Tiba-tiba seorang di antara lima orang laki-laki gagah yang berada di belakang tubuh Song Kim, menyerang dengari tubrukan. Kedua tangannya mencengkeram ke arah leher, agaknya hendak mencekik dan belakang. Seperti aba-aba saja, teriakan itu disusuloleh gerakan empat orang temannya yang juga sudah menyerang dari berbagai jurusan, ada yang mencengkeram, ada yang menghantam kepala ada pula yang menendang.
Namun, Song Kim bersikap tenang saja. Tubuhnya bergerak, kedua kakinya melangkah ke sana-sini dengan amat gesitnya, dan serangan lima orang itu semua tidak mengenai sasaran. Lima orang itu merasa penasaran dan mereka melanjutkan serangan bertubi-tubi. Namun, dengan ginkang yang istimewa, Lee Song Kim mengatur langkah-langkahnya dan semua serangan itupun gagal. Jangankan mengenai tubuhnya, menyentuh ujung jubahnyapun tidak.
Para perajurit tertawa-tawa melihat betapa komandan mereka mempermainkan lima orang itu. Mereka semua sudah maklum akan kelihaian Lee Song Kim, dan kini mereka tahu bahwa komandan mereka itu sengaja mempermainkan lawan-lawannya dan memperlihatkan kebolehannya.
“Ha-ha, kalian kiranya hanya lima ekor tikus yang tiada gunanya! Kalian tentu mata-mata dan pemberontak, bukan?” sambil mengelak ke sana-sini, Song Kim berkata dengan suara lantang.
Akan tetapi lima orang itu tidak menjawab, melainkan menyerang terus dengan penuh kegarangan. Mereka makium bahwa mereka tentu akan mati semua, akan tetapi semangat mereka tidaklah mengendur dan walaupun mereka tahu bahwa perwira muda ini ternyata lihai bukan main, mereka tidak menjadi jerih dan tidak sudi untuk mengaku atau menyerah.
Sementara itu, Ci Kong memandang dengan jantung berdebar. Beberapa kali dia mengepal tinjunya. Liang Hong melihat ini dan diam-diam mengedipkan matanya mencegah agar pemuda itu tidak melakukan sesuatu. Ia sendiripun khawatir melihat lima orang itu, akan tetapi lima orang itu sungguh tak tahu diri. Dengan kepandaian seperti itu, mereka berani menjadi mata-mata memasuki kota raja! Kalau ia dan kawan-kawannya turun tangan menolong lima orang itu, berarti tugas mereka akan gagal dan mereka belum tentu dapat menyelamatkan lima orang itu keluar dari kota raja. Bahkan keadaan mereka bertiga sendiri akan terancam!
Ci Kong mengerti akan hal ini, dan biarpun hatinya merasa penasaran sekali melihat lima orang pejuang itu dipermainkan, namun dia hanya mengepal tinju dan mengertak gigi.
“Kalian tikus-tikus bandel. Rasakan ini!”
Dan kini tiba-tiba Lee Song Kim menggerakkan tangan balas menampar. “Plakk!”
Seorang di antara para pengeroyok itu terplanting roboh tak mampu bangkit kembali. Tulang rahangnya patah-patah dan kini mukanya menggembung dan dia berkelojotan setengah pingsan. Dengan kecepatan yang luar biasa, Song Kim lalu berkelebatan membagi pukulan dan sekejap mata saja, empat orang pengeroyok lainnya juga roboh dan tidak mampu bangkit kembali.
Lee Song Kim tersenyum, menepuk-nepuk kedua tangan dan pakaiannya seperti orang membersihkan debu, mengerling ke arah Kui Eng.
“Nah, lihatlah, nona. Kalau ada penjahat-penjahat mengganggu nona, akan kurobohkan seperti itu.”
