Oleh karena itu, dapat dimengerti kalau kini Song Kim dapat mempermainkan seperti tingkat guru dengan murid saja. Lebih lagi karena Song Kim telah memperdalam ilmu-ilmunya dengan ilmu-ilmu aliran lain yang telah dicuri oleh gurunya untuk dia. Setelah lewat lima puluh jurus, tiba-tiba Song Kim membentak dan totokannya pada pergelangan tangan kanan Theng Toanio tak mugkin dapat dielakkan lagi. Terdengar wanita itu memekik, pedangnya terlepas dari pegangan karena tangannya itu beberapa detik lamanya tiba-tiba lumpuh. Theng Toanio meloncat ke belakang, tangan kirinya bergerak dan begitu ia menyambit, sinar merah berkeredepan menyambar ke arah tubuh Song Kim. Song Kim mirngkan tubuhnya, beberapa batang jarum yang menyambar mukanya luput, akan tetapi banyak jarum menyambar ke tubuhnya dan diapun berteriak.
Aduh......! Tubuhnya terhuyung lalu roboh terlentang dengan muka pucat! Beberapa orang anggauta Ang-hong-pai dan Theng Toanio berseru kaget.
Theng Toanio sendiri juga khawatir kalau-kalau pria yang menarik hatinya itu tewas oleh jarum-jarumnya. Ia hanya cepat mengobatinya. setelah mengambil pedangnya yang tadi terlepas, Theng Toanio menghampiri tubuh Song Kim. Ketika ia membungkuk untuk memeriksa lebih teliti, tiba-tiba terdengar suara ketawa. Theng Toanio hendak meloncat pergi, akan tetapi ia kalah cepat. Pedangnya sudah terampas lagi oleh Song Kim yang tiba-tiba saja bergerak melompat dan berbareng dia berhasil mencabut tusuk konde dari emas permata dari kepala Theng Toanio sehingga rambut yang digelung itu terlepas dan terurai ke atas kedua pundaknya! Tentu saja Theng Toanio terkejut bukan main dan mukanya menjadi merah sekali ketika ia memandang kepada Song Kim yang sudah berdiri di depannya sambil memegang pedang yang untuk kedua kali dirampasnya itu.
Tapi...... tapi...... kau tadi terkena jarum-jarumku...... katanya agak bingung melihat hal yang tidak disangka-sangkanya ini. Song Kim menarik jubahnya dan memperlihatkan beberapa batang jarum yang menancap di jubahnya, akan tetapi tidak mampu menembus kulit tubuhnya yang tadi sudah dilindunginya dengan ilmu kekebalan.
Aih, engkau memang hebat, Lee Kongcu, aku mengaku kalah, kata Theng Toanio sambil mencabuti jarum-jarum itu, kemudian menerima kembali pedangnya dan ia mengajak tamunya yang amat menarik hati itu untuk naik ke puncak dan memasuki perkampungan Ang-hong-pai.
Para anggauta Ang-hong-pai menyambut kemenangan Lee Song Kim dengan gembira. Memang mereka sudah merasa kagum sekali, apalagi melihat betapa pria ini dengan amat mudahnya mengalahkan ketua dan guru mereka. Semua wanita kini memandang kepada Song Kim dengan senyum manis dan sinar mata memikat, wajah mereka semua cerah. sambil tertawa gembira Song Kim mengikuti ketua Ang-hong-pai dan mereka lalu mengadakan pesta di bangunan besar tempat tinggal Theng Toanio.
Demikianlah, mulai hari itu, Song Kim telah menundukkan Ang-hong-pai dan perkumpulan ini telah menjadi anak buahnya yang setiap saat siap untuk mentaati perintahnya. Dia bukan menundukkan Ang-hong-pai dengan kepandaiannya, akan tetapi juga dengan daya tariknya sebagai seorang pria yang pandai memikat hati, tampan gagah dan juga berpengalaman.
