Hampir semua orang berseru kaget. Biarpun di antara mereka belum ada yang melihat bentuk pedang pusaka itu, namun mereka sudah mendengar tentang Giok- liong-kiam (Pedang Naga Kemala), yang pernah menggemparkan dunia persilatan karena dijadikan perebutan di antara para orang gagah. Pedang yang lenyap dari gudang pusaka istana itu pernah diperebutkan dan hampir semua orang kang-ouw tahu belaka tentang pedang itu, tahu pula bagaimana bentuk dan macamnya, walaupun hanya sedikit saja tokoh yang pernah menyaksikannya. Begitu Lee Song Kim mengeluarkan pedang itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi, semua orangpun mengenalnya. Lee Song Kim tersenyum melihat betapa semua orang memandang kepada pedang pusaka itu dengan muka pucat dan mata terbelalak.
Benar, ini adalah Giok-liong-kiam, lambang dari kegagahan! Dan siapa yang menjadi pemilik Giok-liong-kiam, dialah yang patut menjadi Thian-he Te-it Bu- hiap! Aku sudah menguasai hampir seluruh ilmu silat dari semua aliran, dan aku pula yang menguasai Giok-liong-kiam, maka akulah yang berhak menjadi jagoan nomor satu di dunia ini. Kalau ada yang menyangkal, boleh maju untuk membuktikan sendiri!
Omitohud......! Bukankah Giok-liong-kiam tadinya dikuasai oleh Ong Siu Coan, pemimpin pasukan Tai Peng yang kini menjadi kaisar dari Kerajaan Sorga yang dibentuknya? Karena Giok-liong-kiam maka banyak orang gagah yang membantu pasukannya sampai dia menjadi kaisar di nan-king. Bagaimana kini bisa berada di tanganmu, Lee Kongcu?
Ha-ha, Ong Siu Coan itu hanya macan kertas! Mengandalkan balatentara yang besar jumlahnya dan bantuan para ahli silat! Licik namanya! Akan tetapi aku hanya mengandalkan tenaga sendiri. Kini Giok-liong-kiam berada padaku, maka akulah yang pantas menjadi jagoan nomor satu".
Dan engkau membunuh dua orang tokoh Kun-lun-pai menggunakan nama Siauw-lim-pai untuk mengadu domba! bentak Kwa Ciok Le marah.
Omitohud...... pinceng teringat akan pencurian-pencurian kitab ilmu silat dari partai-partai besar yang dilakukan oleh Hai-tok sampai datuk sesat itu tewas ketika hendak mencuri kitab di Siauw-lim-si. Agaknya engkau pula yang berada di balik semua itu, Lee Kongcu! Lee Song Kim tersenyum, merasa tak perlu menyangkal.
Hai-tok pernah mengajarkan ilmu silat padaku. Akan tetapi sekarang, biar Empat Racun Dunia bangkit lagi mengeroyok aku, aku tidak akan undur selangkahpun.
Akulah Thian-he Te-it Bu-hiap, ha-ha!
Keparat, engkau membunuh tokoh-tokoh Kun-lun-pai yang tidak berdosa, aku sebagai murid Kun-lun-pai harus membalaskan dendam ini! bentak Kwa Ciok Le sambil mencabut sebatang goloknya yang mengeluarkan sinar kehijauan saking tajamnya. Tanpa banyak cakap lagi dia menerjang dengan goloknya, dan golok itu berubah menjadi sinar bergulung-gulung diikuti suara mencicit ketika menyambar- nyambar. Namun Lee Song Kim dapat mengelak dengan amat mudahnya karena dia sudah mengenal ilmu golok dari Kun-lun-pai itu. Bahkan dia mengelak dengan gaya ilmu silat Kun-lun-pai pula, seperti yang pernah dipelajarinya melalui kitab yang dicuri oleh mendiang Hai-tok. Melihat ini Kwa Ciok Le menjadi semakin marah dan goloknya menyambar-nyambar ganas.
Omitohud, orang she Lee ini jahat, terpaksa pinceng turun tangan untuk membasminya! Dan hwesio tua dari Siauw-lim-pai itupun menerjang maju membantu Kwa Ciok Le. Dia hanya mempergunakan kedua lengan jubahnya yang lebar untuk menyerang. namun karena memang tingkat kepandaian Thian Khi Hwesio jauh lebih tinggi daripada tingkat orang she Kwa itu, biarpun hanya dua ujung lengan jubah, ternyata senjata istimewa ini jauh lebih berbahaya dibandingkan golok di tangan Si Golok Sakti dari Huang-ho itu. Lee Song Kim tentu saja maklum akan kelihaian wakil ketua Siauw-lim-pai, maka diapun cepat mengeluarkan ilmu kepandaiannya dan bergerak cepat untuk menghindarkan diri dari sambaran golok dan ujung lengan jubah. Melihat betapa pemimpinnya dikeroyok dua orang lihai, Theng Ci memberi isyarat kepada anak buahnya, juga dua orang murid kepala dari Lee Song Kim telah bangkit dan mereka berloncatan ke tengah ruangan itu dalam sikap mengepung.
