Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 158

Memuat...

“Luar biasa sekali melihat seorang gadis bule menjadi muridmu, Jembel Gunung!” kata Tee-tok.

“Biarlah akupun akan mengajarkan sebuah ilmu yang hebat kepadamu agar dapat kaulatih di sini.”

“Akupun akan mengajarkan sebuah,” kata pula Hai-tok.

Lenyaplah kekecewaan hati Diana, dan dia menjadi gembira sekali mendengar bahwa ia akan digembleng oleh tiga orang kakek sakti itu! Persiapan dilakukan, dan tiga orang kakek itu lalu mengajarkan semacam ilmu silat kepada Diana. Tidak banyak, masing-masing hanya tiga jurus saja. Akan tetapi jurus-jurus ini adalah jurus pilihan yang lihai bukan main. Setelah Diana hafal akan semua jurus itu, hanya tinggal mematangkannya dalam latihan, tiga orang kakek itu lalu berangkat meninggalkan guha di puncak Naga Putih.

Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng juga berangkat, dan Diana yang ditinggalkan seorang diri itu tenggelam dalam latihan.

Dua orang muda itu memang menarik perhatian. Bukan hanya pakaian mereka yang amat mewah dan jelas menunjukkan bahwa mereka adalah kakak beradik yang kaya raya, akan tetapi juga wajah mereka yang amat elok itulah yang membuat semua orang menengok dan memandang ke arah mereka.

Pemuda itu, dengan sikapnya yang halus, dan amat tampan. Topinya yang indah menutupi rambut yang lebat hitam mengkilap, dikuncir besar dan panjang tergantung di punggungnya. Jubahnya yang panjang dan lebar itupun terbuat dan kain sutera halus, terhias kalung terbuat dan mutiara. Sepatunya mengkilap baru, dan tangan kirinya tidak terlepas dan sebuah kipas yang terlukis indah. Seorang pemuda terpelajar yang kaya raya, seorang kongcu (tuan muda) yang membuat setiap orang wanita yang melihatnya, memandang kagum.

Adapun gadis yang menemaninya, yang di-aku sebagai adiknya, adalah seorang gadis yang amat cantik jelita, ditambah lagi dengan pakaiannya yang amat mewah, membuat ia nampak seperti seorang puteri istana saja. Rambutnya digelung tinggi ke atas dihias dengan perhiasan emas permata yang mahal, rambutnya dikepang dua dan diikat pita.

Kakak beradik yang kaya raya ini dikawal oleh seorang pelayan pria yang masih muda pula, berpakaian dan berwajah sederhana saja. Pelayan ini mendorong sebuah gerobak dorong yang terisi buntalan pakaian dan barang- barang yang menjadi bekal kakak beradik itu. Tak seorangpun akan mengira bahwa tiga orang ini sebenarnya adalah pendekar-pendekar muda yang memiliki ilmu silat tinggi sekali!

Mereka itu adalah Ci Kong yang menyamar menjadi pelayan, Lian Hong yang menyamar sebagai pemuda tampan, dan Kui Eng yang menjadi gadis kaya raya. Mereka melakukan penyamaran dengan hati-hati sekali, karena wajah mereka bukan tidak dikenal. Dengan menambah tebal alis, dengan merubah warna kulit muka dengan obat, dan merubah pula tata rambut, wajah mereka memang berubah, dan siapakah yang akan menyangka bahwa kakak beradik yang kaya raya bersama pelayan mereka ini adalah tiga orang pendekar yang amat lihai?

Tiga orang ini dapat melakukan penyamaran seperti itu berkat batuan Hai- tok yang menyerahkan sekantung emas kepada mereka. Dengan emas itu, mereka membeli perlengkapan dan perbekalan, dan melakukan perjalanan ke kota raja sebagai kakak beradik putera puteri keluarga kaya raya yang hendak berpesiar ke kota raja.

Semenjak mereka melakukan perjalanan dalam penyamaran, yang sering merasa sial adalah Ci Kong. Dia kebagian peran seorang pelayan! Dan Kui Eng yang wataknya memang nakal itu sering kali memberi perintah yang bukan- bukan kepadanya di depan orang banyak, dengan maksud untuk menggoda! Untung ada Lian Hong di situ yang bersikap serius, kadang-kadang menegur Kui Eng agar jangan keterlaluan dan menghibur Ci Kong, mengingatkan pemuda itu bahwa mereka dalam penyamaran dan harus dapat bersikap wajar. Pada suatu pagi, setelah turun dari kereta yang mereka sewa di luar pintu gerbang kota raja, kakak beradik ini memasuki pintu gerbang, berjalan perlahan sambil memandang ke kanan kiri seperti dua orang yang menikmati pemandangan yang ramai di kota raja, diikuti oleh pelayan yang mendorong kereta. Hampir semua orang memandang ke arah mereka, bukan karena curiga, melainkan karena tertarik kepada kakak beradik itu, terutama sekali kepada gadis yang cantik jelita berpakaian mewah itu.

