. Akan tetapi yang membuat ia nampak aneh dan menonjol adalah warna rambut dan matanya. Rambutnya kuning keemasan dan matanya berwarna biru! Kulit tubuhnya, walaupun banyak terbakar sinar matahari seperti wanita petani lainnya yang berada dalam rombongan pengungsi itu masih nampak putih sekali.
Jelaslah bahwa ia seorang wanita kulit putih yang tentu saja amat berbeda dari para wanita petani dalam kelompok itu. Wanita itu, yang usianya tiga puluh tahun lebih, nampak menggandeng seorang anak laki-laki berusia kurang lebih tiga belas tahun.
Anak laki-laki yang rambutnya hitam kulitnya kekuningan seperti anak-anak biasa, akan tetapi sepasang mata anak inipun biru, dan bentuk wajahnya tampan sekali.
Siapakah wanita kulit putih ini? Ataukah ia seorang bule? Bukan, ia bukan bule, melainkan seorang kulit putih aseli. Namanya adalah Sheila. Belasan tahun yang lalu, sebelum Perang Madat terjadi, Sheila adalah puteri tunggal dari opsir Hellway, seorang opsir pembantu Kapten Elliot yang tinggal di Kanton. Ketika terjadi pemberontakan Perang Madat, dalam usahanya untuk melarikan diri bersama keluarganya, opsir Hellway dan keluarganya tewas, kecuali Sheila. Sheila dilarikan pemberontak dan nyaris diperkosa, ketika muncul seorang pendekar bernama Gan Seng Bu, sute dari Ong Siu Coan yang kini menjadi raja kaum Tai Peng, dan pendekar ini menolongnya.
Akhirnya, terjadilah jalinan cinta kasih antara Sheila dan pendekar Gan Seng Bu ini. Mereka lalu menikah dan hidup di antara para pendekar yang memberontak terhadap kerajaan Mancu, hidup sderhana di antara penduduk dusun yang menjadi petani. Karena amat mencinta suaminya, Sheila rela merobah hidupnya, dari puteri opsir yang biasanya hidup mewah, dihormati dan dimanja, kini hidup sederhana.
Setelah kandungannya terlahir, ia memberi nama Gan Han Le atau panggilannya sehari-hari menurut lidah Inggrisnya, Henry. Dengan penuh cinta kasih, Sheila merawat dan mendidik puteranya seorang diri saja. Sudah kerap kali datang lamaran dari bermacam pria, ada penduduk dusun, ada pula teman seperjuangan suaminya, pendekar-pendekar perkasa.
Namun semua pinangan ditolak dengan lembut oleh Sheila. Karena Gan Han Le atau Henry merupakan seorang anak laki- laki yang manis, banyak orang menyukainya, bahkan teman-teman seperjuangan mendiang Gan Seng Bu ada yang mengajarnya dengan ilmu silat. Kemudian, ketika Han Le berusia tiga belas tahun, dusun itupun dilanda pertempuran dan terpaksa Sheila mengajak puteranya untuk lari mengungsi bersama para penghuni lain. Kelompok mereka sejumlah tiga puluhan orang masuk keluar hutan dan naik turun gunung, dan pada senja hari itu, kelompok mereka yang kelelahan tiba di tepi sebuah hutan. Mereka bersepakat untuk memasuki hutan itu dan bersembunyi di situ sambil melewatkan malam melepaskan lelah untuk melanjutkan pelarian mereka besok pagi.
Akan tetapi dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati mereka ketika tiba-tiba terdengar sorak sorai dan dari dalam hutan itu bermunculan belasan orang laki- laki yang nampak buas-buas. Mereka mengenakan pakaian seragam dan memegang golok di tangan, dan melihat pakaian mereka, para pengungsi itu menggigil ketakutan karena tahu bahwa mereka adalah sekelompok pasukan pemberontak Tai Peng.! Mereka sudah sering mendengar akan kekejaman pasukan ini, maka tentu saja para pengungsi itu ketakutan dan mereka berserabutan melarikan diri. Akan tetapi, gerombolan pasukan itu tertawa dan berteriak-teriak, dan dengan gerakan cepat mereka lari mengepung sehingga kelompok pengungsi itu terkepung dan tidak dapat melarikan diri lagi, kecuali bergerombol dengan muka pucat dan tubuh menggigil. Sambil berteriak-teriak bagaikan segerombolan iblis atau binatang buas, belasan orang pasukan Tai Peng lalu menyerbu.
