Baik, kau sambutlah pedangku, Lee Kongcu! Hebat bukan main memang gerakan pedang sasterawan itu, jauh lebih hebat dari pedang wanita yang berjuluk Iblis Betina Pedang Sakti tadi. Pedangnya yang tipis itu meluncur dan berubah menjadi sinar kebiruan menyambar-nyambar dan menciptakan gulungan sinar yang panjang.
Namun, Lee Song Kim berdiri dengan tenang saja dan baru tubuhnya bergerak mengelak kalau ada sinar mencuat dari gulungan sinar itu yang menunjukkan bahwa ada serangan mengarah dirinya. Dengan tepat dan mudah dia mengelak. Akan tetapi gerakan pedang di tangan Tan-siucai itu hebat bukan main. Begitu pedang luput mengenai sasaran, pedang itu membalik dan telah melakukan serangan susulan, dan terus susul menyusul seperti seekor burung walet yang sedang berpesta pora menyambari nyamuk-nyamuk dengan terbang hilir mudik dengan kecepatan yang membuat pedang itu mengeluarkan sinar menyilaukan mata. Dalam waktu beberapa detik saja, pedang itu telah hilir mudik mengirim serangan tidak kurang dari tiga belas kali! Namun, semua orang kini dibuat kagum oleh Lee Kongcu.
Dia bergerak seenaknya, namun tubuhnya sedemikian ringannya sehingga ke manapun sinar pedang menyambar, tubuhnya selalu sekelebatan lebih cepat mengelak,
seolah-olah sebelum pedang tiba, angin pedang itu sudah membuat tubuh Lee Kongcu berpindah tempat. Hal ini membuat Tan-siucai menjadi penasaran, akan tetapi berbareng dia maklum pula bahwa lawannya benar-benar amat lihai dan memiliki ginkang yang luar biasa. Maka, diapun lupa diri dan segera mengeluarkan jurus- jurus simpanannya yang paling ampuh. Justeru inilah yang dikehendaki Lee Song Kim. Dia mengerahkan ginkangnya dan tubuhnya bagaikan terbang saja menyelinap di antara gulungan sinar pedang, sambil meneliti bagian-bagian ilmu pedang milik lawan yang dianggapnya menarik dan patut untuk dipelajarinya. Sementara itu, Kwa Ciok Le dan Thian Khi Hwesio sudah saling berbisik-bisik. Lo-suhu, tuan rumah ini sungguh aneh mencurigakan. jelas, ilmunya tinggi sekali dan apa maksudnya dia mengumpulkan kita di sini?
Pinceng (aku) juga belum mengerti benar, akan tetapi pinceng sedang mengingat- ingat, barangkali dia ada hubungannya dengan urusan besar.
Pembunuhan atas diri tiong Gi Tojin dan Tiong Sin tojin, dua orang tokoh Kun- lun-pai itu? Kwa Ciok Le melanjutkan.
Sayapun sudah mendengar akan hal itu dan sebagai murid Kun-lun-pai saya pun berkewajiban untuk mengadakan penyelidikan. Orang she Lee ini memang mencurigakan. ketika saya diundang oleh anak buahnya, saya tidak mau sehingga terjadi percekcokan, akan tetapi wanita pakaian merah yang bernama Theng Ci itu mengeluarkan ilmu siluman. ratusan ekor lebah beracun mengeroyokku dan selagi saya sibuk menyelamatkan diri, saya dirobohkannya dengan obat bius yang dikebutkan dengan saputangan merah. Nah, dalam keadaan pingsan saya digotong dan tahu-tahu tadi saya siuman dan dibawa ke tempat ini.
Hemmm, sungguh mencurigakan. Pembunuh para tokoh Kun-lun-pai itu juga mengaku she Lee, akan tetapi dia mengaku murid Siauw-lim-pai.
Tapi, harap losuhu perhatikan. Ilmu silatnya demikian tinggi, dan saya melihat gerakan-gerakan yang aneh, bahkan kadang-kadang ada dasar gerakan Kun-lun- pai...... Hwesio tua itu memandang penuh perhatian. Tiba-tiba dia mengepal tinju karena pada sat itu, Lee Song Kim yang agaknya sudah merasa cukup mempermainkan lawan, menggerakkan tangan mencengkeram ke arah pergelangan tangan lawan yang memegang pedang. Tan-siucai dapat mengelak dengan menarik tangannya, dengan gerakan mencengkeram yang dilakukan Song Kim itu memang mirip dengan Ilmu Silat Naga dari aliran Siauw-lim-pai, bahkan kedudukan kakinya juga sama.
