Halo!

Pedang Naga Kemala Chapter 148

Memuat...

Dengan kata-kata ini, selain memuji lawan agar senang hatiya, juga dia seperti hendak mengatakan bairpun kalau dia sampai kalah, hal itu adalah karena nona ini memiliki ilmu silat keturunan keluarga Pulau Es yang tidak ada bandingannya. Jadi kekalahannya itu lumrah, bukan karena dia kurang lihai!

Ceng Hiang juga membalas penghormatan itu sambil tersenyum.

“Ah, ciangkun pandai merendah dan mengalah saja. Ilmu silat ciangkun memang hebat, dan terus terang saja, selama ini belum pernah aku berternu tanding seperti ciangkun, kecuali baru sepekan yang lalu ini aku bertemu tanding yang ilmu silatnya setingkat dengan tingkat ciangkun.”

Mendengar ini, Song Kim terkejut. Celaka, jangan-jangan nona ini menemukan seorang pemuda lain yang juga lihai, dan berarti dia mendapatkan saingan yang cukup berat.

“Wah, aku tidak percaya itu, nona. Selama ini, aku sendiri belum pernah menemukan tandingan yang seimbang dan baru nona yang benar-benar amat lihai dan dapat mengatasiku. Kalau benar ada yang lihai seperti nona katakan tadi, aku berani menghadapinya dan kalau aku kalah olehnya, aku tidak akan memperlihatkan muka di kota raja lagi.”

Ucapan itu adalah ucapan seorang yang menahan malu karena kekalahannya tadi, juga karena dia khawatir mendapatkan saingan yang lebih lihai dari dia. Kalau benar demikian, memang dia tidak ada muka untuk berada di kota raja lagi. Lebih baik langsung saja ke Kanton dan mencari daya upaya di sana untuk merampas Giok-liong-kiam. Kalau dia dapat mempersunting Ceng Hiang, bukan saja terlaksana idam-idaman hatinya memperisteri gadis yang cantik molek ini, akan tetapi juga kedudukannya akan meningkat tinggi dan sebagai mantu pangeran, tentu dia memiliki kekuasaan yang cukup untuk dipergunakan ke Kanton menundukkan Koan Jit dan memaksanya menyerahkan Giok-liong-kiam kepadanya.

Diam-diam Ceng Hiang sudah merasa tidak suka mendengar omongan dan melihat sikap Song Kim. Kini, setelah mengadu ilmu, baru ia mulai melihat ciri- ciri pernuda itu yang tadinya agaknya tidak nampak atau disembunyikan. Pertama, pemuda ini dalam perkelahian tadi memperlihatkan sikap sombong, memandang rendah kepadanya, dan juga tidak sopan karena ingin merampas sepatunya, hal yang kurang ajar sekali. Kedua, pemuda ini tidak dapat mengakui kekalahannya dengan jujur, akan tetapi mempergunakan kecerdikan untuk memperkecil kekalahannya. Dan ketiga, Song Kim yang baru saja kalah olehnya itu masih berani menyombongkan diri terhadap lawan-lawannya yang belum pernah diduganya siapa adanya. Ini sudah dapat membuktikan kesombongannya, dan baru sekarang Ceng Hiang melihat segi-segi buruk pemuda itu. Ia merasa beruntung sekali bahwa ia belum pernah menyatakan keinginannya untuk menyetujui kecondongan hati ayahnya, belum pernah menerima pinangan pemuda itu.

“Benarkah begitu, Lee-ciangkun? Kau berhati-hatilah, orang yang kumaksudkan itu, yang memiliki kepandaian silat tinggi, pada saat ini berada di sini.”

Bagaimanapun juga, tiga sifat yang tidak disukainya itu belum bisa membuktikan bahwa pemuda ini jahat. Masih banyak sifat-sifatnya yang baik yang mengimbangi keburukannya itu. Pemuda ini, demi kepentingannya sendiri, hanya berarti membohong dan suka memandang rendah orang lain karena tinggi hati, merasa telah memiliki ilmu silat yang tiada tandingannya. Maka, ia hendak mempertemukannya dengan Kiki agar ia dapat melihat bagaimana sesugguhnya watak pemuda ini dan siapa sebenarnya. Kalau hanya mendengar omongan Kiki saja, hal itupun belum ada buktinya dan siapa tahu kalau-kalau Kiki merasa sakit hati dan benci kepada suhengnya, tentu saja semua hal yang dibicarakan tentang suhengnya itu yang buruk-buruk belaka. Karena itu, ia sudah mengatur siasat dengan Kiki seperti yang dibisikkannya di dalam kamar tidur mereka beberapa malam yang lalu.

“Benarkah dia berada di sini?”

