“Enci Kui Eng… kenapa tergesa-gesa amat? Menanti beberapa hari lagi di sini kurasa tidak ada salahnya,” kata Lian Hong.
“Hong Moi, kenapa engkau ingin bersenang saja? Bukankah tenaga kita dibutuhkan oleh tanah air dan bangsa? Kalau kita yang muda-muda ini hanya ingin bersenang-senang saja, lalu sampai kapan bangsa kita tercengkeram oleh penjajah? Kurasa sudah terlalu lama kaum muda bangsa kita tertidur sehingga orang-orang Mancu itu seenaknya saja menjajah kita sampai turun-temurun. Aku harus cepat bertemu kembali dengan suhu dan secepatnya menghubungi teman-teman seperjuangan. Bukankah suhu kebagian tugas mengabarkan tentang kepalsuan Giok-liong-Kiam yang berada di tangan Koan Jit itu agar mereka semua menghentikan perebutan pusaka itu? Nah, cukup sampai di sini saja kalian mengantar, selamat tinggal sampai jumpa pula!”
Akan tetapi pada saat itu, Kui Eng dan Lian Hong terkejut. Pendengaran mereka yang terlatih dan peka itu dapat menangkap suara orang berkelahi, jauh di bawah sana. Keduanya saling pandang.
“Ada perkelahian!” kata Lian Hong dan Kui Eng mengangguk.
“Apa yang kalian maksudkan?” tanya Diana yang tidak dapat menangkap suara perkelahian yang dilakukan oleh orang-orang pandai itu.
“Mari, sumoi, di bawah sana ada orang-orang berkelahi. Jangan-jangan suhu yang berkelahi, mari kita turun dan lihat!”
Lian Hong lalu merentangkan tangan Diana dan bersama Kui Eng menggandeng tangan diana turun dari lereng itu, menuju ke arah suara perkelahian. Siapakah yang berkelahi di kaki bukit itu?
Seorang pemuda yang gagah perkasa sedang menghadapi pengeroyokan dua orang tosu (pendeta Agama To) yang juga lihai sekali. Ci Kong, pemuda itu, setelah beberapa lamanya mewakili Siauw-bin-hud membujuk para pendekar dan perkumpulan silat yang besar untuk dalam keadaan sekacau itu mengadakan persatuan dengan segala golongan untuk menghimpun kekuatan menghadapi penjajah dan orang kulit putih, kini menerima tugas dari suhunya untuk menghubungi San-tok, Tee-tok dan Hai-tok, untuk memberitahu bahwa Siauw-bin-hud kini hendak bertapa selama kurang lebih satu bulan. Kakek ini memang sudah seringkali menerima getaran batin untuk melakukan tapa dan kini dia hendak bertapa untuk mencari cara terbaik untuk perjuangan kaum patriot.
Karena tempat terdekat adalah Wuyi-san, maka dia lebih dahulu berkunjung ke gunung ini untuk menjumpai San-tok. Akan tetapi, ketika ketika tiba di lereng pertama, dia bertemu deagan dua orang tosu. Agaknya, dua orang tosu ini memang sudah lama bersembunyi di tempat itu, karena ketika Ci Kong lewat, mereka secara tiba-tiba muncul dari balik semak-semak, dan Ci Kong terkejut mendengar suara orang menegur.
“Orang muda, berhenti dulu!”
Dia menengok dan melihat bahwa yang tiba-tiba muncul itu adalah dua orang tosu yang usianya tentu tidak kurang dari enampuluh tahun. Dia memandang penuh perhatian. Seorang di antara mereka, yang bertubuh tinggi kurus berjenggot panjang, mengenakan jubah kuning dan di baju bagian dadanya terdapat lukisan bunga teratai putih. Kakek ini memiliki sepasang mata yang sinarnya mencorong aneh. Adapun tosu kedua bertubuh tinggi besar dengan perut gendut, mukanya bersih polos tanpa jenggot, rambutnya digelung ke atas. Kakek ini juga berjubah kuning, jubah pendeta atau pertapa, dan di baju bagian dadanya terdapat lukisan pat-kwa (segi delapan).
