Halo!

Pemberontakan Taipeng Chapter 25

Memuat...

Tubuh Huang-ho Sin-to Kwa Ciok Le terbanting roboh terjengkang dan berkelojotan karena lehernya hampir putus tertusuk pedang. Sebuah tendangan yang menyentuh dada membuat tubuh itu tidak berkutik lagi! Kini Thian Khi Hwesio harus menghadapi lawan lihai itu seorang diri saja! Hwesio ini melihat robohnya Kwa Ciok Le, mengeluarkan seruan keras dan memperhebat serangan kedua ujung lengan jubahnya. Namun, dua kali nampak sinar berkelebat dan dua ujung lengan jubah itupun terbabat putus! Thian Khi Hwesio terkejut bukan main. Tak disangkanya lawan memiliki sinkang sehebat itu, mampu membabat putus ujung lengan jubahnya yang telah disaluri hawa sinkangnya. Namun, dia tidak menjadi gentar dan menubruk maju dengan kedua tangan membentuk cakar garuda.

Hebat bukan main serangan kakek ini karena dua tangannya itu tidak boleh dipandang rendah, mampu mencengkeram batu karang sampai hancur, apalagi tubuh atau kepala lawan! Namun, Lee Song Kim sudah mengenal ilmu ini dan cepat tubuhnya mengelak ke samping, kemudian dengan kedudukan tubuh miring itu dia masih dapat mengirim tusukan yang menyerang dari samping, melalui pundaknya yang direndahkan dan pedang itu memasuki dada lawan melalui celah-celah iga kirinya, menembus jantung.

Robohlah kakek itu di samping mayat Kwa Ciok Le dan lantai itupun kini penuh dengan darah pula! Semua tamu berdiri dengan mata terbelalak dan muka pucat, memandang kepada Lee Song Kim yang kini sudah berdiri dengan tegak, menyimpan pedangnya dan kembali mengeluarkan Giok-liong-kiam.

Aku adalah Lee Kongcu, pemegang Giok-liong-kiam yang mulai saat ini memakai julukanThian-he Te-it Bu-hiap! Siapakah di antara kalian yang merasa tidak setuju? Para tamu memandang dengan wajah pucat. Mereka merasa gentar dan mereka yang merasa kagum segera menjura dengan hormat.

Lee-kongcu pantas menjadi Thian-he Te-it Bu-hiap! kata mereka.

Hemm, menyatakan dengan mulut saja tidak ada gunyanya! Mulai saat ini kalian harus mentaati semua perintahku dan menganggapku sebagai seorang pemimpin di antara semua ahli silat, menjadi pemimpin dunia persilatan, dan Giok-liong-kiam menjadi lambang kedudukan pemimpin. Semua orang di dunia persilatan harus tunduk dan menghormat lambang suci ini. Siapa saja di antara kalian sekali kupanggil, betapa jauhpun kalian tinggal, harus cepat datang menghadap, dan tugas apapun yang kuminta, kalian harus melaksanakan sebaiknya. Akulah yang akan memimpin dunia persilatan, akan mempersatukan antara kita semua dan memperkuat dunia kita. sepasang mata Lee Song Kim mencorong penuh semangat dan kegembiraan ketika dia mengeluarkan kata-kata ini. Kam-kauwsu yang diam-diam tadi merasa terkejut dan tidak senang melihat betapa Kwa Ciok Le dan Thian Khi Hwesio dibunuh, tiba-tiba bangkit berdiri menjura ke arah Lee- kongcu sambil berkata,

Saya orang she Kam sudah merasa tua dan tidak ingin lagi menghadapi kesibukan di hari tua. Saya harap Lee-kongcu tidak mengikutkan saya, karena saya ingin mengundurkan diri dan tinggal di dusun untuk menggarap sawah ladang saja.

Maafkan, saya akan pulang saja sekarang dan terima kasih atas segala kebaikan kongcu. Dia lalu melangkah lebar pergi dari tempat itu setelah memberi hormat kepada tuan rumah. Lee Song Kim mengangkat Giok-liong-kiam tinggi-tinggi di atas kepala dan berseru kepada para tamu lainnya. Aku minta cuwi yang hadir menghalangi kepergian Kam-kauwsu yang hendak memberontak! Sepuluh orang tamu itu bangkit berdiri, termasuk Sin-kiam Mo-li yang terpincang-pincang dan mereka mengepung Kam-kauwsu dengan sikap mengancam! Melihat ini, Lee Song Kim girang bukan main dan maklumlah dia bahwa mereka itu benar-benar telah dapat ditundukkan dan kini merupakan pembantu-pembantu yang boleh diandalkan! Sementara itu, melihat betapa para tamu tadi kini mengepungnya, Kam-kauwsu merasa terkejut dan juga marah.