Omitohud...... engkau benar, sicu. Apakah dia juga telah mempelajari ilmu silat Siauw-lim-pai? Pada saat itu, Lee Song Kim membalas serangan-serangan lawan, dan begitu dia mengeluarkan kepandaiannya, Tan-siucai yang memegang pedang menjadi kewalahan! Ketika Tan-siucai masih berusaha menyerang lawan dengan tusukan pedangnya ke arah dada, Lee Song Kim membuat gerakan miring dan dari samping dia memukul siku kanan lawan.
Plakk! Lengan kanan itu tiba-tiba menjadi lumpuh dan di lain saat pedang tipis itu telah berpindah tangan! Song kim tidak berhenti sampai di situ saja, dia lalu menggerakkan pedang itu dengan satu di antara jurus-jurus penyerangan yang tadi dimainkan oleh Tan-sicai.
Jurus serangan ini mirip sekali, dan bahkan lebih dahsyat karena didorong oleh tenaga sinkang yang jauh lebih kuat. Melihat ini, Tan-siucai terbelalak, mencoba untuk mengelak dengan menjatuhkan diri ke belakang. namun, sinar pedang itu mengejarnya terus dan tahu- tahu ujung pedang tipis telah menusuk dadanya dari samping. tanpa mengeluarkan teriakan Tan-siucai roboh dan tewas seketika karena pedang itu menembus jantungnya. Semua orang terbelalak, tak mengira bahwa seorang yang lihai seperti Tan-siucai dapat tewas semudah itu di tangan tuan rumah dan tidak mengira bahwa tuan rumah akan sekejam itu membunuh tamunya sendiri. Lee Song Kim yang menganggap Tan-siucai kelak akan dapat menjadi penghalang bagi cita- citanya, sudah membunuhnya dengan tangan dingin dan kini dia berdiri di tengah ruangan itu, memandang kepada semua tamunya.
Tan-siucai tewas karena ulahnya sendiri. Cu-wi (anda sekalian) tadi melihat betapa dengan sungguh-sungguh dia berusaha membunuhku! pada saat itu, Theng Ci menghampirinya dan dengan berbisik-bisik wanita ini menceritakan kepadanya apa yang didengarnya dari percakapan antara Kwa Ciok Le dan Thian Khi Hwesio!
Mereka berdua tadi membicarakan kongcu dan menyangka kongcu pembunuh dua orang tokoh Kun-lun-pai. mereka mempunyai niat buruk terhadap kongcu. Mendengar ini, Lee Song Kim diam-diam terkejut, akan tetapi dia mengangguk sambil tersenyum dan memerintahkan anak buahnya untuk menyingkirkan mayat Tan-siucai dan membersihkan lantai yang penuh darah. Kemudian dia melangkah maju setelah mengikatkan pedang pada pinggangnya seperti yang dilakukan Tan-siucai tadi, menghampiri tempat di mana Thian Khi Hwesio duduk bersama Kwa Ciok Le. Lee Song Kim menjura kepada dua orang itu dan suaranya lantang terdengar oleh semua orang ketika dia berkata,
Nah, sekarang tinggal ji-wi (anda berdua) yang belum memperlihatkan kelihaian. Harap Huang-ho Sin-to si pembasmi bajak Huang-ho dan Thian Khi Hwesio yang menjadi wakil ketua Siauw-lim-pai kini maju dan memperlihatkan kelihaian masing- masing. Ji-wi dapat bersilat sendiri-sendiri atau bersama-sama, terserah. Dan kami harap ji- wi tidak memandang rendah dan menolak permintaan tuan rumah seperti yang dilakukan oleh mendiang Tan-siucai tadi.
