Agaknya perkelahian di atas pohon ini akan berlangsung lama karena di tempat itu, kontak hanya dapat diadakan dalam jarak tertentu dan agak jauh saja karena selain saling serang, merekapun harus memperhatikan tempat untuk injakan kaki. Sekali kaki salah injak atau terpeleset, tubuh tentu akan meluncur dan jatuh ke bawah! Karena mereka besikap hati-hati, maka tentu saja serangan-serangan mereka merupakan serangan jarak jauh, dan karena mereka semua telah memiliki tingkat kekuatan sinkang yang cukup besar, maka serangan dari jarak jauh itu tidak cukup kuat untuk merobohkan mereka. Yang paling merasa tegang dan cernas adalah Diana. Sejak tadi, sambil menutupi kedua telinganya, ia menonton perkelahian. Setelah kakek itu mempergunakan ilmu tidak lagi melalui suaranya, Diana membuka kedua telinganya dan ia merasa ngeri melihat betapa tiga orang temannya itu kini mengeroyok Thian-tok dan berkelahi di atas pohon. Ngeri ia membayangkan seorang di antara teman-temannya itu terpeleset dan jatuh. Gerakan mereka
demikian cepat.
Perkelahian yang dilakukan dengan serangan jarak jauh, membuat Diana bingung dan tidak tahu bagaimana keadaan tiga orang temannya, mendesak ataukah terdesak. Karena kekhawatirannya, iapun lalu menggunakan akal.
“Suhu, cepat ke sini dan bantu suci... suhu…”
Mendengar teriakan Diana itu, diam-diam Thian-tok terkejut bukan main. San-tok datang! Dia tahu bahwa tingkat kepandaiannya sama dengan San-tok, dan andaikata dia dapat mengalahkan San-tok sekalipun, tentu akan memakan waktu yang amat lama. Sedangkan melawan tiga orang muda ini saja dia kewalahan, bagaimana kalau San-tok datang membantu? Tentu dia akan celaka.
Thian-tok mengeluarkan pekik dahsyat yang membuat Diana terguling karena gadis ini tidak sempat menutupi telinganya, dan kakek itu lalu meloncat turun ke bawah, terus melarikan diri tanpa menoleh lagi, khawatir kalau-kalau tiga orang muda dibantu oleh San-tok, akan mengejarnya.
Akan tetapi tiga orang muda itu yang juga berloncatan turun, tidak mengejar, melainkan menghampiri Diana. Untung Diana, biarpun belum lama, sudah melatih diri sehingga pengaruh pekik tadi tidak begitu hebat. Ia hanya pening saja dan mukanya pucat, jantungnya berdebar. Setelah melihat bahwa Diana tidak apa-apa, Lian Hong bertanya.
“Di mana Suhu?” Diana tersenyum.
“Aku hanya pura-pura… dan ternyata akalku berhasil. Iblis tua itu pergi begitu mendengar aku memanggil suhu.”
“Kau pura-pura saja? Wah, kami tadi hampir dapat mendesaknya!” Seru Kui Eng.
“Siapabilang ia pura-pura? Aku berada di sini!”
Tiba-tiba terdengar jawaban dan muncullah tiga kakek yang membuat empat orang muda itu tertegun. Kiranya San-tok muncul bersama Hai-tok dan Tee-tok! Mereka baru saja tiba sehingga mereka tidak melihat terjadinya perkelahian tadi. Akan tetapi San-tok dapat menangkap seruan Diana tadi dan mendengarkan percakapan antara mereka. Ketika mereka tiba di situ, Thian- tok yang melarikan diri ke jurusan lain sudah pergi jauh.
“Suhu…!” kata Lian Hong, terkejut, heran dan juga girang.
“Baru saja locianpwe Thian-tok datang ke sini. Dia mengobati Ci Kong yang keracunan karena gigitan ular berbisa, akan tetapi hanya untuk memaksa kami semua membuat pengakuan tentang Giok-liong-kiam. Ketika kami menolak, dia marah-marah dan hendak membunuh kami, sehingga kami melawan dan terjadi perkelahian.”
“Perkelahian yang hebat, sampai-sampai mereka berkelahi di atas pohon. Karena khawatir kalau-kalau kalah, aku lalu berteriak, pura-pura memanggil suhu. Dan iblis itupun lari ketakutan!” tambah Diana.
“Mari kita kembali dan bicara di dalam guha. Banyak urusan penting yang harus kita bicarakan bersama,” kata San-tok.
Dan beramai-ramai mereka lalu menuju ke Puncak Naga Putih dan duduk berkumpul di dalam guha besar tempat tinggal San-tok. Setelah mereka duduk berkumpul, empat orang muda itu menceritakan tentang kemunculan Thian- tok, kemudian Ci Kong menceritakan tentang sukongnya yang bertapa, dan betapa di lereng Wuyi-san itu dia bertemu dengan dua orang kakek Pek-lian- pai dan Pat-kwa-pai yang menyerangnya dan merobohkannya dengan ilmu sihir dan setangan ular berbisa.
“Ciok Im Cu dan Ban Hwa Seng-jin?” San-tok berseru ketika mendengar cerita Ci Kong itu.