Kalian ini orang-orang macam apakah? Sebelum datang ke sini, kalian adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang gagah perkasa, akan tetapi apakah sekarang kalian berubah menjadi anjing-anjing penjilat yang tidak mempunyai kebebasan dan pendirian sendiri? Sepuluh orang itu nampak ragu-ragu, akan tetapi mereka tetap mengepung. mereka merasa gentar sekali terhadap Lee-kongcu yang demikian lihainya, dan kini mendengar ucapan Kam-kauwsu yang mengejek mereka, bagaimanapun juga mereka merasa malu dan ragu-ragu dan mereka semua menoleh ke arah Lee-kongcu untuk menanti apa yang selanjutnya akan dikehendaki oleh orang aneh yang membuat mereka semua gentar itu. Lee Song Kim adalah seorang yang cerdik bukan main. Dia tidak ingin mendesak lagi sepuluh orang yang baru saja takluk dan tunduk kepadanya itu, melainkan ingin membuat mereka menjadi semakin takut sehingga kelak akan taat selalu kepadanya.

Kalian mingirlah, sahabat-sahabatku yang baik, dan lihatlah betapa aku menjatuhkan hukuman kepada orang yang berani menantangku! kata Lee Song Kim dan dengan langkah-langkah perlahan dia mengampiri Kam-kauwsu, pedang Giok-liong- kiam masih ditangan kanannya, diangkat tinggi-tinggi di atas kepalanya.

Kam-kauwsu, lihatlah Giok-liong-kiam, ini lambang kekuasaan persilatan! Berlututlah dan minta ampun atas sikapmu yang tidak taat, dan baru mungkin kami dapat mengampunimu, teriak Lee Song Kim dengan sikap penuh wibawa. Semua orang yang berada di situ diam-diam mengharapkan Kam-kauwsu untuk mentaati perintah ini dan berlutut minta ampun, karena mereka semua yakin bahwa Lee-kongcu yang mengangkat sendiri menjadi Thian-he Te-it Bu-hiap itu bukan sekedar menggertak belaka. Akan tetapi, Kam-kauwsu adalah orang yang keras hati. Dia seorang tokoh Bu-tong-pai dan biarpun dia yakin akan kelihaian Lee-kongcu, namun dia masih memiliki harga diri yang diletakkan lebih tinggi daripada nyawa. Lebih baik mati daripada menerima penghinaan di depan banyak orang!

Lee-kongcu, boleh jadi engkau lihai dan aku tidak dapat melawanmu. Engkau mengangkat diri sendiri menjadi Thian-he Te-it Bu-hiap adalah hakmu, dan aku tidak mau mencampurinya. Akan tetapi kalau aku disuruh berlutut minta ampun, aku merasa keberatan. Aku bukan anak buahmu, juga bukan budakmu, bukan pula muridmu, bagaimana mungkin aku berlutut minta ampun kepadamu? Maaf, aku tak dapat melakukan itu dan biarkan aku pergi dari sini dan tidak mencampuri urusanmu! berkata demikian, Kam-kauwsu kembali melangkahkan kakinya hendak pergi dari situ.

Orang she Kam, semua yang menentang kami harus mati! Tiba-tiba Lee-kongcu membentak dan diapun menerjang dengan tangan kirinya, sedang tangan kanan tetap memegang Giok-liong-kiam di atas kepalanya. tangan kirinya itu menampar ke arah kepala dan biarpun kelihatannya perlahan saja, namun angin pukulan menyamabar terlebih dahulu sebelum tanagnnya sendiri tiba. Kam-kauwsu maklum bahwa nyawanya terancam maut, maka diapun mengambil keputusan untuk melawan sekuat tenaga.

Lebih baik mati sebagai harimau daripada hidup sebagai anjing penjilat! teriaknya dan dia mengerahkan tenaga pada tangan kanannya ketika menangkis tamparan itu. Kam-kauwsu adalah seorang ahli tenaga gwakang (tenaga luar) yang sudah melatih lengan itu sampai berotot kuat bukan main seolah-olah lengannya itu berotot kawat bertulang besi, juga telapak tangannya sendiri telah dilatih memukuli pasir besi panas sehingga kulit tangan itu tebal dan kuat seperti baja. Tangkisannya itu dimaksudkan untuk mematahkan lengan lawan.

