Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 28

Memuat...

Melebihi batas kemampuan dan kekuatannya sendiri dan selalu mengandalkan obat kuat dan obat perangsang yang diminumnya. Di dalam tubuh telah terdapat batas- batas, ukuran dan timbangan yang sempurna, yang mengatur pembagian kekuatan dalam tubuh. Kalau orang memaksa diri dengan bantuan obat perangsang, maka dia merugikan diri sendiri, bahkan membahayakan kesehatan dan kesempurnaan diri sendiri. Pertama dia akan menjadi kecanduan dan ketergantungannya kepada obat kuat dan obat perangsang merupakan racun bagi dirinya. Tanpa bantuan obat, dia akan kehilangan segala kekuatan dan kemampuannya. Kedua, pemaksaan dengan obat perangsang ini akan menyedot dengan paksa kekuatan yang sebetulnya harus mejadi cadangan, disedot habis dan tentu saja hal ini amat merusak kesehatan dan melemahkan tubuh.

Hidupnya akan tergantung kepada obat dan sekali obat itu ditinggalkan, dia akan menjadi mayat hidup yang tidak ada gunanya lagi. Dan betapapun baiknya obat, apalagi obat perangsang, kalau terlalu banyak dipakai tentu akan menimbulkan akibat-akibat sampingan yang buruk. Segala hal yang berlebihan dan tidak wajar tentu berakibat buruk. Gairah berkobar di dalam dirinya yang tak pernah dapat disalurkan makin bertumpuk dan membuat Yehonala menjadi pemarah dan pemurung.

Sepasang alisnya yang kecil panjang hitam melengkung seperti dilukis itu hampir selalu berkerut, sepasang matanya menjadi suram padahal biasanya bening dan amat tajam seperti mata burung Hong, senyumnya yang biasanya selalu menghias mulutnya yang mungil itupun menghilang. Wajahnya muram dan lesu, seperti setangkai bunga kurang siraman air dan menjadi kekeringan.

Li Lian Ying adalah seorang di antara para thaikam (orang kebiri) yang bertugas di dalam istana. Dia baru berusia dua puluh tiga tahun, bertubuh tegap gagah, namun wajahnya buruk, penuh bekas cacar, menjadi bopeng dan kehitaman. Namun, Li Lian Ying ini memiliki keahlian. Dia pandai sekali menata rambut, membuat sanggul dan meriasnya. Selain itu, diapun ahli dalam hal ilmu pijat sehingga dia merupakan seorang hamba yang disuka oleh Yehonala karena keahliannya itu. Dan biarpun ujud tubuh Li Lian Ying seorang pria, namun sebagai seorang thaikam, tentu saja Yehonala tidak malu-malu lagi terhadap pria yang sudah kehilangan kejantanannya ini, yang sudah menjadi manusia kepalang tanggung, pria bukan wanitapun bukan.

Li Lian Ying yang cerdik dan berwatak penjilat itu tentu saja maklum akan keadaan Yehonala yang selalu termenung dan muram. Karena kaisar jarang datang berkunjung, pemaisuri kedua ini tidak berminat lagi untuk berdandan, padahal dahulu ketika masih menjadi kekasih kaisar, setiap hari Li Lian Ying yang menata rambutnya, bahkan membantunya mandi, memijatinya dan memberi nasihat-nasihat untuk menjaga kecantikan wajah dan tubuhnya. Dia merasa kasihan, juga merasa rugi karena kalau dapat berjasa terhadap permaisuri kedua yang royal ini, banyak hadiah yang diterimanya. Kalau permaisuri kedua ini selalu berduka, diapun mengalami musim kering! Pada suatu senja, ketika dia melihat permaisuri muda itu duduk termenung dengan rambut kusut, tidak mau pergi mandi padahal tempat mandi yang mewah telah penuh dengan air bunga, Li Lian Ying dengan hati-hati menghampirinya.

Sri Ratu, silakan mandi, hamba telah mempersiapkan air hangat bercampur air mawar yang harum, katanya dengan suara lembut dan penuh hormat. Dengan malas- malasan Yehonala menoleh dan alisnya berkerut.

Untuk apa aku mandi dan bersolek diri? Aku tidak ingin mandi, Li Lian Ying. Pergilah dan tinggalkan aku sendiri, biarkan aku duduk seorang diri. Beberapa orang dayang yang berada di situ juga ikut membujuk, namun puteri jelita itu bahkan sama sekali tidak menanggapi atau menjawab bujukan mereka sehingga mereka ketakutan dan tidak lagi berani bicara. Li Lian Ying yang disuruh pergi itu tidak beranjak dari tempat dia berlutut. Kemudin dengan suara halus ia berkata,

Kenapa paduka membiarkan diri tenggelam di dalam duka dan nelangsa? Bukankah semestinya paduka hidup bersuka cita karena paduka telah dikaruniai seorang putera yang menjadi pangeran mahkota? Harap paduka ingat bahwa berduka menyesali nasib yang baik mengundang kemurkaan Tuhan.

Li Lian Ying, bagaimana aku dapat bergembira? Apa artinya semua kurnia ini? Aku tidak pernah dapat berdekatan dengan puteraku yang sejak lahir dibawa untuk dirawat oleh ahli-ahli perawat bayi dan pendidik-pendidik yang cerdik pandai!