Melihat lukisan-lukisan di dada kedua orang tosu itu, diam-diam Ci Kong terkejut. Dia mengerti bahwa dia berhadapan dengan dua orang tosu dari pek- lien-pai (Perkumpulan Teratai Putih) dan Pat-kwa-pai (Perkumpulan Segi Delapan), dua buah perkumpulan yang menggunakan nama perjuangan, akan tetapi di samping memusuhi pemerintah penjajah juga melakukan bermacam kejahatan yang amat keji, sesuai dengan agama mereka yang menyeleweng dan mengarah pemuasan nafsu dengan ilmu-ilmu yang aneh dan yang biasa disebut ilmu hitam.
Ci Kong menjadi waspada, akan tetapi dia teringat akan pesan sukongnya atau gurunya, yaitu kakek Siauw-bin-hud bahwa dia bertugas untuk menghimpun segala kekuatan yang ada untuk mempersatukan kekuatan- kekuatan itu dari aliran dan golongan manapun juga agar dapat dibentuk kekuatan yang dasyat dari rakyat untuk menghadapi pemerintah penjajah dan orang asing. Maka, diapun mengesampingkan kecurigaannya dan dengan sikap hormat dia lalu menjura.
“Selamat bertemu, ji-wi locianpwe. Agaknya ji-wi mempunyai keperluan maka memanggil saya?”
Sikap ramah dan hormat dari Ci Kong agaknya tidak diperdulikan oleh dua orang kakek itu, atau dipandang ringan. Yang tinggi kurus bertanya dengan suara sambil lalu.
“Siapa engkau, orang muda… dan ada hubungan apa engkau dengan San- tok maka engkau muncul di tempat ini?”
Ci Kong mengerutkan alisnya. Tosu ini benar-benar amat sombong, dan agaknya mempunyai niat tertentu terhadap San-tok. Akan tetapi dia lalu teringat bahwa San-tok adalah seorang datuk sesat, tidaklah aneh kalau San- tok kenal baik dengan tosu-tosu seperti ini. Dan siapa tahu bahwa San-tok menghubungi mereka untuk bersama menghimpun tenaga menghadapi penjajah. Maka diapun masih tetap ramah ketika memperkenalkan diri.
“Ji-wi lociapwe, dalam keadaan negara kacau seperti ini, kiranya di antara kita semua terdapat satu pertalian batin yang kokoh kuat untuk bersama-sama menghadapi pemerintah penjajah dan orang-orang kulit putih. Karena itu harap ji-wi tidak menaruh curiga kepada saya. Nama saya Tan Ci Kong, dan saya datang ke sini untuk menemui locianpwe San-tok karena diutus oleh kakek guru saya.”
Dua orang tosu itu saling pandang, dan kini tosu gendut tinggi besar yang bertanya, suaranya parau dan besar.
“Dan siapakah kakek gurumu itu?”
Tanpa ragu-ragu lagi, Ci Kong memperkenalkan nama besar kakek gurunya, karena dia memang bermaksud untuk membujuk kedua orang ini agar Pek-lian- pai dan Pat-kwa-pai suka bekerja sama untuk menghadapi musuh.
“Kakek guru saya dikenal dengan nama Siauw-bin-hud...” Tiba-tiba Sikap kedua orang kakek itu berubah.
“Kiranya jahanam kecil ini dari Siauw-lim-pai!” bentak tosu tinggi kurus, dan dia sudah menerjang dan menyerang Ci Kong dengan pukulan tangan kanan ke arah kepala yang disusul tusukan jari tangan kiri ke arah pusar.
Gerakkan ini hebat sekali, merupakan serangan maut yang berbahaya, maka Ci Kong yang sama sekali tidak menyangka dirinya akandiserang, cepat merendahkan tubuh sehingga pukulan ke arah kepala itu luput, sedangkan tusukan jari ke arah pusarnya ditangkis dengan tangan kanannya.
“Plakk!”
Tangan tosu yang menusuk itu terpental saking kuatnya tangkisan Ci Kong. “Nanti dutu, harap ji-wi totiang (saudara pendeta berdua) suka bersabar.
Saya bukan musuh, bahkan mengajak ji-wi untuk bekerja sama...”
Akan tetapi tosu tinggi kurus tadi sudah menjadi semakin penasaran dan marah, apalagi karena tangkisan tadi membuka matanya, bahwa pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, seorang pendekar dari Siauw-lim-pai yang selalu menjadi musuhnya.