Sikapnya hormat, kata-katanya halus dihias senyum, namun di dalam ucapannya itu terkandung ancaman bahwa kalau kedua orang itu menolak seperti Tan-siucai, merekapun agaknya akan mengalami nasib seperti sasterawan berpedang itu. Suasana menjadi tegang dan para ahli silat yang hadir kini memandang dengan sinar mata penuh kekhawatiran. lenyaplah perasaan gembira seperti yang mereka rasakan dalam pesta tadi. Tak mereka sangka bahwa pesta pertemuan itu akan menjadi seperti ini. makin aneh saja kelakuan tuan rumah, dan makin penuh rahaia. mereka tidak mengerti mengapa Lee Kongcu bersikap seperti itu, bahkan sampai membunuh seorang di antara tamu-tamunya hanya karena tidak mau memenuhi permintaan tuan rumah, yaitu mendemonstrasikan ilmu silat!
Di samping perasaan heran ini, juga terdapat perasaan kagum dan takut karena baru sekarang mereka maklum bahwa Lee Kongcu ini sesungguhnya adalah seorang ahli silat yang amat pandai. Pantas saja, Theng Ci ketua Ang-hong-pai yang demikian lihainya itu, mau menjadi pembantunya! Kwa Ciok Le dan Thian Khi Hwesio saling pandang. Tadi mereka telah bercakap-cakap dan mengambil keputusan untuk membuka rahasia Lee Kongcu ini, dan kalau perlu mereka akan maju bersama untuk menentangnya. Apalagi setelah melihat betapa Lee Kongcu membunuh Tan-siucai dengan cara demikian kejam, sengaja membunuhnya karena tadi Tan-siucai sudah kalah, keduanya mengambil keputusan untuk bangkit menentang orang she Lee ini.
Lee Kongcu, kata Kwa Ciok Le dengan suara lantang, katakanlah terus terang, apakah engkau orang she Lee yang telah membunuh dua orang tokoh Kun-lun-pai, yaitu Tiong Gi Tojin dan Tiong Sin Tojin?
Dan juga orang she Lee yang setelah membunuh dua orang tokoh Kun-lun-pai, lalu mengaku sebagai murid Siauw- lim-pai? Thian Khi Hwesio menyambung sambil memandang tajam. Mendengar ini, para tamu lainnya terkejut dan maklum bahwa mereka menghadapi urusan besar yang gawat. Akan tetapi Lee Song Kim bersikap tenang, bahkan dia menganggap sudah tiba waktunya untuk memperkenalkan diri. Dia membutuhkan pembantu-pembantu untuk memperluaskan namanya ke seluruh pelosok agar semua orang tahu bahwa kini muncul seorang jagoan yang pantas diberi gelar Thian-he Te-it Bu-hiap! Dan maksudnya mengumpulkan semua jagoan ini bukan sekedar mencuri jurus-jurus terampuh mereka, melainkan juga untuk mulai memperkenalkan diri dan kelihaiannya.
Thian Khi Hwesio, Huang-ho Sin-to dan para orang gagah yang berada di sini! Aku tidak perlu mengaku atau menyangkal atas semua tuduhan itu. Yang penting, aku memeberitahukan bahwa siapapun orangnya yang berani menentang Thian-he Te-it Bu- hiap, maka dia akan tewas!
Hemm, dan siapakah Thian-he Te-it Bu-hiap itu? tanya Kwa Ciok Le walaupun terkejut akan kesombongan orang itu dan dapat menduga bahwa tentu orang itu yang mengaku sebagai Orang Gagah Nomor Satu di Dunia.
Siapa lagi kalau bukan aku? Lee Song Kim berkata tanpa ragu-ragu atau malu- malu lagi, sambil hendak berkeruyuk.
Akulah. Lee Kongcu, yang merupakan satu-satunya orang yang patut berjuluk Thian-he Te-it Bu-hiap!
Omitohud......! Thian Khi Hwesio berseru, kaget dan heran melihat kesombongan orang itu. Dan siapa kiranya yang mengaku dan mengesahkan Lee Kongcu sebagai Pendekar Silat Nomor satu di Dunia ini? Lee Song Kim mengeluarkan sebuah benda dari balik jubahnya dan semua orang melihat bahwa benda itu adalah sebatang pedang terbuat dari batu kemala yang berbentuk naga.
Giok-liong-kiam. !