Mulai saat ini, kalian menjadi pendukung dan pembantuku. Jangan khawatir, semua biaya akan kupikul. Kalian harus menyebar luaskan bahwa kini muncul Thian-he Te- it Bu-hiap yang akan menjadi bengcu (pemimpin) di antara semua ahli silat.
Maaf, Lee-kongcu, Seng-jin Sin-to si malaikat Copet itu berkata. Bagi kami mudah saja mengangkat kongcu sebagai bengcu karena kami sudah yakin akan kemampuan kongcu. Dan kami juga dapat menyebarluaskan ini di antara golongan kami yang memang membutuhkan pimpinan yang pandai agar kami tidak mengalami penekanan dari pihak pemerintah dan para pendekar. Akan tetapi bagaimana terhadap para pendekar? Buktinya, yang tadi hadir di sini saja melakukan perlawanan sehingga terpaksa kongcu membunuh mereka. Apakah para pendekar akan mau mengakui kongcu sebagai bengcu? Hal ini kami merasa sangsi. Mendengar ucapan ini, Tiat-pi Kim-wan, Sin-kiam Mo-li dan beberapa orang yang hadir di situ mengangguk membenarkan. Lee Song Kim mengepal tinju.
Aku harus menjadi Thian-he Te-it Bu-hiap yang diakui oleh semua tokoh dunia persilatan, baik yang dinamakan para pendekar atau para tokoh kang-ouw. Kalau ada yang tidak mau mengakui dan berani menentangku, akan kuhancurkan! Akan kuundang mereka semua dan siapa berani menentang akan kurobohkan, akan kuperlihatkan kepada mereka semua bahwa akulah yang paling lihai.
Maaf, kongcu, kini Tiat-pi Kim-wan berkata. Para ahli silat yang berdiri bebas mungkin akan suka mengakui kongcu kalau sudah melihat kesaktian kongcu, akan tetapi bagaimana dengan partai-partai persilatan yang besar seperti Siauw- lim-pai dan Kun-lun-pai? Mereka mempunyai ketua-ketua sendiri, mana mungkin mengakui kongcu sebagai bengcu mereka.
Mereka harus mengakui dan aku akan kalahkan ketua-ketua mereka. memang mereka itu sombong dan besar kepala,mereka yang menamakan diri para pendekar itu. Kalau mereka tidak mau mengakui aku, aku akan memimpin kaum kang-ouw, meggantikan kedudukan Empat Racun Dunia! Sekarang, bantulah aku mengirim jenazah Thian Khi Hwesio ke kuil Siauw-lim-pai bersama jenazah Huang-ho Sin-to murid Kun-lun-pai ini.
Untuk apa, kongcu? tanya mereka terkejut dan heran. Song Kim tertawa dan menceritakan siasatnya. Biarpun di dalam hati mereka merasa jerih, namun orang- orang yang sudah tunduk dan takluk itu tidak berani membantah dan mereka hanya dapat mengangguk dan siap melaksanakan siasat yang direncanakan Lee Song Kim.
Thian Tek Hwesio, ketua Siauw-lim-pai yang bertubuh pendek kecil itu berkali- kali menyebut nama Sang Buddha untuk memadamkan api kemarahan yang bergolak di dalam batinnya. Akan tetapi para hwesio pembantunya sudah tidak mampu menahan kemarahan mereka. Wajah mereka menjadi merah, mata mengeluarkan sinar berkilat dan mereka mengepal tinju. Siapa orangnya yang tidak akan marah ketika muncul lima orang kang-ouw itu, yang datang membawa jenazah Thian Khi Hwesio, wakil ketua Siauw-lim-pai itu sambil memberitahu bahwa yang membunuhnya adalah para tosu Kun-lun-pai? Menurut keterangan lima orang itu yang bukan lain adalah para pembantu baru dari Lee Song Kim, Thian Khi Hwesio terlibat dalam perkelahian dengan Huang-ho Sin-to Kwa Ciok Le,
Jagoan murid Kun-lun-pai itu, yang marah-marah kepada wakil ketua Siauw-lim-pai itu karena kematian dua orang tokoh Kun-lun-pai yang kabarnya dibunuh orang Siauw-lim-pai. Dalam perkelahian itu, Kwa Ciok Le tewas di tangan Thian KhiHwesio. Kemudian muncul beberapa orang tosu Kun-lun-pai yang mengeroyok hwesio itu sehingga Thian Khi Hwesio tewas. Demikianlah cerita anak buah Lee Song Kim kepada ketua Siauw-lim-pai dan para pembantunya. Tentu saja para pimpinan Siauw-lim-pai marah sekali. Kun-lun-pai telah bersikap keterlaluan, pikir mereka. Biarpun ada dua orang tokoh Kun-lun-pai yang terbunuh oleh orang yang mengaku murid Siauw-lim-pai, namun belum ada bukti bahwa benar pembunuhnya orang Siauw-lim-pai, kenapa sekarang mereka membunuh wakil ketua Siauw-lim-pai?
