Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 151

Memuat...

“Janji apa! Huh, kau membikin aku malu. Kau tahu, Ci Kong itu adalah calon jodoh Lian Hong, dan engkau menciuminya di depan orang banyak! Celaka!”

Diam-diam Diana terkejut mendengar ini dan memang wajah kakek itu dengan sinar mata tidak percaya.

“Ah, suci Lian Hong tidak pernah bicara tentang itu, Suhu. Kurasa tidak ada pertalian cinta di antara mereka...”

“Persetan dengan cinta! Aku menghendaki muridku itu berjodoh dengan Ci Kong, dan itu merupakan suatu hal yang tidak boleh dibantah, dan engkau telah menciumi Ci Kong begitu saja!”

Diana memiliki watak yang keras dan berani. Kalau saja tidak mengingat bahwa ia sudah menjadi murid kakek ini, tentu semua ucapan dan sikap kakek itu akan dicela dan dibantahnya. Kini, mendengar akan pendapat kakek itu yang agaknya hendak memaksa Lian Hong berjodoh dengan Ci Kong, iapun merasa penasaran.

“Suhu, perjodohan tanpa cinta hanya akan mendatangkan sengsara! Dan tentang perbuatanku mencium Ci Kong itu, hanyalah merupakan luapan kegembiraan hatiku bertemu dengan orang yang pernah menyelamatkan aku. Apa sih artihya ciuman tanda terima kasih seperti itu? Kurasa kulit pipinya tidak lecet dan tidak akan ternoda atau berkurang!”

Hampir saja San-tok tertawa mendengar ini, dan diapun termenung. Dia teringat bahwa biasanya diapun tidak perduli akan segala hai mengenai tata susila dan sopan santun. Memang, dicium begitu saja tidak ada artinya, Ci Kong masih tetap utuh. Kalau dulu hal seperti terjadi, tentu dia malah akan tertawa geli. Akan tetapi sekarang, kenapa dia meributkan soal sepele? Sejak dia berhubungan dengan Siauw-bin-hud, sejak dia ingin menjadi orang baik, ingin menjadi seorang pejuang dan patriot, tiba-tiba saja dia kini meributkan soal sopan santun sepele! Dan dia merasa malu kepada diri sendiri. Rasa malu ini ditutupinya dengan kemarahan besar.

“Sudahlah, jangan cerewet. Kaupergilah, jangan mengikuti aku lagi, atau kalau engkau nekat, akan kubunuh kau?”

“Kalau suhu hendak membunuh aku yang tanpa dosa, silahkan. Sejak dulupun, kalau suhu mau membunuhku, aku tidak akan dapat membela diri.”

Sepasang mata San-tok mencorong menatap wajah gadis itu, dan melihat betapa sinar mata yang bening itu penuh keberanian ditujukan kepadanya, bukan sekedar membual atau menggertak, dia semakin mendongkol. Gadis ini tidak dapat digertak, pikirnya.

“Tolol! Kalau aku pergi meningalkanmu, apa kau mau menyusulku?” “Terserah kepada Suhu. Aku akan tetap mengejar. Kalau suhu hendak

melanggar janji, silahkan meninggalkan aku.” San-tok membanting kakinya.

“Sialan! Kenapa hidupku yang tidak berapa lama lagi ini terganggu oleh kehadiran orangseperti engkau ini Celaka! Nah, kau berjalanlah sendiri, biar dimakan binatang buas!”

Sekali berkelebat, kakek itu lenyap dari depan Diana. Sejenak gadis ini menjadi pucat dan bingung. Akan tetapi teringat akan nasihat Lian Hong bahwa menghadapi seorang kakek luar biasa seperti guru mereka itu, Diana harus keras hati dan tahan ujian! Maka, kini iapun memberanikan hatinya dan melangkah terus menuju ke utara, karena ia sudah tahu bahwa gurunya bertempat tinggal di puncak Gunung Naga putih, sebuah di antara puncak- puncak Wuyi-san. Kalau perlu, ia akan menyusul suhunya, pergi seorang diri ke puncak itu, kalau tidak mati dimakan binatang buas di tengah jalan.

