Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 150

Memuat...

“Benar!” Kiki menepuk Paha sendiri.

“Wah, sungguh jahanam itu penuh tipu muslihat! Untung engkau tadi muncul, Ci Kong, kalau tidak, sampai detik inipun tentu aku tidak pernah menyangka bahwa dialah jahanam busuk malam itu!”

“Adikku Kiki, kenapa sejak kita bertemu, engkau tidak pernah bercerita tentang peristiwa itu kepadaku?” tiba-tiba Ceng Hiang bertanya, nada suaranya penuh teguran.

“Ah, aku malu, enci. Biarpun aku belum ternoda, akan tetapi aku malu untuk menceritakan kepadamu.”

“Kiki, aku tidak mengira bahwa engkau mempunyai seorang kakak perempuan. Nona, terimalah hormatku, tadi aku melihat betapa nona dapat berlari cepat secara luar biasa sekali, dan aku mengerti bahwa ilmu kepandaian nona tentu lebih hebat dari pada Kiki atau aku sendiri. Kenapa nona tadi tidak turun tangan menghajar orang itu?”

Kini Ci Kong yang bertanya kepada Ceng Hiang sambil mengerutkan alisnya. Gadis ini luar biasa, dan jelas lihai, akan tetapi dia merasa heran mengapa tadi membiarkan Kiki didesak oleh Song Kim.

Kiki tertawa dan itu tandanya bahwa dara ini sudah melupakan kemarahannya. Memang, seorang gadis lincah jenaka seperti Kiki, wataknya mudah berubah seperti angin. Bisa saja sebentar menangis, sebentar tertawa, mudah marah lalu berbalik ramah.

“Hi-hik, engkau hanya tahu ekorrya tak tahu kepalanya, Ci Kong. Yang kaukira kakak perempuanku ini memang benar enciku, akan tetapi enci angkat. Ia ini adalah puteri…”

“Hushhh, jangan mengangkatku terlalu tinggi, Kiki…” kata Ceng Hiang dan tiba-tiba mukanya berubah merah.

“Ci Kong, enci Hiang ini adalah puteri tunggal dari Pangeran Ceng Tiu Ong, seorang pangeran tua yang arif bijaksana, sasterawan besar, dan mereka, ayah dan anak itu tidak menyetujui penjajahan dan penindasan. Hebat, bukan? Dan biarpun ayahnya seorang sasterawan yang hanya pandai membaca menulis, bahkan ahli sastera kuno, akan tetapi jangan mengira enciku ini yang kelihatan halus lembut seorang lemah! Wah… kepandaiannya tentang silat... selangit deh!”

“Hushhh…”

Kembali Ceng Hiang mencela akan tetapi tidak melanjutkan dan tersenyum malu. Aneh sekali, baru sekarang gadis ini merasa girang dipuji-puji di depan orang!

“Kau tahu, Ci Kong, dara cantik jelita seperti bidadari di depanmu ini siapa? Ia adalah pewaris ilmu-ilmu silat dari keturunan keluarga pendekar Pulau Es!”

Tentu saja Ci Kong menjadi kaget bukan main. Cepat dia menjura dan berkata.

“Ah, harap lihiap (pendekar wanita) sudi memaafkan kalau saya bersikap kurang hormat karena tidak tahu bahwa lihiap adalah murid keluarga Pulau Es!”

Wajah cantik itu menjadi semakin merah, dan Ceng Hiang membalas penghormatan pemuda itu dengan menjura.

“Ah, taihiap (pendekar besar) bersikap terlalu sungkan dan memuji diriku terlampau tinggi. Ini semua gara-gara adik Kiki yang nakal ini!”

Kiki tertawa dan bertepuk tangan.

“Hi-hik, yang seorang lihiap, seorang lagi taihiap, sungguh cocok sekali!” Melihat betapa kedua orang itu menjadi semakin kikuk oleh godaannya,

Kiki berkata.

“Kita adalah saudara dan sahabat, merupakan orang-orang sendiri. Kalian jangan begitu sungkan dengan sebutan yang menyanjung seperti itu. Enci Hiang, aku begitu bertemu dan berkenalan dengan Ci Kong, kami langsung saja menyebut nama masing-masing. Dan begitu kita saling jumpa, bukankah di antara kita juga sudah akrab? Kenapa kalian begini sungkan? Enci Hiang, Tan Ci Kong ini adalah seorang murid yang lihai sekali dari Siauw-lim-pai.”

Ceng Hiang yang merasa semakin malu oleh godaan adiknya, untuk menutupi rasa kikuknya, lalu berkata.

“Kiranya aku berhadapan dengan seorang pendekar Siauw-lim-pai yang berilmu tinggi.”

Ci Kong menarik napas panjang.

