“Hemm, memang jahat sekali. Kembali kau ingin menghina wanita!”
Dan muncullah seorang pemuda yang entah dari mana datangnya. Gerakannya demikian ringan dan cepat sehingga, tahu-tahu dia telah berada di situ. Seorang pemuda yang usianya tentu baru duapuluh tahun lebih sedikit, berpakaian sederhana seperti petani, kuncirnya hitam dan tebal melingkar di leher, wajahnya yang tampan itu amat sederhana, penuh dengan bayangan kehalusan budi dan kesabaran.
Melihat munculnya pemuda ini, Song Kim terkejut bukan main. Dia mengenal pemuda yang pernah menggagalkan dia ketika dia hendak memperkosa Kiki di pantai laut dahulu itu! Dan kini pemuda ini muncul, berarti pemuda ini akan membuka rahasianya dan celakaiah dia. Maka, melihat betapa Kiki agaknya juga mengenal pemuda itu dan gadis itu meloncat jauh ke belakang, dia lalu tiba-tiba saja menubruk ke kanan, ke arah pemuda itu dan membacokkan pedangnya ke arah leher pemuda itu, sedangkan pisau belatinya disambitkan ke arah dada!
Pemuda itu bukan lain adalah Tan Ci Kong! Dia tadi melihat perkelahian antara dua orang itu dan segera mengenal bahwa yang diserang itu adalah Kiki, dan yang menyerang adalah pemuda yang dulu hampir memperkosa gadis itu. Tentu saja dia marah dan segera menegur, tidak melihat bahwa tak jauh dari situ berdiri seorang gadis lain yang sedang nonton perkelahian hebat itu.
Ketika tiba-tiba, tanpa disangkanya, Song Kim menyerangnya, Ci Kong hanya mundur selangkah. membiarkan pedang menyambar, lalu tiba-tiba dia menangkis dari samping, sedangkan pisau belati yang meluncur ke arah dada itu didiamkan saja, akan tetapi dia mengerahkan tenaga sinkang melindungi dada dan lengan.
“Tak! Tak!”
Pedang itu terpental, tertangkis oleh lengan, sedangkan pisau belati yang mengenai dada Ci Kong juga runtuh ke atas tanah! Bukan hanya Song Kim yang terkejut, melainkan Kiki dan Ceng Hiang juga kagum bukan main. Terutama sekali Kiki. Dia mengenal pemuda itu ‘ hanya’ cucu dari Siauw-bin-hud, jadi termasuk murid Siauw-lim-pai yang tidak tinggi tingkatnya, akan tetapi bagaimana dapat memiliki kekebalan yang demikian hebat?
Dara ini pernah mengenalnya, akan tetapi belum pernah menyaksikan kepandaiannya yang sungguh-sungguh. Padahal ia sendiri tidak akan berani membiarkan pisau belati itu mengenai dadanya, maklum betapa kuatnya Song Kim, apalagi menangkis pedangnya. Dan Ceng Hiang hanya bengong, tak pernah mengira bahwa dalam satu waktu saja, ia akan berkenalan dengan demikian banyaknya orang-orang muda yang amat lihai.
Akan tetapi, Song Kim bukan hanya terkejut, melainkan jerih sekali. Bukan jerih melawan pemuda itu. Akan tetapi kalau pemuda itu membuka rahasia, bukan saja Kiki akan semakin membencinya, gurunya juga akan marah, akan tetapi terutama sekali Ceng Hiang tentu akan membencinya! Tidak akan ada harapan lagi untuk naik pangkat, apalagi memperisteri, Ceng Hiang. Dan untuk melawan? Wah, berat! Baru melawan sumoinya saja, sudah amat sukar dia memperoleh kemenangan, apalagi di situ ada Ceng Hiang yang jelas lebih lihai darinya, dan pemuda tani itu juga memiliki kepandaian hebat.
“Ci Kong!”
Kiki sudah berteriak girang juga kagum karena tidak menyangka pemuda Siauw-lim-pai ini demikian tangguhnya.
“Apa maksudmu dia jahat dan menghina wanita?”
"Kiki, kau tidak tahu? Dialah laki-laki dahulu itu yang mengganggumu di pantai…”
Wajah gadis itu berubah pucat sekali, kemudian menjadi merah. “Apa...??”
Matanya terbelalak dan membalikkan tubuh, siap untuk menyerang bekas suhengnya, akan tetapi begitu tadi Kiki mengajukan pertanyaan, Song Kim sudah melarikan diri dengan cepat tanpa pamit lagi, meninggalkan tempat itu.
“Iblis keparat… jahanam…!” Kiki membentak. “Hendak lari kemana kau?” Dan Kiki pun melakukan pengejaran. Tentu saja Ceng Hiang terkejut dan juga mengejar. Melihat betapa gadis cantik yang baru saja dilihatnya menjadi penonton itu mampu meloncat dan lari secepat itu, sejenak Ci Kong menjadi bengong, lalu dia menggeleng-geleng kepalanya.