Lalu dengan suara galak, dia memerintahkan perajuritnya urituk menyeret lima orang itu dan memaksa mereka agar mengaku siapa mereka dan apa tujuan mereka menyelundup ke kota raja. Lee Song Kim lalu memerintahkan anak buahnya untuk melakukan pemeriksaan terhadap semua tamu, juga kamar-kamar mereka.
“Kamar kongcu dan siocia ini bersama pengawalnya tidak usah diperiksa, mereka adalah orang baik-baik,” tambahnya.
Kini Kui Eng menyembunyikan ketegangan hatinya dan iapun tersenyum kepada Lee Song Kim setelah tubuh lima orang itu digusur pergi.
“Aihh, ciangkun sungguh gagah perkasa!”
Ia memuji dan tentu saja Song Kim girang bukan main mendengar pujian ini, yang baginya merupakan tanda bahwa agaknya dia tidak bertepuk tangan sebelah karena nona inipun kagum kepadanya! Hal ini tidak mengherankan hatinya, karena sudah terbiasa bagi Song Kim bahwa setiap orang wanita akan kagum melihat ketampanan dan kegagahannya!
“Aihh, hal itu tidak ada artinya, nona. Mereka hanya tikus-tikus kecil tidak ada artinya. Biar ada limapuluh orang seperti mereka, aku akan mampu mengalahkan mereka semua. Kalau boleh aku berkenalan dengan kalian, siapakah nama nona dan siapa pula nama kakak nona, dimana ji-wi tinggal?”
Kini Kui Eng memasang aksi malu-malu kucing. “Ihh… ciangkun tanya saja kepada kakakku ini.”
Kui Eng memang nakal. Sebetulnya, ia tidak suka bercakap-cakap dengan Song Kim dan kini ia sengaja mengoperkan tugas itu kepada Lian Hong! Terpaksa Lian Hong yang memberi keterangan.
“Nama saya Bi Seng dan adik saya ini bernama Bi Hwa, kami she Liem dan tinggal di Thian-cin, akan tetapi kedua orang tua kami sudah pindah dan kembali ke kampung kami, di luar kola Thian-cin. Orang tua kami dikenal sebagai Liem Wan-gwe di Thian-cin.”
Tentu saja semua itu hanya nama-nama khayal belaka. Lian Hong sengaja mempergunakan she Liem, she yang dipunyai banyak orang, dan di Thian-cin atau di kola manapun, sudah pasti terdapat Liem Wan-gwe (hartawan Liem), bukan hanya seorang saja.
“Ah, kiranya Liem-kongcu dan Liem siocia adalah orang-orang muda hartawan yang sedang pesiar ke kota raja, begitukah?” tanya Song Kim ramah.
Dua orang itu mengangguk membenarkan.
“Saya bernama Lee Song Kim dan menjadi seorang komandan pasukan keamanan di kota raja.”
Kini para perajurit setelah selesai melakukan pemeriksaan, tentu saja dengan mengantongi barang-barang berharga seperti biasanya, sudah- berkumpul di situ dan membuat laporan kepada Lee Song Kim bahwa semuanya beres, tidak ada yang mencurigakan di antara para tamu kecuali lima orang yang sudah ditangkap tadi. Song Kim menghadapi kakak beradik itu.
“Sungguh sayang bahwa terpaksa saya harus pergi menyelesaikan tugas. Sebetulnya masih ingin sekali saya bercakap-cakap dengan ji-wi yang ramah. Bagaimana kalau saya mengundang ji-wi untuk datang berkunjung ke rumah saya? Saya ingin mengundang ji-wi makan siang pada hari esok, dan saya sangat mengharapkan ji-wi tidak akan keberatan.”
“Aih, ciangkun sungguh baik sekali…” kata Kui Eng dengan suara merdu. “Kami hanya akan mengganggu waktu yang berharga dari ciangkun saja,”
kata Lian Hong, dengan sikap wajar orang yang sungkan.
“Tidak, sama sekali tidak, Liem-kongcu. Ji-wi tidak akan mengganggu, bahkan akan menyenangkan hati saya.”