Mundur semua! Lee Song Kim berseru sambil mengelak ke sana-sini. Biarlah aku menghadapi pengeroyokan dua orang ini agar terbuka mata semua orang melhat kelihaianku!
Mendengar ini, Theng Ci memberi isyarat agar semua anak buah mundur, akan tetapi tetap siaga dan mengepung ruangan itu dengan senjata di tangan. Kini Song Kim yang menghadapi pengeroyokan dua orang lawan tangguh itu sudah neyimpan kembali Giok-liong-kiam dan sebagai gantinya dia melolos pedang tipis yang tadi dirampasnya dari tangan Tan-siucai, Orang ini memang lihai sekali, mampu memainkan segala macam senjata, apalagi pedang yang memang menjadi keahliannya. Segera tubuhnya lenyap terbungkus gulungan sinar pedangnya sehingga golok di tangan Huang-ho Sin-to Kwa Ciok Le dan kedua ujung lengan jubah Thian Khi Hwesio tidak mampu menembus gulungan sinar pedang itu,
Bahkan sebaliknya kini Song Kim mulai membalas dan setiap kali ada sinar panjang mencuat keluar dari gulungan sinar, maka seorang di antara dua lawannya harus cepat-cepat mengelak atau menangkis karena sinar itu merupakan serangan maut yang amat dahsyat. Kini semua tamu yang lain menonton dengan hati penuh rasa kagum terhadap Lee Kongcu. Tak mereka sangka bahwa tuan rumah itu ternyata adalah seorang ahli silat yang amat tiggi ilmunya dan yang berambisi untuk menjadi Thian-he Te-it Bu-hiap, bahkan yang telah menguasai Giok-liong-kiam!
Kini orang yang lihai itu bahkan berani menghadapi pengeroyokan dua orang tokoh Kun-lun-pai dan Siauw-lim-pai yang amat lihai itu, menolak bantuan dari anak buahnya.
Lee Song Kim bukanlah seorang bodoh yang tinggi hati dan sombong. Sama sekali bukan. Dia adalah seorang yang amat cerdik dan segala tindakannya tidak ngawur, melainkan dilakukan setelah diperhitungkannya masak-masak terlebih dahulu. Kalu dia berani menghadapi pengeroyokan dua orang lawan itu dan menolak bantuan anak buahnya, hal itu memang disengaja karena dia tahu benar bahwa dia mampu mengalahkan dua orang lawannya. Dan dia melakukan ini untuk mendatangkan kesan yang mendalam kepada orang-orang kang-ouw yang hadir di situ. Andaikata dia tidak yakin benar akan mampu mengalahkan dua orang lawannya, tentu dia mengandalkan anak buahnya untuk mengeroyok. Kini gulungan sinar pedang di tagan Lee Kongcu makin panjang dan melebar, sedangkan sinar golok Kwa Ciok Le menjadi semakin sempit,
Tanda bahwa pembasmi bajak dari Huang-ho ini sudah terdesak. Bahkan kakek Thian Khi Hwesio juga terdesak hebat oleh sinar pedang bergulung-gulung yang amat dahsyat itu. Thian Khi Hwesio adalah wakil ketua Siauw- lim-pai, ilmu silatnya memang tinggi, akan tetapi dia tidak memiliki kesaktian seperti misalnya Siauw- bin-hud datuk Siauw-lim-pai itu. Memang, pemilihan ketua Siauw-lim-pai bukan berdasarkan ketinggian ilmu silatnya, melainkan kedalaman pengetahuannya tentang Agama Buddha karena Siauw-lim-pai bukanlah perkumpulan silat, melainkan perkumpulan agama. Karena itu, tidaklah mengherankan kalau terdapat murid-murid Siauw-lim-pai yang bukan hwesio dapat memiliki imu silat yang lebih lihai dibandingkan dengan para hwesio Siauw-lim-pai sendiri. Dan biarpun Thian Khi Hwesio sudah termasuk tokoh yang lihai dari Siauw-lim-pai,
Namun usianya yang tua juga cara berlatihnya yang kadang-kadang hanya kalau ada waktu senggang saja sebagai selingan ketekunannya memperdalam pelajaran agama, membuat dia kehabisan tenaga setelah terjun ke dalam perkelahian melawan orang yang amat lihai seperti Lee Kongcu itu. Kini Lee Song Kim menghadapi lawan dengan sungguh-sungguh, bukan seperti tadi sambil mempelajari ilmu silat lawan. Kini dia menghadapi dua orang pengeroyoknya dengan niat merobohkan mereka. Akan tetapi dasar dia memandang rendah lawan dan hendak memamerkan kelihaiannya, ketika dia merobohkan Kwa Ciok Le, dia sengaja menggunakan jurus pedang dari Kun-lun-pai! Pedang itu membabat pinggang dan ketika golok Kwa Ciok Le menangkis, tangkisan itu membuat pedang menusuk ke atas dan leher Huang-ho Sin- to tembus oleh pedang tipis yang runcing tajam itu.