“Jahanam dari Siauw-lim-pai, tak perlu banyak cakap lagi. Semua orang Siauw-lim-pai adalah musuh kami berdua!” bentaknya.
“Semua iblis sombong dari Siauw-lim-pai harus dibasmi untuk membalaskan sakit hati saudara-saudara kami yang entah sudah berapa banyak menjadi korban keganasan mereka!” bentak pula kakek gendut.
Ci Kong bukan tidak tahu bahwa memang sejak dahulu, para murid Siauw- lim-pai selalu menentang para anggauta Pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai, akan tetapi penentangan itu bukan didasari rasa permusuhan, melainkan karena setiap murid Siauw-lim-pai tentu akan menentang perbuatan jahat. Dan anak murid kedua perkumpulan itu terkenal jahat dan kejam, maka tentu saja di mana-mana ditentang. Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu karena dia ingin mengajak mereka berbaik kali ini.
“Nanti dulu, ji-wi locianpwe. Dari kakek guru saya sendiri, Siauw-bin-hud, saya ditugaskan untuk mengajak semua aliran dan golongan di dunia persilatan untuk bekerja sama menghadapi penjajah. Alangkah baiknya kalau sementara ini, kita melupakan dulu semua urusan pribadi, menggalang persatuan untuk menghadapi penjajah.”
“Tak perlu membujuk kami, engkau seorang tokoh Siauw-lim-pai, harus mati di tangan kami!” bentak tosu pek-lian-pai.
“Harap ji-wi bersabar. Siapakah ji-wi sebenarnya yang mati-matian hendak memusuhi dan membunuh saya yang tidak pernah mengenai ji-wi?”
“Buka telingamu baik-baik agar engkau tidak mati menjadi setan penasaran karena tidak tahu siapa yang menjadi pembunuhmu. Aku bernama Ciok Im Cu, seorang di antata pimpinan Pek-lian-pai, sedangkan dia ini Ban Hwa Seng-jin, seorang tokoh pimpinan pat-kwa-pai. Semenjak puluhan, bahkan ratusan tahun yang lalu antara Siauw-lim-pai dengan kami telah ada permusuhan. Entah berapa banyak anak buah kami yang tewas di tangan orang-orang Siauw-lim-pai, maka tak perlu banyak cakap lagi. Engkau sudah mengenal nama kami. Nah, bersiaplah untuk mampus!”
Berkata demikian, Ciok Im Cu tosu dari pek-lian-pai itu sudah menyerang lagi dengan lebih sengit, disusul oleh Ban Hwa Seng-jin yang juga menyerang dengan buas. Ci Kong maklum bahwa bicara dengan mereka ini memang tidak ada gunanya. Dan diapun menyaksikan sikap kakek gurunya. Bijaksanakah mengajak orang-orang seperti ini untuk bekerja sama? Jangan-jangan mereka ini tidak membantu perjuangan, malah mengotorkan perjuangan itu sendiri.
Teringat dia dengan sikap anak buah pasukan yang keji sekali, kejam terhadap rakyat di dalam pergolakan perang. Mereka merampok, membunuh dan memperkosa rakyat. Agaknya, orang-orang dari golongan hitampun akan berbuat serupa. Orang-orang pek-lian-pai dan Pat-kwa-pai ini adalah orang- orang yang menganut kepercayaan sesuatu, yang amat fanatik, dan karena kefanatikannya itu dapat berbuat kejam bukan main.
Berbeda dengan golongan seperti para datuk, seperti Empat Racun Dunia misalnya. Mereka itu adalah orang-orang yang berdiri sendiri, tidak mempunyai anak buah tertentu, dan andaikata mempunyai anak buah sekalipun, seperti halnya Hai-tok, mereka bertindak secara terbatas. Mereka ini lebih tepat dinamakan orang-orang liar yang tidak perduli akan segala tata cara atau hukum, hidup seenaknya sendiri saja.
