Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 27

Memuat...

Harap susiok bersabar dan biarlah pihak Kun-lun-pai yang lebih dulu memberi keterangan agar jangan disangka bahwa saya berpihak kepada Siauw-lim-pai, Nah, totiang yang terhormat, apakah sebabnya terjadi pertentangan yang tidak semestinya antara Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai ini? Thian Tek Hwesio tidak berkata-kata lagi dan melihat kebenaran ucapan pendekar itu. kini Tiong Tek Seng-jin yang melangkah maju menghadapi ci Kong.

Tan-taihiap, kami dari Kun-lun-pai bukanlah orang-orang yang suka mencari permusuhan, apalagi terhadap Siauw-lim-pai yang kami anggap sebagai saudara segolongan. Akan tetapi kesabaran ada batasnya. baru-baru ini, dua orang anggauta kami, Tiong Gi Tojin dan Tiong Sin Tojin, dibunuh oleh orang she Lee yang mengaku sebagai murid Siauw-lim-pai. Hal ini masih kami terima dengan kesabaran dan kami mendatangi para pimpinan Siauw-lim-pai agar mereka menghukum murid itu. Akan tetapi, belum juga ada kabarnya tentang Siauw-lim-pai she Lee itu, terjadi lagi pembunuhan atas diri seorang murid kami, yaitu Huang-ho Sin-to Kwa Ciok Le, dibunuh oleh wakil ketua Siauw-lim-pai sendiri, yaitu Thian Khi Hwesio. Bagaimana kami harus bersabar lagi? Kami bermaksud mendatangi Siauw-lim- pai untuk menuntut keadilan, akan tetapi di sini kami bertemu dengan rombongan pimpinan Siauw-lim-pai, dan mereka bahkan menjatuhkan fitnah kepada kami, mengatakan bahwa kami mengeroyok dan membunuh Thian Khi Hwesio. Apakah ini tidak mendatangkan penasaran besar? Ci Kong mengerutkan alisnya.

Lo-cianpwe, siapakah yang menyaksikan bahwa Huang-ho Sin-to terbunuh oleh susiok Thian Khi Hwesio?

Yang menyaksikan adalah orang-orang yang datang membawa mayatnya kepada kami di kuil kami. Siapakah mereka?

Pinto tidak mengenal mereka, akan tetapi mereka adalah orang-orang kang-ouw, mungkin kenalan Huang-ho Sin-to, yang menyerahkan mayat, mengatakan bahwa Thian Khi Hwesio yang membunuhnya lalu mereka pergi lagi.

Karena penasaran dan marah, locianpwe dan para totiang lalu pergi mendatangi kuil Siauw-lim?

Benar, kami bermaksud untuk minta keadilan, akan tetapi di sini kami bertemu dengan para hwesio Siauw-lim yang mengatakan kami telah membunuh Thian Khi Hwesio sehingga terjadi pertempuran. Kini Tan Ci Kong menghadapi Thian Tek Hwesio.

Susiok, benarkah bahwa susiok Thian Khi Hwesio terbunuh?

Benar, ada beberapa orang mengantar jenazahnya ke kuil kami, dan mereka mengatakan bahwa sute Thian Khi Hwesio dikeroyok dan dibunuh oleh para tosu Kun- lun-pai. Kami lalu pergi hendak mendatangi kuil Kun-lun-pai, akan tetapi bertemu di sini dan mereka menuduh Thian Khi Hwesio membunuh seorang murid Kun-lun-pai, padahal menurut penuturan mereka yang membawa jenazahnya, sute Thian Khi Hwesio yang lebih dulu diserang oleh Huang-ho Sin-to. Mereka berkelahi dan Huang-ho

Sin-to tewas, akan tetapi sute lalu dikeroyok dan tewas pula. Ci Kong mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya.

Harap cuwi bersabar dan dapat merenungkan baik-baik. Ternyata kedua peristiwa pembunuhan itu, baik atas diri Huang-ho Sin-to maupun atas diri susiok Thian Khi Hwesio, terjadi di luar pengetahuan kedua pihak. Kedua pihak hanya mendengar laporan dari orang-orang yang sama sekali tidak dikenalnya. Ada hal-hal aneh di sini! Ketahuilah bahwa belum lama ini susiok Thian Khi Hwesio datang kepada saya dan minta kepada saya untuk melakukan penyelidikan terhadap orang she Lee yang telah membunuh dua orang tosu Kun-lun-pai dan mengaku murid Siauw-lim-pai.

