Mendengar ini, sebagian dari para tamu bertepuk tangan dan seorang yang duduk di sebelah kiri bangkit berdiri. Dia seorang laki-laki berusia empat puluh tahun, tubuhnya tinggi kurus dan mukanya yang hitam memang pantas kalau berjuluk Lutung karena hidungnya pesek mulutnya lebar mirip monyet, sepasang matanya yang sipit itu mengeluarkan sinar jalang dan sejak tadi matanya jelilatan menyambar ke arah pasukan wanita yang cantik-cantik, dan mulutnya yang lebar menyeringai. Hati orang ini girang bukan main, karena julukannya yang keren itu, Lutung Emas Tangan besi, diperkenalkan, dan lebih bangga lagi dia disebut pendekar perkasa, padahal, dia lebih pantas dinamakan tukang pukul dan jagoan di kotanya, yaitu Ta-tung.
Setelah bangkit, dengan melangkah ke tengah ruangan yang luas itu, memberi hormat kepada Lee Kongcu, kemudian kepada semua yang hadir, keempat penjuru, diapun memberi hormat sambil bersoja.
Sikapnya memang gagah seperti seorang pendekar tulen. Biarpun orang ini sombong, namun sesungguhnya harus diakui bahwa dia memiliki ilmu silat yang tinggi dan namanya sudah terkenal di sebelah barat kota raja sebagai seorang jagoan yang sukar dicari tandingannya. Entah sudah berapa banyak ahli silat yang jatuh di tangannya. Dia memiliki ilmu silat Kong-thong-pai dan Go-bi-pai, juga dia ahli gulat Mongol sehingga ilmu silatnya yang merupakan campuran tiga aliran ini membuat dia lihai bukan main. Kedua lengannya terkenal amat kuat sehingga dia dijuluki lengan Besi atau Tangan besi.
Kabarnya kedua lengan itu dapat bertahan menghadapi segala jenis senjata! Karena tertarik oleh nama besarnya, Lee Song Kim mengundangnya dan tidaklah sukar mengundang orang ini, apalagi kalau dalam undangan itu terdapat kiriman hadiah berupa perak! Begitu memasuki gedung Lee Kongcu, pada hari kemarin, kemudian mendapatkan perhatian dan pelayanan istimewa, dikelilingi gadis-gadis cantik, tanpa dimintapun segera hati orang ini condong untuk membantu dan bermuka-muka kepada Lee Kongcu yang dianggapnya sebagai seorang hartawan yang dermawan.
Sambutan tepuk tangan membuat Tiat-pi Kim-wan merasa bangga. Hidungnya yang pesek itu berkembang kempis, merekah dan setelah memberi hormat, diapun membuat lompatan berputar ke tengah lapangan, memasang kuda-kuda, kembali bersoja ke empat penjuru.
Maafkan ilmu silatku yang buruk! katanya merendah, padahal ucapan merendah ini hanya menonjolkan ketinggian hatinya. Dan diapun mulai bersilat! Si Lutung Emas ini maklum bahwa mereka yang hadir menyaksikan demonstrasinya adalah ahli-ahli silat dari empat penjuru, mereka adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yang lihai, maka tentu saja diapun tidak mau memperlihatkan kelemahannya.
Begitu menggerakkan ilmu silat simpanannya yang biasanya hanya dia keluarkan kalau dia terpaksa sekali, kalau dia terdesak atau menghadapi lawan tangguh. Dan memang hebat sekali gerakan-gerakan ilmu silat ini. Pantas dia dijuluki lutung, kiranya bukan hanya karena hidungnya yang pesek dan mukanya yang hitam, melainkan karena kini gerakan silatnya mengingatkan orang akan gerak-gerik seekor lutung. Mirip Kauw-kun (Silat Monyet) dari aliran Siauw-lim-pai dan aliran lain yang memperkembangkan silat macam ini, akan tetapi juga amat jauh bedanya. Ilmu silat ini hanya dalam hal gaya dan kecekatannya saja mirip lutung, namun di dalamnya menyembunyikan pukulan dan cengkeraman dahsyat, bahkan beberapa kali nampak tubuh itu bergulingan di atas lantai sambil tangannya mencengkeram ke bawah lalu disambitkan ke atas.