Akan tetapi, setidaknya, orang-orang seperti datuk-datuk itu masih mempunyai perasaan cinta tanah air. Seperti telah terbukti, perjuangan orang- orang seperti pek-lian-pai dan pat-kwaipai, sejak dahulu tidak pernah berhasil, karena mereka itu hanya merongrong pemerintah dengan perbuatan-perbuatan mereka yang jahat, mengeruhkan suasana, mengadakan kekacauan dimana- mana sehingga mereka itu lebih dikenal sebagai penjahat-penjahat yang hendak dibasmi pemeritah. Bukan pejuang-pejuang yang memberontak terhadap pemerintah penjajah demi membebaskan tanah air dari cengkeraman penjajah asing.
Menghadapi serangan-serangan yang demikian berbahaya, Ci Kong juga cepat bergerak melakukan perlawanan sambil mengerahkan tenaga sinkangnya dan mengeluarkan jurus-jurus pilihan untuk menandingi dua orang tosu yang lihai itu.
Tan Ci Kong adalah seorang murid Siauw-lim-pai yang istimewa. Menurut tingkat, sebenarnya tingkatnya masih rendah, hanya terhitung murid keponakan dari empat orang pimpinan Siauw-lim-pai. Akan tetapi, karena dia menerima gemblengan langsung dari kakek Siauw-bin-hud, maka tingkat kepandaiannya dapat dikatakan sebanding dengan tingkat kepandaian ketua Siauw-lim-pai yang sekarang, yaitu Thian He Hwesio! Maka, begitu kini menghadapi dua orang lawan tangguh, dia mengeluarkan kepandaiannya dan dua orang tosu itu segera terdesak mundur!
Hal ini amat mengejutkan Ciok Im Cu dan Ban Hwa Seng jin. Mereka adalah tokoh-tokoh kelas satu dari perkumpulan masing-masing, dan kini mereka berdua maju mengeroyok seorang anggauta Siauw-limipai yang masih begini muda, mereka tidak mampu menang bahkan dalam waktu beberapa puluh jurus saja mereka telah terdesak mundur! Hal ini membuat kedua tokoh itu menjadi malu dan penasaran, kemudian marah sekali.
Ciok Im Cu nampak meloncat mundur, menggosok-gosok kedua tangannya, mulutnya berkemak-kemik, dan teryata dia sedang mengerahkan tenaganya menggunakan ilmu hitam atau sihirnya. Kemudian tiba-tiba dari mulutnya terdengar bunyi tangis! Tangis yang amat menyedihkan, tangis ratap memilukan disertai isak dan sesenggukan. Dan kakek inipun sambil mengeluarkan bunyi tangis itu, menerjang maju lagi dengan hebatnya.
Ci Kong tadinya terheran-heran mendengar kakek itu menangis. Akan tetapi dia menjadi terkejut karena suara tangis itu menjadi berlipat ganda banyaknya, datang dari segala penjuru seakan-akan dia terkepung oleh puluhan orang yang sedang menangis sedih! Dan pada saat itu, Ciok Im Cu sudah menyerangnya pula.
Ci Kong menguatkan batinnya untuk melawan pengaruh tangis itu, namun tetap saja kedua matanya menjadi basah air mata! Dia terkejut dan maklum bahwa kakek itu mempergunakan ilmu hitam, karena dia sudah mendengar betapa orang-orang Pek-lian-pai yang beragama Pek-lian-kauw itu pandai mempergunakan ilmu sihir atau ilmu hitam. Akan tetapi, biarpun dia memperkuat batinnya untuk menolak pengaruh ilmu itu, karena matanya basah, pandang matanya menjadi kabur dan diapun terdesak hebat oleh serangan Ciok Im Cu.
Pada saat Ci Kong terhuyung itu, tiba-tiba Ban-hwa Seng-jin mengeluarkan bentakan nyaring dan menyerangnya dari samping. Ci Kong cepat memutar tubuh dan lengannya menangkis dengan kerasnya. Tangan kakek dari Pat- kwa-pai itu terpental, akan tetapi ketika tangannya terpental, ada sebuah benda kecil panjang terlempar dan menyentuh leher Ci Kong. Pemuda itu terkejut karena tiba-tiba saja lehernya terasa nyeri. Dia cepat merengut benda yang menempel itu dan ternyata seekor ular kecil yang telah menggigit lehernya. Kiranya kakek Pat-kwa-pai tadi memegang ular ketika menyerang, dan ketika lengannya tertangkis, ular itu terlempar ke arah lebernya. Dia tidak tahu bahwa tokoh Pat-kwa-pai itu adalah seorang ahli ular beracun dan sengaja melepas ular itu pada saat dia tidak menyangkanya sama sekali.