Bahkan kini di perkampungannya di Lembah Fen-ho lereng Luliang-san, terdapat pelayan-pelayan baru yang jumlahnya belasan orang, muda-muda dan cantik-cantik akan tetapi juga lihai karena mereka adalah belasan orang anggauta Ang-hong-pai yang dipilihnya untuk menjadi pelayan pribadinya dan juga pengawal-pengawalnya. Demikian tunduknya Theng Toanio kepada Song Kim sehingga ketika Song Kim memerintahkan untuk memindahkan Ang-hong-pai ke lereng Luliang-san, iapun mentaatinya dan semenjak itu, perkumpulan ini pindah dari Nan-ping untuk mendekati Song Kim dan hal ini memperkuat kedudukan Lee Song Kim yang mulai menyusun kekuatan untuk mengaku diri sendiri menjadi Thian-he Te-it Bu-hiap.
Beberapa bulan kemudian, pada suatu pagi, seorang hwesio tua renta berjalan seorang diri di kaki Pegunungan Luliang-san. Hwesio ini sudah berusia lanjut, sudah hampir delapan puluh tahun, tubuhnya sedang dan masih tegak, dan wajahnya membayangkan ketenangan dan kedamaian. Tiba-tiba hwesio tua itu menahan langkahnya dan memandang ke kiri. Biarpun orangnya belum nampak, namun pendengarannya yang peka dan amat tajam sudah menangkap suara gerakan kaki yang menuju ke tempat dia berjalan. tak lama
kemudian muncullah tiga orang laki-laki yang rata-ratabberusia tiga puluh tahun, berwajah gagah dan berpakaian rapi, akan tetapi memiliki sinar mata yang beringas dan kejam. Di punggung mereka nampak senjata golok telanjang dan tiga orang ini langsung menghampiri hwesio tua yang berdiri memandang mereka. Dengan sikap kaku mereka menjura kepada hwesio itu yang cepat dibalas dengan ramah oleh hwesio tua.
Kami diutus oleh Lee Kongcu untuk mengundang Thian Khi Hwesio ke perkampungan kami. Hwesio itu memang bernama Thian Khi Hwesio dan merupakan orang kedua dari pimpinan Siauw-lim-pai. bagaimana seorang tokoh tinggi dari Siauw-lim-pai dapat berada di tempat itu? Seperti kita ketahui, peristiwa pembunuhan atas diri dua orang tokoh Kun-lun-pai cukup membuat para pimpinan Siauw-lim-pai menjadi pusing.
Yang dituduh oleh para tosu Kun-lun-pai menjadi pembunuh dua orang tokoh itu adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang bermarga Lee. Tentu sukar bagi orang- orang Siauw-lim-pai untuk mencari siapa adanya murid yang membunuh dua orang tosu Kun-lun-pai itu. Karena maklum betapa gawatnya urusan itu yang mengandung bahaya perpecahan atau bibit permusuhan antara Siauw-lim-pai dan Kun-lun-pai. Maka Thian Khi Hwesio sendiri lalu berangkat meninggalkan Siauw-lim-pai untuk mencari seorang murid Siauw-lim-pai yang bernama Tan Ci Kong. Biarpun termasuk orang yang masih muda, usianya masih kurang dari empat puluh tahun, namun Tan Ci Kong merupakan seorang tokoh Siauw-lim-pai yang berilmu tinggi. bahkan ilmu kepandaiannya masih lebih tinggi dari tingkat kepandaian para pimpinan Siauw- lim-pai sendiri,
Karena pendekar ini pernah digembleng oleh mendiang Siauw-bin-hud, seorang hwesio tua renta yang menjadi datuk dari Siauw-lim-pai. Setelah bertukar pikiran dengan suhengnya, yaitu Thian Tek Hwesio ketua Siauw-lim-pai, Thian Khi Hwesio berangkat sendiri untuk mengunjungi Tan Ci Kong. Pendekar ini tinggal di dusun Tung-kang di luar kota Kan-ton. Setelah bertemu dengan pendekar itu dan minta bantuannya agar Tan Ci Kong suka melakukan penyelidikan dan menemukan siapa adanya murid Siauw-lim-pai she Lee yang telah membunuh dua orang tosu Kun-lun- pai, Thian Khi Hwesio lalu meninggalkan Tung-kang dan kembali ke kuil Siauw-lim- pai. Di dalam perjalanan inilah dia tiba di kaki Pegunungan Luliang-san dan di hadang oleh tiga orang yang menyampaikan undangan kepadanya.