Kita harus membereskan hal ini dengan pimpinan Kun-lun-pai! mereka menuntut ketua mereka.
Karena desakan para pembantunya, akhirnya Thian Tek Hwesio yang usianya sudah tujuhpuluh tahun itu berangkat, diiringkan para pembantunya dalam jumlah belasan orang menuju ke sebuah kuil Kun-lun-pai yang jaraknya hanya kurang lebih empat puluh li dari biara itu. Mereka hendak menuntut kepada para pimpinan kuil itu agar disampaikan protes mereka kepada ketua Kun-lun-pai atas peristiwa kematian Thian Khi Hwesio. Akan tetapi, baru belasan li mereka berjalan, serombongan tosu Kun-lun-pai yang terdiri dari belasan orang pula, dipimpin oleh Tiong Tek Seng- jin, ketua cabang Kun-lun-pai itu, dan para tosu itupun nampak marah sekali.
Begitu kedua rombongan bertemu, keduanya saling pandang dengan melotot penuh kemarahan dan siap untuk saling hantam tanpa banyak cakap lagi! Akan tetapi, Thian Tek Hwesio yang lebih dapat menahan kemarahannya, maju dan menjura kepada Tiong Tek Seng-jin dan para pembantunya.
Omitohud...... pinceng dan sudara-saudara sedang hendak mengunjungi toyu (sobat) sekalian, kebetulan berjumpa di sini.
Siancai, agaknya memang kita kedua pihak memiliki niat yang serupa, jawab Tiong Tek Seng-jin. Pinto dan saudara-saudara juga ingin berkunjung ke Siauw- lim-pai, kebetulan bertemu di dalam hutan ini. Cu-wi (kalian) adalah hwesio- hwesio, orang-orang beragama yang menjunjung kesucian, akan tetapi apa yang kalian lakukan sungguh terlalu sekali. Ketika adik-adik kami Tiong Gi Tojin dan Tiong Sin Tojin dibunuh oleh murid Siauw-lim-pai, kami masih bersikap sabar dan menyerahkan kepada Siauw-lim-pai untuk mencari dan menghukum pembunuh itu. Akan tetapi, pembunuh itu belum juga dihukum, kini bahkan wakil ketua Siauw-lim-pai, Thian Khi Hwesio, membunuh pula seorang tokoh kami yaitu Kwa Ciok Le yang berjuluk Huang-ho Sin-to (Golok Sakti Huang-ho). Apakah Siauw-lim-pai sudah tidak memandang lagi kepada kami? Thian Tek Hwesio membantah.
Omitohud, kemarahan toyu tidak adil sekali. Katahuilah bahwa adik kami Thian Khi Hwesio sedang mencari dan berusaha untuk menemukan orang she Lee yang mengaku murid kami itu, akan tetapi di jalan bertemu dengan Huang-ho Sin-to yang menyerangnya. Terjadi perkelahian dan Huang-ho Sin-to tewas. Hal itu biasa saja dalam perkelahian, apalagi kalau murid Kun-lun-pai itu yang mendahuluinya. Dan kemudian adik pinceng itu dikeroyok dan dibunuh oleh para tosu Kun-lun-pai.
Tidak mungkin! kata para tosu itu dengan marah.
Sungguh itu fitnah dan bohong besar, bahkan fakta yang diputar-balikkan! kata Tiong Tek Seng-jin sambil menggoyang tongkat panjangnya yang berwarna putih.
Beberapa orang datang membawa jenazah Huang-ho Sin-to kepada pinto dan menceritakan betapa dia dibunuh oleh Thian Khi Hwesio! Di mana dia Thian Khi Hwesio? Seorang wakil ketua membunuh murid kami, sungguh tak tahu diri. Pintolah lawannya, bukan seorang murid seperti Huang-ho Sin-to!
Omitohud, tentu toyu yang mendapatkan keterangan keliru. Thian Khi Hwesio telah menjadi mayat ketika orang-orang mengantarkannya kepada kami dan menurut keterangan, dia tewas dikeroyok para tosu Kun-lun-pai. Tiong Tek Seng-jin menjadi marah.