Ketika dia datang, yang menerima hanya istri saya karena saya sedang berada di selatan. Ketika beberapa hari kemudian saya pulang dan mendengar akan peristiwa itu dari isteri saya, saya lalu langsung pergi lagi hendak mencari keterangan yang lebih jelas di Siauw-lim-pai. Tentu telah terjadi hal-hal yang aneh di balik semua ini. Pertama, kedua orang tosu Kun-lun-pai terbunuh oleh seorang she Lee yang mengaku sebagai murid Siauw-lim-pai. Padahal tidak ada murid she Lee di Siauw-lim-pai yang kiranya memiliki ilmu kepandaian demikian tingginya sehingga mampu membunuh kedua orang tokoh Kun-lun-pai itu. Dan kemudian disusul kematian susiok Thian Khi Hwesio dan Huang-ho Sin-to. Tidak ada di antara kedua perkumpulan yang melihat sendiri pembunuhan itu, hanya mendengar dari penuturan orang luar yang bernada mengadu domba antara Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai. Aku yakin bahwa agaknya ada hubungannya antara pembunuhan terhadap dua orang Kun- lun-pai yang pertama dengan pembunuhan terakhir ini. Dan pembunuhnya hendak mengadu domba antara kedua golongan.

Akan tetapi, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa dugaanmu itu benar, Tan- taihiap? Tiong Tek Seng-jin membantah.

Memang belum ada buktinya dan sayalah yang akan melakukan penyelidikan. baru- baru ini, susiok Thian Khi Hwesio telah datang mencari saya dan meninggalkan pesan agar saya melakukan penyelidikan tentang diri orang she Lee yang mengaku murid Siauw-lim-pai dan telah membunuh dua orang tokoh Kun-lun-pai. Kini tugas saya bertambah, yaitu menyelidiki peristiwa pembunuhan diri susiok Thian Khi Hwesio dan juga Huang-ho Sin-to. Saya mempunyai dugaan bahwa pembunuhnya tentulah juga orang yang mengaku murid Siauw-lim-pai itu. Jelas dia bermaksud mengadu domba. Saya harap cu-wi percaya kepada saya dan untuk sementara bersabar menanti hasil penyelidikan saya dan jangan sampai timbul timbul salah paham di antara kedua golongan. Para tosu dan hwesio saling pandang lalu mengangguk- angguk.

Keadaan negara sedang kacau seperti ini, sungguh amat merugikan rakyat kalau sampai di antara golongan kita sendiri terjadi permusuhan, demikian Ci Kong mengakhiri bujukannya yang diterima oleh kedua belah pihak dengan penuh pengertian.

Merekapun lalu saling berpisah, kembali ke kuil masing-masing, sedangkan Ci Kong melanjurkan perjalanannya untuk melakukan penyelidikan. Seperti telah diceritakan di bagian depan, mula-mula Ci Kong tertarik akan perjuangan yang dipimpin oleh Ong Siu Coan dan bersama banyak orang gagah diapun membantu perjuangan Ong Siu Coan pemimpin pasukan Tai Peng itu, sehingga pasukan Tai Peng berhasil menguasai beberapa daerah di selatan. Akan tetapi, setelah melihat sepak terjang Ong Siu Coan dan pasuikannya yang tidak berdisiplin, melihat betapa pasukan itu melakukan perampokan, pembunuhan dan pemerkosaan seperti penjahat, Ci Kong dan banyak pendekar meninggalkan pasukan itu. Ong Siu Coan yang sudah memperoleh kemenangan itu tidak perduli dan melanjurkan penyerbuan pasukannya ke Peking.

Namun, akhirnya penyerbuan itu dipukul mundur dan dia lalu menjadi raja besar di Nan-king! Itulah sebabnya Ci Kong pulang menyusul isterinya yang telah pergi ke puncak Naga Putih di Pegunungan Wu-yi-san. dan begitu tiba di sana, dia mendengar dari isterinya akan kunjungan Thian Khi Hwesio wakil ketua Siauw-lim- pai yang minta bantuannya untuk membersihkan nama Siauw-lim-pai. Biarpun kini balatentara Tai Peng yang dipimpin Ong Siu Coan telah menduduki daerah selatan, namun keluarga kaisar di istana agaknya sama sekali tidak merasa prihatin.

Kaisar Hsian Feng masih saja mengejar kesenangan melalui wanita- wanita cantik sehingga dia sendiri tidak tahu betapa di istananya sendiripun terjadilah hal- hal yang amat memalukan dan mendatangkan aib bagi keluarga kaisar.

Yehonala Si Anggrek Mungil, gadis cerdik dan cantik manis yang kini naik derajatnya dari selir baru menjadi permaisuri kedua karena setahun setelah berhasil digauli kaisar lalu mengandung dan melahirkan seorang putera, makin lama semakin merasa tersiksa. Biarpun ia telah diangkat menjadi permaisuri kedua sebagai ibu pangeran mahkota, dan ia hidup penuh dengan kemewahan dan kehormatan, namun wanita muda yang berdarah panas ini merasa kesepian! Makin jarang kaisar bermalam di dalam kamarnya, dan kalau sekali waktu kaisar berkunjung dan menggaulinya, ia tidak pernah dapat merasa puas. Biarpun Kaisar Hsian Feng masih muda belum tiga puluh tahun usianya, namun tubuhnya menjadi lemah sekali. Hal ini adalah akibat dari pengumbaran nafsu secara berlebihan,

Post a Comment