“Wahh... di dunia begini banyak gadis-gadis cantik yang memiliki ilmu silat tinggi! Jangan-jangan pada suatu waktu, dunia ini akan dikuasai oleh wanita.” Dan diapun cepat melakukan pengejaran karena dia khawatir kalau-kalau Kiki akan terjebak oleh pemuda yang nampaknya tampan dan gagah, akan
tetapi ternyata cerdik, curang dan juga jahat itu.
Dengan ilmunya berlari cepat, Ceng Hiang dapat menyusul Kiki dan ia berkata.
“Adikku, mari kita cari dia di gedungnya.”
Baru Kiki teringat. Tadinya ia sudah bingung karena bayangan pemuda jahat itu tidak nampak lagi. Dan diam-diam Ceng Hiang terheran mengapa kedua mata adik angkatnya itu basah dan matanya berapi-api, jelas bahwa adiknya itu marah bukan main. Karena mereka berdua berlari secepatnya, mereka tidak sempat bercakap-cakap, juga mereka tidak tahu bahwa tidak jauh di belakang mereka, Ci Kong masih terus lari membayangi mereka, melihat dan ingin melindungi dari jauh.
Melihat betapa puteri pangeran itu dan seorang gadis lain, juga seorang pemuda di belakang mereka, memasuki pintu gerbang sambil berlari cepat, para penjaga di situ memandang terheran-heran Akan tetapi tidak berniat bertanya, apalagi menegur. Tidak ada perajurit yang tidak tahu siapa adanya Ceng Hiang! Mereka tahu betapa lihainya puteri pangeran dan menganggap bahwa dara itu bersama dua orang kawannya yang juga lihai sekali dan dapat berlari secepat kijang-kijang muda.
Akan tetapi, ketika mereka tiba di gedung tempat kediaman opsir Lee Song Kim, pemuda itu sudah terbang pergi. Para penjaga di situ hanya mengatakan bahwa majikan mereka baru saja pergi membawa buntalan besar, bahkan perginya melalui pintu belakang! Kiki hendak melakukan pengejaran, akan tetapi Ceng Hiang memegang lengan adiknya itu.
“Tak perlu dikejar, sukar sekali mencarinya kalau tidak tahu kemana dia pergi.”
Mereka sudah berada di belakang gedung itu dan tidak nampak bayangan Song Kim. Tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki di belakang mereka.
“Memang tidak ada gunanya dikejar. Berkejaran di kota tentu bahkan akan menimbulkan kekacauan. Di tempat ramai ini amat mudah baginya sembunyi.” Ceng Hiang menengok dan melihat pemuda tani yang mengagumkan itu telah berdiri pula di situ. Dara ini semakin kagum. Pemuda itu tidak nampak lelah sama sekali, dan ia tadi juga tidak dapat melihat batapa pemuda ini
membayangi mereka. Betapa lihainya pemuda ini.
Mendengar suara Ci Kong, Kiki lalu membalikkan tubuhnya dan kini nampak ia menangis. Biarpun tidak terisak-isak, akan tetapi kedua matanya merah dan masih ada air mata mengalir turun.
“Kenapa tidak dari dulu kau beritahu padaku bahwa dia yang melakukan itu!” bentaknya dengan nada suara marah dan memandang kepada pernuda itu dengan mata lebar dan mulut cemberut.
Agaknya dalam setiap saat, gadis ini bisa saja mendadak menyerang Ci Kong sebagai tempat peluapan kemarahannya. Ci Kong mengembangkan kedua tangannya. “Kiki, bagaimana aku dapat memberi tahu kepadamu kalau aku belum pernah mengenalnya. Tadi ketika aku melihat dia berkelahi denganmu, aku segera mengenalnya dan aku bahkan mengira kalau dia berkelahi denganmu karena urusan dahulu itu.”
Kiki teringat dan tentu saja dara ini tak dapat marah lagi. Memang, bagaimana Ci Kong dapat menceritakan siapa orangnya yang hendak memperkosanya kalau belum mengenal orang itu?
“Adikku, apakah yang telah terjadi antara engkau dan Lee-ciangkun?” tiba- tiba Ceng Hiang bertanya karena ia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan kedua orang itu.
“Ciangkun-ciangkun apa! Dia penjahat besar... aihh, malu sekali aku menjadi bekas sumoinya!”
Gadis ini membanting-banting kaki, dengan kemarahan meluap-luap, ia membayangkan semua yang terjadi. Terkutuk! Kalau begitu, laki-laki yang meraba-rabanya, yang menciuminya dan nyaris memperkosanya di perahu sebelum badai mengamuk itu tentu juga si jahanam itu!
