Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 156

Memuat...

Dua orang gadis itu tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh kakek itu, sedangkan Diana yang kini tahu bahwa ia sangka dan bahwa kakek ini tentu orang pandai yang dikenal oleh dua orang sahahatnya, diam saja, hanya memandang dengan alis berkerut karena selain ia masih gelisah memikirkan Ci Kong, juga ia tidak percaya kepada kakek ini yang dianggapnya bersikap tidak wajar.

“Locianpwe, baru saja terjadi malapetaka atas diri Ci Kong. Dia terluka, agaknya keracunan oleh gigitan ular berbisa.”

Mendengar ucapan Lian Hong, kakek itu lalu berjongkok dekat Ci Kong. “Ha-ha, ternyata anak Siauw-lim-pai ini masih begitu bodoh, membiarkan

dirinya digigit ular betang.”

Dia memandang ke arah bangkai ular, lalu mengeluarkan sebuah botol kecil dari saku jubahnya yang lebar. Botol itu terisi obat lembek seperti gajih dan diambilnya sedikit, lalu dioleskannya ke atas luka di leher Ci Kong. Tiga pasang mata para gadis itu mengikuti gerakan-gerakannya dengan hati penuh ketegangan. Mereka melihat betapa luka kecil itu setelah dipolesi obat, lalu mengeluarkan buih atau busa yang makin lama semakin hitam. Buih hitam ini lalu dihapus oleh Thian-tok, menggunakan daun yang dipetiknya di dekatnya, dan menaruh polesan baru. Sampai akhirnya, buih yang keluar berwarna putih kemerahan. Dia menghentikan pengobatan dengan polesan itu. Kemudian masukkan doa butir pel ke dalam kerongkongan Ci Kong dan mendorong dua butir pel itu dengan arak.

Ci Kong terbatuk dan siuman. Begitu melihat tiga orang gadis yang dikenalnya, dan juga Thian-tok yang duduk bersila sambil tertawa lebar, Ci Kong memandang bingung, celingukan mencari dua orang tosu yang tadi berkelahi dengannya.

“Ci Kong, engkau dilukai dua orang tosu itu yang sudah lari meninggalkanmu dalam keadaan pingsan dan keracunan. Untung datang locianpwe Thian-tok yang menolong.” Kata Lian Hong.

Tentu saja Kui Eng dan Diana merasa girang dan lega bukan main melihat pemuda itu sembuh, walaupun karena malu mereka tidak mengeluarkan kata- kata apapun. Sementara itu, Ci Kong teringat dan biarpun dia masih bingung mengapa tiga orang gadis itu tahu-tahu berada di situ, dia lalu cepat memberi hormat kepada Thian-tok.

“Terima kasih atas budi pertolongan locianpwe.” “Ha-ha-ha-ha!”

Kakek yang bentuk tubuhnya mirip Siauw-bin-hud itu tiba-tiba tertawa bergelak dan diapun sudah meloncat bangun, berdiri dengan perut bergoyang- goyang karena dia tertawa itu.

“Kaukira aku begitu baik hati untuk menyembuhkanmu begitu saja? Tapi kita hidup harus tolong-menolong dan bantu-membantu. Nah, setelah aku mengobatimu, sekarang kalian bertiga, murid-murid Tee-tok, San-tok dan Siauw-lim-pai harus membantuku.”

Mereka Saling pandang dan merasa heran, dan Ci Kong lalu menjawab. “Bantuan apakah yang dapat kami lakukan untuk locianpwe?”

“Ha-ha, banyak, banyak! Kalian tentu sudah mendengar pula dan bahkan mengetahui dengan jelas bahwa pedang Giok-liong-kiam yang berada di tangan Koan Jit si jahanam itu ternyata palsu. Nah, kalian ceritakan sekarang tentang pedang Giok-liong-kiam yang aseli.”

Tentu saja Lian Hong tidak mau menceritakan, juga Kui Eng tidak mau. Mereka tahu bahwa Thian-tok, biarpun merupakan rekan dari guru-guru mereka, tidak dapat disamakan dengan Hai-tok, Tee-tok, dan San-tok. Tiga orang di antara Empat Racun Dunia ini telah sepakat untuk membanting arah kehidupan mereka untuk membantu perjuangan menyelamatkan tanah air dan bangsa dari cengkeraman penjajah, sebaliknya Thian-tok memiliki jalan hidup sendiri yang hanya memikirkan perampasan Giok-liong-kiam demi diri sendiri. Adapun Ci Kong, belum pernah mendengar tentang hasil usaha Lian Hong mencari pusaka yang aseli, walaupun dia maklum bahwa pusaka yang mengandung rahasia tentang Giok-liong-kiam aseli, telah berada di tangan San-tok. Akan tetapi diapun tahu siapa adanya Thian-tok, yang pernah mengotorkan dan menodai nama Siauw-bin-hud, maka diapun tidak sudi untuk menceritakan sesuatu, walaupun baru saja Thian-tok menyelamatkan nyawanya. Thian-tok tadi menolongnya bukan karena dorongan hati yang iba, melainkan dengan pamrih untuk memeras keterangan tentang Giok-liong-kiam darinya.