Tentu saja Lee Song Kim terkejut sekali, akan tetapi dia memang tinggi hati. Belum pernah dia dikalahkan orang, dan di dunia ini tidak banyak yang memiliki kepandaian setinggi Ceng Hiang.

“Kalau benar, aku akan menghadapinya sekarang juga!” “Baiklah, akan kupanggil orangnya ke sini!”

Setelah berkata demikian, Ceng Hiang bertepuk tangan tiga kali dan diam- diam Song Kim terkejut bukan main. Ketika gadis itu bertepuk tangan, terdengar suara seperti dua buah benda keras bertemu. Ini saja menandakan bahwa gadis itu benar-benar telah menguasai sinkang yang amat kuat.

Terdengar suitan nyaring sebagai balasan, dan dari balik semak-semak belukar, meloncatlah seorang wanita. Gerakannya demikian cepat dan tahu- tahu ia telah berdiri berhadapan dengan Lee Song Kim. Pemuda itu cepat memandang dan wajahnya seketika menjadi pucat. Kalau pada saat itu dia melihat yang muncul seorang iblis, belum tentu dia akan sekaget sekarang ini. “Kau... sumoi...” katanya gagap dan seperti orang linglung, dia menoleh dan memandang kepada Ceng Hiang, lalu kepada Kiki, berganti-ganti seperti

hendak bertanya, apa artinya semua ini.

“Benar, akan tetapi engkau tidak berhak menyebut sumoi kepadaku lagi. Lee Song Kim, engkau tentu mengira bahwa aku sudah mati di laut, bukan? Nah, sekaranglah tiba saatnya kita bertanding, satu lawan satu, tidak seperti dulu, kau mengandalkan jumlah yang lebih besar!”

Berkata demikian, gadis ini melintangkan sebuah tongkat yang tadi telah dipersiapkan lebih dulu di depan dadanya, dengan sikap menantang.

Tentu saja Song Kim merasa tidak enak sekali kepada Ceng Hiang. Maka untuk membersihkan muka dan namanya, dia berkata membujuk.

“Sumoi, harap jangan bersikap begitu. Kuakui bahwa memang aku yang melaporkan rapat para pemberontak ketika suhu mengadakan pesta ulang tahun, juga aku mengaku bahwa aku membawa pasukan dengan perahu untuk menyerang perahu Bajak Naga Lautan. Akan tetapi, semua itu adalah tugasku sebagai seorang perwira, sumoi! Aku harus menentang pemberontakan dan aku harus pula menentang para pembajak dan para penjahat lainnya. Yang bersalah adalah suhu dan kau sendiri, kenapa tidak meninggalkan kebiasaan lama, meninggalkan kejahatan dan kembali ke jalan benar dengan mengabdi kepada pemerintah dan mengamankan kehidupan rakyat jelata?”

Diam-diam Kiki dan juga Ceng Hiang merasa kagum. Orang ini memang cerdik bukan main dan pandai sekali bicara. Siapa saja, pihak luar, yang tidak tahu-menahu urusan dalam di antara mereka, tentu akan setuju sepenuhnya dan akan membenarkan pemuda itu.

“Lee Song Kim, tidak perlu engkau mengeluarkan kata-kata merayu. Aku menerima tugas dari ayah untuk mencari tahu di mana tempat tinggalmu, dan ayah sendiri yang akan datang untuk menghukummu sebagai murid yang murtad dan pengkhianat besar. Akan tetapi, jangan dikira bahwa aku takut menghadapimu. Tadi kau menantang aku melalui enci Hiang. Nah, aku di sini, mari kira lanjutkan perkelahian kita dulu itu!”

Kalau saja di situ tidak ada Ceng Hiang, tentu Song Kim sudah marah sekali dan sudah menyerang bekas sumoinya, kalau mungkin menangkapnya hidup- hidup untuk dipermainkan dulu sebelum dibunuh, kalau tidak mungkin, langsung saja membunuhnya karena sumoinya merupakan orang berbahaya bagi perhubungannya dengan Ceng Hiang.

“Sumoi, kita bersaudara seperguruan. Kalau engkau memang ingin menguji kepandaian dan hendak menyerangku, silahkan!” katanya dengan sikap gagah dan memang cerdik, karena seolah-olah Kiki yang memaksanya untuk bertanding!

Akan tetapi Kiki memang sudah tak dapat menahan kernarahannya lagi ketika bertemu dengan Song Kim, apalagi sejak tadi ia mendengarkan percakapan antara Song Kim dan Ceng Hiang. Sebagai orang yang mengenal Song Kim sejak kecil, tentu saja Kiki mengenal segala yang tersembunyi di balik topeng tampan dan halus itu, dan ia tahu bahwa bekas suhengnya itu berusaha sekuat tenaga untuk menarik perhatian dan menjatuhkan hati Ceng Hiang. Ia tidak mau menerima kenyataan itu dan ia tidak akan merasa rela kalau sampai Ceng Hiang terjatuh ke tangan Song Kim.