Kalau yang dicengkeram itu pasir atau batu lalu disambitkan sambil melompat ke atas, tentu saja amat berbahaya bagi musuh yang dapat terkena pasir matanya atau tersambit batu kepalanya. Dan kedua lengan itu kalau saling beradu, yang agaknya memang disengaja, mengeluarkan bunyi seperti dua potong besi diadu! Kalau semua orang mengagumi ilmu silat aneh ini yang merupakan gabungan dari silat Kong- thong-pai, Go-bi-pai dan gulat Mongol, sebaliknya dengan sepasang mata hampir terpejam, Lee Song Kim berusaha menangkap gerakan-gerakan yang dianggap paling ampuh! Dan diam-diam diapun sudah mencatat gerakan bergulingan sambil mencengkeram tanah dan menyambit tadi, juga gerakan tangan kiri memukul tangan kanan mencengkeram yang ternyata kedua serangan ini hanya gertak belaka.
Karena yang menjadi inti serangan sesungguhnya adalah sebuah tendangan pendek yang dilakukan tiba-tiba ke arah bawah pusar! Sungguh hebat sekali jurus ini, tidak tersangka datangnya dan amat berbahaya karena sekali mengenai sasaran, lawan dapat roboh tewas seketika, atau setidaknya tentu terluka parah dan tidak akan mampu bangkit kembali karena tertendang bagian yang paling berbahaya dari lawan kalau itu seorang pria! Kalau lawan seorang wanita, tendangan itu dapat lebih ke atas mengenai perut dan dapat merusak isi perut! Setelah Lutung Emas Tangan Besi ini selesai memperlihatkan kebolehannya, beberapa orang tamu bertepuk tangan memuji, termasuk tuan rumah dan para pembantunya. Biarpun dia telah mencatat beberapa gerakan yang dianggap penting dan menguntungkan, namun Song Kim masih belum merasa puas.
Hebat sekali ilmu silatmu, Tiat-pi Kim-wan! Tak percuma anda memiliki nama besar di sepanjang perbatasan Ta-tung! Ah, mau aku bertaruh bahwa tentu sukar sekali mengalahkan anda. Kalau di antara sudara yang hadir di sini mampu menandingi dan mengalahkan ilmu silatmu, aku akan memberi hadiah seratus tael perak! Melihat kegembiraan tuan rumah, beberapa orang tamu saling pandang.
Seratus tail perak bukanlah jumlah yang sedikit! Dalam waktu tiga bulan belum tentu mereka dapat memperoleh hasil sebesar itu. Mereka itu sebagian besar adalah ahli-ahli silat yang tentu saja suka sekali berpibu (mengadu ilmu silat). Tanpa diberi hadiah saja mereka sudah tertarik, apalagi dengan hadiah besar itu.
Ha-ha-ha, hargaku lumayan tingginya, Lee Kongcu. Akan tetapi bagaimana kalau yang melawanku kalah? mau diapakan yang seratus tael itu? Song Kim tersenyum.
Tentu saja untuk pemenangnya! Mendengar ini, si Lutung Emas Tangan Besi menjadi girang. Dia bersoja ke empat penjuru.
Adakah di antara cuwi yang demikian baik hati untuk memberi kesempatan padaku memperoleh hadiah seratus tael perak? Kalau ada tiga orang yang maju dan aku menang tiga kali,berarti tiga ratus! Lumayan juga! Demikian sombongnya sikap si Lutung Emas ini sehingga dia seolah-olah membayangkan bahwa dia pasti menang menghadapi lawan yang manapun juga dan kalau ada yang maju, dia yakin akan menang dan mendapatkan hadiah itu. Uang sebanyak itu dan sikap si Lutung Emas yang tinggi hati menarik banyak orang. Gatal-gatal hati dan tangan mereka untuk menandinginya. Seorang tinggi besar yang mukanya merah seperti orang mabok bangkit dan melompat ke tengah lapangan, lalu menghadap Song Kim sambil memberi hormat,
Lee Kongcu, aku bukan seorang yang kaya dan uang seratus tael bukan sedikit bagiku. Akan tetapi kalau aku maju ini bukan demi uang itu sendiri, melainkan ingin merasakan sampai di mana kebenaran nama julukan Tangan Besi dari Si Lutung Emas! Melihat orang ini maju, hati Song Kim gembira sekali. Orang ini berjuluk Seng jiu Sin-touw (Malaikat Copet), seorang yang biarpun tubuhnya tinggi besar, memiliki kecepatan gerakan yang luar biasa. Dia ahli dalam hal ginkang (ilmu meringankan tubuh) dan kecepatan tangannya membuat dia dijuluki Malaikat Copet. Memang dia merupakan raja copet dan maling di daerah barat,
Namun dia seringkali mengagulkan dirinya sebagai penjahat budiman, yang katanya mencuri untuk dibagi-bagikan kepada orang miskin. Memang menggelikan sekali.