Dengan marah Ci Kong mencengkeram kepala ular sampai hancur, kemudian dia membentak marah untuk membalas serangan lawan. Akan tetapi, tiba-tiba luka di leher yang kecil akibat gigitan ular itu terasa panas sekali, pandang matanya berkunang dan diapun roboh terpelanting dan tidak ingat apa-apa lagi.
Pada Saat Ci Kong terpelanting itulah, Kui Eng, Lian Hong dan Diana nampak muncul di sebuah tikungan. Melihat munculnya tiga orang wanita yang kelihatan amat gesit dan berlari dengan kecepatan luar biasa itu, Ciok Im Cu dan Ban Hwa Seng-jin cepat melarikan diri. Mereka merasa jerih. Baru menghadapi seorang pemuda tadi saja, hampir mereka berdua kalah. Kalau tidak mempergunakan ilmu hitam dan ular, mungkin mereka berdua akan kalah menghadapi pemuda tadi. Mereka menjadi jerih karena tentu banyak terdapat orang pandai di tempat itu dan tanpa banyak cakap lagi, keduanya lalu cepat melarikan diri.
Tiga orang dara itu tadi dari jauh melihat robohnya pemuda yang dikeroyok dua orang tosu, akan tetapi karena jaraknya masih jauh, mereka tidak mengenal siapa pemuda itu dan siapa pula dua orang tosu yang melarikan diri setelah pemuda itu roboh. Mereka tentu saja tidak berpihak karena tidak mengenal orang-orang yang berkelahi, dan mereka cepat datang menghampiri orang yang roboh itu.
“Ci Kong...!”
Hampir berbareng tiga orang gadis itu meneriakkan nama ini ketika mereka mengenal wajah pemuda yang menggeletak terlentang dengan muka pucat seperti sudah mati ini. Diana dan Kui Eng sudah menjatuhkan diri berlutut di dekat tubuh Ci Kong. Dengan jari-jari tangan gemetar mereka berdua meraba- raba, mengguncang-guncang dan memanggil-manggil nama Ci Kong.
Melihat keadaan dua orang gadis itu, Lian Hong lalu terduduk lemas, tak jauh dari situ, dapat memaklumi akan isi hati dua orang gadis yang menjadi sahabat baiknya itu. Mereka mencinta Ci Kong, pikirnya. Mereka berdua itu mencinta Ci Kong. Dan ia sendiri? Ia tidak tahu, akan tetapi jelas bahwa Ci Kong perlu ditolong!
Ketika tanpa disengaja tangan mereka yang memegangi tubuh Ci Kong itu saling bersentuhan, Diana dan Kui Eng saling melirik dan wajah mereka berubah merah. Mereka lalu melepaskan pegangan dan hanya berlutut dengan kebingungan. Diana menahan emosi hatinya. Tidak mau ia mengulang peristiwa yang menghebohkan seperti yang pernah dilakukannya di kuil itu. Ingin ia memeluk, merangkul dan meniupkan kembali nyawa di tubuh pemuda penolongnya yang kelihatan sudah mati itu, namun semua ini ditahannya. Ia hanya bisa mengeluh panjang pendek dengan bingung, menundukkan mukanya dan mengusap air matanya yang jatuh berderai.
Kui Eng juga bingung sekali. Iapun ingin memondong tubuh Ci Kong dan membawanya pergi, mengusahakan pengobatan. Namun ia merasa malu terhadap Diana. Ia maklum bahwa Diana, seperti juga hatinya sendiri, menaruh rasa cinta terhadap pemuda ini. Ia hanya mengepal dan membuka tangannya, bingung dan cemas, seperti Diana dan melihat betapa Diana menangis, iapun tak dapat menahan air matanya.