“Ah, mereka adalah orang-orang penting dalam Pek-lian-pai dan Pat-Kwa pai. Heran, mengapa mereka berani datang ke wilayahku? Padahal, selama
ini dua perkumpulan itu tidak pernah saling ganggu dengan aku!” Kakek ini merasa penasaran sekali.
“Mudah saja diduga,” kata Tee-tok.
“Tentu merekapun sudah mendengar akan desas-desus yang disebarkan oleh Koan Jit itu, dan mereka ingin pula memperebutkan Giok-liong-kiam dan melakukan penyelidikan ke sini.”
San-tok dan Hai-tok mengangguk-angguk. “Benar sekali,” kata San-tok.
“Tentu itu sebabnya mengapa dua orang tikus itu berkeliaran ke sini. Akan tetapi kalau bertemu dengan aku, akan kuketok kepala mereka! Dan kebetulan engkau datang, Ci Kong,” kata san-tok.
“Sehingga kami tak perlu mencari Siauw-bin-hud di kuilnya. Telah terjadi hal-hal yang penting dan perlu diketahui oleh Siauw-bin-hud, maka dengarlah cerita kami agar engkau dapat melapor kepada kakek itu.”
San-tok dan dua orang rekannya lalu menceritakan apa yang telah terjadi. Kiranya berita yang disebar oleh Tee-tok akan kepalsuan Giok-liong-kiam di tangan Koan Jit, terdengar pula oleh Koan Jit dan agaknya orang ini lalu menaruh curiga kepada San-tok dan muridnya. Dia teringat akan tanda-tanda masuknya seseorang di dalam tempat penyimpanan pusaka-pusakanya. Maka diapun lalu menyebar desas-desus bahwa Giok-liong-kiam yang asli berada di tangan Empat Rarun Dunia, dan bahwa para datuk itu hendak mencari harta pusaka melalui Giok-liong-kiam untuk membiayai pemberontakan terhadap pemerintah Ceng-tiauw, dan juga mengusir orang-orang kulit putih. Berita ini tentu saja amat menghebohkan dan menarik perhatian pemerintah, bahkan menarik pula perhatian para pimpinan pasukan kulit putih. Baik pemerintah Ceng, maupun orang-orang kulit putih, lalu menyebar orang- orang pandai yang menjadi kaki tangan mereka untuk mencari dan merampas Giok-liong-kiam atau harta karun itu. Dan yang menjadi sasaran utama adalah Empat Racun Dunia. Keadaan menjadi gawat dan berbahaya bagi mereka.
Pulau Naga, tempat baru dimana Hai-tok dan anak buahnya bersembunyi, ditemukan oleh pasukan pemerintah dan diserbu, membuat Hai-tok dan anak buahnya terpaksa melarikan diri karena pasukan yang menyerbu itu amat banyak dan kuat. Juga Tee-tok dikejar-kejar dan dicari-cari. Dan agaknya, bukan hanya pemerintah Ceng dan orang-orang kulit putih saja yang ingin merampas harta karun, akan tetapi juga banyak golongan-golongan di dunia kang-ouw agaknya tertarik juga, terbukti dan kemunculan orang-orang Pek- lian-pai dan Pat-kwa-pai di Wuyi-san. Itulah sebabnya mengapa Hai-tok dan Tee-tok lalu pergi mencari San-tok dan mereka saling berjumpa di tengah jalan, dan bersama-sama lalu pergi ke Wuyi-san.
“Keadaan sudah gawat sekarang,” akhirnya San-tok berkata.
“Kita harus cepat mengambil tindakan. Muridku ini, Lian Hong, telah berhasil mencari Giok-liong-kiam yang asli, dan aku telah menemukan rahasia yang disembunyikan di dalamnya.”
Agaknya, baru sekarang semenjak bertemu dengan kedua orang rekannya, San-tok menceritakan hal itu. Hai-tok dan Tee-tok menjadi tertarik sekali.
“Apakah adanya rahasia itu?” tanya mereka hampir berbareng.
“Sebuah peta tempat penyimpanan harta karun,” jawab San-tok sambil melirik ke arah Ci Kong.
“Akan tetapi, nanti saja kita bertiga mempelajarinya. Yang penting, sekarang kita harus membagi tugas.”
San-tok memandang kepada empat orang muda itu.
“Kami tiga orang tua bertugas mencari harta karun, dan kalian bertiga, Lian Hong, Kui Eng, dan Ci Kong, sebaiknya pergi ke kota raja dengan menyamar mencari keterangan tentang keadaan di sana, kalau mungkin, menyelidiki agar mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh pemerintah selanjutnya mengenai desas-desus tentang Giok-liong-kiam. Kita harus mengetahui rencana siasat pihak musuh agar kita tidak sampai terjebak dan terkepung seperti yang sudah-sudah. Diana tetap tinggal di sini.”
“Suhu, kenapa aku tidak boleh ikut? Siapa tahu, akupun dapat membantu.” kata Diana.
“Kemunculanmu hanya akan mendatangkan masalah baru, dan ilmu kepandaianmu masih terlalu rendah. Engkau tinggallah disini dan berlatih dengan giat. Aku akan mengajarkan sebuah ilmu yang dahsyat kepadamu.”