Golok mereka berkelebatan dibarengi suara teriakan dan ketawa mereka dan berjatuhanlah beberapa orang laki-laki, wanita tua dan kanak-kanak di antara para pengungsi. Tentu saja keadaan menjadi geger, para pengungsi menjerit-jerit dibarengi suara ketawa orang-orang kejam itu. Tentu saja mereka hendak melakukan pesta pora seperti biasa, merampok barang bawaan para pengungsi, membunuhi pengungsi laki-laki, wanita tua dan kanak-kanak, menawan dan memperkosa wanita- wanita mudanya. Segera Sheila menjadi pusat perhatian dan perebutan mereka. melihat seorang wanita berambut pirang bermata biru yang demikian cantiknya, bagaikan segerombolan harimau melihat sekor domba muda, mereka itu menyerang dan ingin menubruk. Akan tetapi terdengar bentakan nyaring.
Mundur semua! Yang ini untukku seorang, ha-ha-ha! dan pemimpin gerombolan itu seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun yang bermuka hitam penuh brewok, meloncat maju. Anak buahnya tidak berani membantah dan mereka melanjutkan pembantaian mereka sambil bersorak-sorak. Sementara itu si brewok yang kagum melihat kecantikan Sheila, sudah menghampiri dengan muka menyeringai dan tiba- tiba saja dia menubruk wanita itu dengan kedua lengan dikembangkan seperti seekor biruang yang menyerang. Sheila merasa ngeri sekali dan berusaha mengelak dengan loncatan kesamping, namun tangan kanan orang itu masih berhasil menangkap tepi bajunya.
Breetttt......! Baju itupun robek dan terbukalah bagian dadanya. Melihat bukit dada yang membusung itu, si komandan pasukan Tai Peng terbelalak kagum dan dia menelan ludah yang masih segar.
Ha-ha-ha-ha, cantik...... cantik......! kata si brewok itu yang melangkah maju menghampiri. Sheila mundur-mundur dengan muka pucat.
Jangan ganggu ibuku! Tiba-tiba Han Le yang masih kecil, baru berusia tiga belas tahun itu, meloncat ke depan dan menggunakan kedua tangannya untuk mendorong perut si brewok, menghalanginya mendekati ibunya.
Minggir kau, setan cilik! Si brewok membentak dan sekali dia menampar, pundak anak itu terpukul membuat dia terpelanting jatuh.
Henry......! Sheila menjerit. Akan tetapi Han Le bangkit lagi dan menyerang si brewok dengan marah. biarpun masih kecil, dia pernah belajar silat dan tubuhnya kuat, semangatnya juga besar apalagi melihat ibunya teranvam. Namun, seorang anak berusia tiga bels tahun, mana mungkin dapat melawan komandan pasukan itu yang kuat dan pandai ilmu silat? Si Brewok yang marah itu mengelebatkan goloknya. Si kecil Han Le berusaha mengelak, namun kalah cepat dan robohlah dia dengan berlumuran darah karena pahanya kesabet golok sehingga celana, kulit dan dagingnya robek.
Henry......! Sheila menjerit dan menubruk puteranya. Akan tetapi tiba-tiba lengannya ditangkap orang dan tubuhnya sudah dipeluk ketat oleh si brewok yang tertawa bergelak. Sheila meronta ketika komandan itu hendak memaksanya menerima ciuman mulut yang lebar dan basah.
Manusia jahat! tiba-tiba terdengar bentakan dan tiba-tiba si brewok merasa betapa kedua lengannya yang memeluk tubuh hangat wanita kulit putih itu menjadi lemas, kemudian diapun terbanting roboh oleh sebuah tendangan.