“Aih, koko, betapa indah dan ramainya kota raja!” kata Kui Eng dengan gaya manja kepada Lian Hong yang menyamar sebagai kakaknya.

Suaranya merdu dan sikapnya memang dibuat-buat, sehingga Ci Kong yang berdiri mengusap peluhnya karena lelah mendorong kereta, menahan senyumnya. Orang-orang yang berada di dekat pintu gerbang, memandang penuh kagum, juga seorang penjaga yang berdiri dengan tangan kanan meraba gagang golok yang tergantung di pinggangnya, memandang kagum. Tidak ada sedikitpun kecurigaan terhadap kakak beradik yang kaya raya ini.

“Moi-moi, kita mencari rumah penginapan dulu, setelah istirahat, baru nanti kita ke luar berjalan-jalan dan melihat-lihat,” jawab kakaknya dengan suara halus dan sambil bicara.

Lian Hong yang menyamar sebagai seorang kongcu itu mengipasi tubuhnya dengan kipas indah di tangan kiri. Kui Eng lalu melambaikan lengan bajunya yang lebar itu ke arah Ci Kong. Lagaknya memang meyakinkan sebagai seorang puteri hartawan, dan hal ini tidaklah aneh kalau diingat bahwa dahulu Kui Eng adalah puteri seorang kaya raya, yaitu hartawan Ciu Lok Tai di Tung-kang. Karena ia sendiri dahulunya puteri seorang hartawan kaya raya, tentu saja kini amat mudah baginya ketika menyamar menjadi seorang gadis kaya!

Yang sukar dalam penyamaran itu adalah Lian Hong yang harus berperan sebagai seorang pemuda kaya. Bahkan Ci Kong juga merasakan kesulitan, karena biarpun dia bukan dan tidak pernah menjadi pemuda kaya, namun diapun belum pernah menjadi pelayan!

“Heii... Akong, lekas kau pergi mencari penginapan yang baik. Dua kamar untuk kongcu dan aku, dan engkau sendiri cari kamar pelayan di belakang!” perintah Kui Eng dengan gaya angkuh, akan tetapi pandang mata dan senyum dikulum itu mengandung godaan dan ejekan.

Hampir saja Ci Kong marah, akan tetapi karena pada saat itu, banyak mata sedang mem perhatikan mereka, terpaksa dia membungkuk dalam dan berkata penuh gaya dan nada menghormat.

“Baiklah, siocia (nona)!”

Diam-diam Ci Kong mendongkol sekali. Dia tidak suka disebut Akong, walaupun memang namanya Ci Kong. Dia ingin agar menggunakan nama lain, akan tetapi Kui Eng agaknya selalu lupa dan memanggilnya Akong, hal yang dia tahu tentu disengaja oleh gadis yang nakal itu, akan tetapi tentu saja dia tidak berani marah, pertama karena penyamarannya dan kedua karena dia memang tidak berani berbuat seperti itu terhadap seorang gadis.

Lian Hong maklum bahwa kembali Kui Eng menggoda Ci Kong, maka sambil tersenyum iapun berkata.

“Tidak perlu kau mencari kamar, Akong. Biarlah kami yang mencarinya dan kau ikut saja dengan kami. Kalau aku tidak salah ingat, di tikungan jalan depan itu terdapat sebuah rumah penginapan yang namanya Kim-ke Li-koan (Penginapan Ayam Emas), entah masih ada di sana atau tidak.”

Karena tadi Kui Eng sudah menyebut nama Ci Kong dengan Akong, terpaksa Lian Hong juga menggunakan nama ini agar jangan menarik perhatian orang.

“Baik, kongcu,” kata pula Ci Kong dengan sikap hormat.

Kakak beradik itu berjalan perlahan-lahan diikuti oleh pelayan mereka yang mendorong kereta, diikuti pandang mata banyak orang yang merasa kagum. Benar saja, di sebelah kiri tikungan jalan itu, terdapat sebuah rumah penginapan yang cukup besar, bahkan satu di antara penginapan-penginapan terbesar di kota raja. Di depannya, selain terdapat tulisan Kim-ke li-koan yang besar, juga terdapat sebuah patung ayam yang dicat emas.

Melihat datangnya pemuda dan pemudi yang berpakaian mewah dan berwajah elok itu, para pelayan segera menyambutnya. Bahkan pengurus rumah penginapan itu sendiri keluar dan menyambut.

“Selamat datang, kongcu dan siocia yang terhormat!” seru pengurus rumah penginapan sambil tersenyum ramah.