“Dia itu suhengmu?”
Kini Ci Kong yang terheran-heran, sama sekali tidak mengira bahwa pria yang dahulu hendak memperkosa Kiki itu malahsuhengnya sendiri! Suheng macam apa begitu? Akan tetapi dia teringat bahwa Kiki dan suhengnya itu adalah murid-murid Hai-tok, jadi tidaklah aneh kalau suheng itu hendak memperkosa sumoinya sendiri. Perbuatan jahat apa yang diharamkan oleh orang-orang dari Empat Racun Dunia?
“Kiki, siapakah saudara ini dan apa artinya percakapan kalian ini?” kembali Ceng Hiang menuntut karena ia ingin tahu sekali.
Barulah Kiki teringat akan kehadiran encinya itu, dan cepat ia merangkul encinya dan kini tak tertahankan lagi ia menangis, menyembunyikan mukanya di pundak Ceng Hiang yang merangkul dan mengelus rambutnya. Setelah meredakan tangisnya, tangis karena marah dan penasaran, Kiki lalu berkata.
“Enci, memang buruk sekali nasib adikmu ini…”
“Baik buruknya nasib hanyalah anggapan kita sendiri saja, adikku. Ceritakanlah, apa yang sesungguhnya pernah terjadi? Atau kalau engkau sungkan tidak menceritakan, akupun tidak akan memaksamu,” katanya halus dan lembut.
Sejak tadi, Ci Kong tertegun dan terpesona. Dia tidak berani mermandang langsung, akan tetapi setiap kali melirik kepada gadis yang dipanggil cici oleh Kiki itu, sinar matanya seolah-olah melekat dan sukar untuk dialihkan ke tempat lain! Gadis itu begitu cantik jelita, begitu halus dan lembut, dan kata- katanya mengandung kebijaksanaan yang demikian mengagumkan.
“Enci, beberapa bulan yang lalu, aku dan suhengku itu oleh ayah diperintah untuk meninggalkan Pulau Layar untuk mencari Koan Jit, orang yang telah merampas Giok-Hohg-kiam yang diperebutkan oleh semua orang kang-ouw.”
Ceng Hiang mengangguk.
“Aku pernah mendengar tentang Giok-liong-kim itu. Bukankah itu pusaka yang dicuri orang dari Thian-te-pai itu? Kalau tidak salah, pihak istana juga ikut berlumba untuk memperebutkan.”
“Benar. Giok- liong-kiam terampas oleh Koan Jit murid pertama dari Thian- tok. Kami, yaitu aku dan bekas suheng itu, berebut siapa yang akan melaksanakan tugas merampas pusaka itu dari tangan Koan Jit. Dan aku mendahului Lee Song Kim itu, malam-malam aku meninggalkan pulau dan naik perahu. Akan tetapi, sungguh tak kusangka, di tengah malam tiba-tiba ada orang menotokku sehingga aku roboh tak berdaya. Karena sama sekali tidak mengira ada orang dapat naik ke perahuku di tengah lautan, maka aku dapat dirobohkan. Dan dia... dia… hampir saja dapat memperkosaku. Untung ketika itu tiba-tiba datang badai mengamuk, dia tidak dapat melaksanakan niatnya yang terkutuk, dan aku lalu diikatnya di tiang layar perahuku. Akan tetapi badai sedemikian hebatnya sehingga perahu itu membentur batu karang, pecah dan tenggelam. Untung aku diikat di tiang layar sehingga aku tidak ikut tenggelam. Ombak mempermainkan diriku setengah malam, dan menjelang pagi aku terdampar di pantai.”
Ceng Hiang mendengarkan penuturan adik angkatnya dengan jantung berdebar tegang dan ia memandang adiknya itu dengan sinar mata penuh iba.
“Lalu bagaimana, adikku yang malang?”
“Celakanya, enci. Ketika aku terdampar, jahanam keparat Lee Song Kim itupun sudah tiba di pantai itu! Dan kembali dia... dia bermaksud untuk memperkosaku!”
“Jahanam busuk!”
Ceng Hiang ikut mendamprat, akan tetapi makiannya itu terdengar barusan sama sekali berbeda dengan makian Kiki yang kasar penuh hawa amarah dan kebencian.
“Aku terbelenggu di tiang layar dan tidak berdaya, enci. Andaikata hal itu terlaksana, aku tentu akan bunuh diri. Akan tetapi tiba-tiba saja muncul dia ini yang menyelamatkan aku. Dia menyerang Song Kim, dan agaknya karena Song Kim tidak mampu mengalahkannya, dia melarikan diri, si pengecut jahanam!”
“Bukan kalah dariku, Kiki, melainkan sekarang aku dapat menduga, pada waktu itu matahari sudah hampir keluar dan tentu dia takut kalau-kalau engkau akan mengenalinya,” kata Ci Kong.