San-tok tidak pergi jauh, melainkan bersembunyi untuk melihat bagaimana sikap gadis itu setelah ditinggalkan. Akan tetapi dia melibat betapa Diana dengan sikap penuh keberanian, masih melanjutkan perjalanan menuju utara! Lambat atau cepat, akhirnya tentu gadis itu akan tiba juga di puncak Naga Putih menyusulnya! Tentu gadis bule ini sudah tahu akan tempat tinggalnya dari Lian Hong! Dia lalu mempunyai akal dan sambil menahan ketawa, San-tok lalu mendahului Diana, lalu bersembunyi ke dalam semak-semak belukar yang akan dilalui gadis itu.

Diana melangkah terus dengan cepat, sambil menggigit bibirnya bertekad untuk berjalan terus dan baru berhenti kalau kakinya sudah mogok. Ketika ia tiba di dekat sekelompok semak belukar yang rimbun, tiba-tiba saja terdengar gerengan keras sekali dan semak-semak itu bergoyang keras! Tentu saja gadis itu terkejut bukan main, ia menjerit kecil.

Diana berteriak, akan tetapi lalu teringat bahwa San-tok tidak berada di situ, maka iapun lalu melarikan diri tunggang-langgang. Ia merasa yakin bahwa ada binatang buas yang amat berbahaya dalam semak-semak itu dan ia tidak perduli lagi ke arah mana ia lari. Yang penting adalah menyelamatkan diri sebelum binatang itu keluar.

Setelah gadis itu berlari jauh, San-tok muncul dari dalam semak-semak dan tertawa bergelak, membayangkan betapa lucunya gadis itu tadi lari terbirit- birit!

“Rasakan kau sekarang!” katanya, dan melihat betapa Diana tadi melarikan diri ke kiri, berarti ke barat, dia merasa yakin bahwa gadis itu tentu sudah kehilangan arah dan tak mungkin akan dapat keluar dari hutan lebat itu.

San-tok lalu melanjutkan perjalanan, tidak tergesa-gesa, melainkan seenaknya karena hatinya merasa senang bahwa dia telah berhasil mengenyahkan Diana dari sampingnya. Tidak ada lagi yang mengganggu dalam perjalanannya, dan diapun melanjutkan perjalanan seenaknya saja.

Tiga hari kemudian, karena kemalaman di jalan, terpaksa San-tok memasuki sebuah rumah kosong yang sudah hampir roboh, yang berdiri di tepi jalan di luar sebuah dusun. Dia tadi berhasil menangkap seekor kijang dan mencuri seguci arak. Sambil bersenandung, kakek ini menikmati keadaannya waktu itu. Dia membuat sebuah api unggun di ruangan belakang rumah rusak itu, memanggang paha kijang yang sudah diberinya bumbu sehingga panggang daging itu menyiarkan bau yang amat sedap. San-tok yang sejak pagi tadi tidak makan apa-apa, mencium bau ini, memandang dengan mata haus dan air liurnya membasahi mulut.

“Suhu... aku… aku lapar...!”

San-tok meloncat dari tempat dia duduk di atas lantai dan dia menengok. Matanya terbelalak ketika melihat tubuh Diana terguling roboh dan ternyata gadis itu telah roboh pingsan, tak jauh dari api unggun! Melihat munculnya gadis ini, San-tok terkejut bukan main, akan tetapi juga rasa kagum menyelinap di hatinya yang keras. Gadis bule ini benar-benar luar biasa sekali, pikirnya. Bukankah tiga hari yang lalu sudah lari tunggang-langgang di dalam hutan itu, menuju ke barat? Bagaimana mungkin kini dapat menyusulnya di pondok bobrok itu? Dan diapun kini tertarik oleh kekuatan yang luar biasa itu. Dihampirinya tubuh Diana dan memeriksa sebentar saja, tahulah dia bahwa gadis ini roboh pingsan saking lelah dan laparnya! Pakaiannya compang- camping, juga rambutnya awut-awutan.