“Akan tetapi… tentu akan mengganggu Lee Hu-jin (Nyonya Lee),” kata pula Lian Hong.
Lee Song Kim tertawa. Ketawa yang diatur agat kelihatan tampan dan sopan.
“Ha-ha-ha! Hu-jin mana yang akan terganggu? Saya masih belum mempunyai isteri, seperti juga Liem-kongcu dan Liem-siocia…”
Berkata demikian, Song Kim memandang wajah gadis itu dengan penuh tantangan, dan Kui Eng dengan cerdik dapat mengubah kemarahan menjadi sikap malu-malu dan iapun menundukkan mukanya yang menjadi merah. Bukan merah malu sebenarnya, melainkan merah karena marah.
“Baiklah kalau begitu, Lee-ciangkun. Besok siang menjelang tengah hari, kami akan berkunjung ke rumah ciangkun. Akan tetapi… dimanakah gedung tempat tinggal ciangkun?” tanya Lian Hong.
“Tidak jauh dan istana!” kata Song Kim bangga. “Di sebelah timur pintu gerbang utara. Kalau jiwi sampai di pintu gerbang istana sebelah utara dan bertanya kepada siapa saja dimana rumah komandan she Lee ini, tentu semua orang akan dapat menunjukkannya.”
Mereka berpisah setelah sekali lagi Song Kim minta agar besok siang mereka benar-benar datang berkunjung. Setelah pasukan itu pergi, barulah semua tamu kembali ke kamar masing-masing dan barulah mereka yang merasa kehilangan barang-barang berharga itu berseru kaget. Akan tetapi, siapakah yang berani membuat ribut karena kehilangan itu? Sudah jelas bahwa pasukan yang memasuki dan menggeledah kamar mereka, hanya anak buah pasukan itu. Jelas bahwa pasukan itulah yang mencuri barang-barang berharga mereka. Ribut-ribut soal barang, jangan-jangan malah akan menyeret tubuh mereka masuk penjara. Karena itu, mereka yang kehilangan diam saja dan hanya mengeluh dan menangis.
Setibanya di kamar Lian Hong, Kui Eng mengepal tinju.
“Bedebah keparat! Ihh, betapa ingin aku menampar mulutnya sampai remuk!”
“Tenanglah, enci Eng. Siapa orangnya tidak muak melihat mukanya, akan tetapi kita harus pandai bersandiwara. Aku yakin bahwa engkau akan dapat mengorek rahasia penting dan orang she Lee itu…” kata Lian Hong.
“Hemm, enak saja engkau berkata demikian, Hong-moi, karena akulah yang menjadi perempuan dan menjadi incarannya. Bagaimana kalau sampai dia bersikap keterlaluan dan kurang ajar?”
“Kita hajar dan bunuh saja si keparat itu!”
Tiba-tiba Ci Kong juga memasuki kamar Lian Hong berseru. Dia sudah sejak tadi menahan-nahan kedongkolan hatinya terhadap Lee Song Kim. Apalagi ketika dia mengingat betapa lima orang tadi, para pejuang, tentu akau tewas di bawah siksaan orang-orang komandan itu.
“Ci Kong, harap engkau bersabar pula. Memang tugas kita ini sukar sekali. Aku sendiripun lebih senang kalau melakukan tugas dimana kita hanya mempergunakan kaki tangan untuk melawan musuh. Akan tetapi tugas kita sekali ini adalah menggunakan otak, bersiasat dan harus cerdik, dan dapat menahan emosi. Kalau tidak, kita akan gagal sama sekali. Jangan kau khawatir, enci Eng. Kalau dia hendak kurang ajar, engkau tentu dapat mencegahnya dengan sikapmu. Kalau dia bertindak kasar, hendak menggunakan kekerasan, selain engkau tidak takut kepadanya, di dekatmu ada aku dan Ci Kong.”