“Aku tidak tahu,” kata Lian Hong mendahului teman-temannya. “Akupun tidak tahu tentang Giok-liong-kiam!” kata Kui Eng.

“Sayang akupun tidak dapat menceritakan apa-apa kepadamu, locianpwe,” kata pula Ci Kong, diam-diam setuju sekali akan sikap dua orang gadis itu.

Menceritakan kepada kakek itu tentang apa yang mereka ketahui, tentang Giok-liong-kiam, hanya akan mendatangkan keributan saja dan kakek ini dapat menjadi penghalang besar dari usaha mereka mencari pusaka yang akan membiayai perjuangan.

“Heh-heh-heh, kiranya engkau hanya seorang muda yang tidak mengetahui budi. Kalian bertiga, berempat dengan gadis bule itu, akan kubunuh semua kalau tidak mau memberi pengakuan sejujurnya tentang Giok-liong-kiam! Hayo, kalian pilih, ceritakan tentang pusaka itu atau kalian mampus semua?”

Sepasang mata Thian-tok mencorong kini, penuh nafsu membunuh. Tiga orang muda itu sudah siap siaga, berdiri dengan penuh kewaspadaan menghadapi kakek itu.

Lian Hong mendorong Diana agar mundur, dan Diana yang tahu diri maklum akan isyarat sucinya, lalu dara itupun mundur dan berlindung di balik batang pohon besar.

“Locianpwe, kami bertiga tidak dapat bercerita apapun tentang Giok-liong- kiam!” kata Lian Hong dengan lantang, mewakili dua orang kawannya.

“Kalau locianpwe hendak memaksa dan membunuh kami, terpaksa kami akan melawan dan membela diri!”

Kui Eng dan Ci Kong setuju sepenuhnya dengan ucapan itu, dan merekapun tidak menambahkan apa-apa. Kini kakek itu mengeluarkan suara ketawa yang nyaring sekali, suara ketawanya makin lama semakin keras seperti mengaum. Diana yang berada di belakang batang pohon terkejut sekali, cepat menggunakan kedua tangan menutup kedua telinganya dan ia cepat duduk bersila untuk bersamadhi. Lian Hong yang menceritakan tentang kehebatan khikang itu dan cara untuk mengatasinya. Untung bahwa ia telah berlatih samadhi sehingga ia dapat melindungi dirinya. Biarpun demikian, ia masih gemetar juga.

Tiga orang murid orang-orang sakti itupun cepat mengerahkan tenaga untuk melawan pengaruh ilmu sinkang Sin-houw-kang yang dikeluarkan Thian- tok itu. Dan melihat betapa tiga orang muda itu tidak roboh oleh ilmunya, Thian- tok menjadi semakin penasaran, lalu tubuhnya bergerak melakukan penyerangan!

Ci Kong yang diserang itu mengelak dengan loncatan ke samping. Thian- tok melanjutkan serangannya, tangan kanan mencengkeram ke arah pundak Kui Eng dan kaki kirinya menendang ke arah perut Lian Hong. Dua orang gadis itupun dapat menghindarkan diri dengan cepat. Thian-tok menjadi semakin marah dan dia sudah melancarkan serangan bertubi-tubi, memainkan ilmu Ngo-heng Lian-hoan Kun-hoat yang ampuh. Biarpun tubuhnya hanya satu, akan tetapi kini dia seperti memiliki tiga pasang lengan yang melakukan penyerangan gencar terhadap tiga orang lawannya.

Akan tetapi, kini dia berhadapan dengan tiga orang muda yang sudah cukup matang menguasai ilmu silat mereka. Ketiganya cepat bergerak mengelak dan menangkis, bahkan membalas serangan kakek itu dari tiga jurusan dengan pukulan-pukulan yang tidak kalah ampuhnya!

“Haaeehhhh…”

Berkali-kali Thian-tok mengeluarkan seruan dahsyat dan penyerangannya menjadi semakin kuat saja, angin pukulannya menyambar-nyambar dan terasa demikian kuatnya oleh tiga orang lawannya. Kiranya kakek ini menjadi penasaran karena tak pernah menyangka bahwa tiga orang muda itu akan mampu menandinginya.