Dukk! Dua buah lengan bertemu, lengan yang besar berotot melawan lengan yang sedang saja dan berkulit halus, akan tetapi akibatnya Kam-kauwsu terhuyung dan mengeluh karena lengannya terasa nyeri bukan main.Ternyata dengan sinkangnya yang sudah amat tinggi dan kuat, Lee-kongcu telah meminjam tenaga luarnya untuk menghantamnya sendiri! Akan tetapi Kam-kauwsu sudah nekat. Biarpun maklum betapa lihainya lawan itu, dia mengeluarkan suara gerengan dan menubruk lagi, kini menggunakan ilmu silat Bu-tong-pai, yaitu ilmu silat tangan kosong Ji-liong-jio- cu (Sepasang Naga Berebut Mustika),

Kedua lengannya bagaikan dua ekor naga yang bergerak cepat menyerang dari kanan kiri, atas bawah, dengan sasaran pelipis kiri dan lambung kanan lawan. Gerakan yang disertai tenaga sekuatnya ini membuat tulang-tulangnya mengeluarkan bunyi berkerotokan. Melihat jurus yang dikeluarkan Kam-kauwsu, diam-diam Lee Song Kim terkejut dan maklumlah dia bahwa tadi dia telah ditipu oleh guru silat ini ketika dia minta guru silat itu mendemonstrasikan ilmu silatnya. Tadi guru silat ini tidak bersungguh-sungguh mengeluarkan kepandaiannya dan baru sekaranglah, ketika menyerangnya, Kam-kauwsu mengeluarkan jurus ampuhnya.Akan tetapu, mendiang Hai-tok telah mencuri kitab ilmu silat Bu-tong-pai dan dia sudah mengenal dasar-dasarnya. Kini melihat serangan itu, dia berseru dengan nada suara mengejek.

Hemm, inikah Ji-liong-jio-cu dari Bu-tong-pai? Dengan mudah dia mengelak ke belakang sambil menangkis ke kanan kiri karena dia sudah tahu persis ke mana arah sasaran pukulan kedua tangan lawan. Kam-kauwsu terkejut. Kiranya pemuda aneh ini mengenal pula jurus ampuh Bu-tong-pai, bahkan tahu cara menghindarkannya. Kalau saja Song kim tidak marah melihat ada orang berani menentangnya sebagai Thian-he Te-it Bu-hiap, tentu dia akan suka sekali memancing agar guru silat itu mengeluarkan jurus-jurus terampuh dari Bu-tong-pai untuk dipelajari. Namun, dia sudah terlampau marah dan kini dia membentak keras.

Jurus itu tidak ada gunanya di tanganmu. Nah, kau lihat, inilah jurus Ji-liong- jio-cu itu! Tiba-tiba Song Kim membalas serangan lawan dengan jurus yang sama tadi! Akan tetapi jurus Ji-liong-jio-cu yang dipergunakan oleh Song Kim untuk menyerang, kecepatan dan tenaga yang mendorongnya sama sekali tidak dapat disamakan dengan serangan Kam-kauwsu tadi. Kam-kauwsu juga melihat serangan ini dan tentu saja dia mengenal jurus itu. Akan tetapi betapa kagetnya karena dia sama sekali tidak diberi kesempatan untuk mengelak lagi. Tahu-tahu kedua tangan lawan telah menyambar ke arah pelipis dan lambungnya. Tidak ada waktu lagi baginya untuk mengelak dan terpaksa dia menangkis dengan kedua lengannya, menyambut serangan ke arah pelipis dan lambungnya.

Dukk! Desss......! Tubuh Kam-kauwsu terpental dan berkelojotan setelah terbanting jatuh, dari pelipisnya mengalir darah! Kiranya tangkisannya tadi tidak mampu menahan serangan lawan. Biarpun sudah ditangkis, ternyata sambaran jari tangan Song Kim ke arah pelipisnya masih meluncur dan memukul tangkisan tadi ke samping, maka pelipis kepalanya terkena jari tangan yang ampuh itu.

Tentu saja semua orang menjadi semakin gentar menghadapi kelihaian seperti itu. Lee Song Kim mengebut-ngebutkan ujung pakaian dan membersihkan kedua telapak tangannya, dengan sikap tenang dia lalu mengeluarkan lagi Giok-liong-kiam mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.

Semua orang harus menghormati Giok-liong-kiam ini sebagai lambang kebesaran seorang Thian-he Te-it Bu-hiap. Berlututlah kalian! Semua orang tidak ada yang membantah lagi dan merekapun menjatuhkan diri berlutut kepada Song Kim!bPemuda ini tersenyum penuh kemenangan

Post a Comment