Dan aku hidup kesepian. Sri Baginda telah melupakan aku...... dan Yehonala tak dapat menahan lagi tangisnya. Thaikam ini membiarkan junjungannya menangis. setelah tangis itu mereda dan semua penyesalan telah keluar melalui air ata, barulah dia berkata dengan halus,

Sri Ratu, hamba mohon paduka dapat menenangkan diri. Harap paduka ingat akan kata-kata orang bijaksana bahwa kalau dalam rumah penuh makanan lezat dan udaranya sejuk menyegarkan, suami takkan pernah kelaparan dan malas meninggalkan rumah. Demikian pula keadaan di sini. Kalau paduka selalu berduka dan tidak mau merias diri, bagaimana kalau sewaktu-waktu Sri Baginda datang berkunjung? Apakah beliau akan merasa betah di sini, melihat paduka tidak berias dan bermuram durja? Marilah, Sri Ratu yang mulia. Marilah, hamba sekalian membantu paduka mandi, kemudian hamba akan memijiti tubuh paduka dan mengusir semua kelelahan lahir batin. setelah itu, hamba akan membuat sanggul yang indah pada rambut paduka. Mendengar ini, para dayang ikut pula membujuk dan akhirnya Yehonala mengangguk setuju.

Ia membiarkan Li Lian Ying memondong tubuhnya dibawa ke kamar mandi dan ratu inipun dilayani Li Lian Ying dan para dayang, mandi di air hangat yang harum menyegarkan itu. Setelah mandi air hangat harum dan tubuhnya digosok minyak wangi, ratu itu lalu minta dipijat oleh Li Lian Ying yang memberi isyarat kepada para dayang untuk mengundurkan diri. Para dayang tidak berani lagi mengganggu.

Biasanya, kalau dipijat oleh thaikam itu, sang ratu lalu tertidur. Li Lian Ying mulai memijati tubuh yang indah itu. Akan tetapi sekali ini, caranya memijati tubuh itu lain daripada biasanya. Kalau biasanya, jari-jari tangannya yang ahli itu hanya melemaskan otot-otot yang kaku, membuka hambatan-hambatan pada jalan darah sehingga darah berjalan lancar kembali, Mengusir lelah dan ketegangan dengan mengendurkan urat-urat.

Akan tetapi sekali ini lain. Dia bukan hanya ingin mengusir lelah, melainkan ingin memberi kenikmatan kepada tubuh itu. Jari-jari tangannya membelai-belai penuh kemesraan, didorong oleh hatinya yang memang penuh dengan gairah yang tak terlaksana. Dia seolah-olah menggauli dan bermain cinta dengan wanita cantik itu melalui jari-jari tangannya! Dan Yehonala mula-mula terkejut, akan tetapi karena ia merasakan kenikmatan yang luar biasa, ia diam saja, bahkan pura-pura tertidur membiarkan Li Lian Ying memainkan jari-jari tangannya yang luar biasa pandainya itu! Dan berhasillah Li Lian Ying mengusir kekecewaan Yehonala, bahkan memberi kepuasan dan kenikmatan kepada wanita muda itu sampai Yehonala tertidur pulas dengan senyum menghias bibirnya.

Keberhasilan Li Lian Ying ini membuat dia semenjak saat itu menjadi kekasih Yehonala! Dia menjadi hamba yang dikasihi dan kini tugas thaikam itu setiap malam adalah menghibur Yehonala dengan jari-jari tangannya dan diapun menerima banyak hadiah dari permaisuri muda yang kini mulai lagi bersolek dan berwajah gembira penuh semangat hidup. Dan selain menjadi kekasihnya, juga thaikam yang buruk rupa namun memiliki kedua tangan yang amat pandai dan lidah yang pandai pula merayu menjilat, menjadi orang yang paling dipercaya oleh Yehonala, menjadi tangan kanannya! Demikianlah, keadaan pemerintah Kerajaan Ceng mengalami kerusakan luar dalam! Perkembangan kekuasaan Tai Peng di selatan seolah-olah tidak diperdulikan oleh kaisar yang lebih mementingkan kesenangan pribadi. Para pendatang kulit putih merasa gembira sekali melihat perkembangan pasukan Tai Peng yang menduduki wilayah selatan itu.

Inilah keadaan yang paling menguntungkan bagi mereka. Biarkan orang-orang pribumi itu saling hantam, itulah pendirian mereka. Dengan saling hantam, maka mereka akan menjadi lemah dan kalau mereka lemah, maka orang kulit putih yang dapat menarik keuntungan sebesarnya. Bermunculanlah di antara orang-orang kulit putih itu petualang-petualang yang memancing di air keruh, mempergunakan kesempatan dalam kesempitan. Mereka kini tidak hanya menyelundupkan candu, melainan juga menyelundupkan senjata! Senjata api yang amat dibutuhkan kedua belah pihak, baik pemerintah Mancu untuk membasmi pemberontak maupun pihak pemberontak itu sendiri. Dan tentu saja senjata-senjata itu dijual dengan mahal sekali, beberapa kali lipat harga belinya dari pabrik senjata di barat!

Orang-orang kulit putih menyebar mata-mata yang pandai, yang tugasnya untuk mengobarkan perang saudara, untuk memperbesar pertentangan di samping meneliti keadaan. Maka terjadilah perang sembunyi antara mata-mata ketiga pihak, yaitu para mata-mata orang kulit putih yang tidak selalu terdiri dari orang kulit putih, melainkan bayak pula mata-mata bangsa pribumi yang telah dapat dibeli oleh orang kulit putih, kemudian mata-mata pemberontak Tai Peng dan mata-mata pemerintah Mancu sendiri. Biarpun kini pasukan Tai Peng tetap bertahan di Nan- king dan daerahnya di selatan dan tidak pernah dapat menyerbu sampai lewat tapal batas, namun pertempuran masih terus menerus terjadi antara pasukan pemeritah maupun pasukan pemberontak. Yang celaka adalah dusun-dusun yang dilanda perang. Setiap dusun yang dimasuki pasukan, baik pasukan pemerintah maupun pasukan pemberontak,

Post a Comment