San-tok menarik napas panjang. Tak dapat dia membohongi atau menyangkal hatinya sendiri bahwa dia semakin tertarik dan suka kepada gadis bule yang keras hati ini. Tidak mengecewakan memiliki seorang murid seperti ini, pikirnya. Dan diapun teringat akan janjinya kepada Lian Hong. Muridnya yang amat disayangnya itu memesan dengan sungguh-sungguh agar dia tidak mengganggu Diana, agar dia melindungi gadis bule yang sudah diterimanya sebagai murid itu. Dia lalu mengambil arak, menuangkan sedikit arak ke dalam mulut Diana dan gadis itupun siuman sambil terbatuk-batuk.

“Hemm, anak bandel. Kaumakanlah ini, dan minum arak ini!” kata San-tok. Diana yang memang sudah kelaparan itu, menerima daging panggang dan makan dengan lahapnya, dan minum arak yang menghangatkan perutnya. San- tok sendiri lalu makan daging panggang tanpa banyak cakap. Terjadi perang di dalam hatinya. Rasa kasihan sudah lama meninggalkan lubuk hati kakek ini. Hatinya beku dan keras. Terhadap Diana, dia tidak merasa kasihan, hanya tertarik melihat betapa gadis ini memiliki kemauan yang demikian membaja. Akan tetapi dia masih belum puas benar. Memiliki murid seorang perempuan bangsa kulit putih tidak menyenangkan hatinya. Tentu dia akan menjadi bahan kecaman dan cemooh dunia kang-ouw. Kecuali kalau murid ini memang

istimewa. Dan dia harus menguji lagi Diana.

Dari tempat itu ke puncak Naga Putih tidaklah jauh lagi. Mereka sudah tiba di kaki pegunungan Wuyi-san. Melalui perjalanan yang susah payah bagi orang biasa, dalam waktu tiga hari lagi tentu akan sampai ke sana.

“Bagaimana engkau bisa menyusulku ke sini? Apakah engkau mengenal jalanan?” tanya San-tok setelah gadis itu selesai makan dan kedua pipinya sudah memerah lagi tertimpa cahaya api unggun.

“Suci Lian Hong pernah menerangkan perjalanan ke Puncak Naga Putih kepadaku, Suhu.” jawab Diana dengan sikap tenang.

“Hemm, aku tidak percaya engkau akan mampu mencapai Puncak Naga Putih. Nah, aku pergi!”

Berkata demikian, kembali San-tok meloncat dan lenyap dari situ. Diana terpaksa melewatkan malam di rumah bobrok itu, dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali ia sudah pergi meninggalkan tempat itu, tidak perduli walaupun kedua kakinya masih terasa sakit-sakit dan lelah sekali. Tekadnya adalah mencapai Puncak Naga Putih atau mati di jalan!

Dengan menggunakan ginkangnya yang luar biasa, jarak yang jauh itu ditempuh oleh San-tok dalam waktu semalam saja. Pada keesokan harinya, dia sudah tiba di dalam guhanya di Puncak Naga Putih. Dia sudah melupakan lagi Diana karena dia masih tidak percaya bahwa gadis itu akan mampu menyusulnya sampai ke situ.

Akan tetapi, tiga hari kemudian, ketika dia sedang duduk bersila di dalam guhanya, Diana muncul di depan guha.

“Suhu!” seru gadis itu dengan wajah berseri penuh kebanggaan dan kegirangan karena akhirnya ia mampu juga mencapai puncak tempat tinggal suhunya.

“Hemm, mau apa engkau menyusulku sampai ke sini?” San-tok membentak dengan sikap acuh. Sampai waktu itu, Diana sudah mengenal benar watak kakek yang aneh ini dan hatinya tidak tersinggung oleh sikap acuh itu.

Post a Comment