Omitohud, sungguh kongcu kalian itu amat baik hati sekali. Akan tetapi pinceng tidak pernah mengenal Lee Kongcu...... Tiba-tiba dia teringat. Orang she Lee? Jantungnya berdebar tegang.
Lo-suhu, harap diketahui bahwa Lee Kongcu kami adalah orang yang pemurah dan dermawan, menghargai orang-orang pandai. Ketika dia mengetahui bahwa losuhu lewat di sini, dia mengutus kami untuk menjumpai lo-suhu dan dengan hormat mempersilahkan lo-suhu untuk singgah di perkampungan kami. Diam-diam Thian Khi Hwesio merasa heran sekali bagaimana orang she Lee itu dapat mengetahui namanya dan mengetahui pula bahwa dia lewat di tempat itu. dan nama marga Lee itu sungguh menarik hatinya dan menimbulkan keinginan tahu untuk mengenalnya.
Omitohud...... sungguh bahagia sekali menerima undangan seorang yang sedemikian baik budi seperti Lee Kongcu. Baiklah, sobat, pinceng memenuhi undangan itu. Ketika memasuki sebuah perkampungan yang bersih dan teratur rapi, diam-diam Thian Khi Hwesio menjadi heran dan kagum. Dia dapat menduga bahwa penghuni perkampungan terpencil di lereng bukit ini, jauh dari pedusunan lainnya,
Tentu merupakan anggauta sebuah perkumpulan dan mungkin sekali yang menjadi ketua atau kepalanya adalah orang yang disebut Lee Kongcu itu. Bangunan-bangunan rumah di situ seragam dan di tengah-tengah terdapat sebuah bangunan besar.
Melihat keadaan rumah itu dari luar, orang tentu akan merasa kagum karena rumah yang demikian indah dan besar sepatutnya hanya berada di kota besar, dihuni oleh orang yang kaya raya. Makin tertariklah hati pendeta tua itu untuk mengenal Lee Kongcu yang mengundangnya. Ketika tiga orang itu mengantarnya sampai di depan pintu rumah besar, yang menyambut keluar adalah tiga orang gadis cantik yang berpakaian serba merah, rapi dan gagah, gerakannya juga cekatan. Tiga orang pemuda itu memberi hormat kepada mereka dan berkata,
Harap sampaikan kepada kongcu bahwa kami telah berhasil mengundang Thian Khi Hwesio.
Bagus, kalian telah melaksanakan tugas dengan baik. kata seorang di antara tiga gadis itu, yang bertahi lalat di dekat hidungnya, kemudian gadis itu menjura kepada Thian Khi Hwesio, Locianpwe, silakan masuk, Lee Kongcu telah menanti kedatangan locianpwe.
Omitohud, sungguh merupakan kehormatan besar bagi pinceng, kata Thian Khi Hwesio sambil mengikuti tiga orang gadis itu. Dia makin heran. Agaknya orang- orang di sini telah mengenalnya, bukan hanya mengenal nama, akan tetapi juga agaknya mengenal bahwa dia adalah seorang tokoh persilatan sehingga gadis-gadis ini menyebut locianpwe. Dia tahu pula bahwa tiga orang gadis ini, yang menyambutnya, memiliki ilmu silat yang cukup baik, jauh lebih baik ketimbang tiga orang laki-laki yang menghadangnya di kaki bukit tadi.