Lian Hong sudah cepat mengeluarkan kipasnya, dan Kui Eng juga mencabut pedangnya. Hanya Ci Kong yang tidak memegang senjata, namun pemuda Siauw-lim-pai ini dapat bergerak cepat dan memiliki kaki tangan yang terlatih dan kuat sekali.

Diserang dari tiga jurusan oleh orang-orang muda yang amat lihai itu, Thian-tok menjadi repot juga! Ingin dia memaki-maki, merasa malu dan penasaran. Alangkah akan malunya kalau ia, Thian-tok yang pernah menggegerkan dunia persilatan bahkan mempergunakan nama Siauw-bin-hud merampas Giok-liong-kiam, sampai kalah oleh pengeroyokan tiga orang muda saja! Padahal, guru-guru dari tiga orang muda ini masih belum mampu mengalahkannya!

Adapun tiga orang muda ini juga maklum akan kelihaian lawan, maka mereka juga mengerahkan seluruh tenaga dan memainkan ilmu-ilmu simpanan mereka yang paling lihai. Ci Kong memainkan jurus-jurus pilihan dari ilmu silat Siauw-lim-pai yang terkenal dahsyat itu, kadang-kadang memainkan ilmu Silat Harimau dengan kedua tangan mencakar-cakar, lalu tiba-tiba mengubahnya dengan ilmu Silat Bangau, dengan tangan membentuk paruh yang menotok- notok. Dalam menghadapi terjangan kakek gendut itu, dengan jurus-jurus llmu Silat Monyet, dia dengan lincah dapat menghindarkan diri.

Kui Eng yang memegang sebatang pedang itupun sudah memainkan ilmunya yang paling ampuh, yaitu llmu Tongkat Cui-beng Hek-pang yang sudah diubahnya menjadi ilmu pedang. Gerakan-gerakan pedang itu dahsyat dan ganas sekali, sesuai dengan nama ilmunya, yaitu llmu Tongkat Pengejar Nyawa! Pedang itu berubah menjadi sinar yang bergulung-gulung menyilaukan mata, dan dapat membuat serangkaian serangan yang sambung- menyambung dan bertubi-tubi.

Adapun Lian Hong yang mempergunakan sebuah kipas sebagai senjata, juga lihai bukan main. Gadis ini telah mewarisi ilmu kipas yang dahsyat dari gurunya, San-tok, di samping memiliki tenaga sinkang yang kuat dan kelincahan gerakan yang bahkan mengatasi tingkat ginkang dari Ci Kong sendiri!

Dikeroyok oleh tiga orang muda yang lihai ini, Thian-tok merasa kewalahan. Kakek yang tak tahu diri ini, yang selalu menganggap diri sendiri paling hebat, tidak mau melihat kenyataan ini dan dia malah menjadi penasaran dan marah sekali. Tiba-tiba dia mengeluarkan suara menggereng nyaring, dan tubuhnya berpusing, kedua lengannya dikembangkan dan seperti sebuah gasing berputar, dia membuat tiga orang mengeroyoknya terpaksa mundur.

Tiba-tiba, kakek itu meloncat ke atas dan hinggap di atas batang pohon besar, lalu tangannya bergerak-gerak dan daun-daun pohon itu meluncur turun bagaikan senjata-senjata rahasia yang ampuh ke arah tiga orang muda itu.

Ci Kong, Lian Hong dan Kui Eng terkejut. Dua orang dara itu menangkis dengan senjata mereka untuk melindungi diri, sedangkan Ci Kong menggunakan kedua tangannya untuk mengibas ke sana-sini, membuat daun- daun itu runtuh. Mereka menjadi marah, dan ketiganya tanpa dikomando lagi, lalu meloncat ke atas pohon besar itu, hinggap di atas dahan di sekeliling Thian-tok. Perkelahian dilanjutkan di atas pohon, lebih seru dan lebih menegangkan dari pada tadi! Thian-tok mengamuk dengan pukulan-pukulan yang mengandung tenaga sinkang sepenuhnya. Akan tetapi, tiga orang muda inipun dapat menghindarkan diri dan membalas dengan tidak kalah dasyatnya. Gerakan- gerakan mereka semua mengandung tenaga sinkang yang menimbulkan angin pukul yang kuat, sehingga daun-daun pohon itu runtuh berhamburan ke bawah. Tak lama kemudian, ranting-ranting pohon itupun menjadi gundul seperti kepala kakek Thian-tok karena daun-daunnya telah gugur semua, seperti diserang musim rontok.

Post a Comment