Hai hwesio Siauw-lim-pai! Dengarlah baik-baik! Kami telah kehilangan tiga orang yang kesemuanya terbunuh oleh orang-orang Siauw-lim- pai dan kini kalian bahkan menuduh yang bukan-bukan kepada kami. Kami bukanlah pembunuh-pembunuh seperti orag-orang Siauw-lim-pai, akan tetapi kamipun bukan pengecut-pengecut yang tidak berani menghadapi kalian. Kita tua sama tua, majulah dan rasakan kelihaian tongkatku! Berkata demikian, Tiong Tek Seng-jin melangkah maju dan tongkatnya sudah siap untuk menyerang.
Tosu jahat! seorang pembantu dari ketua Siauw-lim-pai itu memaki dan menyerang dengan kepalan tangannya, akan tetapi terj angannya itu disambut oleh seorang tosu lain. Melihat begini, tanpa diperintah lagi, Thian Tek Hwesio dan Tiong Tek Seng-jin sudah saling terjang pula. Tiong Tek Seng-jin menggunakan sebatang tongkat putih yang panjang, diputar cepat dan Thian Tek Hwesio, ketua cabang Siauw-lim-pai itu menggunakan seuntai tasbeh panjang di tangan kanan, dibantu ujung lengan kedua bajunya yang lebar dan panjang. Belasan orang tosu dan hwesio kedua pihak juga sudah saling serang tanpa diperintah lagi dan terjadilah pertempuran antar belasan orang itu di tengah hutan!
Tak jauh dari tempat pertempuran itu, Lee Song Kim melakukan pengintaian dan ia tersenyum lebar, penuh kepuasan melihat betapa siasatnya telah berjalan dengan baik dan lancar. Kini dia mencurahkan perhatiannya kepada pertempuran itu, terutama sekali perkelahian antara Tiong Tek Seng-jin dan Thian Tek Hwesio. ketua dari kedua cabang perkumpulan besar itu yang tentu saja memiliki ilmu kepandaian tertinggi di antara mereka. Dia memperhatikan dan mencatat dalam ingatannya gerakan yang mereka lakukan, untuk menambah perbendaharaan ilmu silatnya. Akan tetapi, belum sampai ada yang roboh dalam pertempuran itu, tiba- tiba terdengar suara yang amat nyaring, suara yang mengandung tenaga khikang yang kuat sekali dan menggetarkan jantung,
Cuwi harap mundur dan menghentikan pertempuran ini! Semua orang tidak dapat melawan pengaruh seruan ini masing-masing menahan serangan lalu berloncatan mundur, menghentikan perkelahian dan semua orang memandang ke arah datangnya suara. Di bawah pohon, tak jauh dari situ, mereka melihat seorang laki-laki yang gagah perkasa, berusia kurang lebih tiga puluh delapan tahun, berpakaian sederhana seperti seorang petani, namun wajahnya tampan gagah dan tubuhnya sedang namun tegap. Wajahnya yang tampan itu membayangkan kelembutan, namun penuh wibawa. Melihat laki-laki ini, para hwesio Siauw-lim-pai menjadi girang dan Thian Tek Hwesio berseru,
Tan-taihiap......! Laki-laki itu adalah Tan Ci Kong, seorang murid dan tokoh Siauw-lim-pai yang amat terkenal. Menurut tingkat, sebetulnya dia masih terhitung murid keponakan dari Thian Tek Hwesio,
Akan tetapi karena Ci Kong pernah digembleng sendiri oleh mendiang Siauw-bin- hud, yaitu tokoh sakti dari Siauw-lim-pai dan kakek ini masih terhitung paman guru ketua Siauw-lim-pai itu, maka hubungan kekeluargaan antara mereka menjadi kacau. Karena tidak enak kalau memanggil pendekar ini sebagai murid keponakan, padahal tingkat kepandaian Ci Kong jauh lebih tinggi, maka Thian Tek Hwesio menyebutnya Tan- taihiap (Pendekar Besar Tan). Juga para tosu Kun-lun-pai mengenal siapa adanya tokoh ini. Mereka semua maklum bahwa Tan Ci Kong adalah seorang tokoh besar Siauw-lim-pai, akan tetapi juga seorang pendekar budiman yang gagah perkasa. Maka mereka mengharapkan keadilan dari pendekar besar ini yang dalam kegagahan dan keadilannya pasti tidak akan bertindak berat sebelah.
Cuwi semua adalah dari satu golongan, mengapa kini bertempur sendiri? Kalau ada persoalan, mari kita bicarakan dengan kepala dingin. Tidak ada masalah yang timbul di antara dua kelompok bersahabat yang tak dapat diselesaikan dengan musyawarah.
Thian Tek Hwesio dikeroyok dan dibunuh oleh para tosu Kun-lun-pai...... kata Thian Tek Hwesio. Ci Kong mengangkat kedua tangan.