“Ahhh... bagaimana ini… bagaimana ini…?” Diana hanya meratap-ratap.
"Adik Hong, bagaimana baiknya? Dia… dia harus cepat ditolong...” kata Kui Eng sambil menoleh ke arah Lian Hong. Kini Lian Hong bangkit berdiri dan menghampiri.
“Kalian berhentilah menangis. Dia terluka parah, perlu ditolong, bukan ditangisi!” katanya agak ketus, mengejutkan kedua orang gadis itu yang segera menghapus air mata dan menahan tangis mereka.
Dengan teliti, Lian Hong lalu memeriksa dari akhirnya ia melihat luka kecil menghitam di leher pemuda itu.
“Hemm, agaknya luka inilah yang menyebabkannya keracunan,” katanya menuding ke arah luka.
Tiga orang gadis itu merasa khawatir sekali karena wajah Ci Kong sudah mulai nampak menghitam, tanda keracunan berat.
“Ihh! Ini ada ular...!”
Tiba-tiba Diana memekik dan benar saja. Terdapat tubuh seekor ular yang sudah luncur kepalanya, tertindih tubuh pemuda itu. Lian Hong menarik ular itu dan memeriksanya.
“Hemm… ular berbisa. Agaknya dua orang tosu tadi mempergunakan ular ini untuk merobohkan Ci Kong. Kita harus cepat mencari obat untuknya, kalau tidak…”
“Kalau tidak, dia akan mampus! Ha-ha-ha…!” Mendengar suara parau itu, tiga orang gadis itu terkejut dan berloncatan sambil memutar tubuh. Kiranya di depan mereka telah berdiri seorang kakek berkepala gundul botak dan berperut gendut sekali, tubuhnya bulat sehingga kancing-kancing terlepas semua, dan perut itu tidak tertutup lagi oleh baju. Dan Lian Hong segera mengenal kakek itu. Demikian pula Kui Eng.
Akan tetapi Diana tidak mengenalnya, dan karena ia merasa gelisah sekali mengingat keadaan Ci Kong, munculnya kakek yang sambil tertawa mengeluarkan kata-kata kasar, Diana menjadi marah.
“Penjahat kejam! Engkau tentu teman dari pembunuh-pembunuh tadi, engkau sungguh jahat sekali!”
Dan dengan gerakan nekat, Diana sudah menyerang ke arah kakek itu. Biarpun ia baru saja mulai belajar silat, akan tetapi tenaganya besar, dan gerakannya gesit berkat latihan yang keras.
Tentu saja Lian Hong terkejut bukan main dan cepat ia menubruk ke samping, memegang kedua lengan Diana.
“Sumoi, jangan sembarangan!”
Dan iapun menjura kepada kakek gendut itu sambil berkata.
“Harap lociapwe suka memaafkan sumoiku yang bersikap kurang patut karena tidak mengenal lociapwe.”
Kakek itu bukan lain adalah Thian-tok. Melihat seorang gadis bule marah- marah kepadanya, dia memandang sambil menyeringai lebar, akan tetapi ketika mendengar pengakuan Lian Hong bahwa gadis itu sumoinya, alisnya berkerut.
“Apa? Ini sumoimu? Jadi si jembel dari gunung telah mengambil murid seorang perempuan bule? Aih, sungguh luar biasa. Kalau bukan sumoimu, tentu ia sudah kubunuh sekarang juga!”
“Harap lociapwe suka melihat kami dan memaafkan Diana, ia bukan hanya murid locianpwe Bu-beng San-kai, akan tetapi juga seorang di antara kita yang membantu perjuangan para patriot.” kata pula Kui Eng.
Kini Thian-tok memandang kepada Kui Eng.
“Siapa engkau? Hemmm… ingat aku sekarang. Engkau murid Tee-tok, bukan? Ha-ha-ha… sudah berkumpul semua di sini. Bagus sekali! Dan ini orang muda pengikut Siauw-bin-hud itu. Wah, sudah lengkap, tinggal Hai-tok yang belum ada wakilnya. Bagus sekali!”