“Apakah ji-wi mencari kamar? Kami menyediakan kamar kelas satu untuk ji-wi”

“Terima kasih,” kata Lian Hong.

“Kami membutuhkari dua kamar untuk aku dan adikku, dan sebuah kamar untuk pembantu kami.”

Lian Hong menunjuk ke arah Ci Kong yang kembali menghapus keringatnya dengan saputangan, usaha untuk menutupi sebagian mukanya dan juga untuk mencegah agar peluhnya tidak sampai membikin luntur warna kecoklatan yang dipoleskan pada muka dan lehernya.

“Baik, kongcu. Disini ada kamar-kamar untuk para pelayan, di belakang!” “Tidak… kami ingin agar untuk pelayan kami disediakan kamar yang dekat

dengan kamarku, agar kalau sewaktu-waktu kami membutuhkan tenaganya, kami akan dapat menghubunginya dengan mudah,” kata pula Lian Hong, dan diam-diam Ci Kong mengerling ke arah Kui Eng, girang bahwa Lian Hong mendahului Kui Eng yang tentu akan menggunakan kesempatan itu untuk menggodanya lagi.

“Aih, engkau diberi kamar tamu, Akong. Hati-hati, kalau mau tidur harus mencuci kaki dan badanmu dulu, jangan sampai mengotorkan kamar tamu dan membikin malu kepada kami saja.”

Kui Eng masih sempat juga melontarkan godaan, dan biarpun hatinya mendongkol, Ci Kong mengangguk.

“Baik, siocia.”

Mereka lalu memperoleh tiga kamar yang berdekatan. Akan tetapi, walaupun memperoleh kamar yang sama sesuai dengan permintaan Lian Hong, tetap saja pelayanan yang diberikan oleh para pelayan terhadap Ci Kong, berbeda dengan pelayanan terhadap kakak beradik itu. Teh yang disuguhkan ke kamar mereka juga berbeda, teh untuk Ci Kong adalah teh nomor dua seperti yang biasa dibuat suguhan di kamar para pelayan. Juga untuk keperluan kakak beradik itu, pelayan-pelayan membawakan air panas untuk cuci muka, sedangkan Ci Kong disuruh ambil sendiri ke dapur.

Diam-diam Ci Kong mendongkol juga. Bayaran untuk kamar-kamar itu sama, akan tetapi pelayanannya berbeda. Semua itu karena kedudukan, pikirnya. Makin tinggi kedudukan seseorang, makin dihormat.

Penghormatan antara manusia merupakan penghormatan semu dan palsu belaka. Bukan manusianya yang dihormat, melainkan kedudukannya, kepandaiannya, kekayaannya. Bahkan lebih tepat lagi, yang dihormat adalah pakaiannya, karena pakaianlah yang menunjukkan keadaan seseorang. Buktinya, dia dan kedua orang gadis itu berkedudukan sama. Akan tetapi karena dia menyamar sebagai pengawal atau pelayan, sedangkan dua orang gadis itu menyamar sebagai orang-orang kaya, maka pelayanan dan penghormatanpun otomatis berbeda! Tidaklah mengherankan apabila manusia melihat bahwa penghormatan ditujukan kepada kedudukan, saling memperebutkan kedudukan ini!

Setelah malam tiba, rumah penginapan itu cukup ramai dan hampir semua kamar terisi. Tiga pasang mata yang tajam dari tiga orang pendekar itu dapat melihat bahwa di rumah penginapan itupun terdapat beberapa orang mata- mata yang mengamati setiap orang tamu. Mereka sendiripun tidak terluput dan pengamatan, akan tetapi karena mereka bersikap wajar dan royal ketika mereka memesan makanan malam, para pengamat itu mundur dengan sendirinya.

Di antara para tamu terdapat lima orang laki-laki yang melihat sekelebatan saja, tiga orang pendekar itu dapat menduga bahwa mereka bukanlah orang sembarangan, dan sikap mereka yang pendiam itu cukup mencurigakan. Juga mereka tahu bahwa para mata-mata itupun agaknya menaruh curiga terhadap lima orang itu.

“Hati-hati, kurasa akan terjadi sesuatu di sini,” Ci Kong sempat berbisik kepada dua orang temannya.

Kui Eng dan Lian Hong mengangguk maklum karena merekapun dapat merasakan hal itu. Dan peristiwa yang mereka duga-duga akan timbul itu memang terjadi malam itu.

Secara tiba-tiba, sepasukan tentara yang jumlahnya kurang lebih dua puluh orang, mengurung rumah penginapan itu dan pemimpinnya seorang komandan muda yang gagah, diikuti oleh beberapa orang tentara, masuk dan pintu depan. “Semua tamu berkumpul di ruangan tengah, kamar-kamar ditinggalkan kosong! Kami pasukan keamanan melakukan pembersihan!” bentak panglima

Post a Comment