“Lee Song Kim, lihat senjataku!” bentaknya, dan iapun sudah menyerang dengan tongkatnya.

Song Kim maklum betapa lihainya kalau sumoinya ini bersenjatakan tongkat. Memang sebenarnya, keahliannya adalah bermain tongkat. Tongkat suhunya amat dikenal di dunia persilatan. Tongkat emasnya itulah yang mengangkat nama suhunya Hai-tok dan Kim-kong-pang (Tongkat Sinar Emas) amat ditakuti lawan, di samping ilmu Silat Thai-lek Kim-kong-jiu. Dia sendiripun mempelajari kedua ilmu itu, akan tetapi wataknya yang pesolek membuat dia mengganti tongkat dengan pedang. Rasanya tidak berwibawa dan tidak gagah baginya kalau dia kemana-mana harus membawa tongkat. Sebaliknya, kalau membawa pedang tentu nampak gagah. Apalagi setelah dia menjadi opsir! Karena tahu betapa lihainya Kiki kalau bersenjata tongkat, dia tidak berani menghadapinya dengan tangan kosong dan diapun mencabut pedangnya.

“Trangg! Cringgg...!”

Dua kali tongkat bertemu pedang, dan kini keduanya nampak berkelebatan dengan cepat sekali. Dua gulungan sinar nampak saling belit dan kakak beradik seperguruan ini sudah saling hantam dengan amat sengitnya.

Ceng Hiang menyaksikan dari samping dan diam-diam merasa kagum. Memang kedua orang itu hebat sekali dan andaikata ia tidak memiliki ilmu-ilmu yang dahsyat dari keluarga Pulau Es, ia sendiripun takkan mungkin dapat mengalahkan mereka ini.

Dua orang itu memiliki ilmu silat dari satu sumber dan keduanya memang berbakat. Akan tetapi sekali ini, Song Kim merasa rugi. Tentu saja permainan tongkat Kiki lebih hebat dari pada permainan pedangnya yang digerakkan berdasarkan ilmu Kim-kong-pang pula! Ada beberapa bagian yang membuat dia kalah praktis, terutama karena dengan tongkat itu, Kiki dapat mempergunakan kedua ujung tongkat untuk menusuk, menghantam atau menotok jalan darah.

Sebaliknya, dengan pedang, Song Kim hanya mampu menyerang dengan ujung pedang saja, membacok atau menusuk. Bagian gagangnya sama sekali tidak dapat dia pergunakan. Apalagi di situ terdapat Ceng Hiang yang menonton, hal yang membuatnya menjadi gugup dan juga serba salah.

Lalu pikiran yang amat cerdik akan tetapi kejam menyelinap dalam hati Song Kim. Kenapa dia tidak menggunakan kesempatan ini untuk membunuh saja Kiki? Dalam perkelahian adu kepandaian, apalagi kalau tingkat mereka seimbang, soal terluka atau mati bukanlah hal yang aneh! Mereka sudah berkelahi tigapuluh jurus lebih dan dari permainan senjata mereka, mulailah gadis dapat mendesak suhengnya. Walaupun untuk dapat mengalahkan Song Kim masih amat sukar, namun setidaknya ia sudah memperlihatkan bahwa pemuda itu tidaklah sehebat seperti bualannya.

Akan tetapi tiba-tiba ada sinar putih berkelebat dan tahu-tahu pemuda itu menubruk maju dengan pisau belati menyambar ke arah perut Kiki! Ceng Hiang sendiri terkejut bukan main. Akan tetapi Kiki dapat meloncat ke belakang dan gadis ini memang maklum bahwa suhengnya itu pandai memainkan sepasang pisau belati. Tak disangkanya bahwa kini suhengnya yang sudah memegang pedang itu tidak malu-malu untuk membantu pedangnya dengau pisau belati di tangan kiri! Agak terkejut juga Kiki, dan kini ialah yang terdesak ke belakang karena lawan sudah menyerang bertubi-tubi dengan pedang dan pisaunya! Dan di pinggang pemuda itu masih ada sebatang pisau belati lagi.

Ceng Hiang merasa serba salah. Untuk membantu, ia segan karena hal itu berarti suatu perbuatan curang. Untuk mendiamkan saja, ia mulai merasa khawatir akan keselamatan Kiki. Ia bermaksud untuk melerai saja, akan tetapi pada saat itu, tiba-tiba terdengar suara seorang laki-laki.

Post a Comment