Menolong orang miskin termasuk perbuatan baik, akan tetapi untuk dapat berbuat baik itu lebih dulu dia harus berbuat buruk, yaitu mencopet dan mencuri!
Mungkinlah ini? Akan tetapi tidak ada yang sempat bertanya karena takut akan kelihaian si raja copet ini! Song Kim sudah banyak mendengar tentang tamunya yang seorang ini. Kabarnya, si raja copet ini memiliki ilmu silat yang bersumber kepada silat dari India, dan dia memperoleh ginkangnya dari seorang pertapa Himalaya yang mengajarkan tentang yoga kepadanya. Maka, gembiralah ia melihat majunya orang ini karena menurut taksiranya, tingkat Si Raja Copet ini tentu seimbang dengan tingkat Si Lutung Emas.
Ji-wi, keluarkanlah ilmu simpanan masing-masing agar pibu ini menjadi tontonan yang patut ditonton oleh para locianpwe yang hadir, dan dengan hati rela dan gembira aku akan menghadiahkan seratus tael perak itu kepada sang pemenang, kata Song Kim, sikapnya seolah-olah seorang pecandu ilmu silat, walaupun sesungguhnya semua yang dilakukannya ini hanya mempunyai satu saja pamrih, yaitu ingin dia mengumpulkan ilmu-ilmu selihai dan sebanyak mungkin untuk bekal dan syarat baginya mengumumkan dirinya sebagai Thian-he Te-it Bu-hiap (pendekar Silat Nomor Satu di kolong Langit)! Kini dua orang yang sama-sama jangkung itu sudah saling berhadapan. Si Lutung Emas diam-diam marah dan penasaran medengar ucapan Malaikat Copet. Dia belum pernah berkenalan dengan orang ini, apalagi mengenal ilmu silatnya, maka biarpun dia mendongkol, Si Lutung Emas bersikap hati-hati sekali.
Siapakah orang gagah yang ingin pibu denganku?tanyanya, sikapnya cukup sopan walaupun nada suaranya memandang rendah.
Aku mengenalmu sebagai Tiat-pi Kim-wan, biarlah engkau mengenalku sebagai Seng- jiu Sin-touw saja. Kita hanya mengadu silat, bukan mengadu orang dan pribadinya, jawab Si Malaikat Copet. Mendengar bahwa lawannya adalah seorang Sin-touw atau Malaikat Copet, Si Lutung Emas tersenyum dan sengaja melucu agar tidak sampai kehilangan pendukung. Dia lalu sibuk memeriksa kantung-kantung jubahnya, mengeluarkan uang dan segala barang yang dianggap berharga, lalu menyerahkan kepada Song Kim sebagai tuan rumah.
Tolong kongcu simpan dulu semua milikku yang tak berharga ini, khawatir kalau- kalau nanti tahu-tahu lenyap dari kantungku setelah pibu. Bukankah kalau demikian, biar menang seratus tael, tetap saja kehilangan barang-barangku? Tentu saja semua penonton tersenyum, ada pula yang tertawa geli mendengar ini dan mereka semua memandang kepada Malaikat Copet sambil tertawa. Si Malaikat Copet yang warna mukanya sudah merah itu kini warna itu menjadi kehitaman, tanda bahwa dia merasa marah dan malu. Song Kim tidak memberi komentar karena tidak mau berat sebelah, tidak pula tertawa, hanya menaruh barang-barang itu di atas meja di depannya.
Lutung Emas, sambutlah seranganku! bentak si Malaikat Copet dan diapun sudah menerjang. Gerakannya cepat bukan main, kedua tangan yang bergerak itu sukar diikuti pandang mata, tahu-tahu tangan kiri sudah menampar ke arah pelipis sedangkan tangan kanan menyelonong ke arah lambung lawan dengan totokan keras!