Komandan brewok terkejut dan marah bukan main melihat ada orang berani menyerangnya dan melepaskan wanita itu. Dia cepat bergulingan lalu memandang dan matanya terbelalak ngeri melihat betapa penyerangnya tadi adalah seorang laki- laki bertubuh jangkung yang mukanya seperti setan yang amat mengerikan! Muka itu buruk sekali! Kulit muka itu pletat-pletot tidak karuan lagi bentuknya, Hidungnya menyerong ke samping, mulutnya juga perot, matanya besar sebelah karena yang sebuah seperti pernah terobek, kedua telinganyapun mengeriput kecil. Pendeknya, muka itu menyeramkan sekali, muka yang biasa digambarkan sebagai setan dan iblis dalam dongeng kanak-kanak! Bukan hanya mukanya yang buruk, juga bentuk tubuhnya agak bongkok, jalannya pincang dan lengan kirinya bengkok. Kini laki-laki itu menghampiri komandan brewok.
Manusia jahat! kembali terdengar suaranya. Komandan brewok itu cepat meloncat berdiri dan goloknya dibacokkan ke arah kepala orang itu. Si muka buruk itu tidak mengelak jauh, hanya miringkan kepala dan golok dengan kekuatan penuh menyambar ke arah lehernya! Si brewok menyeringai girang karena goloknya tentu akan memenggal leher si muka buruk itu.
Takkk! golok itu tepat mengenai leher, akan tetapi mental kembali dan pada saat si brewok terbelalak kaget, tiba-tiba si muka buruk menggerakkan tangan kiri tangan terbuka, menyambar ke arah dada lawan.
Trrrakkkk......! Tubuh si brewok terpelanting keras, dan dia roboh tak mampu bangkit kembali karena nyawanya sudah melayang ketika jari-jari tangan yang amat kuat itu membuat semua tulang iganya patah-patah dan jantungnya rontok!
Kini si muka buruk itu begerak ke sana-sini, mencegah gerombolan orang Tai Peng yang melakukan pembunuhan lebih lanjut dan ke manapun juga tubuhnya bergerak dan tangannya menyambar, tentu ada anggauta pasukan yang roboh. Demikian cepatnya dia bergerak, tidak perduli akan serangan golok para perajurit. Satu demi satu mereka roboh dan akhirnya belasan orang itu tewas semua terkena tamparan tangan si muka buruk yag luar biasa lihainya. Para pengungsi memandang dengan mata terbelalak, ada pula yang menangisi suami atau anak yang telah tewas dibacok pasukan Tai peng tadi. Setelah semua lawan roboh dan tewas, si muka buruk lalu membalikkan tubuhnya hedak pergi meninggalkan tempat itu tanpa bicara apapun.
Akan tetapi tiba- tiba Sheila berlari menghampiri dan menjatuhkan diri berlutut di depannya.
Taihiap, kasikanilah kami...... tolonglah anakku yang terluka parah ini.
Di antara keremangan cuaca senja, si muka buruk memandang wajah Sheila dan dia nampak terkejut sekali, sampai melangkah mundur dua kali.
Kemudian dia menghampiri Han Le yang roboh pingsan. Melihat luka dipaha anak itu, dia cepat menekan jalan darah untuk menghentikan darah yang mengucur keluar, kemudian tanpa banyak cakap dia memanggul tubuh Han Le ke atas pundaknya, lalu melangkah pergi. Sheila bergegas mengikutinya. Para pengungsi lain lalu mengangkut mereka yang tewas dan terluka, lalu pergi memasuki hutan yang mulai gelap.
***
Dua orang itu berkelebat bagaikan setan saja cepatnya, tahu-tahu mereka telah berada di tepi hutan di mana nampak belasan orang anggauta pasukan Tai Peng berserakan. Dua orang itu berdiri saling pandang dan nampaknya terkejut, apalagi melihat bahwa semua orang itu tewas tanpa ada tanda luka senjata tajam. Mereka lalu cepat menghampiri dan memeriksa mayat-mayat itu.