“Sudahlah, nona Ceng, adik Kiki memang benar. Di antara kita tidak perlu sungkan-sungkan dan saling memuji. Yang penting, harap kalian waspada dan hati-hati sekali terhadap orang yang ternyata adalah suheng sendiri dari Kiki. Siapakah nama suhengmu itu, Kiki…?”

“Tidak sudi aku mempunyai suheng macam dia! Dia sekarang bukan suhengku lagi, melainkan musuhku. Namanya adalah Lee Song Kim, dan kalau dapat berjumpa lagi dengannya, aku akan membunuhnya! Aku akan mencarinya!”

Ceng Hiang mengerutkan alisnya dan memegang lengan adiknya. “Jangan, adikku. Dia memiliki kedudukan yang baik dan kuat, menjadi orang kepercayaan panglima kerajaan, bahkan dia sudah diperkenalkan kepada ayah. Kalau engkau memusuhinya dengan bertarung, kemudian diketahui bahwa engkau adalah puteri angkat ayah, maka tentu ayah akan terlibat. Seorang diri saja memusuhi dia yang mempunyai pasukan besar, tak mungkin engkau akan berhasil.”

“Apa yang dikemukakan nona Ceng ini memang tepat dan engkau harus bertindak dengan hati-hati, jangan sembrono, Kiki,” kata pula Ci Kong.

“Kau sudah dicap pemberontak-pemberontak, dan orang itu memiliki kedudukan di dalam pasukan pemerintah. Tentu engkau akan celaka dan tidak berhasil kalau berusaha sendiri untuk membasminya. Diperlukan kekuatan yang besar dan perhitungan yang matang.”

Kiki yang mengepal tinju ketika menyatakan hendak mencari dan membunuh bekas suhengnya itu, menjadi lemas kembali.

“Baiklah, aku akan lapor kepada ayah, karena memang ayah sendiri yang akan turun tangan menghukum murid murtad itu.”

Ci Kong lalu berpamit dari dua orang gadis itu. Ceng Hiang mengajak Kiki pulang ke gedungnya, dan mulai hari itu, dengan tekun Kiki mempelajari kitab Hui-thian Yan-cu yang sudah diterjemahkan dengan jelas oleh Pangeran Ceng. Setelah ia mengerti benar, baru ia membawa kitab itu dan meninggalkan gedung keluarga Pangeran Ceng, untuk pulang ke Pulau Naga.

Sang pangeran yang merasa suka kepada puteri angkatnya itu, memberi banyak nasihat agar gadis itu berhati-hati dan jangan menuruti nafsu dan keberanian saja dalam usaha perjuangan menentang pemerintah lalim dan pasukan orang kulit putih.

Ceng Hiang yang juga amat mencinta Kiki, merasa kehilangan dan minta adik angkatnya itu berjanji bahwa Kiki akan segera kembali ke gedung keluarga Ceng itu.

“Kau perempuan sialan, membikin orang menjadi malu saja!”

Entah berapa kali sudah kakek itu mengomel panjang pendek kepada gadis yang berjalan di sampingnya itu. Gadis yang berkulit putih, bermata biru dan berambut kuning emas itu tidak pernah membantah, hanya berjalan dengan langkah lebar mengimbangi langkah kakek itu sambil menundukkan mukanya. Ia adalah Diana, dan kakek yang marah-marah kepadanya itu adalah San-tok.

Seperti telah diceritakan di bagian depan, ketika diajak berkunjung ke kuil untuk mengadakan pertemuan dengan Siauw-bin-hud dan Tee-tok, Diana melihat Ci Kong dan gadis ini yang tidak dapat membendung luapan rasa girang dan terima kasihnya, telah memperlihatkan rasa girangnya secara spontan seperti kebiasaan bangsanya, ia merangkul dan mencium Ci Kong di depan orang banyak. San-tok yang memang tadinya tidak senang kepada gadis yang dianggapnya selalu merupakan gangguan ini, menjadi semakin marah dan kini di sepanjang perjalanan dia mengomel terus.

“Engkau telah mencoreng arang di mukaku, di depan banyak orang. Kau melakukan hal yang tidak sopan dan sekarang masih berani mengikuti aku. Apakah kau minta aku turun tangan membunuhmu?”

“Aku adalah murid suhu, kalau tidak mengikuti suhu, habis mengikuti siapa?”

Diana akhirnya berkaca sambil memandang wajah kakek itu dengan sinar matanya yang tajam. Melihat sepasang mata lebar berwarna kebiruan itu menatapnya tanpa rasa takut sedikitpun juga, San-tok yang biasanya amat peramah suka senyum-senyum sendiri itu, kini cemberut dan membuang muka. “Aku tidak sudi mempunyai murid seperti engkau!”

“Akan tetapi suhu sudah berjanji, dan aku tidak percaya seorang sakti dengan kedudukan seperti suhu akan mau melanggar janji sendiri.”

San-tok merasa kewalahan dan menjadi semakin uring-uringan.

Post a Comment